Berbicara soal klub sepakbola terkaya, barangkali Newcastle United akan selalu menjadi pilihan nomor satu. Diakuisisi oleh konsorsium Arab Saudi, membuat The Magpies layak disebut sebagai klub paling kaya. Itu kalau mengacu pada kekayaan dari si pemilik klub.
Namun, Newcastle United sebetulnya belum terlalu paripurna disebut sebagai klub terkaya. Apalagi mereka baru kemarin saja menjadi klub konglomerat. Sebelum itu, Manchester City di Liga Inggris dan Paris Saint-Germain yang menguasai Ligue 1 adalah klub terkaya di dataran Eropa.
PSG dan Manchester City selalu menjadi perbincangan ketika membicarakan soal klub kaya. Apalagi dua klub ini tidak seperti Newcastle yang masih hemat-hemat dan malu-malu untuk mengeluarkan dana. City dan PSG selalu totalitas untuk menggelontorkan uang.
Saking kayanya dua klub itu, sampai menimbulkan perdebatan. Mana kira-kira yang paling kaya? Manchester City atau justru Paris Saint-Germain?
Daftar Isi
Akuisisi Sheikh Mansour ke Manchester City
Kita mulai dari yang pertama kaya, yaitu Manchester City. Sebelum diakuisisi oleh Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan, The Citizen adalah klub medioker. Tak banyak prestasi dan City hampir selalu akrab dengan degradasi. Antara tahun 1996 sampai 2003 menjadi periode yang buruk bagi Manchester City.
Nah, sebelum Sheikh Mansour datang, City sejatinya sudah pernah kedatangan taipan sekaligus mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra. Ia datang tahun 2007 untuk mengakuisisi 75 persen saham The Citizen.
What part did Thaksin Shinawatra play in the rise of our club, Manchester City? What were the good things he did? Did he really care for the club? pic.twitter.com/YT4RFBfSNd
— Owain Roderick (@owainroderick1) June 22, 2022
Waktu itu nilainya 81,6 juta poundsterling atau kalau dirupiahkan sekarang kira-kira Rp1,4 triliun. Shinawatra juga mengangkat mantan pelatih Inggris, Sven-Goran Eriksson untuk menjadi manajer. Sayang sekali, di negara asalnya, Shinawatra memiliki reputasi buruk.
Shinawatra terlibat dalam skandal korupsi di Thailand. Skandal itu kelak yang mengantarkannya pada masalah berikutnya. Di tangan Sven-Goran, Manchester City belanja besar, meski yang didatangkan pemain yang kurang dikenal.
Tapi Manchester City masih bisa bermain apik kala itu, dengan pemain seperti Michael Johnson, Geovanni, sampai Elano. Namun, mereka berakhir dengan catatan buruk. Kalah 8-1 dari Middlesbrough, membuat City harus berakhir di peringkat kesembilan.
Karena terlibat kasus korupsi, aset Shinawatra akhirnya dibekukan. Garry Cook, CEO kala itu akhirnya mencari investor baru. Abu Dhabi United Group (ADUG) yang dimiliki Sheikh Mansour akhirnya mengakuisisi Manchester City.
Pada 1 September 2008, ia mengakuisisi City dengan nilai akuisisi 233 juta euro atau Rp3,6 triliun kurs sekarang. Angka itu mengalahkan jumlah akuisisi Roman Abramovich di Chelsea yang senilai 155,5 juta euro atau Rp2,4 triliun.
Sheikh Mansour completed the takeover of Manchester City Football Club #OnThisDay in 2008! 💙
Manchester thanks you, @HHMansoor. pic.twitter.com/5ZiYXC05Hk
— mcfc lads (@mcfc_lads) September 23, 2022
Akuisisi Nasser Al-Khelaifi di PSG
Sementara itu, sebelum diambil alih Qatar Sports Investment (QSI), PSG juga klub yang biasa-biasa saja. Bahkan Paris Saint-Germain lebih dari satu dekade tidak meraih trofi Ligue 1 yang kini mereka kuasai itu.
Namun semua berubah ketika Qatar Investment Authority (QIA) melalui anak perusahaannya, Qatar Sports Investments (QSI) mengakuisisi tak kurang dari 70 persen saham PSG. Perlu diketahui bahwa Qatar Investment Authority adalah perusahaan yang dimiliki Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani.
H.H Sheikh Tamim with PSG’s chairman Nasser Al Khelaifi at the Roland Garros. ❤️ pic.twitter.com/hM0cQcsNOk
— RN ♋︎ (@reehl7) June 4, 2014
Ia sekarang adalah seorang emir Qatar. Sementara QSI, kita semua tahu dipegang oleh Nasser Al-Khelaifi. Pria yang pernah marah-marah ketika PSG kalah dari Real Madrid itu adalah teman Sheikh Tamim. Olahraga tenis mempertemukan keduanya. Sebelum jadi Ketua QSI, oleh Sheikh Tamim, Nasser bisa menduduki jabatan Federasi Tenis Qatar tahun 2008 selama kurang lebih tiga tahun.
Jadi ketika PSG diakuisisi QSI tahun 2011, Nasser Al-Khelaifi sudah memegang kendali. Namun ternyata nilai akuisisi Nasser Al-Khelaifi jauh lebih sedikit dari yang dikelluarkan Sheikh Mansour di Manchester City. Nilainya 80 juta euro atau Rp1,2 triliun kurs sekarang.
Sheikh Mansour Belanja Pemain
Sheikh Mansour dari Abu Dhabi begitu serius untuk merevitalisasi Manchester City. Meski begitu di musim pertamanya, gelontoran uang masih ketat. Hal itulah yang membuat Manchester City justru hanya bisa finis di peringkat 10 pada musim pertama diakuisisi Sheikh Mansour.
Pada musim kedua, Sheikh Mansour mulai tancap gas. Manajer sebelumnya Mark Hughes dipecat dan digantikan Roberto Mancini. Mulai dari sinilah operasi transfer besar-besaran Manchester City dimulai. Emmanuel Adebayor, Kolo Toure, Joleon Lescott, sampai Carlos Tevez dan Robinho dikumpulkan dengan biaya yang tidak sedikit.
13 years ago, Robinho joined Manchester City.
Never forget his reason for joining:
“I thought I was joining Manchester United. I was mislead by all involved. I wasn’t aware there was another Manchester club.”
😂😭😂 pic.twitter.com/kuXLtx8ReD
— Footy Humour (@FootyHumour) July 6, 2021
Total Manchester City menghabiskan 270 juta poundsterling atau Rp4,8 triliun kurs sekarang untuk bursa transfer kala itu. Operasi transfer berlanjut di musim berikutnya dengan mendatangkan nama seperti Jerome Boateng, David Silva, James Milner, Kolarov, sampai Yaya Toure yang akhirnya meloloskan City ke Liga Champions untuk kali pertama.
Total sejak pengakuisisian Sheikh Mansour, City sudah menghabiskan 1,65 miliar euro atau sekitar Rp25,6 triliun hanya untuk transfer pemain.
Operasi Transfer Nasser Al-Khelaifi
Operasi transfer Nasser Al-Khelaifi di PSG juga tak kalah jor-joran. Saat awal-awal mengakuisisi PSG, uang yang dihabiskan di bursa transfer mencapai 212 juta poundsterling atau sekitar Rp3,8 triliun. Zlatan Ibrahimovic, Thiago Silva, Javier Pastore, Lucas Moura, sampai Ezequiel Lavezzi dibeli.
Siku kama ya leo 2017, PSG walimsaini Neymar kutoka Barcelona kwa ada ya kiasi cha €222M/$264M, usajili ghali zaidi kuwahi kufanyika katika dunia hii ya mpira
Hivi kuna mtu atakuja kuvunja hii rekodi aiseee haya Mapsg haya 🙌🙌🙌 pic.twitter.com/KqZo3hl8Y8
— Mponzi Sports (@Mponzisports) August 3, 2021
Tentu dari sekian pemain yang didatangkan PSG, yang paling mencengangkan adalah Neymar. Pemain Brazil itu dibajak dari Barcelona dengan harga 222 juta euro (Rp3,4 triliun). Meski begitu, jika ditotal pembelanjaan transfer sampai hari ini, PSG masih kalah dari Manchester City.
Les Parisiens menghabiskan 1,4 miliar euro atau sekitar Rp21,7 triliun. Mengapa PSG kalah dari City? Karena Pep Guardiola pernah mendatangkan tak sedikit pemain yang harganya semuanya mahal, ditaksir jika ditotal sampai 1,1 miliar euro (Rp17 triliun).
Maka dari itu, untuk nilai skuad pun, Manchester City lebih unggul. Menurut Transfermarkt, musim ini The Citizen memiliki nilai skuad 1 miliar euro lebih (Rp15,5 triliun). Sementara PSG memiliki nilai skuad 890 juta euro (Rp13,8 triliun).
Buronan FFP
Soal aset, Forbes mencatat, QSI, perusahaan yang mengakuisisi PSG memiliki aset sekitar 120 miliar poundsterling. Sementara ADUG yang mengakuisisi City memiliki aset 555 miliar poundsterling. Itu baru aset perusahaan. Jumlah kekayaan pemilik keduanya berbeda lagi. Nasser Al-Khelaifi tercatat memiliki total kekayaan 8 miliar dolar (Rp124 triliun).
Kekayaan itu berasal dari gurita bisnisnya termasuk industri penyiaran seperti beIN Sport. Sementara pebisnis minyak, Sheikh Mansour memiliki kekayaan 21 miliar dolar (Rp326 triliun). Asetnya termasuk City Football Group yang didirikan tahun 2014.
RESMI : La Liga melaporkan Manchester City dan PSG ke UEFA karena dianggap terus menerus melanggar aturan FFP.
Jika tak digubris, La Liga siap melanjutkan laporan ini ke Uni Eropa. 😲 pic.twitter.com/ctHNeswZkJ
— Extra Time Indonesia (@idextratime) June 15, 2022
Karena kehadiran dua taipan itu pulalah, UEFA akhirnya mengeluarkan regulasi Financial Fair Play (FFP). Dan baik Manchester City maupun PSG adalah dua klub yang sering menjadi buronan FFP.
Jumlah pendapatan dan pengeluaran yang tak seimbang membuat kedua tim kerap bermasalah soal FFP. Walaupun beberapa kali berhasil terhindar dari hukuman.
Alat Politik
Ahli Geopolitik Dunia Arab dari University of Tours, Raphael Le Magoariec sebagaimana diwawancara IRIS, mengatakan bahwa PSG dan Manchester City tidak lebih sebagai alat politik belaka. Keduanya adalah alat politik negaranya masing-masing.
PSG dengan Qatar dan Manchester City dengan Uni Emirat Arab. Hadirnya di dua klub besar Eropa membuat Uni Emirat Arab maupun Qatar berhasil menguasai geopolitik di dunia olahraga.
Membuat negara-negara teluk jadi mendapat muka di kancah sepakbola internasional. Maka dari itu, bukan aneh jika Qatar pada akhirnya bisa menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.
https://youtu.be/NQomebC-22c
Sumber: RepublicWorld, GiveMeSport, DailyStar, Marca, DailyMail, IRIS, BR, GOAL, TheGuardian, KataData, Transfermarkt, PanditFootball


