Sepak bola bukanlah olahraga nomor 1 dan paling populer di Jepang. Berdasarkan survey yang dilakukan Statita pada September tahun lalu, bisbol adalah olahraga yang paling banyak ditonton di Jepang. Dengan persentase 31,7%, bisbol mengungguli sepak bola yang berada di urutan kedua dengan persentase 23%.
Sementara mengutip dari uniquejapantours.com, sepak bola hanya berada di urutan ketiga sebagai olahraga paling populer di Jepang. Dengan persentase 25%, sepak bola masih kalah populer dari sumo dan bisbol.
Bisbol memang tak terbantahkan sebagai olahraga paling top di Jepang. Secara tidak resmi, bisbol bahkan dianggap sebagai olahraga nasional di Jepang. Penduduk Negeri Matahari Terbit memang sangat serius dengan olahraga tersebut. Bahkan, di tingkat SMA, Kejuaraan Bisbol Sekolah Menengah Nasional atau yang lebih dikenal dengan sebutan Koshien menjadi acara yang paling banyak ditonton di setiap musim panas.
Meski bukan olahraga paling populer dan paling banyak ditonton, tetapi hasil survey yang menempatkan sepak bola di atas olahraga tradisional seperti kendo dan karate telah menunjukkan betapa pesatnya perkembangan sepak bola di Jepang.
🇯🇵Today’s XI🇯🇵#Jリーグ#daihyo #samuraiblue pic.twitter.com/4Uci2yhSPg
— Jリーグ(日本プロサッカーリーグ) (@J_League) September 27, 2022
J.League dan Keunikannya yang Sukses Membesarkan Sepak Bola Jepang
Jepang sendiri baru serius mengembangkan sepak bola secara profesional ketika membentuk J.League di tahun 1993. Sebelum itu, yang menjadi liga nasional di Jepang adalah Japan Soccer League (JSL), sebuah kompetisi semi-amatir yang dimulai sejak tahun 1965.
Namun, meski tergolong terlambat memulai, kita tahu kalau nyaris dalam waktu 30 tahun terakhir, sepak bola Jepang telah bertransformasi menjadi salah satu kekuatan terbesar di Asia. Timnas Jepang telah menjuarai Piala Asia sebanyak 4 kali dan 7 kali lolos ke Piala Dunia dalam 7 edisi terakhir.
Apa yang Jepang petik saat ini jelas tak lepas dari andil besar J.League yang dikelola dengan sangat profesional oleh Asosiasi Sepak Bola Jepang. J.League adalah representasi nyata dari liga yang baik menghasilkan timnas yang baik.
Dibanding liga top dunia lainnya, J.League memiliki keunikan tersendiri. Seperti yang kita tahu, Jepang terkenal akan tata krama dan sopan santun mereka. Etika tersebut juga diterapkan saat menonton sepak bola dan jadi ciri khas serta daya pikat Liga Jepang.
Di Jepang, gesekan antarsuporter nyaris terjadi atau bahkan tidak pernah ada. Perselisihan atau permusuhan antarsuporter jadi hal yang tabu di Jepang, sebab mereka begitu menjunjung tinggi respect. Ciri khas mereka itulah yang kemudian membuat stadion di Jepang ramah bagi perempuan dan anak.
“Suporter sepak bola Jepang adalah harta karun paling berharga yang membuat J.League menarik di mata dunia,” kata Davide Uccheddu dikutip dari Football Tribe.
Hello @FIFPRO here are @sangafc and @crz_official fans in @J_League @J_League_En games this weekend. J.League fans and @JSoccerMagazine #StandWithUkraine️ pic.twitter.com/oAPrKMsxCV
— JSoccer Magazine (@JSoccerMagazine) March 6, 2022
“Manners & Rule of Spectating” di J.League
Terlepas dari etika yang sudah mendarah daging di setiap masyarakat Jepang tersebut, J.League tetap berupaya keras menciptakan lingkungan stadion yang aman dan nyaman. Demi terciptanya tujuan tersebut, mereka membuat “Manners & Rule of Spectating” atau seperangkat aturan dan tata krama menonton di stadion.
“Manners & Rule of Spectating” sendiri berisi berisi 6 larangan ketika menonton di stadion. Pertama, dilarang membawa masuk kembang api, smoke flare, atau klakson gas. Kedua, dilarang membawa masuk botol atau kaleng. Ketiga, dilarang melempar benda ke dalam lapangan. Keempat, dilarang melompat ke lapangan. Kelima, tidak boleh ada kekerasan di stadion. Keenam, tidak boleh ada perilaku diskriminasi, penghinaan, atau pelanggaran ketertiban umum.
Keenam larangan tersebut disosialisasikan dengan apik oleh Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) di akun youtube mereka. “Manners & Rule of Spectating” adalah bentuk implementasi nyata dari FIFA Stadium Safety and Security Regulations yang diterapkan oleh J.League.
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=NgdjVsD1hwg[/embedyt]
Aturan dan tata krama tersebut berlaku di setiap pertandingan semua klub Liga Jepang tanpa pengecualian. Tujuannya agar semua pengunjung dan penggemar yang datang ke stadion dapat bersenang-senang dan menikmati waktu mereka.
Selain J.League itu sendiri, beberapa klub Liga Jepang juga menerapkan aturan dan tata krama tambahan bagi para penggemar yang akan menonton di dalam stadion. Salah satunya adalah Urawa Reds Diamonds.
Beberapa larangan tambahan yang diterapkan manajemen klub Urawa Reds Diamonds adalah larangan merokok, vandalisme, dan perilaku atau ekspresi diskriminatif berupa penghinaan terhadap SARA yang diekspresikan baik lewat kata-kata, chants, tulisan, gambar, bendera, spanduk, dll. Urawa Reds juga mengatur penempatan spanduk atau bendera yang dibawa penggemar mereka agar tidak menghalangi penonton lain.
Semua aturan tersebut muaranya adalah demi terciptanya lingkungan stadion yang aman dan nyaman. Alhasil, stadion-stadion di Liga Jepang jadi tempat yang ramah bagi perempuan dan anak.
Stadion di Jepang Ramah Bagi Perempuan dan Anak
Data survey yang dihimpun Statita lagi-lagi membuktikan hal tersebut. Di tahun 2019 saja, persentase penonton perempuan di J.League mencapai 37,6%. Keamanan, keselamatan, dan kenyamanan jelas jadi penyebab banyaknya penonton perempuan di Liga Jepang.
“Di stadion Jepang Anda tidak akan melihat permusuhan antar penggemar klub yang berbeda. Dan tentu saja tidak ada kekerasan yang tidak berarti. Jadi pada dasarnya aman dan banyak wanita dan anak-anak suka menghadiri pertandingan. Satu hal lain yang khas di Jepang adalah ketika Anda tiba di stadion lain, fans tuan rumah secara harfiah mengatakan selamat datang. Anda tidak mendapatkannya di tempat lain,” kata Ishimaru, fans Urawa Red Diamonds, dikutip dari DW Kick off!.
📸 Galeri Suporter – Verdy 📸
🏆 J2 pekan 24
🆚 Tokyo Verdy vs FC Ryukyu
🏟️ Ajinomoto Stadium
© Sotaro Suzuki/soccerdigest pic.twitter.com/6Xkrhv6YEo— J.League Indonesia (@indo_jleague) July 4, 2022
Otoritas J.League dan para klub peserta memang sangat memanjakan penggemar mereka, termasuk penggemar perempuan dan anak-anak dengan menyediakan berbagai fasilitas penunjung di dalam maupun di sekitar stadion. Salah satunya adalah nursery room yang sudah jadi pemandangan lazim di stadion-stadion di Jepang.
Asosiasi Sepak Bola Jepang memang mendesak setiap klub untuk mendirikan nursery room bagi para pemain sepak bola wanita dan penonton yang membawa bayi untuk digunakan saat pertandingan berlangsung dalam upaya mereka untuk memikat lebih banyak penggemar ke stadion. Salah satu contoh stadion yang sudah memiliki fasilitas ini adalah Ajinomoto Field Nishigaoka, salah satu kandang bagi tim sepak bola putra dan wanita Tokyo Verdy.
Begitu pula dengan Saitama Stadium 2002. Kandang dari Urawa Red Diamonds itu juga telah menyediakan ruang menyusui.
Sementara di Todoroki Athletics Stadium, kandang dari Kawasaki Frontale malah terdapat 3 nursery room yang tersebar di dalam stadion. Keberadaan fasilitas tersebut adalah hasil kerja sama mereka dengan Den-en Chofu University. Terdapat pula toilet yang sudah dilengkapi dengan meja ganti popok di delapan lokasi di dalam stadion tersebut.
Lain lagi dengan Kashima Soccer Stadium, kandang dari Kashima Antlers. Bekerja sama dengan official partner mereka, pada 2020 kemarin Kashima mendirikan tempat penitipan anak di dalam stadion mereka. Day care milik Kashima tersebut juga dilengkapi taman bermain dalam ruangan yang diperuntukkan bagi anak usia 2-8 tahun.
Dengan fasilitas semacam itu, stadion di Jepang tak hanya aman, tetapi juga layak dan nyaman, maka jangan heran akan banyak dijumpai penonton perempuan yang turut serta membawa bayi atau anak mereka ke stadion. Alhasil, menonton pertandingan sepak bola di stadion di Jepang sudah seperti rekreasi keluarga.
Selain karena fasilitasnya yang mendukung penonton untuk hadir bersama anak-anak, para penggemar J.League juga dibuat nyaman dengan atmosfer stadion yang ramah dan ceria. Tak seperti liga top lain yang hanya fokus ke sepak bola saja, di J.League banyak acara menarik digelar sebelum dan/atau sesudah pertandingan.
Salah satu daya tarik lain yang sukses mengundang banyak penggemar ke stadion adalah maskot. Maskot sendiri memang sangat populer dalam budaya Jepang sehingga masing-masing klub peserta J.League juga memiliki maskot unik mereka sendiri.
Selain bagian dari identitas klub, maskot yang unik dan lucu tersebut juga dipakai untuk mempromosikan penjualan pernak-pernik klub. Tak jarang pula maskot terlihat menari-nari di dalam stadion sehingga membuat suasana pertandingan jadi lebih menghibur.
Matchweek 1 mascot spotlight!
© J.LEAGUE – All Rights Reserved #JLEAGUE pic.twitter.com/A2M4nF6hY1
— J.LEAGUE Official EN (@J_League_En) February 22, 2022
Itulah beberapa hal yang membuat atmosfer stadion di Jepang menjadi ramah dan ceria. Dengan atmosfer semacam itu, stadion jadi tempat yang ramah dan aman bagi perempuan dan anak untuk menonton sepak bola.
Mungkin bagi sebagian pendukung fanatik, suasana stadion seperti itu membuat mereka risih. Tak ada siulan, banter antar sesama fans, dan chant-chant kasar yang menurunkan mental lawan. Namun, dampaknya sangatlah besar terhadap perkembangan sepak bola Jepang dan timnas Samurai Biru.
Upaya yang dilakukan Asosiasi Sepak Bola Jepang dengan menjadikan stadion sebagai tempat yang aman, nyaman, serta ramah bagi seluruh penonton termasuk perempuan dan anak adalah bagian dari upaya mereka mengedukasi masyarakatnya.
Atmosfer stadion yang menyenangkan juga membuat kompetisi J.League bisa dinikmati semua kalangan. Tata krama dan etika yang tetap dijunjung tinggi di dalam stadion juga membuat anak-anak di Jepang tumbuh dengan attitude yang baik. Itulah kenapa Jepang tak hanya menghasilkan pesepakbola hebat saja, tetapi juga memiliki attitude yang patut dijadikan contoh.
Jika sejak dini diajari, dipertontonkan, dan dibiasakan dengan hal baik, pasti hasilnya di masa depan akan tercipta generasi yang baik. Begitu pula sebaliknya. Jika sedari dini diperlihatkan contoh buruk dan tumbuh di lingkungan yang toxic, maka generasi selanjutnya juga akan tumbuh jadi contoh buruk bagi generasi berikutnya.
Semoga kisah dari Liga Jepang ini bisa jadi pelajaran berharga bagi kita semua dan jadi contoh yang baik tentang bagaimana menciptakan lingkungan sepak bola yang aman, nyaman, dan menyenangkan.
https://youtu.be/3mu3sonE14s
***
Referensi: Uniqe Japan Tours, Statita, DW Kick off!, Football Tribe, J.League, Statita, Asahi, Urawa Red, Sponichi, Frontale.


