Faktor Bapuknya Duet TAA dan Robertson di Liverpool

spot_img

Apa yang sebenarnya terjadi dengan duo maut full back Liverpool musim ini, Trent-Alexander Arnold dan Andrew Robertson? Mesin penggerak serangan Liverpool itu seakan dibuat plonga-plongo saat dibantai Napoli di Liga Champions.

Padahal kalau dilihat, merekalah yang selalu menjadi kunci kesuksesan Klopp dalam melakukan variasi serangan selama beberapa musim ke belakang. Apa yang mempengaruhi menurunya performa mereka?

Tulang Punggung Serangan dan Kejatuhan di Awal Musim

Sebelum menemukan penyebabnya, tak ada salahnya kita flashback sejenak tentang kapan duet sehati ini mulai bersemi. Duet ini bersemi setelah kedatangan Robo di musim 2017/18. Robo didatangkan dari Hull City sebagai pelapis dari Alberto Moreno. Sedangkan Arnold adalah produk akademi yang dicoba ketika bek kanan mereka Nathaniel Clyne cedera. Arnold juga awalnya hanya sebagai pelapis dari Joe Gomez.

Arnold dan Robo ketika dicoba bersama pada musim itu lumayan mengesankan Klopp. Alhasil merekalah yang dipercaya Klopp di pertengahan musim dan sampai membawa The Reds menuju Final Champions League melawan Real Madrid.

Mereka lebih matang di musim 2018/19, dan seakan tak tergantikan. Mereka menjelma menjadi salah satu duet full back papan atas. Prestasi demi prestasi mereka persembahkan mulai dari gelar Liga Champions, Piala Liga, Piala FA sampai penantian panjang gelar Premier League.

Namun musim ini, penampilan mereka seketika drop. Menurut Transfermarkt, Arnold bermain di 7 pertandingan awal dengan menit bermain hanya 647 menit dan mencetak 2 gol. Belum juga dihitung dengan kontribusi bertahannya yang amat jelek. Liverpool ini sering kebobolan lewat sisi flank kanan yang ditinggalkannya. Termasuk beberapa gol ketika melawan Napoli.

Sementara Robertson lebih parah lagi, dari 7 pertandingan ia hanya 6 kali menjadi starter, itu pun sering diganti oleh Tsimikas di babak kedua. Menit bermainnya pun lebih sedikit yakni 589 menit dan hanya mencetak 3 assist. Lebih parahnya lagi, ia sempat dicadangkan di Derby Merseyside.

Faktor Kombinasi Operan

Lantas, apa yang menyebabkan mereka drop? Klopp juga tak mengatakan jika ia mengubah peran keduanya. Artinya, semua tugas sesuai seperti sebelum-sebelumnya. Duo full back itu masih menjalankan sistem yang dimau Klopp. Hanya saja mungkin ada sedikit faktor yang membuat mereka agak dipertanyakan.

Di antaranya adalah kombinasi operan antar lini dalam bermain. Partner antarlini mereka tentu yang satu lini dengan mereka. Arnold tetap dengan Mo Salah, sementara Robo kini tidak lagi dengan Mane, melainkan Luis Diaz.

Tak dipungkiri dari segi kerjasama antarlini, Arnold dan Mo Salah mungkin lebih tau soal membangun chemistry, karena sudah lama bersama. Beda halnya dengan Robo yang masih mencoba membangun chemistry dengan Luis Diaz.

Namun, Arnold dalam penciptaan umpan kombinasi dengan Mo Salah musim ini cenderung menurun. Dilansir The Athletic, sejauh ini mereka rata-rata melakukan 16,4 operan satu sama lain per 90 menit, turun dari 18,6 pada musim lalu.

Artinya, mereka sudah tak sering melakukan kombinasi umpan. Arnold lebih sering langsung melakukan Direct Crossing dari lini kedua. Sedangkan Mo Salah sendiri lebih sering Individual Dribbling untuk langsung menusuk area kotak penalti lawan.

Lain halnya dengan Robo dan Luis Diaz. Diaz adalah tipe pemain yang berbeda dari Mane. Ia lebih jago dalam menyisir sisi flank, dari pada untuk terlibat langsung di area kotak penalti lawan. Namun anehnya, dari segi penciptaan umpan kombinasi di antara mereka, naik jauh dari apa yang terlihat musim lalu bersama Mane. Jumlah kombinasi operan mereka di angka 24,7, naik signifikan dari 13,4.

Namun perlu dicatat, musim lalu Mane sering meninggalkan area flank kiri dan lebih terlibat di area kotak penalti lawan. Sedangkan Diaz masih kurang terlibat dan mengeksploitasi area dalam kotak penalti lawan. Ia hanya sering melakukan kombinasi umpan dengan Robo di area luar kotak penalti lawan, dan itu tidak membahayakan lawan.

Faktor Lini Tengah Dan Centre Back

Faktor berikutnya yang sedikit berpengaruh terhadap belum kembalinya performa Arnold dan Robo mungkin adalah lini tengah dan centre back. Kok bisa? Ya, lini tengah inilah yang selama ini memberikan kenyamanan bagi duo full back ini. Lini tengah Liverpool memberikan jaminan, baik itu dari segi cover defend maupun membuka ruang bagi duo tersebut.

Di awal musim ini, dengan cederanya Thiago dan para punggawa lini tengah lainnya, praktis sedikit mempengaruhi gaya duo full back dalam bermain. Kenyamanan yang diberikan Elliot ataupun nantinya Arthur, mungkin masih jauh dengan apa yang diberikan Thiago atau Henderson.

Selain gelandang, peran centre back Liverpool pendamping Van Dijk ini berpengaruh dalam menyukseskan peran maksimal duo full back, terutama Arnold di sisi kanan. Biasanya Matip atau Konate yang berada disamping kanan Van Dijk. Kini, dengan cederanya mereka, praktis hanya ada Joe Gomez atau Philips yang bisa mengisi posisi itu. Dan hasilnya kita tahu sendiri. Mereka tak pandai atau lambat dalam mengcover Arnold.

Faktor Menggunakan Striker Murni

Selain itu, pola permainan Liverpool dengan The Real Striker, Darwin Nunez pun menjadi faktor menurunnya performa TAA dan Robo. Bagaimana tidak? Liverpool selama meraih beberapa kesuksesan ke belakang bermain hanya dengan sistem false nine. Yang mana Firmino melakukan tugas itu dengan sempurna.

Mau tak mau Klopp musim ini harus sedikit mengubah cara bermainnya. Dan itu harus diselaraskan dalam tim. Semua pemain pun harus beradaptasi, terutama Arnold dan Robo. Mereka kini harus melayani dengan gaya berbeda untuk memanfaatkan kapasitas Darwin Nunez.

Namun, gaya seperti ini lambat untuk diintegrasikan dalam tim. Liverpool mungkin lebih cocok dengan sistem false nine. Peran Firmino lebih sering bermanfaat bagi kebutuhan Robo dan Arnold dalam menyerang. Posisi Firmino yang sering turun ke bawah, menjadikan kombinasi serangannya dengan Arnold maupun Robo sering membingungkan lawan.

Faktor Kedalaman Skuad

Selain dari beberapa faktor tadi, mungkin lebih tepatnya kini Klopp dan manajemen Liverpool terkena karmanya. Lho kok karma? Ya, sejak 2017, Arnold dan Robo terus dibebani menit demi menit, kompetisi demi kompetisi, dan mereka dituntut harus selalu tetap prima setiap pekannya menjadi andalan inti yang tak tergantikan.

Liverpool tidak pernah berpikir untuk menghadirkan seorang full back sebagai pelapis atau pesaing, yang paling tidak menyerupai keduanya secara performa dan kualitas. Agar bisa sewaktu-waktu dirotasi ketika Arnold dan Robo ini kelelahan atau main jelek. Mereka toh juga bukan robot.

Meski tak dipungkiri, mencari pelapis juga tidak mudah. Calvin Ramsay yang masih muda terlihat belum matang betul. Yakin dengan Kostas Tsimikas? atau James Milner? Masa iya, Liverpool masih mau mengandalkan sisi full back ke pemain bangkotan?

https://youtu.be/WIVq-5SiVP0

Sumber Referensi : theathletic, goal.com, thisisanfield.com

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru