Layaknya seorang anak yang sedang meminta sesuatu pada orang tua, kita harus menggunakan etika yang benar. Sopan dan tidak menentang apabila terjadi perbedaan pendapat. Demikian juga yang terjadi di bursa transfer. Ketika bursa transfer dibuka, klub yang sedang mengincar pemain dari tim lain harus menghormati etika yang ada.
Salah satunya sudah pasti menyangkut komunikasi dengan klub yang menaungi pemain yang akan direkrut. Hal itu karena klub peminat sebetulnya dilarang keras menghubungi langsung si pemain. Mereka hanya boleh berkomunikasi dengan klub pemilik. Namun, etika macam ini sering tidak diindahkan.
Misalnya, klub peminat bertemu dengan si pemain di luar pertandingan. Dari awalnya hanya basa-basi, eh, ujung-ujungnya malah menawari kontrak. Nah, praktek seperti ini sering disebut dengan “Tapping-up”, dan berikut Starting Eleven akan membahasnya lebih dalam.
Daftar Isi
Tapping Up
Sebelum membahas lebih jauh tentang Tapping-up, apa sih sebenarnya makna dari istilah tersebut? Setiap klub mempunyai struktur rekrutmen pemain yang berbeda. Biasanya, tugas perekrutan pemain dibagi antara manajer dan seorang eksekutif yang mewakili dewan direksi klub.
Pada dasarnya cara resmi untuk merekrut pemain yang masih memiliki hubungan kontrak di klub lain adalah dengan membangun komunikasi yang baik dengan klub penjual. Setelah komunikasi terjalin dan menyatukan pandangan, barulah tawaran resmi untuk pemain incaran dilayangkan.
Meski demikian, pada kenyataannya, transfer pemain tak sesederhana itu. Transfer pemain kadang melibatkan banyak diskusi dan pergerakan di belakang layar, Tapping-up adalah salah satu istilah yang terkenal untuk menggambarkan situasi tersebut.
Tapping-up atau biasa kita sebut penyadapan sejatinya proses terlarang. Apalagi dalam prosesnya hanya melibatkan perwakilan dari klub peminat dan agen atau pemain langsung. Klub yang menaungi pemain sama sekali tidak dilibatkan. Meski dianggap sebagai perilaku tercela, cara ini masih banyak digunakan klub untuk memastikan apakah sang pemain benar-benar tertarik untuk bergabung dengan klub peminat.
Bagaimana Kerja Tapping Up?
Di kehidupan yang serba maju cukup sulit untuk tidak berpikir bahwa ‘penyadapan’ terjadi lebih sering daripada yang klub-klub sadari. Apalagi ada fakta mengejutkan di baliknya. Dilansir Goal, meski kegiatan sadap menyadap pemain secara profesional memang dilarang, tetapi tidak dianggap ilegal. Kok bisa, emang gimana sih cara kerja Tapping-up?
Kegiatan seperti ini memiliki beberapa jenis, biasanya tapping-up dilakukan oleh agen pemain di belakang layar. Jadi klub peminat berbicara kepada agen pemain incaran kalau mereka berminat. Nah, nanti agen akan bilang ke klub pemilik kalau pemainnya ingin pergi. Ia bertanya berapa yang harus dibayar agar pemainnya bisa pergi. Setelah angka didapat, informasi itu diberikan ke klub pembeli.
🗣 “He is a good talent, he proved himself already.”
Erik ten Hag is excited about working with his former Ajax player Antony at Manchester United pic.twitter.com/GLvrmQBSN3
— Football Daily (@footballdaily) September 4, 2022
Namun, ada yang lebih sering ditemukan, yakni pelatih atau pemain dari klub peminat yang memuji pemain incaran di hadapan media. Tentu orang-orang awam akan mengira kalau wajar saja seorang pelatih memuji performa pemain lain. Tapi jangan salah, terkadang pujian ini memiliki maksud untuk menarik perhatian sang pemain incaran.
Contohnya saja saat Antony diisukan akan bergabung Manchester United. Dilansir Sky Sport, ketika menerima beberapa pertanyaan tentang Antony, Ten Hag tak segan memuji sang pemain, karena mereka pernah bekerja sama di Ajax. Ia cukup antusias dengan rumor itu, tapi Ten Hag tak mau berbicara banyak tentang Antony yang saat itu masih pemain Ajax.
Selain itu, ada lagi yang menggunakan pemain yang satu negara dengan pemain target. Ia diberi tugas membujuk rekan senegaranya untuk pindah ke klub yang ia bela. Contohnya Xavi Hernandez yang membujuk Cesc Fabregas agar mau pindah dari Arsenal ke Barcelona tahun 2011.
Menggunakan Detektif Swasta
Sedangkan dalam mencari informasi tentang pemain incaran, klub juga sesekali menggunakan jasa detektif swasta. Ya namanya juga mau licik, mainnya pun diam-daim. Saat ini klub punya banyak sumber untuk menilai kemampuan seorang pemain, seperti dari statistik dan rekaman video. Akan tetapi, ada satu hal yang sulit dipastikan, yakni kepribadian si pemain.
Nah, untuk mengetahui itu, klub biasanya akan menyewa detektif untuk mencari tahu keseharian pemain yang diincar. Misalnya, apakah pemain itu rajin menjaga kondisi tubuhnya? Apakah ia pemabuk? Atau apakah si pemain hobi berjudi dan menghabiskan waktu di kasino sampai pagi? Pencarian informasi menjadi penting bagi klub pembeli.
Contoh Pemain yang Didapat Dengan Cara Tapping-Up
Selain Cesc Fabregas dan Antony, ada beberapa kasus tapping-up yang cukup terkenal. Contohnya Luis Suarez yang didatangkan Barcelona dari Liverpool pada bursa transfer tahun 2014 silam. Barcelona bahkan mengakui kalau mereka mendekati Suarez terlebih dahulu sebelum menghubungi Liverpool.
Dilansir Mirror, Presiden Barcelona saat itu, Josep Maria Bartomeu pun mengakui hal tersebut. Ia mengatakan kalau Barca menghubungi Suarez sebelum Piala Dunia 2014. Mereka mengatakan kalau sang pemain bermain apik di Liverpool dan saat itu jadi waktu yang tepat bagi Suarez untuk bergabung dengan Barcelona.
#4K virgil van dijk 🇳🇱 Cody Gakpo 🧡 pic.twitter.com/2J9N0ir66C
— Van dijk | فان دايك (@DIJKHQ) December 29, 2022
Selain Suarez, ada Cody Gakpo yang pindah ke Liverpool. Sepanjang musim, Gakpo telah dirumorkan ke Manchester United, tapi di akhir cerita malah gabung Liverpool. Menurut Daily Mail, sebelum klub mencapai kesepakatan dengan PSV, pemain Liverpool yang juga satu negara dengan Gakpo, yakni Virgil van Dijk membujuk sang pemain untuk bergabung dengan Liverpool. Bahkan Gakpo mengakui itu.
Namun, apakah upaya seperti ini selalu berhasil? Tentu tidak, contohnya yang terjadi dengan Manchester United dan Frenkie De Jong. Erik Ten Hag berusaha membujuk sang pemain untuk bergabung dengan United jauh sebelum ia resmi bertugas menjadi manajer MU.
Dilansir Sport Bible, musim 2021/22 belum berakhir, Ten Hag sudah menelponnya setiap hari untuk membujuk Frenkie bergabung dengan Setan Merah. Tapi sang pemain enggan bergabung dengan United.
Jika Terbukti Apakah Ada Hukumannya?
Jika perbuatan semacam ini dilarang, apakah ada peraturan yang mengaturnya? Tentu ada tapi kurang tegas. Di Spanyol contohnya, pada tahun 2019 Atletico Madrid mengeluhkan pendekatan tak wajar yang dilakukan Barcelona kepada pemain mereka, Antoine Griezmann. Pihak Atletico akhirnya melapor ke federasi sepakbola Spanyol.
Barcelona pun dinyatakan bersalah dan membayar 300 euro atau setara Rp4,8 juta kepada Atletico. Itu denda yang terlalu sedikit sehingga tak cukup untuk memberikan efek jera pada klub sekelas Barcelona.
FIFA sendiri terbilang kurang tegas dalam menegakkan peraturan tapping up. FIFA hanya menempatkan kewajiban untuk ‘menginformasikan’ klub induk sebelum melakukan kontak dengan pemain. Jadi, pemain tak perlu meminta persetujuan dari klub untuk melakukan negosiasi dengan klub lain.
Manchester City fined £300,000 and given two-year ban on registering academy players after… https://t.co/0uwWFxcTRI pic.twitter.com/GL7RpoTRW6
— WookBox (@WookBox) May 5, 2017
Berbeda dengan di Inggris, Premier League punya peraturan yang cukup ketat untuk praktek semacam ini. Mereka sudah melarang keras adanya tapping up. Pihak EPL mengharuskan pemain yang sudah dikontrak tidak boleh secara langsung atau tidak membuat pendekatan apa pun tanpa mendapatkan persetujuan dari klubnya.
Dendanya pun jauh lebih besar. Itu pernah terjadi pada Manchester City 2017 silam. Di mana City dinyatakan bersalah karena melakukan penyadapan terhadap dua gelandang belasan tahun yang tak disebutkan namanya dari Everton dan Wolves. City pun mendapat sanksi berupa denda sebesar 300 ribu pounds atau Rp5,5 miliar.
Sumber: Goal, Sportbible, Mirror, BBC, Sky Sport, Daily Mail, Ligalaga


