Apresiasi setinggi-tingginya bagi Kroasia. Negara yang kembali mampu back to back melaju ke babak semifinal Piala Dunia. Meskipun kali ini kandas dari Argentina. Melihat bagaimana heroiknya semangat Kroasia di Piala Dunia 2022 kali ini tak luput dari sejarah mereka sebagai negara baru.
Negara kecil yang berpenduduk kurang dari empat juta tersebut, tak dipungkiri mempunyai rekam jejak di dunia sepakbola yang perlu dicontoh oleh banyak negara. Timbul tenggelam prestasi telah mereka lalui.
Daftar Isi
Negara Baru Merdeka 1991
Kroasia ini dulunya adalah negara bekas gabungan Yugoslavia. Di mana Kroasia akhirnya memisahkan diri dan baru merdeka pada tahun 1991. Kemerdekaan Kroasia juga tak luput dari represi yang dilakukan oleh Serbia.
#Croatia & #Slovenia voted to become independent of #Yugoslavia #OnThisDay 1991 pic.twitter.com/RnJ0N2v8gP
— Gavin Duffy (@GavinDuffy) June 25, 2017
Perlawanan rakyat Kroasia terbukti berhasil memisahkan diri dari cengkraman Serbia yang ingin berkuasa. Semangat perlawanan itulah yang banyak dikaitkan dengan apa yang terjadi saat ini dalam sepakbola Kroasia.
Seperti contoh ketika lagu-lagu penyemangat sering dinyanyikan skuad Kroasia. Skuad Kroasia sering berkumpul saat merayakan suatu kemenangan dan menyanyikan lagu-lagu dari penyanyi neo-fasis Thompson. Lagu-lagu yang secara eksplisit isinya merujuk pada rezim kriminal “Herceg-Bosna” di masa perang Bosnia. Perang di mana rakyat dan pemimpin Kroasia dihukum dan dihabisi di perang tersebut.
Croatian players celebrating their WC run by singing songs from neo-fascist crooner Thompson, which explicitly make reference to the criminal “Herceg-Bosna” regime in wartime Bosnia, whose entire senior leadership was convicted of crimes against humanity. pic.twitter.com/QW5DdyATVH
— Jasmin Mujanović (@JasminMuj) December 12, 2022
Termasuk apa yang terjadi pada kakek Luka Modric. Dalam perang tersebut, kakeknya menjadi korban karena terbunuh ketika mengungsi di hotel sewaktu Modric masih kecil.
When Luka Modric was 6, his grandfather was shot dead. His family became refugees, in a war-zone. He grew up to the sound of grenades exploding. Coaches said he was too weak and too shy to play football. Luka Modric led Croatia to its first-ever World Cup final, won the pic.twitter.com/2ulZqBWqVd
— Frank Khalid (@FrankKhalidUK) December 12, 2022
Sepakbola Kroasia Yang Punya Generasi Emas Pertama
Sejak perang, persepakbolaan Kroasia tak berarti apa-apa. Masa perang menjadi masa yang sulit bagi olahraga seperti sepakbola dapat berkembang.
Semenjak merdeka pun mereka belum sah tercatat dalam anggota FIFA. Karena federasi sepakbolanya pun baru terbentuk pada tahun 1992. Barulah kemudian setelah semuanya kondusif, persepakbolaan Kroasia mulai eksis.
Perlahan generasi emas pertama Kroasia ini lahir. Piala Eropa 1996 di Inggris menjadi saksi lahirnya pemain macam Boban, Prosinecky, maupun Suker. Debut Kroasia di ajang internasional pun dimulai saat itu. Mereka mampu lolos hingga ke perempat final. Namun sayang, debut generasi emas pertama Kroasia tersebut kandas oleh Jerman.
Croatia at Old Trafford, Euro 1996 #Euro1996 #Croatia #GERvHRV pic.twitter.com/30srjBQXw8
— Juha Tamminen (@TamminenJuha) December 27, 2020
Kejutan Debutan Piala Dunia 1998, Semifinal
Kenangan pahit debut Kroasia di ajang resmi internasional itu pun menjadi pelajaran berharga. Mereka tak lelah melakukan evaluasi untuk ajang berikutnya yakni Piala Dunia 1998.
Generasi emas mereka seperti Boban maupun Suker tak dipungkiri makin berkembang dan menjadi magnet tersendiri di persepakbolaan Eropa. Suker dibeli dan berkembang di Real Madrid setelah Piala Eropa 1996. Boban juga semakin matang bersama AC Milan.
Šuker & Boban.#croatia #HRV pic.twitter.com/4iwp6FoVAH
— Olympia (@olympia_vintage) December 9, 2022
Dengan racikan pelatih Miroslav Blazevic, Kroasia menuju Piala Dunia pertama mereka di 1998. Kiprah Kroasia di Piala Dunia 1998 terbilang fantastis. Mereka tak diduga mencatatkan sejarah untuk pertama kalinya sebagai debutan mampu melaju hingga babak semifinal.
Sayang, tuan rumah Prancis menjadi mimpi buruk mereka di semifinal. Namun, predikat peringkat ketiga, dan gelar top skor bagi Suker menjadi hadiah yang tak terlupakan bagi Vatreni dalam sejarah persepakbolaan mereka.
20 years ago today, Croatia beat Germany 3-0 in the 1998 #WorldCup to reach their first semifinal.
Tonight, they have reached their second semifinal after defeating Russia!
4 million people 👥
27 years independent. 🇭🇷
Two semi-finals 🥉#cro #RUS #RUSCRO pic.twitter.com/czM8ck349b
— Football Factly (@FootballFactly) July 7, 2018
Namun Seketika Generasi Emas Mereka Hancur
Ketidakberuntungan menghampiri Vatreni di persiapan EURO 2000. Mereka yang notabene masih diisi generasi emasnya, secara mengejutkan tertatih di babak kualifikasi. Kroasia kalah tipis perolehan poin dengan musuh politik mereka, Yugoslavia dan Republik Irlandia. Akhirnya, generasi emas mereka pun gigit jari tak mampu lolos ke EURO 2000.
On this day in 1999, @FAIreland
are holding on to a precious point in Zagreb that will effectively knock Croatia out of Euro 2000 qualification, with the game deep into injury time…Then, Davor Suker shows up…#FAIRELAND #COYBIG #IRISHFOOTBALL pic.twitter.com/lJVqfxgpuC
— Lansdowne Road ☘️🇮🇪⚽ (@LansdowneRD_IE) September 3, 2022
Seiring dengan menurunnya performa para generasi emas mereka, dan semakin menuanya usia, perlahan generasi emas pertama Kroasia tersebut mulai tergerus.
Generasi baru yang tumbuh seperti Dado Prso, Niko Kovac, Ivica Olic, Niko Kranjcar, maupun Ivan Klasnic belum sepenuhnya mampu berprestasi meneruskan titah para pendahulunya. Transisi antar generasi mereka tak semulus yang dibayangkan.
Generasi baru itu pun butuh jam terbang lebih banyak secara tim. Piala Dunia 2002, EURO 2004 dan Piala Dunia 2006, menjadi ajang pembuktian para generasi baru itu unjuk gigi. Hasilnya minor, Kroasia hanya mentok sampai babak grup.
Sempat Bangkit Di Euro 2008 Namun Tenggelam Lagi
Sempat mengejutkan lagi ketika lahir generasi Modric, Rakitic, Corluka maupun Pranjic di 2008. Di tangan pelatih Slaven Bilic bekas legenda mereka, Vatreni mengejutkan karena mampu lolos hingga perempat final EURO 2008.
Last time Croatia faced Austria in a competitive match, almost 14 years ago at EURO 2008 pic.twitter.com/HFFwq7R36o
— GR4N1NHO🇭🇷(nations league enjoyer) (@Gran1nh0Hiding) June 2, 2022
Namun, sebagaimana ketika dari Piala Dunia 1998 ke EURO 2000. Kroasia usai mengejutkan di EURO 2008, prestasi mereka kembali terjun bebas. Kroasia gagal lolos ke Piala Dunia 2010. Mereka kalah perolehan poin dengan Inggris dan Ukraina di Grup 6 babak kualifikasi Zona Eropa.
Croatia so far only missed out on only one Euros (ones in 2000) and one World Cup (South Africa in 2010).
To paint a picture on how hard it was to get a result today, here’s a photo of Vlašić and Lovren in an attempt to drown a Russian player. pic.twitter.com/42A9A81H3x
— Juraj Vrdoljak (@JurajVrdoljak) November 14, 2021
Ketidaklolosan Vatreni di Piala Dunia 2010 juga menimbulkan pertanyaan besar dari publik, apakah generasi penerus Kroasia sudah pantas dianggap gagal?
Perubahan Besar Setelah Piala Eropa 2016
Pertanyaan besar tersebut mulai terjawab ketika Vatreni usai menjalani EURO 2016. Seiring dengan matangnya para generasi penerus mereka, muncul lagi para pemain baru yang menjadi pelengkap macam Subasic, Vrsaljko, Brozovic, Kovacic, Kramaric, maupun Perisic. Kroasia akhirnya kembali masuk babak knockout sejak terakhir kali mereka capai di EURO 2008.
Kroasia menolak anggapan bahwa generasi kedua mereka dicap gagal. Federasi melakukan langkah besar dengan menjunjuk Zlatko Dalic di 2017. Dalic notabene adalah seorang pelatih muda yang tak begitu terkenal namanya di Eropa. Keraguan pun sempat mengemuka terhadap an nasib Vatreni ke depannya di tangan Zlatko Dalic.
💡𝐃𝐈𝐃 𝐘𝐎𝐔 𝐊𝐍𝐎𝐖
Current Croatia coach, Zlatko Dalic spent 7️⃣ years in Asia with Al Faisaly, Al Hilal and Al Ain between 2010 and 2017! #FIFAWorldCup | #Qatar2022 pic.twitter.com/xChXtyqWZO
— #AsianCup2023 (@afcasiancup) December 5, 2022
Tugas awal Dalic yakni diberi kepercayaan mengantarkan Kroasia lolos ke Piala Dunia 2018. Dalic menyadari beban yang berat di pundaknya. Ia disuguhkan pada materi generasi kedua Kroasia yang dikatakan sudah mencapai masa puncaknya.
Racikan serta keharmonisan Dalic dalam mengeluarkan kapasitas para pemain Kroasia terbukti perlahan berhasil. Lolos ke Rusia melalui babak playoff, Kroasia terbukti mampu berproses di putaran final Piala Dunia 2018.
Hasilnya, mengejutkan dunia. Generasi emas kedua Kroasia yang selama ini timbul tenggelam terbukti tak sia-sia. Dalic menjadi sosok yang mengunduh momentum para generasi ini. Babak final Piala Dunia mampu mereka raih. Sebuah pencapaian yang akan dicatat sebagai sejarah bagi persepakbolaan Kroasia.
Mario Mandžukić sends Croatia to the 2018 #FIFAWorldCup Final 🇭🇷 #Qatar2022 pic.twitter.com/Sh1QYLO8Kx
— FIFA World Cup (@FIFAWorldCup) December 13, 2022
Meskipun kejutan itu tak berlanjut di EURO 2020, namun di Piala Dunia 2022 generasi itu sekali lagi mampu menciptakan sejarah. Masih di bawah racikan Dalic, dengan skuad sisa-sisa nafas terakhir generasi mereka yang dianggap sudah habis, Vatreni masih mampu melangkah hingga fase semifinal.
We proudly present…
…your #Croatia heroes of #Qatar2022! 😍#FIFAWorldCup #Family #Vatreni❤️🔥 pic.twitter.com/wbsniX3ADP— HNS (@HNS_CFF) December 9, 2022
Sekali lagi Dalic mampu menunjukkan bahwa Modric dan kawan-kawan adalah generasi emas kedua Kroasia yang belum habis. Meskipun mereka gagal back to back menjadi finalis, apresiasi setinggi-tingginya tetap harus diberikan oleh dunia. Bagaimanapun negara yang baru merdeka 31 tahun itu, kini telah membuktikan pada dunia bahwa mereka sekarang sudah menjadi negara sepakbola baru yang ditakuti di dunia.
Because we care so much, it hurts so bad; but let’s go and finish this #FIFAWorldCup campaign as winners! 🇭🇷❤️💪🏼 #ARGCRO #Qatar2022 #Family #Vatreni❤️🔥 pic.twitter.com/2JAmDZ1w8P
— HNS (@HNS_CFF) December 13, 2022
Sumber Referensi : theguardian, foottheball, edition.cnn, indianexpress


