Timnas Argentina telah selesai menyusuri lorong kegelapan. Armada Albiceleste yang sebelumnya tak bersinar dan koyak sana-sini, kini memancarkan sinarnya. Bahkan timnas Argentina sudah menuju ujung lorong dan sudah bisa melihat keberhasilan di depan mata.
Adalah Lionel Scaloni. Sosok pelatih yang juga mantan punggawa yang memegang lampu petromak membimbing para pemainnya untuk keluar dari lorong kegelapan. Scaloni lah aktor di balik timnas Argentina yang dulu lesu menjadi garang lagi.
Sebelum kedatangan Scaloni, armada Albiceleste berlubang di sana-sini. Mereka gagal total di Piala Dunia 2018 Rusia. Kekacauan itu memaksa pelatih mereka, Jorge Sampaoli melepas statusnya sebagai pelatih. Para pemain sudah tak lagi percaya pada Sampaoli.
Kurang lebih setahun ia melatih Argentina. Setelah itu ada kekacauan di tubuh Asosiasi Sepakbola Argentina (AFA) setelah kegagalan di Piala Dunia 2018. Sampaoli dipecat dan Lionel Scaloni masuk menggantikannya.
Daftar Isi
Awal Karier Scaloni
Seperti pelatih sebelumnya, Scaloni juga seorang mantan pemain sepakbola. Posisinya sebagai bek kanan. Scaloni memulai kariernya di Newell’s Old Boys, klub yang berasal dari tempat tinggalnya, Rosario. Sepanjang kariernya Scaloni juga pernah menjadi bagian dari tim Argentina yang menjuarai Piala Dunia U-20 tahun 1997.
Setelah tak lagi memperkuat Newell’s Old Boys, Scaloni pindah ke Deportivo di Spanyol. Ia menghabiskan 200 caps berseragam Deportivo. Lalu pada tahun 2006, Scaloni hijrah ke Inggris dan menjadi idola di skuad West Ham dan bermain di final Piala FA melawan Liverpool.
Happy birthday to Argentina coach Lionel Scaloni who turns 43! A winner of the U20 World Cup, Scaloni took part in the 2006 World Cup and played 200 matches for Deportivo and an FA Cup final with West Ham. Fun fact, he and Lionel Messi shared a pitch at the World Cup vs. Mexico! pic.twitter.com/t2xCHWcddp
— Roy Nemer (@RoyNemer) May 16, 2021
Pada tahun yang sama, ia juga mencatatkan penampilan yang mengesankan di timnas Argentina tepat di Piala Dunia 2006 di Jerman. Scaloni bahkan pada waktu itu dianggap melampaui sosok bek seperti Javier Zanetti.
Usai memilih gantung sepatu tahun 2015, Scaloni mulai menapaki karier menjadi pelatih. Ia mengikuti jejak Sampaoli dengan menjadi asistennya saat melatih Sevilla. Kerjasama keduanya berlanjut ketika menangani timnas Argentina.
Penunjukkan Scaloni Jadi Pelatih Argentina
Jenjang karier Scaloni di dunia kepelatihan tampaknya sangat jelas. Setelah menjadi asisten ia diangkat menjadi pelatih timnas Argentina. Walaupun penunjukannya sebagai pelatih Argentina adalah keputusan yang sangat mendesak.
Asosiasi sepakbola Argentina, AFA masih memiliki banyak nama mentereng untuk bisa melatih Argentina. Mauricio Pochettino, Diego Simeone, sampai Marcelo Gallardo adalah tiga nama yang sangat sesuai untuk melatih Argentina.
Namun masalahnya, waktu itu AFA tidak dalam kondisi finansial yang baik untuk merekrut ketiganya. AFA tidak sanggup menggoda Pochettino yang saat itu masih melatih Tottenham, Simeone yang melatih Atletico Madrid, dan Gallardo yang melatih River Plate. Terlebih AFA mesti membayar pesangon untuk Sampaoli.
AFA president Chiqui Tapia has stated that there is “no doubt” that Argentina national team coach Lionel Scaloni will stay after the 2022 World Cup. Also states “At the AFA, there is a project beyond the World Cup. There is a project being developed.” This via ESPN. 🇦🇷 pic.twitter.com/ImZ5YZmNVn
— Roy Nemer (@RoyNemer) May 31, 2022
Peremajaan Skuad
Ketika jabatannya naik menjadi pelatih, Scaloni langsung dihadapkan pada permasalahan yang merepotkan. Argentina sedang diterpa krisis ketidakpercayaan diri. Scaloni juga dihadapkan pada pemain yang sudah mulai menua.
Maka yang mesti ia lakukan adalah melakukan peremajaan skuad. Pemain veteran seperti Gonzalo Higuain dan Javier Mascherano sudah meninggalkan tugas internasionalnya. Lionel Scaloni pun mesti membuang pemain-pemain lain yang tak pantas memenuhi skuad Argentina lagi.
Ever Banega, Gabriel Mercado, dan Marcos Rojo adalah nama-nama yang dicoret Scaloni. Sebagai gantinya, Scaloni melahirkan tim baru dengan nama-nama seperti Leandro Paredes, Giovanni Lo Celso, Rodrigo de Paul, dan penyerang Inter Milan, Lautaro Martinez.
Leo Messi and Rodrigo De Paul have Argentina leading Uruguay 2-0 at the half 🔥 pic.twitter.com/C8dF3O2GNW
— B/R Football (@brfootball) October 11, 2021
Gaya Main
Scaloni baru saja memimpin armada Albiceleste, tapi ia berani mengubah pattern permainan timnas Argentina. Dari segi permainan secara taktis, Scaloni punya gaya mainnya sendiri. Meski begitu, ia tak malu mengakui bahwa gaya permainan Prancis dan Kroasia di Piala Dunia 2018 telah menginspirasinya.
Mantan pemain The Hammers itu lebih menyukai gaya bermain pragmatis. Ia meminta para pemain Argentina agar bisa bertahan sebaik mungkin, tapi tidak melupakan serangan. Jadi, pola permainan Scaloni lebih dekat pada permainan sepakbola efektif.
Bermain bertahan dan melakukan transisi ke menyerang dengan cepat jika ada celah. Filosofi itu sangat kontras dengan preferensi timnas Argentina lama. Di mana Albiceleste sering mengandalkan penguasaan bola dengan umpan pendek yang dibangun dari tengah.
Tercatat di Wyscout sebagaimana juga dikutip Total Football Analysis, Scaloni terlihat kerap menggunakan formasi 4-4-2, 4-3-3, 4-2-3-1, 4-1-4-1, atau 4-1-3-2. Formasi itu tergantung pada opsi pemain yang tersedia.
Exactly 1 year ago, the amazing long ball ⚡ from Rodrigo De Paul and magical finish ⚽✨ from Angel Di Maria brought long-awaited joy for a nation 🇦🇷 and entire Argentina fanbase around the world.pic.twitter.com/4zgSNJOgeJ
— ARG Soccer News ™ 🇦🇷⚽📰 (@ARG_soccernews) July 10, 2022
Scaloni lebih gemar melakukan eksploitasi di sisi sayap. Karena di sisi sayap Argentina hanya memiliki Angel Di Maria dan Lucas Ocampos sebagai pemain sayap murni, tak ayal strategi Scaloni menyempit. Ia mesti mengandalkan sektor full-back, seperti Nahuel Molina dan Nicolas Tagliafico.
Percobaan Pertama, Gagal!
Percobaan pertama Scaloni dalam melatih Argentina adalah kegagalan. Itu terjadi pada Copa America 2019. Scaloni yang jadi karateker memimpin Argentina untuk melawat ke Brazil mengikuti ajang tersebut. Namun, di laga pertama Argentina sudah mengalami kekalahan.
Argentina yang mempekerjakan dua sayapnya plus taktis pragmatis seorang Scaloni kalah dari Kolombia di laga pembuka. Meski Argentina pada akhirnya bisa lolos dari fase grup.
Armada Albiceleste bertemu Venezuela di perempat final. Mereka berhasil mengalahkannya dengan skor 2-0 dan melaju ke semifinal. Namun, mengenaskan, Scaloni harus mengakui kehebatan Brazil di semifinal Copa America 2019. Kelak Brazil inilah yang menjadi juara Copa America edisi 2019.
Exactly 3 years have passed from Argentina’s latest defeat and it was against Brazil in 2019 Copa America semi final.
Since then , Argentina are unbeaten for 33 games and won Copa America and Finalissima between the period !🤯🔥 pic.twitter.com/cRfImb7Fqo
— SK10 𓃵 (@SK10Football) July 4, 2022
Titik Balik Menghadapi Uruguay
Kegagalan di Copa America 2019 tak membuat Scaloni putus asa dan terjengkang dari kursi pelatih Argentina. Scaloni justru menjadi pelatih permanen untuk menukangi Argentina pada kualifikasi Piala Dunia 2022 dan Copa America 2020 yang digelar di Argentina dan Kolombia.
Karena pandemi, Copa America pun tertunda hingga baru terselenggara tahun 2021. Dari sinilah Scaloni mulai menunjukkan kualitasnya sebagai seorang pelatih. Titik baliknya ketika Argentina mesti bertemu Uruguay di fase grup Copa America 2021.
Kala itu, Lionel Scaloni mesti menghadapi skuad Uruguay besutan Oscar Tabarez. Yang mana Tabarez sudah membangun tim secara metodis sejak 2006. Sementara Scaloni terbilang baru melatih Argentina. Kalaupun disebut membangun, belum sebagus Tabarez.
15-match unbeaten run.
Argentina defeat Uruguay 1-0 and get their first win of the 2021 Copa America 💪 pic.twitter.com/MUScmi1rrQ
— B/R Football (@brfootball) June 19, 2021
Namun yang terjadi sungguh di luar dugaan. Scaloni berhasil mengatasi Uruguay besutan Tabarez dengan mengalahkannya dengan skor 1-0. Para pemain Argentina bermain sangat kolektif. Lautaro berhasil menjalin kemitraan apik dengan Nicolas Gonzalez di lini depan. Guido Rodriguez, Rodrigo De Paul, sampai Nahuel Molina semua tampil bagus di bawah Scaloni.
Bisakah Berbicara Banyak di Piala Dunia 2022?
Anak asuh Scaloni cepat sekali tampil trengginas. Mereka menuntaskan 33 pertandingan tanpa sekalipun kalah. Rekor itu bahkan menjadi makin paripurna setelah Argentina mencukur Italia 3-0 di Finalissima. Kemenangan atas Italia memperlihatkan bahwa taktik Scaloni sudah presisi.
Beberapa kali Argentina sebenarnya sulit menguasai bola. Namun, untuk efektivitas serangan, Scaloni benar-benar tahu bagaimana memanfaatkan Lionel Messi dan Angel Di Maria. Kedua pemain itu dibuat Scaloni terus bergerak mencari ruang.
Scaloni betul-betul sudah mengubah paradigma Argentina. Ia menanggalkan ego. Argentina di tangan Scaloni sudah tidak lagi Messi sentris. Karena ia bertekad untuk membakar patriotisme dengan permainan kolektif.
Some save from @emimartinezz1 last night for Argentina 👏 #avfc pic.twitter.com/soHGUiJ0Aa
— Aston Villa Statto (@AVFCStatto) October 11, 2021
Ia menemukan bek tengah yang cakap dalam diri Cristian Romero. Scaloni juga menemukan kiper yang selama ini dibutuhkan Argentina dalam sosok Emiliano Martinez. Dan ia juga menemukan amunisi lini tengah baru pada seorang Rodrigo De Paul.
Dengan gaya permainannya. Prestasi yang diberikan Scaloni, dari Copa America sampai Finalissima, maka Argentina seperti kembali pada setelan pabriknya saat mendiang Diego Maradona mencetak gol “tangan Tuhan”-nya. Scaloni telah menyetel Argentina sebagai penantang kuat gelar Piala Dunia 2022. Terus seperti ini, Scaloni!
https://youtu.be/W1V8tLi7WEI
Sumber: TheseFootballTimes, Goal, TheWeek, TFA, Sportsmax


