Pada video sebelumnya, Starting Eleven sudah membahas mengapa Timnas Indonesia masih sulit mengalahkan Thailand. Kamu bisa menonton video itu terlebih dahulu. Well, sebetulnya, selain Thailand, Indonesia juga kesulitan ketika bertemu dengan Vietnam.
Di ajang apa pun. Tapi terutama di Piala AFF yang dulu kita kenal dengan Piala Tiger. Pasukan yang berjuluk Bintang Emas itu sering menyulitkan Tim Garuda. Indonesia hampir selalu kalah ketika berhadapan dengan Vietnam.
Kalaupun tidak kalah, Indonesia lebih banyak meraih hasil imbang. Sedangkan untuk menang, bukan tidak bisa, tapi Indonesia sangat jarang bisa mengalahkan Vietnam. Lalu, apa yang membuat hal itu terjadi? Bagaimana sih, kekuatan sepakbola Vietnam yang sulit kita kalahkan itu?
Daftar Isi
Head to Head
Secara ranking FIFA, Indonesia kalah dari Vietnam. The Golden Stars menempati peringkat 96, sedangkan Indonesia berada di peringkat 151. Tapi soal head to head, sebetulnya Indonesia mampu mengungguli Vietnam di tim nasional kelompok umur. Misalnya, di kelompok tim nasional U-16.
Timnas Indonesia U-16 selalu menang ketika menghadapi Vietnam. Bahkan dari empat pertandingan terakhir, Vietnam takluk atas Indonesia. Yang teranyar Timnas Indonesia U-16 berhasil menaklukkan Vietnam di Piala AFF U-16 tahun 2022 kemarin dengan skor tipis 2-1.
Head to Head
Indonesia 🇮🇩 vs 🇻🇳 Vietnam#TimnasDay #TimnasIndonesia #TimnasU16 #KitaGaruda #AFF #AFFU16 pic.twitter.com/aCbgyk7H1x— BRI Liga 1 2022 (@Liga1Match2022) August 6, 2022
Sayangnya, kesuksesan Timnas Indonesia U-16 tidak diikuti yang lainnya. Timnas U-19 misalnya, hanya bisa menang sekali dari empat pertandingan terakhir menghadapi Vietnam. Indonesia berhasil mengalahkan Vietnam dengan skor 1-0 di Piala AFF U-19 tahun 2018.
Lalu di level U-23 atau U-22, Indonesia hanya bisa menang sekali atas Vietnam. Satu-satunya kemenangan itu terjadi di Piala AFF U-22 di tahun 2019 ketika Indonesia mengalahkan Vietnam 1-0. Sementara itu di level senior, Indonesia kerap tidak berkutik menghadapi Vietnam.
Rekor Indra Sjafri vs Vietnam:
Piala AFF U-19 2013 Indonesia 1-2 Vietnam (Fase Grup)
Piala AFF U-19 2013 Indonesia 0-0 (7-6) Vietnam (Final)
Piala AFF U-19 2017 Indonesia 0-3 Vietnam
Piala AFF U-19 2018 Indonesia 1-0 Vietnam
Piala AFF U-22 2019 Indonesia 1-0 VietnamMalam ini?? pic.twitter.com/GLc3otW4Ok
— Siaran Bola Live (@SiaranBolaLivee) March 24, 2019
Dari 10 pertandingan terakhir di segala kompetisi, Indonesia hanya pernah menang sekali atas Vietnam. Menahan imbang pasukan Nguyen tiga kali, dan sisanya berakhir pilu.
Indonesia berhasil menahan imbang Vietnam di dua kali laga di uji coba tahun 2012, dan yang ketiga saat di Piala AFF edisi sebelumnya. Pasukan Park Hang-seo ditahan imbang anak didik Shin Tae-yong dengan skor kacamata.
Satu-Satunya Kemenangan di Piala AFF 2016
Nah, sementara satu-satunya kemenangan Timnas Senior atas Vietnam terjadi di Piala AFF tahun 2016. Itu adalah salah satu momen terindah sepakbola Indonesia. Setelah lama tidak meraih kemenangan atas Vietnam, ketika itu Indonesia mengukir sejarah di Stadion Pakansari.
Ketika itu, Indonesia yang masih dilatih almarhum Alfred Riedl tampil sangat agresif menghadapi Vietnam di semifinal leg pertama Piala AFF 2016. Timnas Vietnam ketika itu belum dilatih Park Hang-seo. Golden Stars masih dilatih oleh pelatih lokal, Nguyen Huu Thang.
Indonesia yang berstatus juara grup mampu mencuri gol lebih dulu ketika pertandingan baru berjalan tujuh menit. Sepak pojok Rizky Pora disambut dengan sangat cantik oleh sundulan Hansamu Yama Pranata.
Namun, pada menit ke-17 Vietnam mendapat penalti setelah Benny Wahyudi melanggar pemain Vietnam di kotak terlarang. Nguyen Van Quyet yang jadi algojo sanggup menyarangkan bola ke gawang Kurnia Meiga. Akan tetapi, di laga kedua giliran Stefano Lilipaly yang dilanggar di kotak penalti.
Boaz Solossa yang jadi eksekutor berhasil mengubah skor menjadi 2-1. Indonesia unggul hingga peluit akhir pertandingan. Iya, cuma itu. Setelahnya, Indonesia selalu gagal memetik kemenangan atas Vietnam. Mengapa demikian?
Perbedaan Kualitas
Faktor yang paling mencolok tentu saja perbedaan kualitas. Iya, kita memang bosan sekali membahas hal itu. Tapi beginilah keadaannya. Beginilah situasinya. Betapa kualitas sepakbola Vietnam dan Indonesia sangatlah timpang.
Tanpa menjelekkan sepakbola di dalam negeri, sebetulnya PSSI, induk sepakbola tanah air sudah menyampaikan program-program yang berkaitan dengan pengembangan sepakbola di negara yang kerap menyebut dirinya Macan Asia itu. Salah satunya soal pengembangan usia dini.
PSSI, dalam hal ini melalui ketuanya, Mochamad Iriawan alias Iwan Bule menyampaikan ada empat pilar strategi pengembangan usia dini, yaitu kompetisi usia dini, pendidikan kepelatihan, program untuk pemain, dan kemitraan. Program itu jalan, tapi hasilnya masih jauh panggang dari api.
Acap kali perkembangannya tidak berkelanjutan. Atau dengan kata lain, terputus di tengah jalan. Ingat, kan, bagaimana pemain muda Timnas Indonesia berprestasi di level kelompok umur, tapi ketika masuk tim senior malah melempem?
Pengamat sepakbola dari Vietnam, Vu Manh Hai bahkan pernah mengkritik PSSI. Bahwa sepakbola di negara dengan penduduk padat seperti Indonesia tidak bisa fokus dalam pencarian bakat domestik. Vu Manh Hai bahkan mengkritik soal kebijakan naturalisasi sebagai wujud bahwa Indonesia tidak peduli pada pembinaan pemain muda.
Perkembangan Sepakbola Vietnam
“Mereka justru menaruh harapan pada pemain naturalisasi. Hal itu menunjukkan mereka (Indonesia) tidak memiliki dasar sepakbola yang bagus,” kata Vu Manh Hai.
Tanpa perlu mengurai satu per satu yang menunjukkan Indonesia tidak memiliki dasar sepakbola yang bagus, kita bisa melihatnya sendiri dan menyimpulkan sendiri. Namun, bagaimana dengan sepakbola Vietnam? Secara hasil, kita bisa melihat bahwa Vietnam bisa lebih menghasilkan daripada Indonesia.
🇯🇵Consadole Sapporo are close to signing Vietnamese forward Nguyen Quang Hai. Verbal agreement has been already reached with his agent. pic.twitter.com/TdymneMqxN
— J. Football Now (@j_football_now) March 31, 2022
Vietnam boleh dibilang menjadi salah satu negara Asia Tenggara yang sudah mulai fokus mengembangkan pemain muda. Tidak hanya berkembang supaya berprestasi di level junior saja, tapi juga berkiprah di level senior. Nama pemain beken seperti Nguyen Quang Hai dan Nguyen Cong Phuong tidak lahir dari ruang hampa.
Philippe Troussier, mantan pelatih Marseille, Timnas Jepang, dan Nigeria menjadi salah satu peletak pengembangan usia muda di Vietnam. Selain pernah menjadi pelatih Vietnam U-19, ia juga bekerja di PVF Academy, salah satu akademi terkemuka di Vietnam sekaligus di Asia.
Menurutnya, banyak klub-klub di Vietnam sudah berpikiran maju seperti Hanoi FC. Klub seperti Hoang Anh Gia Lai FC bahkan menjalin kerja sama dengan Arsenal. Menurut Troussier, pemangku kepentingan di Vietnam saling bekerja sama dalam membangun sepakbola.
“Fakta bahwa Piala Dunia 2026 akan memakai format 48 tim telah meningkatkan motivasi dan ambisi Vietnam untuk menyediakan segala sarana pelatihan dan pengembangan sepakbola,” kata Troussier.
Hampir Hancur Karena Korupsi
Namun, sulit dipercaya bahwa sepakbola Vietnam yang sudah demikian pesat itu ternyata sekitar 10 tahun silam pernah hampir hancur karena korupsi. Setelah menjuarai Piala AFF 2008, tahun 2012 sepakbola Vietnam mengalami krisis karena korupsi dan keserakahan.
Liga papan atas Vietnam terancam tutup akibat salah urus finansial. Pada saat itu, Presiden Federasi Sepakbola Vietnam, Nguyen Duc Kien bahkan mesti menerima hukuman 30 tahun penjara karena penggelapan pajak dan perdagangan ilegal.
Vietnamese court sentences tycoon Nguyen Duc Kien to 30 years in jail. http://t.co/dgeUuCTud8 pic.twitter.com/CMNPe72zet
— WSJ Asia (@WSJAsia) June 10, 2014
Kasus itu nyatanya tidak menjegal tumbuhnya bibit unggul pesepakbola Vietnam yang sudah mulai ditanam sebelumnya. Nama seperti Nguyen Cong Phuong yang disebut sebagai Messi-nya Vietnam lahir. Lalu ada nama seperti Vu Van Thanh sampai Luong Xuan Truong yang tumbuh karena ditempa oleh fasilitas yang sudah terbangun.
Kehadiran Park Hang-seo, asisten Guus Hiddink saat melatih Korea Selatan di Piala Dunia 2002 juga meningkatkan sepakbola Vietnam. Ia yang membuat sepakbola Vietnam makin percaya diri.
Per Live Sports Asia, Park Hang Seo Will reportedly sign a contract extension after the World Cup qualifying match between Vietnam and Thailand on November 19th. Park Hang Seo has revolutionized Vietnamese football and is a similar figure to Guus Hiddink in Korea. pic.twitter.com/h9MxEU6G2F
— Tavern of the Taegeuk Warriors (@taegeuktavern) October 22, 2019
Mentalitas
Sebenarnya soal teknik permainan, Indonesia masih bisa mengejar Vietnam. Tapi, permasalahan paling nyata adalah soal mentalitas. Inilah yang kerap ditekankan oleh pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong. Bagi Shin Tae-yong, mental adalah masalah utama Timnas Indonesia.
“Masalahnya sederhana, kami kurang beruntung. Kami harus lebih baik secara mental,” kata Shin Tae-yong.
Shin Tae-yong punya tekad untuk memperbaiki mental Timnas Indonesia. Ia bahkan telah membawa Indonesia lolos Piala Asia dan itu bisa menaikkan mentalitas. Jadi, mungkinkah kelak Indonesia bisa kalahkan Vietnam jika bertemu?
Sumber: SBS, Esquiresq, Yahoo, Republika, Skorid, CNNIndonesia, Liputan6, Bolacom, JPNN, FIFA, Bolanet


