Baru Merdeka 1991, Inilah Sejarah Timbul Tenggelam Timnas Kroasia

spot_img

Apresiasi setinggi-tingginya bagi Kroasia. Negara yang kembali mampu back to back melaju ke babak semifinal Piala Dunia. Meskipun kali ini kandas dari Argentina. Melihat bagaimana heroiknya semangat Kroasia di Piala Dunia 2022 kali ini tak luput dari sejarah mereka sebagai negara baru.

Negara kecil yang berpenduduk kurang dari empat juta tersebut, tak dipungkiri mempunyai rekam jejak di dunia sepakbola yang perlu dicontoh oleh banyak negara. Timbul tenggelam prestasi telah mereka lalui.

Negara Baru Merdeka 1991

Kroasia ini dulunya adalah negara bekas gabungan Yugoslavia. Di mana Kroasia akhirnya memisahkan diri dan baru merdeka pada tahun 1991. Kemerdekaan Kroasia juga tak luput dari represi yang dilakukan oleh Serbia.

Perlawanan rakyat Kroasia terbukti berhasil memisahkan diri dari cengkraman Serbia yang ingin berkuasa. Semangat perlawanan itulah yang banyak dikaitkan dengan apa yang terjadi saat ini dalam sepakbola Kroasia.

Seperti contoh ketika lagu-lagu penyemangat sering dinyanyikan skuad Kroasia. Skuad Kroasia sering berkumpul saat merayakan suatu kemenangan dan menyanyikan lagu-lagu dari penyanyi neo-fasis Thompson. Lagu-lagu yang secara eksplisit isinya merujuk pada rezim kriminal “Herceg-Bosna” di masa perang Bosnia. Perang di mana rakyat dan pemimpin Kroasia dihukum dan dihabisi di perang tersebut.

Termasuk apa yang terjadi pada kakek Luka Modric. Dalam perang tersebut, kakeknya menjadi korban karena terbunuh ketika mengungsi di hotel sewaktu Modric masih kecil.

Sepakbola Kroasia Yang Punya Generasi Emas Pertama

Sejak perang, persepakbolaan Kroasia tak berarti apa-apa. Masa perang menjadi masa yang sulit bagi olahraga seperti sepakbola dapat berkembang.

Semenjak merdeka pun mereka belum sah tercatat dalam anggota FIFA. Karena federasi sepakbolanya pun baru terbentuk pada tahun 1992. Barulah kemudian setelah semuanya kondusif, persepakbolaan Kroasia mulai eksis.

Perlahan generasi emas pertama Kroasia ini lahir. Piala Eropa 1996 di Inggris menjadi saksi lahirnya pemain macam Boban, Prosinecky, maupun Suker. Debut Kroasia di ajang internasional pun dimulai saat itu. Mereka mampu lolos hingga ke perempat final. Namun sayang, debut generasi emas pertama Kroasia tersebut kandas oleh Jerman.

Kejutan Debutan Piala Dunia 1998, Semifinal

Kenangan pahit debut Kroasia di ajang resmi internasional itu pun menjadi pelajaran berharga. Mereka tak lelah melakukan evaluasi untuk ajang berikutnya yakni Piala Dunia 1998.

Generasi emas mereka seperti Boban maupun Suker tak dipungkiri makin berkembang dan menjadi magnet tersendiri di persepakbolaan Eropa. Suker dibeli dan berkembang di Real Madrid setelah Piala Eropa 1996. Boban juga semakin matang bersama AC Milan.

Dengan racikan pelatih Miroslav Blazevic, Kroasia menuju Piala Dunia pertama mereka di 1998. Kiprah Kroasia di Piala Dunia 1998 terbilang fantastis. Mereka tak diduga mencatatkan sejarah untuk pertama kalinya sebagai debutan mampu melaju hingga babak semifinal.

Sayang, tuan rumah Prancis menjadi mimpi buruk mereka di semifinal. Namun, predikat peringkat ketiga, dan gelar top skor bagi Suker menjadi hadiah yang tak terlupakan bagi Vatreni dalam sejarah persepakbolaan mereka.

Namun Seketika Generasi Emas Mereka Hancur

Ketidakberuntungan menghampiri Vatreni di persiapan EURO 2000. Mereka yang notabene masih diisi generasi emasnya, secara mengejutkan tertatih di babak kualifikasi. Kroasia kalah tipis perolehan poin dengan musuh politik mereka, Yugoslavia dan Republik Irlandia. Akhirnya, generasi emas mereka pun gigit jari tak mampu lolos ke EURO 2000.

Seiring dengan menurunnya performa para generasi emas mereka, dan semakin menuanya usia, perlahan generasi emas pertama Kroasia tersebut mulai tergerus.

Generasi baru yang tumbuh seperti Dado Prso, Niko Kovac, Ivica Olic, Niko Kranjcar, maupun Ivan Klasnic belum sepenuhnya mampu berprestasi meneruskan titah para pendahulunya. Transisi antar generasi mereka tak semulus yang dibayangkan.

Generasi baru itu pun butuh jam terbang lebih banyak secara tim. Piala Dunia 2002, EURO 2004 dan Piala Dunia 2006, menjadi ajang pembuktian para generasi baru itu unjuk gigi. Hasilnya minor, Kroasia hanya mentok sampai babak grup.

Sempat Bangkit Di Euro 2008 Namun Tenggelam Lagi

Sempat mengejutkan lagi ketika lahir generasi Modric, Rakitic, Corluka maupun Pranjic di 2008. Di tangan pelatih Slaven Bilic bekas legenda mereka, Vatreni mengejutkan karena mampu lolos hingga perempat final EURO 2008.

Namun, sebagaimana ketika dari Piala Dunia 1998 ke EURO 2000. Kroasia usai mengejutkan di EURO 2008, prestasi mereka kembali terjun bebas. Kroasia gagal lolos ke Piala Dunia 2010. Mereka kalah perolehan poin dengan Inggris dan Ukraina di Grup 6 babak kualifikasi Zona Eropa.

Ketidaklolosan Vatreni di Piala Dunia 2010 juga menimbulkan pertanyaan besar dari publik, apakah generasi penerus Kroasia sudah pantas dianggap gagal?

Perubahan Besar Setelah Piala Eropa 2016

Pertanyaan besar tersebut mulai terjawab ketika Vatreni usai menjalani EURO 2016. Seiring dengan matangnya para generasi penerus mereka, muncul lagi para pemain baru yang menjadi pelengkap macam Subasic, Vrsaljko, Brozovic, Kovacic, Kramaric, maupun Perisic. Kroasia akhirnya kembali masuk babak knockout sejak terakhir kali mereka capai di EURO 2008.

Kroasia menolak anggapan bahwa generasi kedua mereka dicap gagal. Federasi melakukan langkah besar dengan menjunjuk Zlatko Dalic di 2017. Dalic notabene adalah seorang pelatih muda yang tak begitu terkenal namanya di Eropa. Keraguan pun sempat mengemuka terhadap an nasib Vatreni ke depannya di tangan Zlatko Dalic.

Tugas awal Dalic yakni diberi kepercayaan mengantarkan Kroasia lolos ke Piala Dunia 2018. Dalic menyadari beban yang berat di pundaknya. Ia disuguhkan pada materi generasi kedua Kroasia yang dikatakan sudah mencapai masa puncaknya.

Racikan serta keharmonisan Dalic dalam mengeluarkan kapasitas para pemain Kroasia terbukti perlahan berhasil. Lolos ke Rusia melalui babak playoff, Kroasia terbukti mampu berproses di putaran final Piala Dunia 2018.

Hasilnya, mengejutkan dunia. Generasi emas kedua Kroasia yang selama ini timbul tenggelam terbukti tak sia-sia. Dalic menjadi sosok yang mengunduh momentum para generasi ini. Babak final Piala Dunia mampu mereka raih. Sebuah pencapaian yang akan dicatat sebagai sejarah bagi persepakbolaan Kroasia.

Meskipun kejutan itu tak berlanjut di EURO 2020, namun di Piala Dunia 2022 generasi itu sekali lagi mampu menciptakan sejarah. Masih di bawah racikan Dalic, dengan skuad sisa-sisa nafas terakhir generasi mereka yang dianggap sudah habis, Vatreni masih mampu melangkah hingga fase semifinal.

Sekali lagi Dalic mampu menunjukkan bahwa Modric dan kawan-kawan adalah generasi emas kedua Kroasia yang belum habis. Meskipun mereka gagal back to back menjadi finalis, apresiasi setinggi-tingginya tetap harus diberikan oleh dunia. Bagaimanapun negara yang baru merdeka 31 tahun itu, kini telah membuktikan pada dunia bahwa mereka sekarang sudah menjadi negara sepakbola baru yang ditakuti di dunia.

Sumber Referensi : theguardian, foottheball, edition.cnn, indianexpress

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru