Livakovic vs Messi, Mampukah Si Raja Knockout Kubur Mimpi Argentina?

spot_img

Drama perempat final Piala Dunia 2022 sudah menguras emosi para pecinta sepakbola di seluruh penjuru dunia. Tangisan dan suka cita campur aduk dalam fase tersebut. Kini, fase berikutnya sudah di depan mata. Semifinal telah menunggu

Babak yang hampir selangkah lagi bagi Argentina dan Kroasia untuk tampil di fase puncak. Duel tersebut akan siap kembali menguras emosi para pecinta sepakbola. Mampukah Kroasia menghentikan Argentina? Atau justru sebaliknya?

Head To Head Kedua Tim, Kroasia Pernah Bantai Argentina Di Piala Dunia 2018

Sepanjang sejarah, kedua tim sudah bertemu sebanyak lima kali. Dua kali di ajang Piala Dunia, dan tiga sisanya di ajang persahabatan. Hasilnya kedua tim sama kuat. Albiceleste mampu menang dua kali atas Kroasia, sedangkan Vatreni berhasil menaklukan Tim Tango juga dua kali. Sementara sisanya, kedua tim berakhir seri.

Babak semifinal Piala Dunia 2022 kali ini akan jadi saksi, bahwa siapa yang akan unggul dari segi rekor pertemuan mereka. Namun, kalau dilihat dari pertemuan terakhir, Vatreni mampu membantai La Albiceleste 3-0 di babak Grup Piala Dunia 2018 yang lalu. Sementara ketika mereka bertemu pertama kali di babak Grup Piala Dunia 1998, Argentina yang mampu unggul 1-0.

Akan tetapi, itu adalah catatan yang sudah lewat. Argentina hari ini tidak sama dengan yang di Piala Dunia 2018. Pun begitu, kekuatan Kroasia jelas jauh berbeda. Mentalitas Kroasia, khususnya di Piala Dunia 2022 lebih teruji. Begitupun mimpi Argentina dan Messi yang mampu bertahan hingga fase ini.

Kroasia Si Jago Babak Knockout Piala Dunia

Untuk kekuatan mental Kroasia, itu bukan saja terbukti di Piala Dunia kali ini. Julukan “Si Raja Knockout” pun layak disematkan kepada pasukan Vatreni. Tercatat menurut The Athletic, sejak turnamen 2008 Kroasia sering mampu bertahan 90 menit. Mereka bahkan kuat meladeni lawan hingga babak adu tendangan penalti sekalipun.

Namun itu kasusnya hanya di Piala Dunia. Karena di Piala Eropa, Kroasia tiga kali kandas di babak knockout. Tahun 2008 Kroasia dikalahkan Turki di perempat final, tahun 2016 kandas oleh Portugal di 16 besar, dan 2020 tak berdaya di tangan Spanyol di babak 16 besar.

Catatan kurang sedap di babak gugur EURO kontradiktif dengan nasib Vatreni di Piala Dunia. Kroasia sudah teruji di babak gugur Piala Dunia, salah satunya pada tahun 2018. Vatreni berhasil lolos hingga ke final. Perjalanannya juga tidak mudah, sebab Kroasia harus dua kali melewati babak adu penalti di fase gugur. Di semifinal, asuhan Zlatko Dalic bahkan harus meladeni permainan Inggris hingga perpanjang waktu.

Dulu Punya Subasic Kini Punya Livakovic

Piala Dunia 2022 juga menjadi sangat terjal bagi Kroasia. Untuk sampai ke semifinal, anak asuh Zlatko Dalic bahkan harus meladeni Brasil di babak adu penalti. Tidak hanya itu, sebelum bertemu Brasil pun, di babak 16 besar, Vatreni harus bermain hingga adu tos-tosan. Dengan kata lain mental mereka sudah teruji. Salah satu penyebab hebatnya Kroasia di babak adu penalti adalah kekuatan kipernya.

Kroasia selalu memiliki kualitas kiper yang dahsyat. Tahun 2018 mereka punya Danijel Subasic. Kini, pada Piala Dunia Qatar, nama Dominik Livakovic harum di tengah lautan pemain bintang. Livakovic adalah kiper yang sangat perkasa di bawah mistar gawang Kroasia. Bahkan ia sudah melakukan 11 penyelamatan di Piala Dunia tahun ini. Itu adalah penyelamatan terbanyak yang dilakukan kiper di Piala Dunia sejak 2014.

Dominik Livakovic adalah kartu truf Timnas Kroasia. Apalagi kalau sudah menghadapi babak adu penalti. Mengapa? Sebab menuju Piala Dunia 2022 saja, ia sudah menggagalkan 14 dari 54 penalti yang dihadapinya sepanjang kariernya.

Dia pun kini sudah menambah rekor mengesankan itu dengan hattrick penyelamatan adu penalti melawan Jepang. Lalu, ia menambah rekor lagi dengan menepis tendangan anak muda andalan Real Madrid, Rodrygo saat menghadapi Brasil. Catatan mengesankan melawan Brasil dan tepisannya jadi bukti Livakovic tidak salah belajar dari seniornya, Subasic terutama selama Piala Dunia 2022.

Messi Vs Livakovic

Namun, lawan yang akan dihadapi Livakovic adalah seorang Lionel Messi. Pertarungan dua pemain akan menjadi sorotan penting di laga ini. Argentina yang sering mendapat hadiah penalti tentu harap-harap cemas ketika berhadapan dengan Livakovic. Terlebih Lionel Messi, sang eksekutor utama. Ia tak dipungkiri juga sering gagal dalam menendang penalti.

Ia bahkan mencapai rekor buruk menendang penalti di Piala Dunia setelah gagal melawan Polandia. Namun, tak hanya rekor buruk, keberhasilan Messi menuntaskan penalti ketika melawan Arab Saudi dan Belanda juga harus menjadi perhatian Livakovic. Apakah Livakovic mampu menghadirkan mimpi buruk Messi untuk kembali gagal penalti seperti apa yang dilakukan Szczesny?

Argentina Harus Menang Di 90 Menit

Argentina tentu juga harus punya cara lain menghentikan Kroasia. Melihat cara Brazil dalam meladeni permainan Kroasia di babak 90 menit, mau tidak mau harus dihindari Argentina.

Albiceleste dengan pakem andalan Scaloni harus menghukum Kroasia di babak 90 menit. Pasalnya, kalau sudah sampai ekstra time maupun adu penalti, mental Kroasia menjadi lebih ganas dan susah dikalahkan. Argentina harus meniru cara Prancis ketika menaklukan Kroasia 4-2 di final Piala Dunia 2018 selama 90 menit.

Ramuan konsisten Dalic dengan 4-3-3 terbukti konsisten diterapkan dari babak ke babak. Sedangkan Argentina bersama Scaloni harus kembali pada pakem awalnya 4-4-2 atau 4-3-3 setelah ia berubah di laga melawan Belanda menjadi 5-3-2. Toh yang dilawan Argentina kini adalah Kroasia yang tak memakai pola tiga bek.

Kroasia Pernah Gagal Di 1998, Argentina Tak Pernah Terhenti Di Semifinal

Di luar duel seru Livakovic vs Messi dan teknis pertandingan, tercatat ada hal menarik perjalanan keduanya di Piala Dunia. Catatan sejarah Kroasia di Piala Dunia bagaimanapun sempat berakhir pahit di babak semifinal ini. Meskipun mereka di Piala Dunia 2018 yang lalu pernah berhasil menaklukan babak semifinal.

Ketika di jaman Suker, Boban, dan kawan-kawan, Kroasia ternyata pernah kandas di babak semifinal Piala Dunia 1998. Ketika itu gol bek Prancis, Lilian Thuram mengandaskan asa kejutan yang dilakukan tim debutan Kroasia. Kroasia ketika itu takluk 2-1 atas tuan rumah Prancis.

Sebaliknya, nasib mujur selalu menghampiri Tim Tango ketika di babak semifinal Piala Dunia. Mereka tak pernah sekalipun terhenti jika sudah masuk babak ini. Mereka total telah mencapai babak semifinal selama empat kali, yakni di Piala Dunia 1930 dan 2018 kala menjadi runner up. Serta Piala Dunia 1978 dan 1986, ketika mereka menjadi juara.

Dengan bumbu sejarah, head to head, faktor Livakovic dan Messi, membuat partai ini berpotensi besar akan kembali berlangsung dramatis. Kini keduanya punya cara masing-masing untuk ciptakan sejarah. Kalau menurut Football Lovers, siapa nih yang bakal berada di partai puncak nantinya?

https://youtu.be/USv3wIsi4Dk

Sumber Referensi : elpais, sportingnews, sportingnews, 11vs11, sportsbrief

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru