Serbia vs Swiss, Bukan Sekadar Laga Penentuan Grup G Piala Dunia 2022

spot_img

Duel-duel sengit bakal tersaji di pertandingan terakhir babak grup Piala Dunia 2022. Salah satu laga yang paling menentukan dan paling menyita perhatian tersaji di Grup G ketika Serbia bersua dengan Swiss.

Pertandingan yang bakal digelar di Stadion 974, Doha pada 2 Desember ini bakal menentukan nasib kedua negara di Piala Dunia Qatar 2022. Serbia dan Swiss harus saling mengalahkan, sebab jatah tiket bagi perwakilan Grup G di fase gugur hanya tinggal satu setelah satu jatah lainnya sudah dipastikan jadi milik Brasil.

Swiss telah mengumpulkan 3 poin, hasil dari kemenangan 1-0 mereka atas Kamerun di laga pertama. Sementara Serbia baru mendapat 1 poin setelah mereka ditahan imbang 3-3 oleh Kamerun di laga kedua.

Ditilik dari perolehan poinnya, Swiss lebih diunggulkan. Kemenangan akan membawa mereka ke fase gugur, berapapun skornya. Namun, jikalau berakhir dengan hasil seri, satu poin saja sudah cukup untuk menggaransi tempat mereka di fase gugur sembari berharap agar Brasil tak kalah dari Kamerun.

Sementara itu, bagi Serbia, 3 poin adalah harga mati. Kemenangan jadi jalan satu-satunya bagi mereka untuk menjaga asa lolos ke fase gugur tetap terjaga.

Berdasarkan catatan FIFA, kedua negara sudah bertemu sebanyak 5 kali. Serbia unggul dengan 2 kemenangan berbanding 1 kemenangan milik Swiss.

Laga antara Serbia melawan Swiss memang tak sepanas Iran vs Amerika Serikat yang penuh polemik dan bumbu konflik. Namun, laga antara Serbia dan Swiss juga punya sisi lain yang membuat pertemuan kedua negara di Piala Dunia 2022 ini bukan sekadar pertandingan sepak bola.

Selebrasi Xhaka dan Shaqiri di Piala Dunia 2018 Picu Ketegangan

Menurut catatan FIFA, kedua tim sudah bertemu sebanyak 5 kali. Namun, jika menilik dari catatan historis kedua negara, Swiss sejatinya baru berjumpa sekali dengan Serbia yang notabene negara pecahan Yugoslavia. Pertemuan tersebut terjadi di Piala Dunia 2018, di mana laga Serbia dan Swiss kala itu berakhir dengan kontroversi.

Ya, pertandingan antara Serbia vs Swiss di Grup G Piala Dunia edisi Qatar adalah ulangan dari pertemuan kedua negara di Grup E Piala Dunia edisi Rusia. Saat itu, Swiss berhasil keluar sebagai pemenang usai sukses membalikkan skor menjadi 2-1.

Laga tersebut adalah salah satu yang paling kontroversial di Piala Dunia 2018. Pemicu terbesarnya adalah dua pencetak gol kemenangan Swiss, yakni Granit Xhaka dan Xherdan Shaqiri.

Seusai mencetak gol, Xhaka dan Shaqiri melakukan selebrasi dengan mengapitkan tangan dan mengepakkan jari mereka seperti sayap elang berkepala dua. Selebrasi tersebut mirip simbol nasionalisme Albania, yakni “Albanian Eagle”. Shaqiri bahkan kedapatan mengenakan sepatu yang bagian belakangnya telah dijahit dengan bendera Swiss di sepatu kiri dan bendera Kosovo di sepatu kanan.

Xhaka dan Shaqiri memang berasal dari etnis Albania-Kosovo yang memiliki memori kelam dengan Serbia. Keduanya juga kompak kalau selebrasi “Albanian Eagle” yang mereka lakukan tidak mengandung unsur politik dan murni sebagai luapan emosi belaka. Namun, banyak pihak punya pandangan lain.

Pelatih timnas Serbia saat itu dan FA Serbia kompak melayangkan protes. FIFA sendiri tak tinggal diam dan langsung membuka penyelidikan, sebab gestur Xhaka dan Shaqiri di laga tersebut sangat berisiko mengobarkan ketegangan di wilayah Balkan di antara nasionalis Serbia dan etnis Albania.

Kekhawatiran itu memang benar terjadi, sebab selebrasi Xhaka dan Shaqiri telah menimbulkan reaksi yang beragam. Yang paling menarik terjadi di pusat kota Pristina, ibu kota Kosovo. Bendera Kosovo dan Albania berkibar tinggi, kembang api meletus, dan jalanan macet.

Meski Kosovo tidak ikut Piala Dunia 2018, tetapi mereka larut dalam euforia kemenangan emosional Swiss atas Serbia yang diwarnai dengan aksi selebrasi “Albanian Eagle” yang dilakukan Granit Xhaka dan Xherdan Shaqiri.

Atas selebrasi kontroversial tersebut, FIFA menjatuhi hukuman kepada Granit Xhaka dan Xherdan Shaqiri dengan denda masing-masing 10.000 franc Swiss. Sementara Stephan Lichtsteiner didenda 5.000 franc Swiss karena membela dua rekannya tersebut. Menariknya, biaya denda tersebut sukses dibayar lewat skema crowdfunding yang dilakukan orang-orang Albania.

Di sisi lain, tanggapan sinis dilontarkan pemain Serbia, Aleksandar Mitrovic terhadap selebrasi “Albanian Eagle” yang dilakukan Xhaka dan Shaqiri.

“Jika dia sangat mencintai Kosovo dan memutuskan untuk mengibarkan bendera, mengapa dia menolak kesempatan bermain untuk tim mereka?” kata Mitrovic dikutip dari The Guardian.

Konflik Serbia-Kosovo Jadi Pemanas Laga Serbia vs Swiss

Sejatinya, Swiss tak punya masalah dengan Serbia. Namun, yang menjadikan pertemuan mereka dengan Serbia menjadi beraroma politik adalah karena adanya pemain keturunan Albania-Kosovo di dalam skuad timnas Swiss.

Serbia dan Kosovo sudah lama terlibat konflik. Salah satu yang terparah terjadi pada Perang Kosovo di tahun 1999 yang menyebabkan ribuan orang tewas dan mengungsi meninggalkan tanah kelahirannya. Salah satu tujuan mereka adalah Swiss. Swiss sendiri dicap sebagai “Kosovo Kecil” karena banyaknya populasi orang-orang keturunan Kosovo di negara tersebut.

Keluarga Granit Xhaka dan Xherdan Shaqiri adalah sedikit dari banyaknya imigran Albania-Kosovo yang kini tinggal di Swiss. Ayah Xhaka pernah jadi tahanan politik selama kurang lebih 3,5 tahun di era Yugoslavia. Setelah keluar dari penjara, ia membawa keluarganya ke Swiss. Negara inilah yang kemudian jadi tanah kelahiran Granit Xhaka pada 1992.

Sementara itu, Xherdan Shaqiri lahir di Kosovo pada 1991. Keluarganya kemudian meninggalkan Kosovo dan pindah ke Swiss saat terjadinya Perang Balkan. Banyak sumber menulis kalau saat itu terjadi pembantaian etnis Albania-Kosovo oleh tentara Serbia. Alasan itulah melatarbelakangi Xhaka dan Shaqiri melakukan selebrasi “Albanian Eagle” yang emosional saat keduanya berjumpa dengan Serbia di Piala Dunia 2018.

Kini, empat tahun berselang, Swiss bakal kembali berjumpa lagi dengan Serbia. Sejarah masa lalu dan keberadaan keturunan Albania-Kosovo dalam skuad timnas Swiss bakal jadi bumbu panas laga penentuan Grup G Piala Dunia 2022.

Xhaka dan Shaqiri yang dulu memicu polemik dengan selebrasi “Albanian Eagle” masih jadi andalan timnas Swiss. Selain keduanya, di dalam skuad asuhan Murat Yakin, ada pemain muda Ardon Jashari yang juga memiliki darah Albania. Sementara Aleksandar Mitrovic yang dulu sinis dengan Xhaka dan Shaqiri juga masih jadi andalan timnas Serbia.

Dikutip dari Mirror, menjelang pertandingan Serbia vs Swiss pada 2 Desember nanti, Xhaka dan Shaqiri mengaku minta maaf atas selebrasi “Albanian Eagle” yang profokatif. Keduanya juga berjanji tak akan mengulang selebrasi tersebut.

Keputusan dua pemain tersebut tepat. Pasalnya, setelah lebih dari dua dekade membeku, konflik Serbia dan Kosovo kembali memanas. Aturan baru dari pemerintah Kosovo terkait penghapusan plat nomor Serbia telah memicu ketegangan di daerah perbatasan.

Etnis Serbia yang keluar masuk Kosovo wajib memakai plat nomor Kosovo. Atas kejadian tersebut, pasukan NATO diturunkan untuk menjaga perbatasan agar konflik Serbia-Kosovo tak kembali pecah.

Bendera Kosovo di Ruang Ganti Serbia Picu Polemik Baru

Permasalahan tersebut kabarnya sudah mereda. Sayangnya, ada polemik baru yang muncul jelang pertemuan Serbia dan Swiss di Piala Dunia 2022.

FIFA saat ini tengah serius melakukan investigasi terkait adanya temuan bendera yang menggambarkan Kosovo sebagai bagian dari Serbia. Dalam foto yang beredar, bendera tersebut digantung di ruang ganti timnas Serbia ketika mereka bertemu dengan Brasil. Kabarnya, bendera serupa juga dikibarkan para pendukung timnas Serbia.

Gambar bendera tersebut menjadi viral di media sosial saat dibagikan oleh Hajrulla Ceku, Menteri Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kosovo. Pada bendera tersebut, peta Kosovo diwarnai dengan warna nasional Serbia dan bertuliskan ‘Kami Tidak Menyerah’ yang ditulis dalam bahasa Serbia.

Jika terbukti bersalah, sanksi sudah menunggu Timnas Serbia yang dinilai telah melanggar Pasal 11 Kode Disiplin FIFA dan Pasal 4 Regulasi Piala Dunia FIFA 2022.

Sebagai informasi, Kosovo yang mayoritas penduduknya beretnis Albania, dulunya memang bekas provinsi Serbia yang mendeklarasikan kemerdekannya pada 2008 silam. Namun, Serbia bersama dengan Rusia dan Cina tidak mengakui kemerdaan Republik Kosovo.

Belum ada tanggapan serius dari FA Serbia terkait temuan bendera tersebut. Xhaka dan Shaqiri yang punya keturunan Albania-Kosovo juga belum berkomentar.

Pada akhirnya, pertemuan Serbia dan Swiss di Stadion 974 pada 2 Desember nanti tak hanya bernilai sebagai laga penentuan Grup G Piala Dunia 2022. Lebih daripada itu, laga Serbia vs Swiss bukanlah sekadar pertandingan sepak bola biasa.

https://youtu.be/kJs6Kq4VEEE
***
Referensi: FIFA, FIFA, Mirror, Detik, Al Jazeera, The Guardian, ESPN.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru