Pertandingan Arsenal melawan Manchester United pernah jadi derby yang paling panas di Liga Inggris pada masanya. Salah satu momen paling panas di laga Arsenal vs Manchester United adalah di laga Liga Inggris di awal tahun 2005. Saat itu the gunners menjamu setan merah di stadion kebanggan mereka Highbury.
Para media Inggris sudah melabeli pertandingan ini sebagai pertandingan yang paling penting saat itu. Selain karena kedua tim itu merupakan tim terkuat pada masanya, tapi juga mereka sedang sama-sama berusaha untuk mengejar Chelsea yang duduk di puncak klasemen.
Arsenal butuh menang agar jarak poinnya dengan Chelsea semakin dekat. Jika menang di laga ini, anak asuh Arsene Wenger akan memotong jarak the blues menjadi tujuh poin dengan sisa satu pertandingan yang belum dimainkan. Sedangkan Mu juga butuh kemenangan. Jika menang, setan merah akan membuat jarak mereka dengan Chelsea menjadi delapan poin, juga dengan sisa satu pertandingan.
Daftar Isi
Pertempuran di Lorong
Selain motivasi kedua tim itu, rivalitas antara Patrick Vieira dari Arsenal dan Roy Keane dari Manchester United juga membuat laga ini jadi pertarungan paling panas. Bagaimana tidak? laga belum dimulai, mereka berdua sudah terlibat perkelahian dan adu mulut.
Roy Keane memang sudah dikenal sebagai premannya Premier League. Dan dirinya punya musuh bebuyutan. Musuhnya itu adalah Patrick Vieira, gelandang yang tidak kalah tangguhnya dengan pemain Irlandia itu.
Roy Keane dan Patrick Vieira sudah lama menjadi musuh. Sejak era 1990-an sampai ke 2000-an awal, kedua pemain itu sering bertemu satu sama lain dan saling bertarung di dalam lapangan. Namun, salah satu pertengkaran mereka yang paling ikonik terjadi di pertandingan ini.
Kedua tim baru akan masuk ke lapangan untuk memulai pertandingan, Roy Keane tampaknya sudah tidak terima dengan kata-kata yang diucapkan Viera. Hampir terjadi pertengkaran heboh di lorong Highbury yang sempit kalau saja Keane tidak ditahan wasit.
Cekcok ini sebenarnya bukan berawal dari pertengkaran Keane dan Vieira itu sendiri. Melainkan Vieira dengan Gary Neville. Pemain asal Prancis itu mengganggu Neville sebelum pertandingan. Neville memang bukan seorang petarung di luar lapangan, Keane yang melihat hal itu tidak terima dan berkata “kalau mau nge-bully, coba dengan saya saja”
Setelah itu Keane hanya berkata “Lihat saja nanti di lapangan!” berulang kali sambil menunjuk ke arah Vieira. Tensi yang tercipta saat itu sangat panas sampai tidak ada pemain Arsenal maupun MU lainnya yang berani ikut campur. Tentu saja, Keane dan Vieira kemudian terlihat tidak mau saling bersalaman.
Pertempuran di Lapangan
Bermain sebagai tim tuan rumah, Arsenal berusaha mendominasi permainan sejak menit-menit awal. Laga baru berjalan 8 menit, Arsenal sudah memimpin lewat gol dari Vieira. Ia mampu memanfaatkan dengan baik sepak pojok dari Thierry Henry. Tapi kedudukan ini tidak bertahan lama.
Sepuluh menit kemudian, Ryan Giggs menerima umpan dari Rooney. Bola tendangannya mengenai kaki Ashley Cole terlebih dahulu sebelum menggetarkan gawang Almunia. Papan skor pun berubah jadi 1 sama. Sebelum babak pertama berakhir, tepatnya di menit ke-38, Thierry Henry kembali memberikan umpan manis yang membuat Arsenal mampu mengembalikan kedudukan lewat gol dari Dennis Bergkamp.
Masuk ke babak kedua, Manchester United mulai beraksi. Entah apa yang dikatakan oleh Alex Ferguson di ruang ganti, tapi strateginya berjalan dengan baik. Setan merah mulai menguasai jalannya pertandingan. Meskipun tertinggal di babak pertama, tapi mereka berusaha untuk tetap tenang.
Hasilnya di menit ke 54, Cristiano Ronaldo berhasil menyamakan kedudukan setelah memanfaatkan umpan matang dari Ryan Giggs. Ia merayakan gol itu dengan menyuruh diam para pendukung Arsenal. Hanya berselang empat menit kemudian Ronaldo kembali mencetak gol keduanya di malam itu. Sekaligus membalikan keunggulan United menjadi 3-2.
Setan merah harus bermain dengan 10 pemain setelah Mikael Silvestre mendapatkan kartu merah di menit ke-69. Meskipun begitu, pertahanan setan merah tidak kendor. Anak asuh Sir Alex Ferguson justru bisa menambah gol di menit ke-88 lewat chip cantik dari John O’shea. Itu jadi gol terakhir di pertandingan tersebut.
Meskipun kemenangan ini memangkas jarak setan merah dengan Chelsea, tapi mereka tidak bisa menyusul the blues di akhir perjalanan Liga Inggris musim 2004/05. Manchester United hanya mampu duduk di peringkat ketiga, dibawah Arsenal yang jadi runner-up. Chelsea jadi juara Liga Inggris musim itu dengan raihan 95 poin.
Pendapat Vieira dan Keane Soal Insiden Itu
Di tahun 2013, Roy Keane mengenang kembali laga seru itu. Dan tentu saja soal pertikaiannya dengan Vieira di lorong Highbury. Ia berkata kalau yang membuatnya marah saat itu adalah kekesalannya melihat Gary Neville diganggu oleh lawan.
Sebagai kapten, ia hanya berusaha untuk melindungi rekan setimnya. Terlebih lagi, Roy Keane menganggap kalau Vieira dan kawan-kawannya mengganggu Neville karena bek asal Inggris itu lemah di luar lapangan.
“Saya jelas-jelas melihat Vieira di ujung lorong, sedang mengganggu Neville. Saya melihat Vieira dan dua atau tiga pemain lainnya seakan ingin mengeroyok Gary, dan itu yang membuat saya sangat marah. Sesimpel itu.”
Vieira juga memberikan versinya sendiri atas kejadian menegangkan nan ikonik tersebut. Ia berkata kalau dirinya tidak suka pemain United saat itu karena mereka berisik. Ia juga tidak suka dengan Gary Neville yang menurutnya bermain terlalu kasar.
“Pemain United, mereka berisik. Gary Neville punya kebiasaan menendang kaki lawan. Dia pernah sengaja mencederai Robert Pires ketika kami bermain di Old Trafford, jadi saya mengancamnya dengan bilang kalau dia sekarang di Highbury, bukan Old Trafford”
Persaingan yang Sudah Memudar
Vieira mengaku sudah melupakan momen tersebut sebagai sebuah insiden. Sebaliknya, mengingat momen tersebut malah membuatnya tersenyum. Ia pun memaklumi mengapa saat itu Roy Keane begitu marah dengannya
“Tentu saja, sebagai seorang kapten Roy dan saya hanya berusaha untuk melindungi rekan kami. Pemain dari masing-masing tim sama sama ingin mendominasi satu sama lain. Ketika saya melihat kembali kejadian itu, itu membuat saya tersenyum”
Meskipun itu adalah momen yang menegangkan, Vieira berkata bahwa itu adalah masa-masa terbaik sepak bola. Ia merindukan bagaimana Manchester United dan Arsenal dulu menjadi rival yang saling sikut satu sama lain untuk jadi tim terbaik di Inggris.
“Itu adalah momen terbaik dalam sepak bola. Tapi saya pikir anda tidak butuh hal semacam itu untuk menjadi rival. Kami hanyalah dua tim yang sama-sama ingin untuk mendominasi kompetisi.”
Rivalitas Manchester United dan Arsenal sempat memudar menjelang era 2000-an berakhir. Salah satu penyebabnya adalah hilangnya Arsenal dalam perebutan gelar juara. Selain itu, tim-tim lain pun mulai menjadi tim kuat yang menggeser tahta Arsenal dan Manchester United sebagai tim terbaik di Inggris.
Sumber referensi: Guardian, MEN, Pundit, SportJoe, Premier League


