Selayaknya drama televisi, sepakbola juga sebuah pertunjukan yang mampu menghibur para penonton yang hadir di stadion maupun di layar kaca. Unsur hiburan itulah yang membuat penonton tertarik dan larut dalam pertandingan. Hiburan yang dimaksud kali ini meliputi permainan indah hingga drama dan intrik yang terjadi selama 90 menit.
Selain drama dan intrik, sepakbola kerap menampilkan aksi yang menuai kontroversial, salah satunya diving. Sebuah jurus terlarang di mana pemain menjatuhkan diri untuk mendapatkan sebuah keuntungan dari belas kasih sang pengadil lapangan.
Meski demikian, nyatanya jurus terlarang macam ini masih saja dipakai oleh beberapa pemain yang jahil. Tim yang menginginkan sebuah gol, akan menghalalkan segala cara untuk menang. Termasuk menggunakan teknik diving. Namun, pernahkah football lovers berpikir kenapa teknik seperti ini ada, dan siapa yang pertama mempopulerkannya?
Daftar Isi
Apa Itu Diving?
Di sepakbola rentan terjadi kontak fisik. Hal itu dimanfaatkan oleh oknum-oknum seniman lapangan hijau untuk mengambil kesempatan untuk meningkatkan kemungkinan mencetak gol dari tendangan bebas atau penalti.
Ya, tindakan itu sering kita sebut diving. Tapi apa sih diving itu? Jika mendengar kata diving, mungkin yang terlintas adalah kegiatan yang berhubungan dengan air dan menyelam ya. Secara harfiah, “diving” memang memiliki makna “menyelam”. Tapi dalam sepakbola, diving memiliki arti yang serupa tapi tak sama.
Diving adalah istilah yang dipakai pada kelakukan pemain yang sengaja menjatuhkan diri dan memanfaatkannya untuk keuntungan yang tidak adil. Biasanya akan ditambah dengan berpura-pura cedera. Tentu saja untuk memberi kesan ke wasit bahwa benar terjadi pelanggaran.
Sementara menurut FIFA, diving adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seorang pemain demi mendapat keuntungan secara curang dengan menjatuhkan diri ke lapangan. Lalu, menunjukkan ekspresi kesakitan agar pemain atau tim lawan terkena hukuman. Aksi itu dianggap seperti orang menyelam, makanya disebut diving.
Awal Kemunculan Diving
Diving dikenal sangat mencederai sportivitas dalam sepakbola. Meski begitu, untuk melakukannya perlu keahlian khusus. Tak semua pemain mampu menciptakan aksi ini seperti terkesan benar-benar terjadi pelanggaran yang sah. Meski diving ini pun beresiko.
On the 18th day of Christmas my true love gave to me…one German Diving! It’s Jurgen Klinsmann. Yes I know he played for the enemy (obviously I mean Spurs!) but what a striker he was. Made the no.18 iconic! #FootyShirtAdventCallendar Who’s your favourite no.18? pic.twitter.com/m4KVLIfIp8
— Nick @ Footy Draws✏️ (@Footy_Draws) December 18, 2020
Pemain yang ketahuan melakukan diving, menurut regulasi bisa langsung diganjar kartu kuning oleh wasit di lapangan. Itu karena dianggap sudah mencoreng nilai fair play dalam satu pertandingan sepakbola. Tapi kenapa tindakan tidak terpuji semacam ini muncul?
Soal itu kamu mungkin bisa bertanya ke Jurgen Klinsmann. Karena orang itulah yang mempelopori teknik diving pada era 90-an. Legenda Jerman ini bahkan disebut sebagai bapak diving lewat aksinya di Piala Dunia 1990 kala Timnas Jerman bertemu dengan wakil CONMEBOL, Argentina.
Pedro Monzon yang tengah membayangi Klinsmann, mengambil keputusan untuk memberikan tekel saat Klinsmann akan menembus pertahanan Argentina. Klinsmann menemukan kesempatan menjatuhkan diri untuk mendapat keuntungan. Klinsmann terjatuh dan Pedro diganjar kartu merah.
Sontak aksi yang dilakukan Klinsmann jadi sorotan. Ia langsung jadi trending topik di media-media internasional karena dicap sengaja menjatuhkan diri ketika ditekel oleh Pedro Monzon. Selepas pertandingan itu, selain mendapat trofi Piala Dunia, Klinsmann juga mendapatkan julukan baru sebagai “Jurgen si penari disco.”
Hingga Memunculkan Penelitian
Teknik diving Klinsmann akhirnya ditiru pesepakbola masa kini. Tak sedikit pemain berkelas yang memperagakan aksi diving. Salah satunya bintang PSG, Neymar. Selain dikenal karena skill olah bolanya yang ciamik, pemain depan Brazil itu juga terkenal kerap bersandiwara di atas lapangan.
Misalnya ketika Brazil menghadapi Meksiko di Piala Dunia 2018 di Rusia. Ketika itu, Neymar melakukan diving yang lebay. Di penghujung babak kedua, Neymar ditemukan menggeliat di pinggir lapangan seperti cacing kepanasan selama hampir dua menit setelah pemain Meksiko, Miguel Layun menginjak pergelangan kakinya.
Sontak aksi Neymar ini dengan cepat menyebar di media sosial. Banyak meme yang bernada ejekan bermunculan. Uniknya, aksi diving memalukan Neymar itu justru jadi bahan penelitian Wall Street Journal. WSJ melakukan analisis pola diving Neymar selama Piala Dunia 2018.
Penelitian itu mengungkapkan bahwa Neymar lebih sering melakukan diving ketika tim Samba tengah berada di situasi unggul. Neymar mungkin memang jatuh dan merengek di setiap laga, tapi hampir 60% aksinya dilakukan ketika Brazil tengah unggul. Dan 15 detik jadi rata-rata waktu yang dibutuhkan Neymar untuk mengekspresikan rasa sakit di lapangan.
Pemain Lain yang Terkenal Akan Divingnya
Selain Neymar, ada banyak pemain yang dikenal hobi diving. Contoh ada mantan rekan Neymar sewaktu di Barcelona, Luis Suarez. Salah satu momen diving menyebalkan Suarez adalah pada laga Derby Merseyside tahun 2012.
Jelang laga tersebut, David Moyes yang masih melatih Everton mengejek pemain Liverpool itu dengan sebutan “tukang diving”. Suarez yang tak terima akhirnya selebrasi menjatuhkan diri di hadapan Moyes setelah berhasil menjebloskan bola ke gawang The Toffees.
Ada lagi legenda Bayern Munchen, Arjen Robben. Layaknya Neymar, Robben juga gemar meliuk-liuk di kotak penalti dan diakhiri dengan terjatuh serta memainkan sedikit akting. Diving Robben yang paling terkenal adalah pada saat Timnas Belanda melawan Meksiko di babak 16 besar Piala Dunia 2014.
Free bet competition on our Facebook! Predict the minute Arjen Robben will dive first to win! http://t.co/Xh4flGAtmy pic.twitter.com/Hg2FpE7cWJ
— 888sport (@888sport) July 9, 2014
Ada juga Sergio Busquets. Football lovers pasti masih ingat momen Busquets ngintip dari sela-sela tangannya untuk mengetahui reaksi wasit saat ia melakukan aksi diving di ajang Liga Champions kontra Inter Milan beberapa tahun lalu.
Selain terkenal dengan kemampuannya, sebagai pesepakbola barangkali mereka juga pantas mendapatkan Piala Oscar untuk kategori akting terbaik.
Jurus Terlarang, Harus Dimusnahkan!
Aksi tidak terpuji ini selalu mendapat kecaman dari penggiat sepakbola. Dalam laporan Washington Post di tahun 2017, Sam Allardyce bahkan pernah memberikan usulan kepada Federasi Sepakbola Inggris untuk memberikan sanksi kepada pemain yang kedapatan melakukan diving dengan mengeluarkannya dari lapangan untuk beberapa menit ke depan atau dalam istilahnya “Sin Bin”.
Beberapa peneliti juga mengungkapkan tentang bagaimana cara mengurangi penggunaan jurus terlarang ini. Kesimpulan yang didapat adalah peran penting seorang pelatih dalam menerapkan pemahaman kepada para pemain untuk tidak melakukan aksi tercela itu. Meski bisa mendapatkan keuntungan, tetapi hal itu sudah melanggar sportivitas permainan.
Selain itu, kini sepakbola juga sudah mengenal Video Assistant Referee (VAR) sebagai alat bantu wasit dalam mengambil keputusan, termasuk untuk melihat aksi-aksi yang hanya bisa dilihat dari mata kamera dan tayangan ulang. Meski meminimalisasi kans seorang pemain melakukan diving, teknologi tersebut tampaknya belum ampuh untuk mengusir diving dari sepakbola.
Sumber: The Guardian, Goal, Panditfootball, Libero


