Pelatih Ini Masih Sukses Ketika Kembali ke Klub Lamanya

spot_img

Ada dua hal ketika seseorang memutuskan pergi dari hidup kita. Dia akan kembali lagi ke kita atau dia tidak akan pernah kembali. Pun begitu dalam dunia sepakbola. Seorang pemain bisa saja pergi dari suatu klub tanpa kembali.

Namun tidak menutup kemungkinan ia akan kembali lagi. Misalnya, Cristiano Ronaldo. Pemain Portugal itu pergi dari Manchester United, tapi akhirnya kembali ke Old Trafford. Hal semacam ini juga terjadi pada sosok manajer atau pelatih.

Klub yang sudah mengakhiri hubungan dengan seorang pelatih, belum tentu benar-benar berakhir. Sebab boleh jadi suatu saat nanti, sang pelatih bakal kembali lagi ke klub lamanya. Nah berikut ini adalah pelatih yang kembali ke klub lamanya, tapi tetap mendulang kesuksesan.

Kenny Dalglish (Liverpool)

Sir Kenny Dalglish merajut warisan hebatnya bersama klub Merseyside, Liverpool. Sebagai pemain dari tahun 1960 sampai 1970-an, Kenny Dalglish menorehkan sekurang-kurangnya 345 gol dari 850 penampilan selama berseragam The Reds.

Pemain Skotlandia tersebut pun menjadi salah satu pemain legendaris Liverpool. Dalglish lalu diangkat sebagai manajer. Uniknya, pada tahun 1985, ketika diangkat sebagai manajer, posisi Dalglish sebenarnya juga masih seorang pemain.

Oleh Dalglish, Liverpool disulap menjadi raksasa di Liga Inggris. The Reds menguasai Liga Inggris dengan setidaknya menyabet tiga gelar divisi satu yang sekarang Premier League. Tidak hanya itu, dua gelar Piala FA juga ia persembahkan, sebelum akhirnya memilih mundur sebagai manajer setahun sebelum Premier League ada, yaitu 1991.

Setelah tak di Liverpool, Dalglish pernah menjadi pelatih Newcastle United, Celtic, sampai Blackburn Rovers. Namun, tahun 2011, ia akhirnya kembali menukangi Liverpool. Klub yang berantakan di tangan Roy Hodgson, membuat manajemen memecatnya dan memanggil kembali Dalglish.

Era keduanya memimpin Liverpool, Dalglish mendatangkan senior Darwin Nunez, Andy Carroll dengan harga fantastis. Meski penandatanganan Carroll menyebalkan, setidaknya rekrutan Dalglish lainnya bermanfaat bagi Liverpool, seperti Luis Suarez.

Sayangnya, masa kedua Dalglish tidak lama. Hanya 18 bulan. Walau begitu, ia masih bisa membawa Liverpool juara Piala Liga musim 2011/12. Ia meninggalkan Liverpool lagi setelah tim itu hanya bisa dibawa ke posisi delapan. Brendan Rodgers masuk menggantikannya.

Jupp Heynckes (Bayern Munchen)

Jupp Heynckes merupakan pelatih kawakan di Bayern Munchen. Ia mulai dipekerjakan sebagai pelatih tahun 1987. Ia bertahan di FC Hollywood cukup lama, yaitu dari tahun 1987-1991. Periode pertamanya itu mengantarkan Bayern Munchen juara liga dua kali.

Namun, ia harus dipecat karena gagal di Piala Eropa. Namun begitu, pada akhirnya Die Roten memanggilnya lagi untuk melatih tahun 2009, tapi hanya sebagai pelatih sementara sepeninggal Jurgen Klinsmann.

Ia akhirnya menjadi manajer permanen Die Roten lagi tahun 2011. Heynckes menggantikan Louis Van Gaal ketika itu. Seolah tidak ingin mengecewakan publik Die Roten, pada periode keduanya melatih, Heynckes langsung tancap gas.

Salah satunya, Heynckes membimbing Bayern Munchen meraih treble, Liga Champions, Bundesliga, dan DFB Pokal pada musim 2012/13. Lalu pada 2013, Heynckes kembali meninggalkan Bayern Munchen yang ketika itu menunjuk Pep Guardiola.

Namun, ketika dikira akan pensiun, Jupp Heynckes justru kembali lagi ke Die Roten tahun 2017. Ia menggantikan Carlo Ancelotti yang dipecat. Pada periode ketiganya melatih Munchen, Heynckes masih bisa meraih trofi Bundesliga.

Jose Mourinho (Chelsea)

Pelatih dari Portugal, Jose Mourinho barangkali ada dalam hati para penggemar Chelsea. Sebab, Mourinho merupakan salah satu pelatih Chelsea yang sukses. Ia pernah membawa The Blues juara Liga Inggris dua musim berturut-turut: 2004/05 dan 2005/06.

Tidak hanya itu, di Chelsea Mourinho juga meraih Piala Liga dan Community Shield. Membuat ia memproklamirkan diri sebagai The Special One. Namun, pada musim 2006/07, keadaan memburuk. Dasar Mourinho, ia dikabarkan berselisih dengan bos Chelsea kala itu, Roman Abramovich.

Alhasil, Mourinho dipecat menyusul kekalahan atas Rosenborg di Liga Champions. Setelah tak di Chelsea, ia ke Inter. Di sanalah Mourinho meraih treble bersejarah, sebelum akhirnya merapat ke Real Madrid. Tak disangka, pada tahun 2013, Mourinho secara sensasional kembali ke Stamford Bridge.

Tidak butuh waktu lama bagi Mourinho untuk kembali memberi prestasi untuk Chelsea. Pada musim 2014/15, Mourinho lagi-lagi memenangkan Liga Inggris untuk The Blues. Selain itu, pada musim yang sama, Mourinho juga mempersembahkan trofi Piala Liga. Mourinho akhirnya meninggalkan Chelsea lagi tahun 2015 menyusul hasil yang buruk.

Harry Redknapp (Portsmouth)

Harry Redknapp adalah orang di balik suksesnya Portsmouth ke Liga Inggris. Redknapp membawa Portsmouth promosi ke Liga Inggris pada musim 2002/03. Sayang sekali, setelah menuntaskan tugasnya itu, Redknapp memilih mengundurkan diri.

Dalam laporan Mirror, disinyalir hal itu karena ia terlibat perselisihan dengan pemilik Portsmouth ketika itu, Milan Mandaric. Akhirnya Redknapp pergi dari Portsmouth tahun 2004. Setelah tak di Portsmouth, Redknapp didekati Southampton.

Klub berjuluk The Saints itu akhirnya merekrut Redknapp. Ia diberi tugas berat untuk menyelamatkan tim dari degradasi. Ironis, Redknapp tidak berhasil melakukannya sehingga ia pun didepak Soton tahun 2005. Ia pun kembali ke Portsmouth.

Pada era keduanya itu, Redknapp mempertahankan klub berjuluk Pompey itu di Premier League. Tidak cukup sampai di situ. Pelatih yang turut memoles Luka Modric itu juga membawa Portsmouth juara Piala FA di periode keduanya, tepat pada musim 2007/08. Sebelum akhirnya ia memilih pergi ke Tottenham Hotspur.

Zinedine Zidane (Real Madrid)

Ada kredo unik bahwa jika anda memenangkan trofi Liga Champions tiga kali beruntun, anda bebas menentukan nasib anda sendiri. Begitulah yang dilakukan Zinedine Zidane. Setelah menjalani periode sukses di Real Madrid antara tahun 2016-2018, yang mana di dalamnya mendapat tiga trofi Liga Champions, Zidane memilih mundur.

Namun, ditinggal Zizou kapal Real Madrid goyang. Julen Lopetegui dan Santiago Solari yang ditunjuk jadi pelatih adalah bencana besar bagi El Real. Maka wajar apabila Florentino Perez memohon Zizou untuk kembali melatih Los Galacticos pada musim 2018/19.

Zizou akhirnya kembali ke Los Blancos pada Maret 2019. Ia pun memberikan satu lagi trofi La Liga pada musim 2019/20. Zidane juga melengkapinya dengan trofi Piala Super Spanyol. Ia akhirnya benar-benar pergi setelah musim 2020/21 tuntas dengan menuduh klub “kurang menghormati” dan menyebutkan alasannya pergi dalam sepucuk surat.

Fabio Capello (Real Madrid)

Sama seperti Zizou, Fabio Capello menjalani dua era di Real Madrid. Mantra pertamanya di Real Madrid adalah musim 1996/97. Ketika itu, Fabio Capello terbilang sukses. Ia membawa Los Merengues juara La Liga. Namun masanya di Real Madrid ketika itu singkat.

Walau juara La Liga, perselisihan dengan bos El Real, Lorenzo Sanz tak bisa terbendung. Lucunya kedua orang ini berselisih karena berdebat soal posisi yang harus dimainkan Raul. Capello pun akhirnya pergi dan kembali lagi pada musim 2006/07.

Pada periode keduanya, Capello menggembleng Los Galacticos. Meski dengan metode sepakbola pragmatis yang sangat membosankan. Walau demikian, di era keduanya, Capello berhasil mempersembahkan La Liga musim itu dengan cara yang dramatis. Kemenangan atas Mallorca membuat Los Galacticos finis peringkat satu di atas Barcelona.

Carlo Ancelotti (Real Madrid)

Terakhir tentu saja Carlo Ancelotti. Ia adalah sosok pelatih tercerdas yang pernah dimiliki Real Madrid. Tahun 2013 adalah era pertama Carlo Ancelotti di Los Merengues. Ketika itu ia merapat ke Bernabeu setelah berhasil membawa PSG buka puasa gelar Ligue 1.

Ia mengemban tugas berat di Los Galacticos. Sebab El Real sedang mengincar gelar ke-10 Liga Champions. Namun bagi Ancelotti itu bukan masalah besar. Hanya butuh satu musim untuk Carletto memberikan trofi La Decima untuk Real Madrid.

Bersamaan dengan La Decima, Don Carlo juga mempersembahkan Copa del Rey. Namun, tahun 2015 Carletto dipecat Real Madrid hanya untuk kembali lagi pada tahun 2021. Setelah 18 bulan di Everton, murid Arrigo Sacchi itu kembali ke Real Madrid.

Periode keduanya Ancelotti kembali membawa Los Blancos juara Liga Champions. Lalu, ia juga melunasi hutang Liga Spanyol untuk El Real. Di era keduanya, Ancelotti juga memberikan trofi Piala Super Spanyol dan Piala Super Eropa bagi Real Madrid. Jadi, lengkap sudah trofi yang diberikan Ancelotti untuk Los Galacticos.

Sumber: Mirror, TheSun, HITC, GazetteLive, Transfermarkt

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru