Liga Inggris sudah dimulai, pekan demi pekan berjalan dengan intensitas persaingan yang sangat tinggi. Bahkan persaingan liga terbaik dunia ini tak sedikit memakan korban di pekan pekan awal. Terutama sang juru taktik. Tak khayal kini muncul banyak spekulasi, siapa juru taktik yang akan terdepak pertama kali di Liga Inggris musim 2022/23 ini?
Daftar Isi
Frank Lampard
Yang pertama ada nama Frank Lampard, sang juru taktik Everton. Nama Lampard ini sering menjadi sorotan pemecatan, bahkan ketika ia awal menukangi Chelsea. Ia dianggap membawa tim inkonsistensi dengan cara bermainnya.
The Toffees berhasil dikeluarkan dari lubang jarum degradasi musim lalu. Musim ini di bawah kuasa penuhnya, Lampard mulai membangun timnya sesuai dengan seleranya. Namun, dengan persoalan Financial Fair Play yang diderita klubnya, Lampard kewalahan di bursa transfer, sampai-sampai harus menjual aset berharganya musim lalu, Richarlison. Ia pun di awal musim ini juga kehilangan bomber andalannya, Calvert Lewin karena cedera.
Start musim ini dilewati dengan tanpa kemenangan di tiga pertandingan awal. Pemain yang didatangkan seperti Coady, Vinagre, Mcneil, maupun Tarkowski, pun belum berfungsi dengan baik di dalam skema 3-4-3 miliknya. Inkonsistensi di awal laga, bahkan mungkin di pekan-pekan selanjutnya dapat menjadi alarm berbahaya bagi dirinya.
Frank Lampard is looking like the first manager that will be sack this season.
Everton 0 v 1 Nottingham
85mins pic.twitter.com/GA6evqjh94
— Temitope (@IamTopsy4real) August 20, 2022
Ralph Hasenhuttl
Kemudian ada pelatih Southampton, Ralph Hasenhuttl. Pelatih yang menangani The Saints sejak musim 2019/20 ini kiranya sudah banyak diberi kesempatan, meski hasilnya tak sesuai ekspektasi.
Soton dikenal selalu menjadi kuda hitam dengan mencetak talenta-talenta muda potensial. Bahkan sering mengejutkan dengan menyodok di peringkat 10 besar liga. Namun, di bawah kendalinya selama 3 musim ini, Soton belum pernah menyodok lagi di posisi 10 besar.
Gaya bermainnya yang cenderung sangat terbuka dan intensitas pressing yang kelewat tinggi, membuat Soton besutan Hasenhuttl terkadang sering menjadi lumbung gol lawan. Pada musim ini, dengan penambahan pemain yang juga ala kadarnya, bisa jadi tekanan pemecatan terhadap dirinya makin tinggi.
Ralph Hasenhuttl has been cut to as short as 2/1 to be the first Premier League manager to leave following a report by @CraigHope_DM which reveals that he’s lost the trust of many Southampton players… 😬#SaintsFC pic.twitter.com/SgiltmkwCS
— The Sack Race (@thesackrace) August 12, 2022
Menyusul penampilannya yang inkonsisten di awal musim ini dengan 1 kali kalah, 1 kali seri dan 1 kali menang. Apabila menengok jadwal ke depannya juga ia makin sulit ketika harus melawan MU dan Chelsea. Bagaimanapun kalau Soton masih dibawanya seperti yang sudah-sudah, manajemen mungkin mulai sadar dan akan mengevaluasinya lagi dengan serius.
David Moyes
Lalu ada David Moyes dari West Ham. Moyes ketika ditunjuk memegang West Ham disambut bak dewa penyelamat. Bagaimana tidak, The Hammers bisa ia loloskan ke kancah Europa League musim lalu, bahkan bisa sampai melaju ke babak semifinal.
Namun pelatih yang pernah gagal total bersama United ini, kini dilanda inkonsistensi. Performa anak asuhnya dengan penambahan beberapa pemain macam Thilo Kehrer, Cornet, maupun Scamacca belum menunjukan progres yang signifikan di awal musim. Kini, sampai pekan ketiga mereka belum sekalipun meraih kemenangan. The Hammers kini bahkan terperosok ke dasar klasemen.
Jikalau menilik jadwal ke depan, partai melawan Spurs dan Chelsea juga menjadi batu sandungan berat bagi Moyes. Apabila tak ada progres, bukan tidak mungkin manajemen West Ham mulai berpikir untuk mengevaluasi. Karena seharusnya DNA West Ham ini adalah sebagai kuda hitam yang selalu menyulitkan tim-tim Big Six.
WEST HAM FC – TIME TO SACK MOYES ! @West Ham United FC #coyi #whufc #moy… https://t.co/tqpcF95nAr via @YouTube @WestHam #moyes #coyi #whufc #westham @claretandbluetv pic.twitter.com/Jmyj1j2SAl
— Jas the Hammer ⚒ (@JasWestHam) August 22, 2022
Scott Parker
Scott Parker, pelatih muda yang pernah gagal membawa Fulham bertahan di Liga Inggris, kini ia menangani Bournemouth yang juga sama-sama klub promosi. Jika dibandingkan dua klub promosi lainnya musim ini, skuad tim Parker ini tak jor-joran membeli pemain. Bahkan bisa dikatakan kecil peluangnya untuk bertahan di Liga Inggris dengan kualitas pemain yang dia punya.
Scott Parker hoping Bournemouth can add Premier League nous to squad by end of transfer window #AFCB #afcbournemouth #cherries | Bournemouth Echo https://t.co/2Jf4Io0AKF
— Cherries Addict (@CherriesAddict) August 22, 2022
Gaya bermainnya pun tak berbeda dengan saat menukangi Fulham dulu ketika promosi. Dengan melihat track record pelatih yang sering dipecat pertama kali di Liga Inggris, banyak nama-nama yang berasal dari tim-tim promosi. Sebut saja Javi Garcia di Watford pada musim 2019/20, Slaven Bilic di West Bromwich pada musim 2020/21, serta Xisco Munoz di Watford pada musim 2021/22.
Kini nama Scott Parker bukan tidak mungkin akan bernasib sama seperti mereka. 1 kali menang dan 2 kali kalah menjadi PR yang harus digarap parker di awal musim. Paling tidak bisa meyakinkan manajemen bahwa ada progres yang berarti dari segi kualitas permainan.
Bruno Lage
Bruno Lage, pelatih Portugal yang membesut Wolves musim lalu digadang-gadang akan mengejutkan Liga Inggris seperti yang pernah dilakukan pendahulunya, Nuno Espirito Santo. Namun hasilnya sama saja, Wolves tak mampu berbuat banyak.
Premier League Sack-Race: Who will be the next managerial casualty? #BrunoLage #Wolves #Watford #RoyHodgson #PremierLeague #EPL https://t.co/19NboUVnFj pic.twitter.com/IxMJyKVVNr
— Scores.co.uk (@scores_uk) May 3, 2022
Bruno Lage musim ini disuntikan banyak amunisi oleh manajemen, seperti Matheus Nunes maupun Goncalo Guedes. Gaya permainannya yang cenderung monoton sering dipandang tak sesuai kualitas dan ekspektasi publik. Karena kalau dilihat dari skuad, Wolves ini banyak dihuni pemain-pemain yang notabene masuk kategori kelas atas, terutama yang dari Portugal.
Wolves di awal musim ini, belum mampu meraih kemenangan di tiga laga awal. Alhasil masih mengantarkan tim serigala ini di papan bawah klasemen. Pekan-pekan ke depan adalah ujian besar bagi Lage untuk membuktikan bisa meraih kemenangan pertamanya musim ini. Kalau tidak, mungkin ia hanya akan sama nasibnya seperti Nuno Espirito Santo.
Brendan Rodgers
Kemudian ada pelatih Leicester City yang sudah tiga musim bertahan, yakni Brendan Rodgers. Leicester sempat dibawanya sampai lima besar di musim pertama dan keduanya. Bahkan trophy Piala FA pun sempat diraihnya.
Namun, di musim lalu, performanya terus menurun. Seiring penambahan dan pengurangan pemain yang mempengaruhi kualitas permainannya.
Musim ini, The Foxes di bawah Rodgers kembali dilanda krisis. Susahnya bergerak di bursa transfer membuat Leicester tak bisa berbuat banyak. Tiga laga awal diraih tanpa kemenangan.
Jadwal berat ke depannya pun menanti, seperti melawan Chelsea dan Manchester United. Ujian bagi Rodgers pun makin berat. Kalau penurunan masih berlanjut musim ini, bisa jadi posisinya mulai terancam.
Brendan Rodgers is now the odds-on favourite to become the first Premier League manager to leave, while some bookies have taken down the market 😲
Leicester have endured a winless start to the season, picking up 1 point from 3 games so far… 📉
BeGambleAware +18#LCFC pic.twitter.com/i2bG5pylOv
— The Sack Race (@thesackrace) August 22, 2022
Thomas Tuchel
Dan yang terakhir adalah Thomas Tuchel, arsitek Chelsea. Lho kok bisa? Ya, sikap kepala batu dan inkonsistensi gaya permainannya, mungkin bisa saja membuat gelisah pemilik baru Chelsea yang sudah kadung percaya. Bagaimanapun Tuchel di bawah Boehly, sudah sepenuhnya didukung dengan dana besar untuk membangun tim dengan pemain yang ia butuhkan.
Namun, hasilnya selama tiga pekan berjalan, Chelsea seperti tim yang tak ada progres. Dari segi permainan juga cenderung monoton dengan taktik tiga beknya. Memang sih, Tuchel adalah pelatih yang bisa membawa banyak gelar bagi Chelsea.
Akan tetapi, situasinya sekarang berbeda. Persaingan makin sengit, tapi The Blues lamban dalam memulai liga. Dengan begitu, bukan sebuah hal yang mustahil apabila pada akhirnya ancaman pemecatan itu bakal segera menghampiri Thomas Tuchel.
– Last minute equaliser conceded vs Spurs
– Lose 3-0 to Leeds
– Had to get the bus back from Leeds
– Charged by the FA for his comments after the Spurs gameIt’s not been the best time recently for Thomas Tuchel… 😬 pic.twitter.com/nkzW96sxlc
— The Sack Race (@thesackrace) August 22, 2022
https://youtu.be/uHWxtNoCPNs
Sumber Referensi : givemesport, thesun, squawka


