AADC, Ada Apa Dengan Chelsea? Mungkin itu pertanyaan yang muncul di benak para fans The Blues, karena musim ini performa klub kesayangannya sedang jeblok. Pelatih Chelsea, Graham Potter bahkan pasrah dan mengakui kalau timnya tengah berada di performa buruk. Pelatih berpaspor Inggris itu juga menilai timnya akan sulit mengunci posisi empat besar jika terus inkonsisten di sisa musim 2022/23.
Penurunan performa The Blues bukan tanpa sebab. Kondisi Chelsea memang sudah carut marut sejak pemilik lama mereka, Roman Abramovich dipaksa menjual Chelsea awal tahun lalu. Sejak itu, efek domino pun terjadi. Dari transisi kepemilikan baru hingga beberapa keputusan yang terburu-buru jadi akar permasalahan Chelsea musim ini.
Rangkaian permasalahan itu juga berimbas pada performa pemain Chelsea. Bak kerupuk yang disiram kuah soto, pemain-pemain Chelsea yang musim lalu moncer justru tampil melempem. Pemain yang musim lalu mengemban peran vital, kini bernasib sial. Dan berikut ini Starting Eleven sajikan pemain Chelsea yang dulu gacor sekarang malah melempem di tangan Graham Potter.
Daftar Isi
Kai Havertz
Lini serang Chelsea yang tumpul memang jadi salah satu sebab mengapa mereka sulit memenangkan laga. Salah satu penyerang Chelsea yang mengalami penurunan performa musim ini adalah Kai Havertz. Dari sepuluh pertandingan terakhir bersama Chelsea, Havertz baru mengantongi dua gol saja.
Itu catatan yang sangat buruk untuk striker yang musim lalu berhasil mencatatkan dua digit gol di seluruh kompetisi. Havertz juga sempat menjadi pahlawan Chelsea di final Liga Champions musim 2020/21. Di tangan Tuchel, bahkan ia semakin matang. Memainkan peran sebagai false nine, Havertz berkontribusi dalam 20 gol Chelsea musim lalu.
Wake up, Kai Havertz plays football today pic.twitter.com/BPYZwSsHbU
— Mod (@CFCMod_) January 1, 2023
Sayangnya, memasuki musim ketiganya di London, performa Havertz justru tak stabil. Ia bahkan tak mampu mencetak satu gol pun di lima pertandingan awal Liga Inggris. Gol perdananya di Premier League baru hadir di pekan keenam kala bersua West Ham di Stamford Bridge.
Apalagi pergantian kursi kepelatihan ke tangan Graham Potter pada September lalu mempengaruhi performa Havertz. Sang juru taktik yang kerap merombak susunan lini serang The Blues membuat Havertz tak bisa bermain di posisi kesukaan dan mencapai potensi terbaiknya. Datang dengan harga 80 juta euro atau setara Rp1,3 triliun, rasanya Havertz harusnya memberikan lebih dari ini.
Jorginho
Selain masa depannya yang tidak pasti, performa Jorginho di lini tengah Chelsea juga kian tak menentu. Penampilan Jorginho yang di bawah standar dalam beberapa pertandingan terakhir tak meyakinkan klub asal London itu untuk memperpanjang kontrak sang pemain di akhir musim nanti.
Pergantian kursi kepelatihan jadi salah satu faktor penurunan performa Jorginho. Di tangan Potter, penampilan buruk punggawa Timnas Italia itu ditandai dengan menurunnya kemampuan sang pemain untuk mengatur tempo permainan di sektor tengah Chelsea.
Jorginho sering kebingungan ketika mendapat serbuan dari gelandang-gelandang lawan. Akurasi umpan jarak menengahnya juga menurun. Ia hanya mencatatkan 85% umpan sukses, itu statistik terburuk dalam karirnya bersama Chelsea, karena biasanya Jorginho selalu mencatatkan lebih dari 91%.
On this day in 2019, Arsenal were 1-0 up and completely dominating Chelsea, Lampard realised his mistake and bought Jorginho on, he instantly took control of the game and completely dominated Arsenal’s midfield, by dropping a midfield masterclass. pic.twitter.com/2UIUcdwJ7E
— J5 (@ChelseaJF5) December 29, 2022
Padahal Jorginho merupakan dirigen lini tengah yang luar biasa ketika pertama kali didatangkan Chelsea 2018 lalu. Ia membangun koneksi yang sempurna dengan N’golo Kante. Jorginho bermain di belakang Kante untuk menjaga bola agar terus mengalir. Ia selalu menjadi opsi umpan pertama bagi para bek dan gelandang Chelsea. Jadi Jorginho yang mengatur serangan Chelsea akan dimulai dari mana.
Kontribusinya saat memegang bola maupun tidak sangat efisien. Terlebih Jorginho juga sempat dianugerahi penghargaan UEFA Player of the Year 2021 berkat prestasi yang ia torehkan bersama Chelsea dan Timnas Italia pada tahun tersebut. Entah gara-gara kontraknya yang mau habis, atau hanya merindukan sosok N’golo Kante di lini tengah, performa Jorginho jauh menurun musim ini.
Edouard Mendy
Sebelum akhirnya digantikan oleh Kepa Arrizabalaga, Edouard Mendy memang sudah menunjukan tanda-tanda penurunan performa. Penjaga gawang asal Senegal sejatinya merupakan salah satu punggawa andalan di Stamford Bridge. Ia memainkan peran penting di balik keberhasilan Chelsea meraih trofi Liga Champions 2020/21.
Edouard Mendy blunder. Cek🤦🏽♂️ pic.twitter.com/oGJrmnHm1G
— Siaran Bola Live (@SiaranBolaLive) August 22, 2022
Sayangnya, penampilan Mendy cenderung menurun akhir-akhir ini, terutama di tangan Graham Potter. Sebelum mengalami cedera bahu, pesepakbola berusia 30 tahun itu kesulitan menjaga gawang The Blues tetap bersih dari gol lawan, hingga kebobolan sembilan gol hanya dalam enam pertandingan pertama di Liga Inggris.
Gol-gol yang bersarang ke gawang Mendy juga beberapa kali disebabkan oleh kesalahannya sendiri. Contohnya saja di laga kontra Leeds United di pekan ketiga. Mendy melakukan blunder konyol yang menyebabkan Brandon Aaronson berhasil mencetak gol pertama untuk Leeds.
Total, dalam sembilan pertandingan di Liga Inggris, Mendy sudah kebobolan 12 gol dan hanya mencatatkan satu clean sheet. Statistik itu sangat berkebalikan dengan performanya musim lalu yang mampu mencatatkan enam clean sheet dalam 10 pertandingan pertama Liga Inggris 2021/22. Jadi tak heran kalau sekarang Kepa yang mengemban peran sebagai kiper utama The Blues.
Cesar Azpilicueta
Selanjutnya ada sang kapten, Cesar Azpilicueta yang performanya juga mengalami penurunan. Pemain yang satu ini mungkin jadi yang paling dimaklumi, karena usianya yang sudah tak muda lagi. Kini usia pemain asal Spanyol itu sudah menginjak 33 tahun.
Meski demikian, ia merupakan seorang kapten tim. Azpilicueta seharusnya menjadi pemain yang harus memberikan contoh kepada pemain lain, bukan malah ikut-ikutan loyo. Selain jumlah menit bermainnya yang kian menurun sejak dua musim terakhir, kontribusinya di era Graham Potter pun ikut menurun. Sejauh ini kita mengenal Azpi sebagai bek sayap yang piawai membantu serangan dengan umpan-umpan silang akurat. Namun, di era Potter kita jarang melihat itu.
Sejauh video ini dibuat, Azpilicueta bahkan belum mencatatkan satu pun kontribusi gol setelah memainkan 21 pertandingan di semua kompetisi. Tumpulnya lini depan Chelsea juga mempengaruhi kualitas penyelesaian akhir dari umpan-umpan silang berbahaya yang biasanya dikirimkan Azpi.
Reece James
Terakhir ada Reece James. Pemain muda bertalenta ini jadi pesaing utama Cesar Azpilicueta di sektor kanan pertahanan Chelsea. Namun, musim ini kontribusinya jauh di bawah standar, ia lebih sering mengunjungi ruang perawatan ketimbang bermain di lapangan. James mengalami cedera lutut yang membuatnya absen dalam beberapa bulan. Ia bahkan gagal memperkuat Timnas Inggris di Piala Dunia 2022 kemarin.
🚨 Buying a backup to Reece James has become more of a priority for Chelsea than it first was after seeing how the team collapses without him.#CFC
(@Matt_Law_DT via @LondonBluePod) pic.twitter.com/pzz2Sn6E1h
— Chelsea Dodgers 🧢 (@TheBlueDodger) January 10, 2023
James sempat kembali di kemenangan Chelsea atas Bournemouth beberapa hari lalu. Tapi ia kembali ditarik keluar pada menit 53. Chelsea mengkonfirmasi kalau lututnya kembali bermasalah. Dilansir Sky Sport, James mengaku bahwa musim 2022/23 jadi musim paling berat baginya. Ia merasa sedih karena tak bisa membantu Chelsea yang tengah kesulitan bersaing di Liga Inggris.
Mengingat performanya musim lalu sangat mengesankan. Ia memainkan peran sebagai bek sayap dengan baik. Kemampuan bertahan dan menyerang James pun sama baiknya. Dalam 26 pertandingan Premier League musim lalu, James bahkan mampu berkontribusi dalam 14 gol Chelsea. Itu lebih baik dari seniornya, Azpilicueta yang hanya berkontribusi tiga gol dalam 27 pertandingan.
https://youtu.be/LM3VNW8z6Xk
Sumber: Chelsea Fc, Sky Sport, Football Faithfull, Sportskeeda, Marca, 90min, Goal


