Sebuah perjalanan tak melulu cerita indah, terkadang cerita pilu pun mewarnai setiap perjalanan, termasuk perjalanan sebuah klub sepakbola. Kejayaan klub tak datang dari langit begitu saja. Setiap klub pasti punya cerita kelam masa lalunya yang tercatat dalam sejarah, tak terkecuali Atletico Madrid. Klub La Liga yang prestasinya hanya kalah di bawah dua raksasa, Real Madrid dan Barcelona.
Daftar Isi
Era Kejayaan 1995/96 Salah Satu Era Kejayaan Atletico
Bukan hanya asumsi, Atletico Madrid adalah klub tersukses ketiga di tanah Matador. Los Colchoneros terbukti mencatatkan 11 gelar La Liga selama ini. Hanya kalah dari Barcelona 26 gelar dan Real Madrid 35 gelar.
Namun yang perlu dicatat dari semua raihan Atletico tersebut adalah, mereka pernah dirundung keterpurukan berkepanjangan. Terakhir mereka mengalami masa keemasan sebelum pada musim 1995/96.
1996. Estadio Vicente Calderón
El Atlético de Madrid conquista la Liga en su estadio un mes después de la Copa del Rey. El mítico doblete 🔴⚪️
El fútbol cuando era más fútbol…#Classic #Football #Fútbol #Shirts #Retro #Vintage #Style pic.twitter.com/UQzqUVSXbU
— Valde Vintage (@ValdeVintage) July 15, 2021
Ketika itu, seteru Real Madrid tersebut berhasil mengawinkan gelar La Liga dengan Copa Del Rey. Sebuah musim yang indah bagi klub yang sudah menantikan itu sejak 19 tahun lamanya. Gelar tersebut adalah gelar La Liga kesembilan Atletico ketika itu.
Di zaman itu, aktor pentingnya adalah pelatih asal Yugoslavia, Radomir Antic dan tentu pelatih Atletico sekarang Simeone. El Cholo adalah salah satu faktor penting kejayaan Atletico ketika masih bermain. Ia menjadi pencetak gol kedua terbanyak di tim setelah Luboslav Penev.
Pesta tumpah ruah di jalanan Madrid pun menjadi pemandangan waktu itu. Seakan itu menjadi awal dari kebangkitan kembali Atletico Madrid sebagai klub besar La Liga. Tapi mungkin mereka lupa, bahwa keberlangsungan prestasi tim tidak hanya untuk semusim saja. Butuh kelanjutan yang konsisten. Pasca kesuksesan 1995/96, entah mengapa Atletico tidak siap meneruskannya di musim-musim selanjutnya.
El expresidente del @Atleti, Jesús Gil, junto a Radomir Antić paseando en caballo por una de las calles de la capital de España tras ganar la Copa del Rey y la Liga en 1996. pic.twitter.com/gBF4zfoeCM
— AS Historia (@AS_Historia) December 5, 2018
Musim Kelam 1999/00, Degradasi!
Pasca kejayaan tersebut, Los Colchoneros tak lagi meraih prestasi. Mereka semakin menurun dan mengakibatkan masa pengabdian pelatih Radomir Antic disudahi di musim 1999/00. Posisinya digantikan Claudio Ranieri.
Claudio Ranieri was Atlético Madrid boss when the club finished 19th in 1999-2000.
They only picked up 38 points! pic.twitter.com/fPtBmMxk6I
— Squawka (@Squawka) February 23, 2016
Ranieri mulai membangun tim musim 1999/00 dengan merekrut pemain macam Jimmy Floyd Hasselbaink dari Leeds United. Striker Belanda yang baru saja menjadi top skor Leeds di Liga Inggris.
Racikan Ranieri dalam membangun kembali Atletico ternyata tak semudah yang dibayangkan. Ia kesusahan ketika membagi fokus di beberapa kompetisi ketika itu. FYI aja, ketika itu Los Rojiblancos tampil di tiga ajang sekaligus yakni Piala UEFA, La Liga, dan Copa Del Rey.
Perjalanan awal Ranieri bersama Atletico di musim itu amatlah buruk. Dalam delapan laga awal, mereka kesusahan keluar dari zona degradasi. Alhasil Ranieri pun tak kuat dengan kehancuran itu dan memilih mundur. Radomir Antic akhirnya dipanggil kembali manajemen untuk rela menangani tim yang lagi sekarat di zona degradasi tersebut.
Hasilnya malah tambah tak menentu, Antic pun tak sanggup menanggung beban berat mengeluarkan Atletico dari keterpurukan. Ditunjuklah pelatih baru lagi bernama Zambrano hingga akhir musim.
Hasilnya justru degradasi. Los Rojiblancos bernasib mengenaskan setelah turun kasta ke Liga Segunda setelah finish di posisi 19 La Liga. Sebuah aib sekaligus bencana bagi kelangsungan masa depan klub tersukses ketiga di Spanyol tersebut.
Atlético de Madrid 1999/2000. Molina, Valeron, Kiko, Bejbl, Gamarra, Capdevila, Hugo Leal, Santi, Hasselbaink, Aguilera, Solari
The team went 19th in La Liga and relegated to Segunda División#footballmemories #atleticomadrid #AtléticodeMadrid #AtléticoMadrid #aupaatleti pic.twitter.com/PR8dTZjHtx
— Football Memories (@FM_Twittah) June 5, 2019
Faktor Keterpurukan Atletico
Tentu sebuah keterpurukan pasti ada sebabnya. Banyak yang sudah terkuak, ternyata ada dalang di balik keterpurukan itu. Dan itu berasal dari manajemennya sendiri, yakni di bawah sang pemilik yang dijuluki oleh The Guardian ketika itu sebagai “seorang lelaki gendut bermulut kotor”. Ia adalah Jesus Gil.
Jésus Gil y Gil – former president of Atlético Madrid 🤩 #AtleticoMadrid #Espana #Spain #marbella #football pic.twitter.com/O53bxhgDbQ
— MotherSoccer (@MotherSoccerNL) January 18, 2019
Jesus Gil ini telah dicatat di buku sejarah sebagai aktor utama kejayaan Atletico di periode 1995/96, sekaligus aktor keterpurukan Atletico terdegradasi 1999/00.
Semuanya berawal pada tahun 1992. Ketika undang-undang olahraga Spanyol mewajibkan seluruh klub La Liga berubah bentuk menjadi perusahaan, kecuali Real Madrid, Barcelona, Athletic Bilbao dan Osasuna yang masih dipunyai Socios.
Jesus Gil yang menjabat presiden Atletico Madrid sejak tahun 1987, otomatis menjadi pemilik resmi dengan menguasai saham mayoritas Atletico. Namun kenyataannya, setelah menjadi pemilik Atletico, ia banyak terkena skandal.
Dalam kurun waktu 1999 hingga 2002, Atletico terseret skandal yang populer disebut Caso Atletico. Gil yang kala itu juga menjabat sebagai Walikota Marbella, terbukti melakukan tindak pidana korupsi dan penggelapan pajak.
Corrupt mayor of Marbella and Atlético de Madrid president Jesús Gil y Gil with a banner saying no to corruption pic.twitter.com/AGRriheZoH
— Crazy Ass Spanish Politics Moments (@Spol_Moments) October 20, 2022
Atletico-lah yang jadi muara pelarian tempat mencuci uang. Pengadilan kemudian memerintahkan penyitaan saham dan harta benda Jesus Gil di Atletico Madrid. Pengadilan juga memblokir saldo berbagai rekening milik klub.
Dalam kondisi pelik seperti itu ternyata terkuak bahwa, dengan cerdik Gil memanfaatkan situasi tersebut dengan sengaja membuat Atletico terdegradasi. Upaya ampuh itu bertujuan untuk mengakali pajak. Karena klub yang berlaga di Divisi Segunda, memang diberikan keringanan untuk dibebaskan dari pembayaran pajak. Selama dua musim, Atletico bebas dari pajak, sebelum kembali promosi tahun 2002.
A Jesús Gil, también “preso político”, lo encarcelaron por ser alcalde de Marbella y presidente del Atlético de Madrid, ¿no? pic.twitter.com/jX7RAOoJNC
— Jose Vértice 🔻🇪🇸🇵🇹🇨🇺 (@Jose_Vertice) March 2, 2021
Aragonés, Javier Aguirre, hingga Quique Sanchez Flores
Kembalinya Atletico ke La Liga pada musim 2002/03 tak lepas dari sebuah proses satu musim bersama pelatih yang juga legenda mereka Luis Aragones. Pelatih yang merebut gelar Piala Eropa 2008 bersama Spanyol itu, ditunjuk manajemen Atletico dengan target promosi.
Luis Aragonés en El Ejido durante el partido Poli Ejido 1 – Atlético de Madrid 2. 20/04/2002 #DEPLuisAragones pic.twitter.com/O43lDgeSlT
— Iván Geyvan (@IvanGeyvan) February 1, 2014
Atletico di tangan Aragones perlahan bangkit. Promosi ke La Liga dengan menjuarai Liga Segunda 2001/02, menjadi hasil yang sudah semestinya. Namun, tak berlangsung lama rezim Aragones, ia hengkang di musim berikutnya setelah gagal membawa Atletico melaju lebih tinggi di La Liga.
Sejak saat itulah periode Atletico tanpa gelar dan prestasi mulai terjadi, yakni di periode tahun 2002 hingga 2008. Enam tahun lamanya sudah berjalan. Tiba pada giliran pelatih asal Meksiko, Javier Aguirre menangani Atletico barulah sebuah prestasi hadir. Atletico kembali ke kasta tertinggi Liga Champions pada musim 2007/08 setelah terakhir kali didapat pada 1995/96.
“El chaval (Sergio Agüero) con más talento que he visto sobre un campo de futbol”: Javier Aguirre en su etapa de d.t. del Atlético de Madrid en el año 2007.
Tomado de la revista Soccermanía.#MemoriaFutbolera pic.twitter.com/EilWAOpUyC— Archivo Futbolero (@ArchivoFutboler) March 10, 2020
Setelah era Aguirre berakhir, tuah prestasi Atletico pun mampu dilanjutkan oleh penerusnya yakni Quique Sanchez Flores. Pelatih yang ditunjuk di tengah jalan pada Oktober 2009. Atletico akhirnya di tangan Flores mampu diantarkannya meraih gelar juara Europa League sekaligus UEFA Super Cup. Bersama komando Diego Forlan, Sergio Aguero, dan kawan-kawan, Atletico sejak itu kembali dilirik sebagai pasukan berbahaya di Eropa.
L’Atlético de Madrid retrouve Quique Sánchez Flores, entraîneur de l’Atlético de Madrid de 2009 à 2011 où il a gagné la Ligue Europa 2010, ce soir sur le banc de Getafe pic.twitter.com/oALuV8I0DL
— Atleti Francia 🇫🇷 (@AtletiFrancia) February 12, 2022
Sampai pada Flores meninggalkan Atletico, itulah era dimulainya Los Rojiblancos bersama Simeone pada Desember 2011. Namun, dari kisah panjang perjalanan ini, yang perlu dicatat adalah perjalanan Atletico sebagai sebuah klub pernah juga lho melalui fase kelam. Fase degradasi, skandal manajemen, puasa gelar, minim prestasi, menjadi sebuah cerita yang tak terlupakan oleh klub asal Kota Madrid tersebut.
https://youtu.be/jIdlCsywQF8
Sumber Referensi : marca, en.as, thesportsman, thesefootballtimes, bleacherreport,


