Sejak berlaku pada tahun 2011, peraturan Financial Fair Play (FFP) menjelma musuh dalam selimut bagi klub-klub yang memiliki dana belanja tak terbatas macam Manchester City. Dan baru-baru ini, City kembali bermasalah dengan peraturan yang ditetapkan oleh UEFA tersebut.
Bursa transfer Januari baru beres, kasus City tiba-tiba muncul menghebohkan dunia. Premier League membeberkan sejumlah dakwaan terhadap klub yang bermarkas di Etihad terkait pelanggaran aturan FFP dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.
Tentu City sudah akrab dengan kasus model beginian. Namun, menurut beberapa sumber yang ada, kasus kali ini lebih besar dari apa yang dibayangkan. Lantas bagaimana nasib Manchester City? Apakah mereka bisa lolos lagi?
Daftar Isi
Dakwaan Pelanggaran FFP
Bermain di kompetisi sekelas Liga Champions merupakan prestise tersendiri bagi klub-klub Eropa. Selain bisa meningkatkan popularitas, hadiah yang diberikan UEFA untuk para pemenang dari kompetisi itu pun sangat menggiurkan. Namun, karena hadiah yang besar itu banyak tim yang menghalalkan segala cara untuk tampil di kompetisi tersebut. Salah satunya Manchester City.
City yang gelap mata mulai tak mempedulikan pengeluaran mereka untuk mendapatkan keuntungan lebih dengan berprestasi di Liga Champions. City pun mulai jor-joran dalam memperkuat tim, entah dengan mendatangkan pemain-pemain bintang atau bahkan pelatih top yang siap mendongkrak prestasi mereka di Eropa.
Sayangnya, meski sudah menggelontorkan banyak dana, pencapaian City di Liga Champions cuma gitu-gitu aja. Alih-alih dapat untung gede, setumpuk hutang pun justru menghantui manajemen klub. Karena itulah aturan Financial Fair Play diberlakukan oleh UEFA. Tujuannya untuk meminimalisir kerugian dalam bisnis sepakbola yang dari tahun ke tahun semakin meningkat.
Adanya peraturan ini justru menyulitkan pergerakan Manchester City yang selalu melibatkan dana yang tak sedikit. City jadi sering berurusan dengan hukum karena diduga telah melanggar peraturan FFP. Yang terbaru sebuah pengumuman mengejutkan disampaikan oleh Premier League. Operator liga kasta tertinggi Inggris itu mendakwa Manchester City melakukan banyak pelanggaran di bagian Financial Fair Play.
Kali Ini, Apa Saja yang Dilanggar City?
Kabarnya periode pelanggaran kali ini dilakukan sudah cukup lama. Menurut pernyataan operator liga di situs resmi Premier League, pelanggaran yang dilakukan The Citizens sudah dimulai sejak musim 2009/10 hingga musim ini. Wow!
Menurut laporan ada beberapa aspek yang dilanggar City. Pertama, terkait aspek finansial klub, di mana Manchester City dianggap tidak memberikan laporan yang jujur terkait pendapatan klub, kesepakatan sponsor, dan biaya operasional klub sehingga mempengaruhi laporan keuangan mereka.
Lalu ada dugaan penggandaan nilai kontrak dari Roberto Mancini dan pemain yang pernah membela Manchester City di periode tersebut. Selain itu Manchester City juga dituduh tidak memberikan laporan akurat mengenai keuntungan dan keberlangsungan klub mereka, serta tidak memberikan laporan yang akurat mengenai UEFA Club Licensing dan aturan UEFA Financial Fair Play.
Tak sampai di situ, Manchester City juga diduga telah melanggar beberapa peraturan Liga Inggris lain yang konon sampai ratusan jumlahnya. Kasus ini mencuat setelah pihak Premier League melakukan penyelidikan selama empat tahun lamanya.
Kok Baru Ketahuan?
Loh, tunggu dulu. Sudah melanggar sejak musim 2009/10 kok baru ketahuan? Sepandai-pandainya Manchester City menyembunyikan bangkai, baunya pasti akan tercium juga.
Tentu City tak hanya berisi orang-orang yang gila bola, di sana juga banyak diisi oleh orang-orang kaya yang piawai mencari celah bisnis. Pada dasarnya cara menghindari FFP ya, dengan cara menyeimbangkan pemasukan dan pengeluaran klub di bidang sepakbola. Dan City punya cara cerdik untuk mengakali itu.
Dilansir Der Spiegel, selama ini City mengakalinya dengan banyak cara, salah satunya penggelembungan dana sponsor. Dalam laporan resmi kepada Club Financial Control Body (CFCB), otoritas yang mengawasi keuangan klub. City melaporkan telah menjalin kesepakatan sekitar 60 juta pounds atau sekitar Rp1 triliun lebih dari Etihad.
Namun, setelah ditelisik lebih dalam muncul kecurigaan terkait sumber dana Etihad. Pihak CFCB mencurigai bahwa sebagian dana tersebut bukan berasal dari Etihad, melainkan dari Sheikh Mansour, pemilik Manchester City. Mengingat Etihad merupakan bisnis yang dimiliki keluarga Sheikh Mansour itu sendiri. Jadi, bisa dibilang Sheikh Mansour cuma pinjam nama Etihad.
Begitupun dengan beberapa sponsor lain. City juga memalsukan aliran dana yang seakan-akan dari sponsor, padahal dari kantong Sheikh Mansour sendiri. Pemalsuan ini terjadi saat City menjalin kerjasama dengan perusahaan Abu Dhabi, Aabar Investment. Kabarnya nilai yang dilaporkan sebesar 15 juta pounds (Rp273 miliar). Namun, sebagian besar uang itu berasal dari kantong bos Manchester City tersebut.
Setiap tahunnya klub juga harus transparan dengan operator liga, tapi itu tak diindahkan oleh City. Mereka justru memalsukan beberapa laporan soal sponsor, transfer, hingga gaji yang sebetulnya penting. Rangkaian pelanggaran tersebut jadi landasan Premier League melakukan investigasi kepada Manchester City. Kabarnya penyelidikan tersebut sudah dimulai sejak 2018 lalu.
Potensi Hukuman
Manchester City terancam hukuman berat bila terbukti bersalah atas tuduhan dari Liga Primer Inggris. Dilansir The Guardian, skuad asuhan Pep Guardiola itu bisa jadi Juventus cabang Inggris dengan mendapat pengurangan poin cukup besar. Yang mana itu akan memupuskan peluang menjadi juara liga musim ini.
Menurut laporan, City juga bisa saja di banned dari kompetisi Eropa dalam jangka waktu tertentu. Selain itu, City juga dilarang mendaftarkan pemain baru dalam rentang waktu tertentu seperti yang pernah dialami Chelsea beberapa tahun lalu. Selaku pelatih, Pep Guardiola juga mengancam akan meninggalkan klub apabila City terbukti bersalah.
Itu belum seberapa. Apabila pelanggarannya sangat berat, Premier League bisa saja mencabut beberapa gelar City mengasingkannya dari Liga Inggris. Namun, putusan akhir tak akan keluar dalam hitungan hari, melainkan bisa dalam waktu tahunan. Karena pihak Manchester City akan melewati beberapa tahap persidangan terlebih dahulu.
Ternyata Bukan yang Pertama Bagi City
Kasus semacam ini bukan kali pertama bagi City. Klub pernah terjerat kasus Financial Fair Play. Tepatnya pada tahun 2020, City juga pernah didakwa oleh UEFA terkait pelanggaran sejumlah aturan FFP. Mereka dihukum dengan larangan tampil di kompetisi Eropa. Namun, kala itu City berhasil lolos setelah mengajukan banding ke Court of Arbitration in Sport (CAS).
Lantas, apakah City bisa mengandalkan CAS demi meloloskan diri lagi dari dakwaan kali ini? Sayangnya tidak bisa. Karena dakwaan kali ini bukan datang dari UEFA, melainkan dari operator Premier League. Sanksi bagi City bersifat mutlak. Manchester City tak bisa mengajukan banding ke CAS, karena Premier League memiliki peraturan tertentu yang membuat klub tak bisa mengelak dari kesalahannya.
Betapapun kasus ini menyadarkan para investor akan pentingnya sejarah dan basis fans yang besar saat ingin mengakuisisi klub. Itu sudah dibuktikan oleh Glazers di Manchester United. Sama halnya dengan City, MU juga menggelontorkan dana triliunan rupiah per tahunnya. Tapi United aman-aman aja tuh dari FFP.
Karena United memiliki jumlah fans yang barangkali setara dengan seperempat penduduk bumi. Jadi pemasukan United di bidang komersil juga sangat tinggi. Itulah yang membuat finansial klub tetap stabil. Gimana fans City? Sudah mulai mencari formulir pendaftaran jadi fans Manchester United kah?
Sumber: The Guardian, Der Spiegel, ESPN, Premier League, SI, Pandit Football


