Dua gol Nathan Tella ke gawang Ipswich Town membawa Burnley lolos ke babak berikutnya Piala FA. Kemenangan tipis 2-1 menggenapi rekor tak terkalahkan Burnley dalam 9 pertandingan.
Pasukan Vincent Kompany belum pernah sekali pun kalah dalam sembilan laga terakhir di segala kompetisi. Catat itu baik-baik, di segala kompetisi! Terakhir kali kekalahan yang diderita The Clarets terjadi di babak 16 besar Carabao Cup menghadapi anak buah Erik ten Hag.
Sisanya, Burnley bahkan melibas tim-tim kuat. The Clarets mengalahkan Stoke City, Birmingham, Swansea, dan Bournemouth. Hal ini seolah mustahil, karena Burnley benar-benar hancur musim lalu. The Clarets diprediksi akan sulit kembali lagi ke Premier League, tapi nyatanya tidak demikian.
Daftar Isi
Pemainnya Hengkang
Seperti yang sudah terjadi. Degradasi membawa dampak signifikan bagi sebuah klub. Burnley pun demikian. The Clarets harus menerima konsekuensi karena gagal bertahan lebih lama lagi di Premier League.
Burnley mulai compang-camping. Para pemainnya melepaskan diri. Apa itu kesetiaan. Nathan Collins, Maxwell Cornet, Wout Weghorst, Ben Mee, Hennessey, James Tarkowski, Dwight McNeil, sampai Nick Pope angkat koper dari Turf Moor.
OFFICIAL: Nick Pope has joined Newcastle United on a four-year contract from #Burnley.
— Burnley Report (@BurnleyReport) June 23, 2022
[via @NUFC] pic.twitter.com/OT4RPEdpGj
Kendati para pemain pilarnya pergi, paling tidak Burnley mendapat keuntungan dari sana. Dilansir Forbes, Burnley memperoleh setidaknya 66 juta poundsterling (Rp1,2 triliun). Akan tetapi, bagi tim yang baru saja terdegradasi uang sebanyak itu tak seberapa.
Harus Berhutang
Catatan Forbes menunjukkan, Burnley mengeluarkan biaya setidaknya 33 juta poundsterling (Rp602 miliar) untuk beli pemain. Jumlah itu memang lebih sedikit daripada pendapatan The Clarets dari penjualan pemain. Hanya saja, seperti yang sudah disebut tadi, bagi klub yang baru turun kasta, uang itu tak seberapa.
Kenyataannya ada kewajiban keuangan lain yang harus dipenuhi The Clarets. Masih menurut laporan Forbes, jumlah pengeluaran Burnley lebih banyak dua kali lipat dari uang yang dikeluarkan untuk sekitar 15 pemain pengganti. Bahkan kabarnya pengeluaran The Clarets lebih banyak daripada klub-klub lain di Championship.
Sebab The Clarets mengeluarkan uang tidak hanya untuk menambal skuadnya. Tapi juga harus membayar penalti karena terdegradasi. Dilansir Daily Mail, pemilik baru, ALK Capital sebelumnya telah melakukan peminjaman uang, dan dalam klausulnya akan jatuh tempo jika Burnley terdegradasi sebelum tahun 2026.
Masalah berikutnya, peminjaman itu berbunga hingga 2025 dengan jumlah bunganya 8%. Lantaran terdegradasi tanggal pelunasannya pun maju. Hal itu belum ditambah dengan jumlah uang penalti senilai 65 juta poundsterling (Rp1,1 triliun).
🚨🗞| Burnley have already repaid £32.3M of their £65M debt.
— ClaretXtra (@ClaretXtra) August 27, 2022
[Credit – @KieranMaguire]
All in a window where we’ve signed 13 players and are close to another. Brilliant work by our chairman.#TwitterClarets pic.twitter.com/Hi9AlTUpn0
The Clarets juga harus kehilangan uang hadiah musim setelah terdegradasi dan hak siar yang semuanya bernilai 50 juta poundsterling (Rp911 miliar). Burnley pun terpaksa mengencangkan ikat pinggang dengan menjual tak sedikit pemain pilarnya.
Berkat penjualan pemainnya, Burnley bisa membayar sebagian beban keuangannya. Sejumlah 43 juta poundsterling (Rp784 miliar) sudah mereka keluarkan dari hasil penjualan pemain. Sederet kekacauan finansial itu layak rasanya kita menyebut Burnley tim yang rusak.
Pertaruhan Vincent Kompany
The Clarets lantas memecat Sean Dyche. Pelatih itu mengakhiri kisahnya di Turf Moor dengan cara kurang menyenangkan. Burnley pun menunjuk mantan pelatih Anderlecht yang berkepala licin, Vincent Kompany. Namun tak sedikit yang menilai Kompany terlalu berani mengambil tawaran itu.
Melatih Burnley artinya Kompany mempertaruhkan reputasinya. Jika berhasil, ia bisa menjadi salah satu pelatih hebat. Tapi jika gagal, citra Kompany yang belum bagus betul itu layu sebelum mekar. Akan tetapi, Kompany adalah pria yang berbeda.
Persetan soal reputasi. Kompany terdidik sebagai bek yang tangguh. Ia yang mantan bek terbaik Manchester City sudah terbiasa dengan resiko. Kompany tak masalah apabila klub tak punya cukup uang untuk membangun kembali skuad. Pemain yang pernah meraih treble di Inggris itu menerobos segala resiko.
New Burnley manager Vincent Kompany takes charge of his first game in English football 👔 pic.twitter.com/n17fIqEUSF
— Football on BT Sport (@btsportfootball) July 29, 2022
Banyak Membeli Pemain dari Belgia
“Burnley adalah klub Inggris yang benar-benar bersejarah. Merupakan suatu kehormatan ditunjuk sebagai manajer tim utama,” kata Kompany ketika pertama kalinya ditunjuk jadi manajer Burnley.
Ciri khas klub Turf Moor adalah tidak pernah membatasi setiap manajer membangun budayanya sendiri. Namun sebagai klub mikro, keuangan Burnley pas-pas. Sehingga siapa saja yang ditunjuk sebagai manajer mesti nrimo ing pandum.
Walaupun belum pernah terlacak bahwa Kompany adalah keturunan orang Jawa, lebih-lebih Jogja, tapi sepertinya ia mengerti klub yang akan ia latih baru saja boncos keuangannya. Meski demikian Kompany mengatakan punya proyek sendiri di Burnley.
Ia pun mendatangkan pemain yang sekiranya perlu. Namun pemain-pemain yang datang ke Turf Moor adalah yang harganya ekonomis. Bahkan kurang dari 5 juta euro (Rp81 miliar). Hanya Lyle Foster yang dibeli seharga 11 juta euro (Rp178 miliar) dari klub Liga Belgia, KVC Westerlo.
🤝 OFFICIEL : Lyle Foster quitte Westerlo et rejoint Burnley pour 11M€ pic.twitter.com/GhcAUwxqOq
— Ma Pro League (@MaProLeague) January 25, 2023
Ngomong-ngomong soal Liga Belgia, Kompany ternyata banyak membeli pemain dari sana. Josh Guillen, Vitinho, Samuel Bastien, Enock Agyei, sampai Benson Manuel Hedilazio adalah nama-nama yang dibeli Kompany dari Jupiler Pro League.
Selain itu, Kompany membeli para pemain muda dari Manchester City, Chelsea, PSG, sampai Monchengladbach. Ia mengandalkan pemain muda dalam mengarungi Championship musim ini. Bahkan rata-rata skuadnya berusia kurang dari 25 tahun.
Kuncinya Kerja Keras!
Ada alasan mengapa Burnley menjatuhkan pilihannya pada Vincent Kompany. Minimal pria kelahiran Uccle, Belgia itu sangat berpengalaman di Liga Inggris. Walau tidak sebagai pelatih. Ia telah meraih 4 trofi Liga Primer Inggris, 4 Piala Liga, 2 Piala FA, dua gelar divisi utama Belgia, dan medali tempat ketiga Piala Dunia 2018 sebagai pemain.
Karier terbaiknya ketika melatih memang ‘hanya’ mengantarkan Anderlecht finis di posisi ketiga Liga Belgia. Tapi manajemen The Clarets tampaknya yakin pada Vincent Kompany. Apalagi ia adalah mantan anak asuh pelatih-pelatih top.
Vincent Kompany:
— City Report (@cityreport_) August 23, 2021
“I wish I’d met Pep [Guardiola] when I was eighteen. I had such a big gap in my understanding of the game until I met him. It’s hard to describe. It’s not about philosophies – everyone can have their own of how to play football, it’s more about understanding…” pic.twitter.com/kGbolWxgb3
Kompany dipercaya telah menyerap ilmu dari Pep Guardiola, Manuel Pellegrini, Roberto Mancini, dan Roberto Martinez. Akan tetapi, ia tak bisa seperti Guardiola yang diguyur duit minyak. Maka yang dilakukannya memoles tim dengan menekankan kebersamaan dan kerja keras.
Saat ditunjuk, Kompany tidak naif kalau setiap tim butuh kemenangan. Maka dari itu, ia menjalankan segala skenario agar Burnley berada di titik terbaiknya. “Saya ingin melindungi dengan cara disiplin, tingkat kerja, dan kebersamaan klub,” kata Kompany.
Mentalitas dan Fleksibilitas Taktik
Keahlian manajer-manajer tadi sepertinya sudah merasuk pada Kompany. Ia yang bekerja bersama Craig Bellamy adalah perpaduan yang pas agar mesin Burnley tetap berderu. Kompany menyalurkan mentalitasnya kepada pemain.
Ia tidak hanya meminta para pemainnya untuk menang, tapi juga mendominasi. Itu tiga level lebih tinggi dari harapan publik Turf Moor. Ketika Burnley berhasil menang, ia jarang memberi pujian. Malah Kompany mendorong agar pemainnya bermain lebih baik lagi.
Soal taktik, Kompany sepertinya terpengaruh Guardiola. Taktik Kompany kerap berubah-ubah, menyesuaikan skenario lawan. Contoh ketika menghadapi Swansea, di mana menjadi salah satu pertandingan berat Kompany. Babak pertama sejatinya Burnley sudah unggul 2-1 atas Swansea.
Namun, Swansea yang ingin menyamakan kedudukan menyulitkan Burnley dengan penguasaan bola. Kompany mengenali masalahnya. Ia tahu timnya tak menguasai bola sehingga mengubah taktiknya ke bertahan. Menjadi 4-4-2 dari 4-2-3-1. Tak langsung berhasil.
Tapi bisa meredam serangan Swansea. The Swans bisa menguasai bola tapi tak bisa menembak. Burnley pun mengamankan tiga poin. Fleksibilitas taktiknya inilah yang bikin Burnley sulit dikalahkan. Apalagi Kompany punya amunisi andalan.
Selain Scott Twine dan Darko Churlinov, masih ada Jay Rodriguez yang kini jadi top skor klub dengan 9 gol. Juga ada pemain muda Nathan Tella. Burnley juga punya pemain yang ahli umpan, seperti pemain muda yang datang dari Chelsea, Ian Maatsen (4 asis).
Mesin Burnley yang tak ada tanda-tanda aus itu bakal mengantarkan mereka ke Premier League lagi. Musim ini jarak antara juara EFL Championship dengan Burnley menjadi sangat dekat.
Jika, dan hanya jika, Vincent Kompany bisa mengembalikan Burnley ke Premier League di tengah tim yang rusak, citranya makin bagus. Terlebih Kompany adalah pelatih non-Inggris pertama yang melatih Burnley. Bukan tak mungkin kalau kelak, Manchester City betul-betul akan memakai jasanya.
Sumber: TheAthletic, DailyMail, Forbes, EFL, Mirror, TheAthletic2


