Salah satu cerita menarik dari gelaran Piala Dunia adalah perjalanan Kosta Rika pada Piala Dunia 2014. Kosta Rika pada saat itu berhasil melaju sampai ke partai perempat final Piala Dunia 2014, dan kisah itu masih jadi salah satu cerita underdog di Piala Dunia.
Datang ke Brazil, Kosta Rika bukan jadi tim unggulan di Piala Dunia saat itu. Kosta Rika masih dipandang sebagai tim kecil dari Amerika Latin. Mereka bahkan menjadi salah satu kontestan dengan populasi negara terkecil di Piala Dunia 2014. Tapi mimpi mereka di Piala Dunia 2014 besar. Dan mereka membuktikan, bahwa dalam sepak bola semuanya mungkin terjadi.
Daftar Isi
Masuk di Grup Neraka
Kosta Rika datang ke Piala Dunia 2014 sebagai negara dengan peringkat ke-28 FIFA. Sebenarnya peringkat yang tidak terlalu buruk untuk sebuah tim kecil di Amerika Latin. Tapi mereka ditempatkan di grup neraka. Mereka harus menempati Grup D bersama Uruguay, Italia, dan Inggris.
Di grup itu, hanya Kosta Rika yang belum pernah jadi juara Piala Dunia. Jangankan juara Piala Dunia, untuk bisa tembus ke babak 16 besar saja mereka kesusahan. Sedangkan, tim lainya yaitu Uruguay, Italia, dan Inggris, sudah pernah merasakan manisnya jadi juara Piala Dunia. Sejarah sepak bola Uruguay, Italia, dan Inggris juga panjang. Belum lagi ketiga tim itu punya banyak pemain bintang.
Situasi ini tentu membuat Kosta Rika tidak diunggulkan sama sekali. Diperhitungkan pun tidak. Malahan, Kosta Rika diprediksi akan jadi tempat panen tiga poin dan pundi gol bagi tim-tim di Grup D. Saat itu, publik sepak bola tidak menantikan adanya cerita underdog yang muncul. Mereka menantikan bagaimana Uruguay, Italia, dan Inggris bisa saling sikut untuk memperebutkan tiket babak 16 besar. Sampai akhirnya, Kosta Rika membawa kejutan.
Kejutan Kosta Rika
Kejutan pertama Kosta Rika datang ketika mereka berjumpa dengan Uruguay di partai pembuka Grup D. Saat itu Uruguay diperkuat dengan Edinson Cavani, penyerang tajam Paris Saint-Germain dan penyerang berpengalaman lainnya, Diego Forlan. Jajaran pemain itu membuat susunan lini serang Uruguay sangat menakutkan.
Benar saja, di babak pertama Edinson Cavani berhasil mencetak gol pembuka lewat tendangan penalti. Meskipun saling serang, tidak ada gol lagi di babak pertama. Masuk babak kedua, Kosta Rika mulai menunjukan taringnya.
Hasilnya, gol penyeimbang dari Joel Campbell menyulut api semangat anak asuhan Jorge Luis Pinto. Beberapa menit setelahnya, Oscar Duarte mencetak gol kedua bagi Kosta Rika. Lalu, jelang laga berakhir, Marco Urena memantapkan kemenangan Kosta Rika dengan skor 3-1.
Jadi Juara di Grup Neraka
Still can’t believe Costa Rica topped this group at the 2014 World Cup 😳 pic.twitter.com/w9ANJNbmtL
— ESPN FC (@ESPNFC) April 5, 2022
Dengan hasil itu, asa Kosta Rika mulai bangkit. Kosta Rika pun mulai mendapat sorotan. Namun, lawan setelahnya tidak mudah. Di laga selanjutnya, Kosta Rika harus menghadapi Italia, negara yang pernah jadi juara dunia di tahun 2006.
Kosta Rika mampu memberikan perlawanan berarti untuk Gli Azzurri. Sang kapten Kosta Rika, Bryan Ruiz mampu mencetak gol di menit ke-44 lewat sundulannya. tertinggal di babak pertama, Italia mulai bermain dominan di babak kedua. Terbukti dengan penguasaan bola Italia yang sampai 61%.
Tapi, gawang Keylor Navas masih terjaga sempurna. Hasil 1-0 bertahan sampai peluit panjang dibunyikan. Kosta Rika kali ini benar-benar memberikan kejutan bagi pecinta sepak bola saat itu dengan mengalahkan tim besar Italia.
Kosta Rika tinggal menghadapi satu lawan lagi di Grup D. Lawan selanjutnya adalah The Three Lions, Inggris. Melawan Inggris terasa mudah bagi Kosta Rika. Bagaimana tidak, Kosta Rika sudah mengoleksi enam poin dari dua pertandingan sebelumnya. Sedangkan Inggris, sama sekali belum mendulang kemenangan dan dipastikan tereliminasi.
Untuk Kosta Rika sendiri, mereka sudah dipastikan bisa melangkah ke fase berikutnya. Mereka pun bermain aman ketika melawan Inggris. Dan hasil imbang tanpa gol sudah cukup bagi kedua tim. Cukup bagi Kosta Rika untuk jadi pemuncak Grup, dan cukup bagi Inggris untuk setidaknya pulang dengan satu poin.
Mengalahkan Yunani, Ditaklukan Belanda
On this day in 2014, in the 121st minute of a World Cup quarterfinal, Netherlands manager Louis Van Gaal substituted Tim Krul on for Jasper Cillessen because he thought he’d be better in the penalty shootout.
The Dutch won the shootout 4-3. Krul saved two penalties. Big. Call. pic.twitter.com/ur4YwnMIbD
— B/R Football (@brfootball) July 5, 2021
Kosta Rika pun melangkah ke babak 16 besar. Terakhir kali mereka bisa sampai babak 16 besar adalah saat piala dunia 1990. Ini momen bersejarah tentunya. Apalagi kali ini mereka lolos fase grup sebagai pemuncak klasemen. Dengan hasil itu pula, mereka berhadapan dengan runner up dari Grup C, Yunani.
Sama-sama menjadi tim kuda hitam, Kosta Rika dan Yunani berusaha untuk bermain aman di babak pertama. Kosta Rika akhirnya mencetak gol di babak kedua dari sepakan sang kapten, Bryan Ruiz. Gol itu membuat Kosta Rika unggul 1-0. The Ticos percaya diri bisa sampai babak selanjutnya. Namun di menit 90, Sokratis mencetak gol penyeimbang. Laga pun harus dilanjutkan sampai babak adu penalti.
Semua penendang penalti berhasil menuntaskan tugasnya dengan baik. Namun, Keylor Navas sudah siap jadi bintang saat itu. Ia dengan percaya diri menepis tendangan dari Theofanis Gekas. Kosta Rika pun berhasil mencatatkan sejarah, untuk pertama kali bisa melangkah sampai babak perempat final Piala Dunia.
Namun, sayangnya kisah mereka di Piala Dunia 2014 harus berakhir di tangan pasukan tim Oranye. Meskipun begitu, Kosta Rika masih bisa menyeimbangi permainan dari Belanda. Pasukan van Gaal yang berisikan bintang eropa seperti van Persie, Robben, dan Sneijder dipaksa bermain imbang sampai babak adu penalti.
Kosta Rika mungkin bisa saja unggul di babak penalti, kalau saja Louis van Gaal tidak cerdik dengan memasukan Tim Krul sebagai penjaga gawang adu penalti. Pasalnya, Tim Krul berhasil menggagalkan dua penalti pemain Kosta Rika. Asa Kosta Rika di Piala Dunia pun harus pupus sampai babak perempat final
Pulang Dengan Bangga
Streets will never forget Costa Rica in the 2014 World Cup pic.twitter.com/dS92c6iAdf
— Luke🇵🇳 (@_LukeCFC) June 3, 2021
Meskipun mereka harus pulang, setidaknya anak asuhan Jorge Luis Pinto pulang dengan kepala tegak. Mereka bisa mengukir sejarah mereka sendiri dengan sampai ke babak perempat final. Prestasi ini tak lepas dari Jorge Luis Pinto sebagai juru taktik. Pinto berhasil menciptakan skema formasi yang sulit ditembus.
Dengan formasi 5-4-1, Pinto menciptakan pertahanan yang kuat namun tetap bisa memberikan tekanan kepada lawan. Meskipun Kosta Rika sering kalah dalam hal penguasaan bola, namun stamina dan kegigihan mereka dalam melakukan pressing sangat menyusahkan lawan.
Cerita Kosta Rika di Piala Dunia 2014 sulit untuk dilupakan. Kosta Rika telah membuktikan, negara kecil yang tidak diperhitungkan bisa memberikan kejutan di Piala Dunia. Cerita Kosta Rika di Piala Dunia 2014 masih menjadi salah satu cerita underdog Piala Dunia terbaik.
Sumber referensi: Dreamteam, Daily, Guardian, Costa Rica, Footy


