Persilangan Nasib Bomber Real Madrid: Benzema dan Higuain

spot_img

Beberapa jam setelah Karim Benzema dianugerahi trofi Ballon d’Or untuk kali pertama, mantan rekan setimnya, Gonzalo Higuain justru tak kuasa menahan air mata saat meninggalkan Stadion Citi Field. Di belahan benua yang berbeda, dua sosok penyerang tersohor merasakan emosi berbeda pula.

Wak Haji sukses menasbihkan dirinya sebagai pesepakbola kelima asal Prancis yang mendapatkan Ballon d’Or. Sementara mantan rekan satu angkatan di Madrid itu menjalani pertandingan terakhir dalam karir profesionalnya sebagai seniman lapangan hijau. Dan berikut kisah beda nasib bomber Real Madrid, Benzema dan Higuain.

Satu Angkatan

Dua pemain hebat ini berada di generasi yang sama. Hari kelahiran mereka berdua bahkan hanya terpaut sepuluh hari saja. Menurut Transfermarkt, meski sama-sama berusia 34 tahun, Benzema lebih muda sepuluh hari dari Higuain karena ia lahir tanggal 19 Desember 1987.

Namun, mereka memiliki latar belakang pengembangan karir usia muda yang berbeda. Benzema yang lahir di Prancis tumbuh bersama Lyon. Nama Benzema mulai muncul setelah menembus skuad utama Lyon di tahun 2005. Namun, ia membutuhkan satu tahun untuk mendapat jatah reguler di skuad utama. 

Sama halnya dengan Benzema, Gonzalo Higuain juga lahir di Prancis. Namun ia dibesarkan di Argentina. Jadi tak heran apabila ia tak memulai karirnya bersama klub-klub papan atas Liga Eropa seperti Benzema. Higuain muda memulai karir dari klub lokal Argentina, River Plate. 

El Pipita tak perlu waktu lama untuk menarik perhatian. Setelah mencetak gol dalam derby SuperClasico melawan Boca Juniors tahun 2006, manajer River Plate saat itu, Daniel Passarella menyatakan bahwa Higuain memiliki masa depan yang sangat cerah. Ia harus terbang ke Eropa apabila tak mau menyia-nyiakan bakatnya.

Dipertemukan di Real Madrid

Baru setahun di River Plate, Higuain langsung merantau ke Eropa. Tak tanggung-tanggung, klub yang menjadi tujuannya adalah raksasa Liga Spanyol, Real Madrid. Ia bergabung ke Madrid pada tahun 2006 dengan biaya 12 juta euro (Rp188 miliar.)

Mendatangkan Higuain merupakan salah satu upaya Madrid untuk memperbaiki performa tim yang sedang buruk. Higuain datang di tahun ketiga Madrid puasa gelar La Liga. Namun, karena datang bersama Ruud Van Nistelrooy yang terbukti manjur di Manchester United membuat Higuain hanya menjadi pilihan ketiga di bawah Nistelrooy dan Raul.

Meski demikian, Fabio Capello yang saat itu masih menangani Madrid tetap memberikan kesempatan kepada Higuain. Hasilnya, cukup memuaskan untuk ukuran bocah berusia 19 tahun. Menyumbangkan dua gol dan tiga assist, Higuain membantu El Real meraih trofi liga di musim perdananya.

Dua tahun dari kedatangan Higuain, Benzema nyusul. Madrid kembali mendatangkan beberapa penyerang jempolan guna memperkuat lini depan tim. Polanya sama, Benzema datang bersama bintang Manchester United, Cristiano Ronaldo.

Berstatus anak baru, Benzema tak langsung menjadi pilihan utama di Madrid. Ia menjadi pelapis Higuain yang di plot sebagai penyerang utama setelah tampil luar biasa dengan mencetak 22 gol musim 2008/09. Hal tersebut sempat membuat Benzema tidak bahagia. Namun, situasi itu berubah 180 derajat di musim keduanya.

Higuain Tersingkir Dalam Persaingan

Menumpuknya stok penyerang tengah membuat Higuain dan Benzema harus bersaing guna berebut satu tempat di skuad utama El Real. Di awal musim boleh Higuain yang menjadi pilihan pertama, namun setelah itu Benzema lah yang menjadi favorit di lini depan Madrid.

Sempat menimbulkan perdebatan ketika Benzema menggeser Higuain sebagai penyerang utama Los Blancos. Pasalnya, Higuain unggul dalam efektivitas mencetak gol, terutama gol melalui skema open play. Selama empat musim bermain bersama, Higuaín telah mencetak gol dengan mengandalkan kecepatan dan sedikit keegoisan di depan gawang yang mana secara konsisten mengalahkan Benzema.

Dilansir Planet Football, meski memiliki menit bermain lebih sedikit, rata-rata gol yang diciptakan Higuain lebih banyak dari Karim Benzema. Pemain Argentina itu bisa mencetak rata-rata 18,8 gol non-penalti per musim. Sementara Karim Benzema hanya mengemas rata-rata 13,8 gol non-penalti per musim. 

Satu-satunya yang dimenangkan Benzema adalah statistik pada musim 2012/13. Saat itu, Benzema mencetak 20 gol, sedangkan Higuain hanya 18 gol. Namun, Benzy membutuhkan 50 laga untuk mencetak gol-gol itu. Sedangkan Higuain membutuhkan 6 pertandingan lebih sedikit untuk mencetak gol sebanyak itu.

Setelah pertarungan tiada henti, penentuan nasib pun tiba. Los Galacticos lebih memilih untuk mempertahankan Benzema dan menjual Higuain ke Napoli pada akhir musim 2012/13. Kabarnya, Ronaldo memiliki peran besar dalam menyingkirkan Higuain. Ia mengklaim bahwa Higuain tidak sering mengumpan bola kepadanya seperti apa yang dilakukan oleh Benzema.

Higuain Rajai Italia 

Bermain di Kota Naples, Higuain mulai membangun reputasinya sebagai penyerang tengah paling berbahaya di Serie A. Tak butuh waktu lama bagi El Pipita untuk nyetel dengan intensitas sepakbola Italia. Di musim pertamanya saja, Higuain sudah mencetak 24 gol di semua kompetisi dan mengantarkan Napoli bertengger di peringkat ketiga Serie A musim 2013/14.

Ironisnya, meski Higuain telah memenangkan belasan trofi selama berkarir di sepakbola, musim terbaiknya justru hadir kala ia tak mampu menyumbangkan satu trofi pun kepada Il Partenopei. Di musim ketiga sekaligus terakhirnya bersama Napoli, Higuain mencetak 36 gol hanya di Serie A. 

Catatan itu menyamai rekor gol terbanyak dalam satu musim yang dibuat oleh Gino Rossetti 86 tahun lalu. Saat ini hanya Ciro Immobile yang mampu menyamai rekornya. Setelah musim yang luar biasa itu, Higuain diboyong Juventus. Namun kepindahannya itu dirasa gagal total, performa Higuain kian menurun.

Benzema Bersinar di Madrid

Sedangkan di negeri seberang, Benzema sukses bersama Real Madrid. Namun kesuksesannya tertutup oleh nama besar Cristiano Ronaldo. Meski Benzema meraih banyak trofi bersama El Real, ia nyaris selalu berada di bawah bayang-bayang Cristiano Ronaldo.

Sinar Benzema mulai terlihat ketika Ronaldo memutuskan hengkang dari Real Madrid pada tahun 2018. Kepergian Ronaldo meninggalkan lubang di lini depan. Benzema pun dipercaya untuk mengisi lubang yang ditinggalkan tersebut. Hasilnya? Luar biasa! Benzema kian moncer.

Praktis, setelah tahun 2018 Benzema tampil lepas dan mengukuhkan diri sebagai salah satu striker hebat di lima Liga top Eropa. Benzema bahkan konsisten mencetak lebih dari 25 gol selama empat musim beruntun.

Ending yang Kontradiktif

Kecemerlangan Benzema membantu Real Madrid mengembalikan dominasinya di Spanyol. Bahkan namanya menembus daftar calon pemain yang berhak mendapatkan gelar paling bergengsi bagi seorang pesepakbola, Ballon d’Or. 

Sementara Higuain, setelah dari Juventus karirnya kian meredup. Ia sempat berganti-ganti klub sebelum akhirnya memutuskan untuk menepi dari sepakbola Eropa dan pensiun di MLS bersama Inter Miami.

Higuain mengakhiri karir selepas kalah 3-0 dari New York City pada laga play-off MLS Cup di Stadion Citi Field. Hal ini tentu sangat kontradiktif dengan apa yang dialami Benzy. Di kota yang berjarak ratusan kilometer, Benzy justru tengah berada di puncak karirnya setelah meraih trofi Ballon d’Or.

Sumber: Foottheball, Planetfootball, Talksport, Transfermarkt

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru