Tatkala melatih Tottenham Hotspur, Jose Mourinho berbicara kepada anak asuhnya. Mourinho membicarakan taktik yang kemungkinan besar akan dipakai musuhnya. Kala itu, Tottenham tengah menghadapi Manchester United.
Mourinho membeberkan taktik yang akan dipakai Ole Gunnar Solskjaer. Ia mengatakan bahwa Paul Pogba, yang kala itu masih berseragam MU, ketika mendapatkan bola akan menahannya. Pogba akan mengirim umpan ke depan. Opsinya ada pada Marcus Rashford.
Ketika laga dimulai lagi, apa yang dikatakan Mourinho itu benar. Pogba menguasai bola dan mengirim umpan ke Rashford. Davinson Sanchez pecicilan mengantisipasi umpan itu. Padahal sudah diperingatkan sang pelatih.
Ini bukan kali pertama Mourinho bicara, kemudian terwujud. Bagi Mourinho, seakan tak ada jarak antara imajinasi dan kenyataan. Beberapa ramalannya sering terbukti. Nah, berikut ini ramalan Jose Mourinho yang akhirnya terbukti. Ada yang masih ingat?
Ramalan Dele Alli
Pada September 2020, sebuah video dari film dokumenter bertajuk All or Nothing: Tottenham Hotspur mencuat. Ini adalah film yang membicarakan apa yang ada di balik klub London Utara itu. Salah satu adegannya adalah ketika Mourinho berbicara dengan Dele Alli.
Mourinho yang berstatus sebagai pelatih memperingatkan sang pemain. Ia melihat Dele Alli merupakan pemain potensial. Alli bisa berkembang. Namun, Mourinho melihat sang pemain sedang dalam masa pasang surut.
Mourinho menyarankan agar Alli lebih keras lagi menempa dirinya. Karena Mourinho tahu, Alli bisa lebih dari yang saat itu. Sang pelatih mengatakan, jika Alli tidak melakukannya, bisa jadi ia tak memiliki masa depan.
“Ada perbedaan besar antara seorang pemain yang konsisten dengan pemain yang memiliki momen. Itulah perbedaan antara pemain top dan pemain yang berpotensi besar. Saya tidak tahu mengapa Anda (Alli) mengalami pasang surut,” kata Mourinho.
Mourinho menduga itu karena gaya hidup sang pemain. Perkataan Mourinho itu di kemudian hari akhirnya terbukti. Dele Alli tidak berkembang. Usai melempem di Everton, ia dipinjam klub Turki, Besiktas. Namanya redup. Kariernya seolah lenyap seketika.
Arsenal Berada di Puncak Lagi di Tangan Arteta
Entah apa yang ada di benak Jose Mourinho. Kala timnya berhasil mengalahkan Arsenal 2-0 pada tahun 2020, ia justru mengatakan Arsenal akan berkembang di tangan Mikel Arteta. Mourinho sangat percaya Arteta bisa membawa Arsenal ke puncak klasemen lagi.
Barangkali ucapan Mourinho itu hanya candaan. Atau mungkin saja untuk menghibur Arteta yang baru saja kalah dari timnya. Pernyataan Mourinho itu seolah tak masuk akal. Di tengah desakan agar Arteta angkat kaki, ia justru meyakini hal yang justru seolah mustahil.
“Arteta memberi permainan yang sangat sulit. Mereka sangat bagus, terorganisir, dan para pemainnya memiliki budaya taktis yang baik. Kami memang menang karena dua gol. Tapi saya rasa, Arsenal, timnya, dan Arteta akan menjadi Arsenal lagi (maksudnya Arsenal di era kejayaannya),” kata Mourinho.
Siapa menyangka, komentar yang kelihatannya normatif itu benar-benar terwujud. Musim ini, hingga pekan ke-21, Arteta mengerek posisi Arsenal ke puncak klasemen. Sudah layakkah kita sebut Mourinho sebetulnya adalah seorang cenayang?
Kesuksesan Casemiro
Jose Mourinho mungkin adalah makhluk yang datang dari masa depan. Entah mengapa, ia seolah bisa mengendalikan keadaan sesuai dengan apa yang ia mau. Tapi, prediksinya tentang Casemiro benar-benar karena usaha sang pemain.
Begini. Saat melatih Real Madrid, kira-kira tahun 2013, Jose Mourinho pernah mengatakan pada Casemiro. Gelandang Brasil itu akan menjadi gelandang tengah terbaik yang pernah ada. Casemiro mengakui bahwa benar Mourinho mengatakan demikian.
“Dia (Mourinho) memberitahu ke saya, ‘Saya tahu kamu, kamu bagus, dan kamu akan menjadi gelandang tengah terbaik di dunia,” kata Casemiro pada Cope tahun 2018.
Biasanya orang yang dipuji semacam itu akan terlena. Casemiro pun demikian. Ia takut pujian Mourinho itu justru membunuhnya. Tapi Casemiro punya cara lain untuk mengolah pujian itu jadi sesuatu yang positif. Itu terwujud.
Selama berseragam Real Madrid, Casemiro jadi salah satu gelandang terbaik. Ia melengkapi lini tengah Real Madrid yang sudah ditopang Toni Kroos dan Luka Modric. Membentuk trio MCK. Tatkala bergabung ke Manchester United, ketika orang mengira Case hanya akan bersenang-senang di sana, ia justru tambah bersinar.
Sudah tak lagi di bawah ‘ketiak’ Modric dan Kroos, Casemiro makin moncer saja. Ten Hag tak hanya menyuruhnya sebagai ‘tukang bersih-bersih’, tapi memanfaatkan kreativitasnya. Casemiro pun tak hanya jadi palang pintu, tapi mesin gol. Perkataan Mourinho dulu, masih terbukti!
Rashford Tidak Cocok Bermain Sebagai Striker Nomor “9”
Mantan pemain Manchester United, Wayne Rooney meyakini Marcus Rashford akan menjadi seorang striker yang hebat. “Ia (Rashford) akan mendapatkan rekor dan menjadi pencetak gol untuk Manchester United,” kata Rooney kepada The Sun.
Sementara Rooney yakin Rashford bisa menjadi seorang striker, Jose Mourinho tidak. Ia tak yakin jika Rashford bisa berkembang menjadi striker nomor “9” alias striker murni. Meski peluang itu tetap ada.
“Saya tidak bilang Rashford tak cocok sebagai pemain nomor “9”. Cocok saja andai menghadapi lawan yang tidak pragmatis, atau memberikan ruang untuk menyerang. Tapi lawan yang akan dihadapi United adalah yang punya pertahanan rapat. Dia (Rashford) tak cocok sebagai striker yang membelakangi gawang. Dia bukan target man,” kata Jose Mourinho.
Rashford beberapa kali memang tak beres ditaruh sebagai striker murni. Sampai hadirlah sosok Erik ten Hag. Ia sepertinya mengikuti saran Mourinho dulu. Ten Hag tak menaruh Rashford sebagai striker murni, tapi sayap. Dulu, Mourinho bilang Rashford bagus dalam transisi menyerang.
Semua itu betulan terjadi. Rashford menggila bukan sebagai striker murni. Ten Hag sering menaruhnya di sayap kiri. Musim ini Rashford sudah mencetak 9 gol dan 3 asis dalam 20 laga di Premier League. Jumlah itu sangat berpotensi bertambah.
Manchester United Bakal Punya Bek Kelas Dunia
Saat melatih Manchester United, pada bursa transfer musim panas 2018, Mourinho merengek dibelikan bek tengah kelas dunia. Mourinho yakin, jika United memiliki bek tengah kelas dunia, itu akan sangat bagus bagi klub. Namun, sampai ia hengkang dari sana, belum ada bek tengah dunia yang merapat.
Mourinho hanya mempunyai Eric Bailly, Phil Jones, Victor Lindelof, dan Marcos Rojo. Sepeninggal Mourinho, MU mendatangkan Harry Maguire. Tidak, bukan dia bek tengah kelas dunianya. Tapi Raphael Varane yang juga didatangkan United.
Varane adalah bek tengah kelas dunia. Ia datang ke United, tapi dengan kondisi habis masa jayanya. Namun, dasar bek kelas dunia, penampilannya justru makin oke. Apalagi United di era Ten Hag kembali mendatangkan bek tengah kelas dunia.
Orang itu adalah Lisandro Martinez. Kembali lagi, omongan Mourinho terbukti. Manchester United punya bek tengah kelas dunia, dua sekaligus. Setidaknya Varane dan Lisandro adalah juara dunia. Dan benar, kehadiran dua pemain itu bikin lini belakang United makin bakoh.
Xabi Alonso akan Jadi Pelatih
Jose Mourinho yang menghadiri konferensi pers gim Top Eleven tahun 2019 berbicara nasib Xabi Alonso. Mourinho paham kualitas Alonso ketika melatihnya di Real Madrid. Sang pemain, bagi Mourinho tak hanya jago bermain bola, tapi juga punya kemampuan man management yang baik.
“Ayahnya adalah seorang manajer, jadi dia (Xabi) tumbuh seperti saya. Dia jadi pemain, tentu saja lebih hebat dari saya,” kata Mourinho.
Mourinho mengatakan, Xabi Alonso sudah pernah dilatih para manajer kelas atas. Selain dirinya, Alonso pernah dilatih Carlo Ancelotti, Pep Guardiola ketika di Bayern Munchen, dan Rafa Benitez ketika berseragam Liverpool.
Mourinho yakin, Alonso bisa menyatukan kemampuan para mantan pelatihnya. Alonso, kata Mourinho, bisa menjadi pelatih terbaik. Sekitar tiga tahun setelah celoteh Mourinho itu, Xabi Alonso ditunjuk sebagai pelatih Bayer Leverkusen menyusul pemecatan Gerardo Seoane.
Langkah Alonso jadi pelatih terbaik sepertinya sudah dimulai. Ia punya tugas untuk mengentaskan Leverkusen dari zona degradasi. Sebelum ia jadi pelatih, Die Werkself berada di peringkat 17. Tapi saat ia datang, sampai pekan ke-18 Leverkusen sudah bertengger di peringkat sembilan.
Mourinho Memprediksi Inggris ke Final EURO 2020
Pada EURO 2020 lalu, Timnas Inggris bertemu Jerman di babak 16 besar. Bagi Mourinho, itu adalah pertandingan semifinal. Siapa pun yang menang di laga itu, sudah pasti akan ke final.
Mourinho kala itu juga berharap pasukan Gareth Southgate bisa melaju mulus ke final. The Special One bahkan memprediksi Inggris bisa mengalahkan Jerman dengan skor 2-1. “Swedia, Ukraina, Denmark, Republik Ceko… Ayo, kalahkan Jerman dan melaju ke final,” kata Mourinho.
Hasilnya? Tak perlu dijelaskan lagi. Sampai di sini, jangan-jangan Mourinho selain punya kualitas taktik, ia mungkin saja adalah titisan seorang peramal terkenal dari Prancis, Nostradamus.


