Lionel Messi sudah mengumumkan secara resmi, bahwa Piala Dunia 2022 akan menjadi Piala Dunia terakhirnya. Dikutip dari BBC, Messi merasa gugup menghadapi Piala Dunia terakhirnya ini. “Saya menghitung hari menantikan Piala Dunia. Ada kecemasan dan kegelisahan dalam diri. Apa yang akan terjadi nantinya, dan tentunya, bagaimana hasilnya nanti?”. Ungkap Messi ketika mengumumkan 2022 menjadi Piala Dunia terakhirnya.
La Pulga menjalani debut Piala Dunia pada tahun 2006. Sejak saat itu, ia sudah mengoleksi enam gol dan lima assist dari 19 penampilannya di Piala Dunia. Pada tahun 2006, ia masih berstatus sebagai ‘anak kecil’ yang belum punya pengalaman. Tahun 2010, Messi adalah superstar di Piala Dunia, namun tetap dianggap belum memiliki cukup pengalaman di Piala Dunia.
2014 adalah Piala Dunia tersukses Messi, meskipun hanya sebagai runner up. Dan 2018 sinar Messi di Piala Dunia mulai tertutupi oleh kehadiran Mbappe. Menarik untuk dilihat seperti apa cerita Messi di Piala Dunia 2022. Namun sebelumnya, mari kita menapaki jejak kenangan yang ditinggalkan Messi sepanjang gelaran Piala Dunia.
Daftar Isi
2006 – Debut Piala Dunia
Piala Dunia 2006, Messi masih berusia 18 tahun. Ia mencatatkan rekor sebagai pemain termuda dalam sejarah Argentina yang bermain di Piala Dunia saat itu. Turnamen ini menjadi debut yang cukup manis bagi Messi, setelah ia mencetak gol pada pertandingan melawan Serbia. Namun Piala Dunia ini lebih menjadi pembelajaran dan perjuangan untuk Messi daripada kisah menyenangkan.
Meskipun Messi ingin bermain di setiap pertandingan, tapi tugas untuk seorang pemain yang bahkan belum berusia 20 tahun di Piala Dunia bukanlah sebagai pemain inti. Tugas utamanya adalah mengamati dan mempelajari pertandingan. Gerardo Salorio, salah satu staf pelatih Argentina saat itu memegang peran penting dalam “pembentukan” Lionel Messi saat itu. Ia mengatakan bahwa saat itu, Messi harus diajarkan secara telaten, bagaimana cara bermain bola di tingkat senior.
⚽ Gerardo Salorio, preparador físico a cargo de la Selección en el Mundial 2006, criticó la ausencia de Messi en el Balón de Oro: “Algo anda mal”https://t.co/y1myyOloUq
— Agencia Télam (@AgenciaTelam) August 18, 2022
Solario percaya bahwa Argentina telah mengubah Messi sejak turnamen itu. Di Piala Dunia 2006, Messi mulai mengerti bahwa sepak bola adalah hidupnya dan harus selalu memiliki rasa “lapar”. Pilihannya adalah entah mati di lapangan atau mati di lapangan. Dan kemenangan adalah bagian yang penting dalam hidupnya.
Langkah Argentina di Piala Dunia 2006 hanyalah sampai perempat final. Mereka tidak bisa melaju ke semifinal setelah kalah dari Jerman di babak adu penalti. Messi tidak hanya duduk di bangku cadangan saat itu. Pelatih Argentina, Jose Pekerman lebih memilih untuk memasukan Cambiasso untuk menghentikan gempuran Jerman. Setelahnya, ia mendapatkan banyak kritik karena tidak memainkan Messi di laga krusial.
2010 – Gagal Mengulang Memori Maradona
Piala Dunia edisi setelahnya adalah 2010 di Afrika Selatan. Tekanan yang dirasakan Messi lebih besar kali ini. Ia baru saja mendapatkan gelar Ballon d’Or pertamanya saat itu. sebelumnya ia hanya dipandang sebagai anak kecil yang kurang pengalaman, di 2010 ia sudah menjadi superstar.
one of my world cup memories, waktu 2010 belum melek sepakbola diajak nenek ak nonton match argentina. katonyo dio nge fans nn dgn maradona dari dulu kwkw eh sekarang tanpa sadar malah nurun ak yg jadi fans messi pic.twitter.com/sEmGu54tYl
— gipang d’arcy (@arfgiffari) November 19, 2022
Tekanan juga bertambah karena Argentina dilatih oleh legenda mereka Diego Maradona. Sosok legenda yang pernah dibanding-bandingkan olehnya ketika Messi menjalani musim debut di Barcelona. Namun di bawah pimpinan Maradona, setidaknya Messi bisa memiliki kebebasan bermain di posisi yang ia sukai, yaitu sebagai seorang playmaker. Berkat itu Argentina bisa lolos fase penyisihan grup dengan mudah. Argentina memuncaki klasemen grup B dengan tiga kali kemenangan dan tidak pernah kalah.
Argentina masih bisa melewati babak 16 besar dengan mudah. Mereka menggilas Meksiko dengan skor 3-1. Namun, kiprah tim tango di Piala Dunia harus kembali pupus di babak perempat final. Jerman lagi-lagi menjadi mimpi buruk bagi Messi dan kolega, setelah mereka dibantai habis-habisan dengan skor 4-0.
Kekalahan ini sempat membuat marah dan kecewa publik Argentina saat itu. Mereka berekspektasi Messi bisa membawa perubahan. Berduet dengan Maradona, Messi diharapkan bisa mengikuti jejak sang legenda yang bisa membawa Argentina juara Piala Dunia. Jangankan membawa Argentina juara dunia, Messi malah tidak bisa mencetak sebiji gol pun untuk Argentina.
Meskipun begitu, perlu diingat bahwa di Piala Dunia 2010 Messi masih berusia 23 tahun. Usia yang masih muda untuk bisa membawa negaranya memenangkan Piala Dunia. Seperti Maradona di usia yang sama pada Piala Dunia 1982. Messi masih membutuhkan pengalaman yang lebih banyak lagi.
2014 – Harapan yang pupus di Final
2014 menjadi puncak ketenaran Messi di Piala Dunia. Ia sudah dikenal sebagai pemain terbaik di dunia oleh banyak pengamat. Perubahan dan pertumbuhan skill Messi sangat terasa antara tahun 2010 sampai 2014. Tidak ada yang meragukan prestasi Messi di Barcelona kala itu. Ia sudah mendapatkan semua gelar juara bersama Barcelona. Dan menjuarai Piala Dunia bisa melengkapi koleksi trofinya.
Meskipun banyak yang meragukan kekuatan timnas Argentina saat itu, tidak ada yang meragukan kesiapan Lionel Messi. La Pulga berada pada performa terbaiknya di Piala Dunia 2014 ini. Dengan ban kapten di tangan ia mantap memimpin tim tango menuju kemenangan.
Lionel Messi’s 2014 World Cup campaign is severely underrated 🇦🇷 pic.twitter.com/ZaY9k6vPlv
— Messi 🇦🇷 (@Messi30Era) July 1, 2021
Babak penyisihan grup dilalui dengan mudah. Dan tidak seperti pada Piala Dunia 2010, Messi kali ini cukup produktif dalam mencetak gol dan memberikan assist. Masuk satu grup dengan Nigeria, Bosnia, dan Iran, Argentina bisa melenggang dengan santai. Mereka lolos fase grup sebagai pemuncak klasemen dengan mengoleksi poin sempurna di Grup F.
Messi pun menjadi semakin optimis. Di babak 16 besar Argentina bisa mengalahkan Switzerland lewat gol telat Angel Di Maria pada menit ke-118. Messi akhirnya bisa melaju ke babak semifinal Piala Dunia. Tidak hanya itu, Messi juga akhirnya bisa ke final setelah mengalahkan Belanda di babak adu penalti. Namun mereka harus kembali menghadapi mimpi buruk, Jerman yang sudah menanti di laga final.
Untuk ketiga kalinya tim tango menghadapi Der Panzer di kompetisi Piala Dunia. Dua pertemuan sebelumnya dimenangkan oleh pasukan Jerman. Tapi berbeda dengan dua pertandingan sebelumnya, pertandingan ini bertajuk pemain terbaik dunia melawan tim terbaik di dunia. Messi melawan Die Mannschaft.
Argentina di pertandingan itu sebenarnya bisa menembus barisan pertahanan Jerman dan melepaskan banyak peluang. Namun sayang peluang itu belum bisa diubah menjadi gol. Banyaknya peluang yang terbuang dimanfaatkan oleh Jerman. Mario Gotze menjadi supersubs dan mencetak gol di menit ke-113.
Kecewa, Pergi, dan Kembali
Meskipun kalah di final dan tidak menjadi juara, Messi masih mendapatkan penghargaan pemain terbaik di turnamen itu. Piala yang ia terima tanpa ada senyum sama sekali di wajahnya. Bagi Messi, gelar pemain terbaik tidak ada artinya jika ia tidak bisa membawa timnya juara. Ditambah lagi semakin banyak kritik yang menyerang Messi karena dianggap sudah gagal di Argentina.
Di tahun-tahun setelahnya, situasi tidak semakin membaik bagi Messi bersama Argentina. Bayangkan saja, Messi membawa Albiceleste dua kali ke final Copa America. Dan dua kali ia kalah di kedua final tersebut secara berturut-turut. Ini jadi situasi yang sangat berat dijalani bahkan untuk seorang Lionel Messi.
If Ronaldo wins 2016 B’dor, I’ll retire from international football.
Messi in 2016:- pic.twitter.com/XSeB9wrd5N
— Sachin (@sachinshukla28) November 11, 2022
Setelah gagal di laga final tiga tahun berturut-turut, Messi memutuskan untuk pensiun dari timnas Argentina. Keputusan itu pun mengejutkan banyak pihak. Tapi banyak juga yang mengerti, dan memahami keterpurukan yang dialami Messi sehingga memutuskan untuk pensiun. Meskipun begitu, keputusan pensiun Messi ternyata tidak menyelesaikan masalah di sepakbola Argentina.
Akhirnya, beberapa bulan setelah pensiun Messi mengumumkan dirinya akan kembali memperkuat Albiceleste. Argentina yang performanya tidak meyakinkan pun kembali menjadi optimis. Dengan kembali diperkuat Messi, Argentina semakin yakin menghadapi Piala Dunia 2018.
2018 – Bukan Panggungnya Lagi
Comeback ke Piala Dunia 2018 terasa berat bagi Messi. Argentina ditahan imbang oleh Islandia dengan skor 1-1. Dan tidak bisa berbuat apa-apa ketika dibantai Kroasia dengan skor 3-0. Bahkan hampir tidak lolos dari fase grup kalau saja Marcos Rojo tidak mencetak gol di menit ke-83.
Mereka lolos fase grup sebagai runner up setelah meraih hanya sekali kemenangan, satu imbang dan sekali kalah. Mereka melangkah ke babak 16 besar. Jerman tidak lolos fase grup, jadi harusnya Argentina bisa terbebas dari mimpi buruk mereka. Tapi yang jadi mimpi buruk tim tango kali ini adalah Prancis.
Pasukan Les Blues tampil perkasa dengan pemain-pemain muda mereka. Tim ayam jantan tentu lebih diunggulkan, sebab mereka belum pernah kalah di fase grup. Argentina justru bisa memberikan perlawanan berarti untuk Prancis. Meskipun tertinggal di menit awal, mereka bisa comeback di awal babak kedua.
Tapi, pasukan Deschamp nyatanya lebih perkasa. Benjamin Pavard mencetak gol penyeimbang di menit ke-57. Publik pun seolah disadarkan bahwa Piala Dunia kali ini bukan panggung Messi lagi. Melainkan Kylian Mbappe yang mencetak dua gol, meyakinkan keunggulan Prancis atas Argentina. Gol Aguero di menit ke-90+3 tidak bisa menyelamatkan Albiceleste dari kekalahan. Mereka pun harus tersingkir dari Piala Dunia 2018.
Lionel Messi wins this #WorldCup Golden Ball poll, but it was close. Thanks to all who voted! 👏 pic.twitter.com/Gsk5yTpNbQ
— FIFA World Cup (@FIFAWorldCup) April 6, 2018
Di Piala Dunia 2022 Lionel Messi punya peluang untuk menulis catatan manis untuk mengakhiri cerita panjang bersama Argentina. Messi memang sudah tidak muda lagi. Tapi itu tidak melepas fakta bahwa ia adalah salah satu pemain terbaik di dunia yang bisa mendatangkan kejutan.


