Para pemain yang gacor di event Piala Dunia biasanya akan jadi komoditi yang laris manis di bursa transfer. Klub-klub raksasa berduit biasanya akan melirik dan saling berebut mendapatkan tanda tangan para pemain tersebut. Meskipun itu harus merogoh kocek yang dalam. Nah, berikut ini adalah beberapa nama-nama pemain yang laris manis terjual setelah Piala Dunia.
Daftar Isi
El Hadji Diouf, Salif Diao, Kleberson dan Ronaldo (2002)
Di Piala Dunia 2002, kita tahu Senegal menjadi kejutan setelah mampu melaju jauh hingga perempat final dan mampu mengandaskan juara bertahan Prancis di babak grup. Seketika banyak pemain Senegal yang menjadi rebutan pasar transfer ketika itu.
Ada nama El Hadji Diouf dan Salif Diao. Dua pilar Senegal yang mampu mencuri perhatian Liverpool. El Hadji Diouf ketika itu dibeli dari Lens untuk mengisi pos striker The Reds.
On This day 2002,
El-Hadji Diouf signs for Liverpool, the fee was £10m. pic.twitter.com/fBwTDnNJvM
— LFC Fans Corner (@LFCFansCorner) June 25, 2013
Namun Diouf tak dapat memenuhi ekspektasi publik Anfield. Kiprahnya di Anfield sebagian besar dirusak oleh beberapa insiden kontroversial, seperti saat tertangkap kamera meludahi penggemar Celtic di pertandingan Eropa.
Diouf hanya mencetak tiga gol di musim perdananya bersama The Reds. Musim berikutnya Diouf bahkan tidak mencetak gol sama sekali. Dia pun akhirnya dijual ke Bolton Wanderers pada Agustus 2004.
Sama juga nasibnya dengan Salif Diao. Seorang gelandang bertahan yang tiba di Anfield bareng Diouf. Ia didatangkan dari klub Prancis, Sedan. Karena kalah saing di lini tengah Liverpool, oleh Gerard Houllier ia sering dimainkan di luar posisinya.
Salif Diao says he felt unwanted by some senior players when he joined Liverpool in 2002.https://t.co/WVjJZENlLW pic.twitter.com/1DoNgprdqn
— BBC Sport (@BBCSport) June 2, 2017
Hasilnya ia kerap bermain kasar dan tak maksimal. Di musim berikutnya, ketika Rafael Benitez datang menggantikan Houllier, Diao malah dipinjamkan ke banyak klub medioker seperti Birmingham, Portsmouth dan Stoke City.
Masih di Piala Dunia 2002. Para talenta sang juara Brazil pun tak luput dari incaran para klub besar. Terutama El Fenomeno Ronaldo Nazario dan Kleberson. Ronaldo tampil mengejutkan setelah di liga bersama Inter sering dibekap cedera dan turun performanya.
Namun dengan kegacorannya di Piala Dunia, ia akhirnya dibayar mahal oleh Real Madrid sebagai bagian dari proyek Los Galacticos. Hasilnya tokcer, ia menjadi top skor klub selama tiga musimnya secara beruntun. Namun dari segi prestasi, paling tinggi hanya gelar La Liga yang ia dapatkan.
On this day in 2002, Real Madrid signed Ronaldo Nazario. pic.twitter.com/iEemZ52rhk
— Madrid Xtra (@MadridXtra) August 31, 2022
Rekan satu timnya di Brazil, Kleberson berbeda nasib. Ia diincar Sir Alex Ferguson setelah tampil apik menjaga kedalaman lini tengah Tim Samba. Ia akhirnya direkrut Setan Merah dari Atletico Paranaense.
Jogou muito em 2002 e ofuscou a chegada de Cristiano Ronaldo no Manchester United. Será que o aniversariante do dia tem história no futebol?! Parabéns, Kleberson! pic.twitter.com/RpxlziGbSu
— TNT Sports BR (@TNTSportsBR) June 19, 2020
Namun, penampilannya di Old Trafford tak secemerlang di timnas Brasil. Ia sulit beradaptasi dengan atmosfer Liga Inggris. Serangkaian cedera juga mengganggunya. Dan itu membuatnya hanya tampil dalam 20 laga selama dua musim. Sebelum akhirnya ia memilih hengkang dan bergabung dengan Besiktas pada 2005.
Fabio Cannavaro (2006)
Melangkah ke Piala Dunia 2006. Ada fenomena gacornya palang pintu utama Timnas Italia, Fabio Cannavaro. Bek pendek ini mampu mengomandoi pertahanan Timnas Italia merengkuh gelar juara dunia.
Berkat sumbangsihnya tersebut, Cannavaro yang sudah berusia 32 tahun banyak diburu klub besar Eropa. Selain penampilannya, juga klubnya Juventus sedang mengalami hukuman akibat kasus Calciopoli. Madrid pun datang dengan penawaran besar. Seperti pola Madrid sebelumnya pada 2002 ketika memboyong Ronaldo Nazario.
Today in 2006, Fabio Cannavaro signed for Real Madrid ✍️ pic.twitter.com/iF4nsyGyAb
— GOAL (@goal) July 25, 2020
Cannavaro pun akhirnya diangkut oleh Perez ke Bernabeu. Hasilnya, ia juga masih mampu menjadi komando lini pertahanan El Real. Dua gelar La Liga dengan lebih dari 100 caps baginya menjadi sebuah prestasi di usianya yang sudah tak muda lagi.
Asamoah Gyan, Ozil, dan Ramires (2010)
Di Afrika Selatan 2010 ada nama Asamoah Gyan. Striker Ghana yang meroket mengantarkan negaranya nyaris masuk semifinal. Beberapa bulan setelah Piala Dunia, ia langsung ditebus oleh salah satu klub Liga Inggris, Sunderland dari Rennes.
Asamoah Gyan – Rennes to Sunderland (2010) pic.twitter.com/KI5PQWzkad
— Transfersthathappened (@actualtransfers) June 22, 2022
Namun ia hanya bertahan satu musim di Inggris. Gyan akhirnya memilih tawaran dari klub Uni Emirat Arab, Al Ain. Ia mengaku pindah ke Al Ain murni karena gajinya dua kali lipat lebih tinggi.
Kemudian ada gelandang eksplosif Jerman dari Werder Bremen, Mesut Ozil. Talenta Ozil di Piala Dunia 2010 seketika diburu oleh banyak klub besar. Ia yang masih berumur 21 tahun, di bawah bimbingan Loew mampu mengantarkan Jerman hingga babak semifinal.
Real madrid yang gemar membeli pemain yang gacor setelah Piala Dunia akhirnya mampu mengontrak Ozil. Mesut Ozil, oleh Real Madrid diharapkan menjadi pelapis Ricardo Kaka. Tetapi ia dengan cepat menjadi starter reguler di bawah Jose Mourinho.
📆 #OnThisDay August 18, 2010
Mesut Ozil joined Real Madrid
👕 159
⚽ 27
🏆 3 pic.twitter.com/oT7mIeJRNH— GOAL (@goal) August 18, 2020
Dia membuat lebih dari 150 penampilan untuk klub dan dijuluki sebagai raja assist karena kemampuannya untuk mengeksekusi umpan mematikan yang tak tertandingi.
Berikutnya ada Ramires. Gelandang kurus nan lincah dari Brazil. Meskipun gagal mengantarkan Brazil berprestasi lebih di 2010, ia tergolong salah satu rising star yang menyita perhatian.
28-year-old Ramires joined Chelsea in August 2010, winning the Premier League, FA Cup, Champions League and more. pic.twitter.com/V57WeGXrAF
— bwin_UK (@bwin_uk) January 27, 2016
Chelsea pun kepincut dan berani membayar mahal kepada Benfica. Ramires di Stamford Bridge bertahan hingga lima setengah tahun. Total selama berseragam The Blues ia mencatatkan 33 gol dalam 246 laga. Ia juga menjadi bagian dari beberapa gelar yang diperoleh Chelsea, seperti Liga Europa, Liga Champions, hingga Liga Inggris.
James Rodriguez dan Marcos Rojo (2014)
Lanjut ke Piala Dunia 2014. Tentu yang paling diingat adalah top skor dari Kolombia, James Rodriguez. Real Madrid kali ini kembali kepincut talenta gacor Piala Dunia. Mereka langsung gerak cepat menebus James dari AS Monaco.
Peraih sepatu emas Piala Dunia itu menghabiskan musim pertamanya dengan mencetak 13 gol dari 29 laga bersama Los Blancos.
🔙🤍🇨🇴 #TalDíaComoHoy en 2014, el Santiago Bernabéu veía por primera vez a @jamesdrodriguez vestido con los colores del @realmadrid.#LaLigaSantander pic.twitter.com/5bUs43tVAu
— LaLiga (@LaLiga) July 22, 2020
Namun setelah itu, dia kerap dibekap cedera hingga performanya cenderung terus menurun. Madrid kemudian meminjamkannya ke Munchen lalu ke Everton. Dan sekarang karirnya justru berada di Olympiacos.
Selain James, ada nama bek Argentina Marcos Rojo. Membawa Argentina sampai ke final membuat penampilannya disorot berkat keahliannya mengawal lini belakang La Albiceleste. MU pun kepincut dengan talenta Rojo. Di bawah Van Gaal, MU rela menebusnya mahal dari Sporting CP.
Marcos Rojo joined #MUFC on this day in 2014! pic.twitter.com/sLrEKoR6wy
— Manchester United (@ManUtd) August 20, 2017
Namun di MU, penampilannya tak seindah yang dibayangkan ketika di Argentina. Di bawah Van Gaal, ia tak mampu tampil baik. Selain tentu karena ia sering dibekap cedera. Namun di akhir karirnya bersama MU, Rojo justru mampu menjadi bagian dari skuad MU yang terakhir meraih mahkota juara, yakni Europa League bersama Mourinho pada musim 2016/17.
Golovin, Pavard (2018)
Di Piala Dunia 2018 setidaknya ada dua nama yakni Alexander Golovin striker dari tuan rumah Rusia dan Benjamin Pavard, bek kanan yang mampu mengantarkan Prancis kampiun.
Golovin yang mampu membawa Rusia ke perempat final Piala Dunia menjadi rebutan antara Chelsea dan AS Monaco ketika itu. Namun Monaco lah yang mendapatkannya dari klub Rusia, CSKA Moscow. Golovin sampai sekarang masih betah di AS Monaco. Ia bahkan hingga kini sudah mencatatkan 153 caps dengan torehan 20 gol dan 29 assist.
#OnThisDay in 2018
Golovin played his first match for AS Monaco as he came on to replace Sofiane Diop @AS_Monaco pic.twitter.com/krvh5tBDip
— VBET News (@VBETnews) September 21, 2021
Lalu ada Benjamin Pavard, bek Stuttgart yang gacor ketika dipercaya Deschamps sebagai bek kanan Prancis. Alhasil ia ditebus mahal oleh raksasa Jerman, Bayern Munchen dengan durasi kontrak hingga 2024. Di Munchen karirnya stagnan. Bahkan di Piala Dunia 2022 ini jarang dipakai lagi oleh Deschamps sebagai starter.
🇫🇷 @BenPavard28 in 2018:
🏟 45 Games
🧤 17 Clean Sheets
⚽ 1 Goal
🎯 1 Assist🏆 FIFA World Cup
🏅 FIFA World Cup Goal of the Tournament
✍ Now sealed a €35m move to @FCBayern. pic.twitter.com/SWgGI3vS8w
— SPORF (@Sporf) January 9, 2019
Sumber Referensi : mirror, bola.net, bola.com, bleacherreport


