Siapa sih yang nggak mau main buat klub paling sukses di Eropa macam Real Madrid? Dalam sedekade terakhir, Real Madrid telah membangun reputasi sebagai klub papan atas melalui program Galacticos-nya. Mereka telah dikenal sebagai destinasi utama bagi pemain-pemain bintang seantero negeri.
Seharusnya kalian tak akan pernah mendengar penyesalan dari seorang pemain setelah ia memutuskan untuk bergabung dengan salah satu klub sukses di Liga Spanyol itu. Namun, daftar yang disajikan Starting Eleven kali ini akan menampilkan pemain-pemain yang ternyata menyesal pernah bermain untuk Los Merengues. Siapa saja mereka?
Daftar Isi
Antonio Cassano
“Bergabung dengan Real Madrid adalah kesalahan terbesar saya, saya seharusnya mendengarkan apa kata Totti,” ucap Antonio Cassano yang dikutip Goal. Totti yang juga sempat diminati Madrid, memberi nasehat kepada Cassano untuk tidak tergoda dengan uang.
Ia menyarankan bahwa lebih baik berpenghasilan sedikit tapi bahagia, daripada bermain dengan gaji tinggi, tapi tak yakin 100%. Tapi semua itu tak didengar oleh Cassano, ia memilih untuk bergabung dengan Madrid tahun 2006.
🗣️ Antonio Cassano saat waktunya di Real Madrid:
“Nutella adalah salah satu sponsor klub & setiap bulan mereka memberi kami 5kg produk. Saya mendapatkan 14 kilogram, saya makan Nutella langsung dari toples & saya tidak peduli tentang apa pun.”
— Takisho ID (@takishoID) January 30, 2021
Antonio Cassano sebetulnya muncul sebagai penyerang berbakat ketika bergabung dengan AS Roma pada usia 19 tahun. Ia bergabung dengan Roma karena sangat mengidolai Totti. Namun, ia tak memiliki hubungan baik dengan pelatih Roma saat itu, Fabio Capello.
Sialnya, ketika Cassano bermain di Madrid, ia kembali dipertemukan dengan Capello. Allenatore asal Italia itu didatangkan di tahun yang sama dengan Cassano. Ketegangan di antara mereka pun kian memuncak dan Cassano pun memilih untuk bergabung dengan Sampdoria sebagai pemain pinjaman setahun kemudian.
Michael Owen
Pada musim panas 2004, Michael Owen dihadapkan pada dilema yang menyayat hati. Ia dihadapkan dengan dua pilihan yakni bertahan di Liverpool atau pindah ke Real Madrid. Akhirnya ia memilih Madrid dengan harapan juara Liga Champions.
🗓 #OnThisDay in 2004, #LFC legend Michael Owen left the club to join Real madrid for £16.8 million
⚽️ Ironically that year, Michael Owen had a very unsuccessful time at the club while Liverpool went on to win the Champions League in their first season without him#History pic.twitter.com/pxqinSgWh8
— ⚽️🏇⛳ Sports & Tips (@TipsandSport) August 13, 2020
Datang sebagai penyerang Inggris yang haus gol, tak membuat Owen menjadi pilihan utama di lini depan El Real. Ia bahkan harus rela menjadi pilihan ketiga di belakang Ronaldo Nazario dan Raul Gonzalez. Yang mana saat itu keduanya tengah berada di performa terbaik. Alhasil, Owen hanya bertahan semusim dan mengantongi 45 caps di semua kompetisi.
Owen pun menyesal meninggalkan klub yang ia cintai demi kemewahan Madrid. Ia akhirnya menekan klub untuk mengembalikannya ke Liverpool. Namun, ia justru dibuang ke Newcastle yang justru jadi awal penurunan karir baginya.
Arjen Robben
Arjen Robben bisa dibilang sebagai pemain sayap terbaik di eranya. Mengawali karir bersama Groningen, dan sempat bermain di Chelsea. Ia pun pergi ke Real Madrid pada tahun 2007, setelah berhasil menyumbangkan dua trofi Liga Inggris bersama The Blues.
Pemain asal Belanda itu sebetulnya tak buruk-buruk amat di Bernabeu. Robben mencetak 11 gol dan mencatatkan 8 assist dalam dua musim. Ia juga memenangkan 1 trofi La Liga dalam dua musim tersebut. Namun, segalanya berubah ketika Florentino Perez kembali pada tahun 2009.
Arjen Robben on why he left Real Madrid: “It became difficult for me because of the change of president at Real. I actually felt very comfortable there and played very well, but when politics come into play and you do not get a real chance.” pic.twitter.com/VWgUS1iahT
— Squawka News (@SquawkaNews) May 24, 2019
Dikutip Squawka, Robben sangat menyayangkan kebijakan Perez saat itu. Sebetulnya ia mulai nyetel dengan Madrid, tapi dengan adanya campur tangan politik membuatnya tersingkirkan. Perez lebih mengutamakan Cristiano Ronaldo yang dibeli mahal saat itu.
Dengan sedikit rasa sakit hati, Robben menandatangani kontrak dengan Bayern Munchen pada tahun 2009. Bersama The Bavarian, Robben meraih belasan trofi dan menjadi legenda di tanah Jerman.
Ricardo Kaka
Mungkin transfer Ricardo Kaka ke Real Madrid jadi momen paling disesali selama karirnya. Bagaimana tidak? Bersama Milan, ia menjadi pemain nomor 10 jempolan. Dari menggeser Rui Costa di skuad utama, hingga meraih penghargaan Ballon d’Or 2007. Namun, semuanya sirna ketika ia memutuskan untuk bergabung dengan Real Madrid.
Bergabung dengan bandrol tinggi, membuat Kaka mengemban ekspektasi setinggi langit. Penandatanganan Kaka justru tak berjalan dengan semestinya. Semua berjalan salah bagi kedua belah pihak. Di Madrid, ia hanya menjadi penghangat bangku cadangan oleh Jose Mourinho selaku juru taktik.
Selama waktunya bersama Madrid membuat Kaka menderita banyak cedera pada interval waktu yang berbeda. Rangkaian cedera itu membuat Kaka tidak pernah benar-benar kembali ke performa terbaiknya. Kembali ke Milan pada tahun 2013 pun tak membantunya. Madrid telah menghancurkan karir si “Anak Tuhan”.
Nuri Sahin
Sama halnya dengan Kaka, Nuri Sahin datang ke Real Madrid sebagai pemain yang mencatatkan performa impresif bersama klub asalnya. Pada tahun 2011, ia ditebus El Real dengan harga 10 juta euro (Rp147 miliar) sebagai salah satu talenta berbakat yang berhasil dikembangkan oleh Borussia Dortmund.
Awalnya ia bersemangat dengan prospek bekerja di bawah Jose Mourinho, tapi ternyata ia salah. Sahin harus menunggu hingga tiga bulan untuk melakukan debutnya. Setelah itu ia sering dilanda cedera dan lebih banyak menghabiskan waktu di ruang perawatan daripada di lapangan.
Ia bernasib sama dengan Kaka, Madrid membuatnya tak berkembang karena berkutat dengan cedera. Setelah karirnya di Madrid, Sahin tak pernah mencapai performa terbaiknya lagi hingga pensiun di klub lokal Turki, Antalyaspor.
Nicolas Anelka
Setelah dua musim yang sukses bersama Arsenal, Nicolas Anelka bergabung dengan Real Madrid pada tahun 1999. Di tahun tersebut, kesepakatan ini melibatkan uang yang sangat besar. Madrid bahkan harus merogoh kocek sebesar 35 juta euro atau setara Rp517 miliar untuk mengamankan tanda tangan Anelka.
Namun, waktu singkatnya di Spanyol dicap tak berjalan dengan baik. Anelka justru diskors selama 45 hari setelah berselisih dengan pelatih Madrid saat itu, Vicente del Bosque. Selain itu, ia juga mengklaim bahwa beberapa pemain Madrid tidak menyukainya karena Anelka menggantikan posisi Raul di lini depan.
Dilansir Goal, meski ia meraih Liga Champions bersama Madrid, Anelka merasa Madrid bukan rumah yang nyaman baginya. Selama di Spanyol, ia seperti hidup di dalam mimpi buruk, dan ia sangat membenci itu.
Dani Ceballos
Dani Ceballos bahkan sudah mengungkapkan penyesalannya setelah dua bulan bergabung dengan Real Madrid. Dikutip dari salah satu jurnalis terkenal di Spanyol, Don Balon, tahun 2017 silam, Ceballos mengatakan bahwa ia menyesal telah memilih Real Madrid daripada Barcelona.
Dani Ceballos 🎩🤍 pic.twitter.com/7TyhcOmI1b
— Madridismo Real™ (@MadridismoreaI) August 20, 2022
Ceballos menyesal karena ia tak mendapat menit bermain yang cukup di Santiago Bernabeu. Selama 5 musim berseragam Los Merengues, ia baru mencatatkan 77 penampilan yang hampir semuanya ia mulai dari bangku cadangan. Tentu jumlah itu jauh dari apa yang ia harapkan sewaktu menandatangani kontrak dengan klub.
Ceballos sempat mengadakan pembicaraan dengan pelatih dan Presiden El Real, Florentino Perez untuk memberinya lebih banyak peluang untuk tampil. Namun, tampaknya protes itu tak didengarkan oleh manajemen Madrid.
Sumber: Sportskeeda, Fourfourtwo, Goal, 90min


