Awal Mula Rivalitas Unik Manchester United dan Barcelona

spot_img

Sebuah rivalitas unik terjadi antara dua klub beda negara, yakni Manchester United dan Barcelona. Rivalitas itu sama sekali tak terkait dengan akar masalah budaya maupun politik, seperti layaknya rivalitas sengit antarklub sesama negara.

Rivalitas unik itu murni dibangun dari catatan sejarah pertemuan dua klub tersebut. Namun tak hanya itu, berkat beberapa cerita pertemuan keduanya, banyak juga yang terkadang terbawa dalam aroma emosi persaingan.

Ferguson dan Cruyff

Awal mula pertemuan kedua tim terjadi di babak perempat final Piala Winner 1984. MU ketika itu mampu comeback sensasional berkat Bryan Robson dan kawan-kawan. Red Devils ketika itu unggul agregat 3-2 atas Maradona dan kawan-kawan.

Lalu, sejak Sir Alex Ferguson datang, MU menjadi lebih solid dan berwarna berkat sosok Fergie yang mulai populer di era 90-an. Di tahun 1990, Fergie dapat kesempatan bertemu idolanya yakni Johan Cruyff yang ketika itu melatih Barca.

MU dan Barca untuk kedua kalinya berjumpa di Piala Winners. Namun, kali ini di partai puncak. Fergie yang merasa timnya inferior ketimbang materi bintang Barcelona di bawah Cruyff, tak terduga mampu menghentikan Barca menggenggam Piala Winners. Setan Merah menang tipis 2-1 dan berhak membawa pulang trofi pertama Fergie di pentas Eropa.

Bagi Cruyff, ini adalah sebuah lelucon ketika fansnya mampu mempermalukannya di negaranya sendiri. FYI aja, final itu dihelat di Rotterdam pada Mei 1991. Cruyff pun mengakui, gaya Kick and Rush yang diperagakan Fergie sangat bagus ketika itu.

Momen pertemuan di babak grup Liga Champions 1994/95 adalah yang ditunggu Cules di seluruh dunia sebagai ajang pembalasan dendam pada dewa mereka yang pernah disakiti yakni Johan Cruyff.

Imbang di Old Trafford 2-2, kemudian muka Ferguson dan MU “ditampar” oleh pasukan Cruyff di Camp Nou 4-0. Dendam itu pun terbayar lunas. “Itu pelajaran yang berharga untuk karir saya. Mereka menunjukan bahwa sangat penting untuk menguasai bola di laga penting,” kata Sir Alex.

Nah sejak itu, taktik menyerang dengan penguasaan bola yang diterapkan oleh Cruyff di Barca kelak di kemudian hari sering dipraktekan oleh Fergie saat melatih MU dan meraih berbagai prestasi.

Treble Winners MU di Rumah Barca

Seiring berjalannya musim, Fergie mampu tumbuh dengan sepakbola menyerangnya yang tak lagi hanya mengandalkan gaya ortodoks Inggris, Kick And Rush. Dominasi pun tak terelakan. Masa kejayaan Fergie dan MU pun hadir di akhir tahun 90-an.

Pertemuan keduanya kembali tersaji ketika keduanya bertemu di babak grup Liga Champions musim 1998/99. Namun, kali ini dalam kondisi yang berbeda. Barca tak lagi bersama Cruyff, sedangkan MU masih setia bersama Fergie. Mereka tumbuh menjadi klub yang solid dengan pemain macam Beckham, Giggs, Roy Keane, maupun Scholes.

Namun kenyataannya, Fergie tetap tak mampu mengalahkan Barcelona, Fergie tak mampu membalaskan dendam kekalahannya atas Cruyff pada 1994 silam. Hasil imbang di dua leg adalah hasil akhir pertemuan seru tersebut. Kenapa seru? Dalam dua leg tersebut, total 12 gol mampu tercipta.

Akan tetapi, tunggu dulu. Justru MU yang tersenyum dengan dua hasil imbang tersebut. Pasalnya, dengan hasil itu MU secara tak langsung memulangkan Blaugrana dari ajang Liga Champions. Di mana dari grup tersebut, yang lolos adalah Munchen dan MU.

Ya, secara tak langsung Fergie akhirnya mampu membalaskan dendam pribadinya kepada Barcelona meskipun tak bisa menang secara skor. Apalagi setelah itu langkah United mampu mulus mencapai partai puncak kala melawan Munchen.

Yang lebih spesialnya lagi, ketika itu MU dan Fergie berpesta pora merayakan kejayaan mereka meraih Treble Winner dengan mengalahkan Munchen di final dengan aksi “comeback” sensasionalnya.

Rasa sakit hati para publik Barca pun ketika itu sontak berlipat. Karena pestapora MU itu terjadi di tengah-tengah kota mereka. FYI aja, ketika itu final Liga Champions 1998/99 dihelat di Camp Nou.

Era Baru Kebangkitan Barcelona

Masa kelam Barcelona mulai sirna ketika mereka meraih kejayaan kembali di era Frank Rijkaard. Gelar La Liga dan gelar Liga Champions pada musim 2005/06 pun kembali ke pangkuan.

Di Liga Champions musim 2007/08, pembuktian era kejayaan Barcelona di bawah Rijkaard akan diuji oleh Ferguson. Mereka bertemu lagi ketika di partai krusial yakni semifinal.

Bermain di Camp Nou di leg pertama, skor kacamata terjadi. Penentuan kelolosan ke partai puncak pun ditentukan di Theater Of Dreams. Malapetaka pun akhirnya menimpa Blaugrana di Old Trafford. Gol semata wayang Paul Scholes dari jarak jauh, menghentikan langkah Barca ke final.

Fergie pun kembali tersenyum, Barca kembali bisa ia singkirkan. Lebih spesialnya lagi, berkat kemenangan itu MU mampu memenangkan gelar juara Liga Champions di final Moscow kala melawan Chelsea.

Dibayar Lunas di 2 Final

Tentu kenangan pahit Barca ketika berjumpa Fergie masih terngiang, ketika keduanya bertemu lagi di partai istimewa Final Liga Champions 2008/09. MU berhadapan dengan skuad baru Barca di bawah Pep Guardiola di Olimpico Roma.

Tak mau kembali dipermalukan oleh Fergie, Barca akhirnya mampu membalasnya dengan kemenangan meyakinkan 2-0 berkat gol Eto’o dan Messi. Gelar ketiga Barcelona di Liga Champions akhirnya didapat dari musuh yang selalu menyingkirkan mereka, MU.

Pep Guardiola sebagai salah satu pemain didikan Cruyff yang sempat membantai MU era Fergie, kembali menunjukan tajinya ketika mereka bertemu untuk kedua kalinya di partai Final Liga Champions 2010/11.

Tuntas dan lunas. Pep akhirnya mampu mengobati luka lama Barca untuk kedua kalinya dari Fergie. Blaugrana kembali meraih juara Liga Champions dari tangan Fergie. Kali ini diraih di Wembley, yang notabene stadion kebanggan Inggris. Messi dan kawan-kawan mampu pecundangi MU untuk kedua kalinya di final, kali ini dengan 3-1

Sebuah akhir karir Fergie yang penuh luka yang didapat dari Barca. Bagaimanapun, luka itu masih membekas di beberapa fans MU, bahkan setelah Fergie pensiun sekalipun. Namun fergie pun tak menyesal dan legowo menyebut barca sebagai tim terbaik yang pernah dihadapinya.

Sejak Fergie pensiun, MU belum mampu lagi mengalahkan Barca. Terakhir kali mereka bertemu lagi yakni di perempat final Liga Champions musim 2018/19. Ketika itu di zaman Valverde vs Ole, MU kembali digasak Messi dan kawan-kawan dengan agregat telak 4-0.

Romantisme rivalitas unik tersebut akan terulang kembali di partai Playoff 16 Besar Europa League musim 2022/23. Kedua tim yang saling mengalahkan itu akan bertemu. Nostalgia tentang persaingan, luka lama, kelak tetap akan bersemi kapan pun mereka bertemu.

https://youtu.be/tBi-VVnCwec

Sumber Referensi : dailymail, bleacherreport, manchestereveningnews, theathletic, goal, eurosport

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru