Ketika klub-klub lain di Premier League, terutama yang tergabung dalam komplotan “Big Six” beberapa tak betah dengan manajernya, Arsenal tidak. Tatkala Manchester United sudah mulai meninggalkan Rangnick yang problematik, dan Tottenham Hotspur yang juga merekrut manajer kaliber Antonio Conte, Arsenal tetap dengan Arteta.
Bahkan sebelum Premier League musim 2021/22 tuntas, kontrak Arteta, oleh Arsenal sudah diperpanjang. The Gunners memperpanjang kontrak Arteta sampai 2025 mendatang. Tujuannya? Pada waktu itu, Arsenal sedang mempercayai Arteta. Bahwa kelak mantan pemainnya itu akan membawa The Gunners ke Liga Champions.
Tapi kenyataannya tidak demikian. Harapan itu sudah pecah berkeping-keping. Arsenal justru gagal ke Liga Champions, sedangkan Tottenham melenggang mulus ke sana. The Lilywhites seolah-olah mengajari Arsenal betapa ganti manajer adalah keputusan yang tepat.
Namun, Arsenal ibarat tak bergeming apa-apa. Arsenal secara keseluruhan masih mempercayai proses Arteta. Tapi, apa yang sebenarnya membuat Arsenal begitu percaya pada legendanya sendiri? Toh, prestasi Arteta saat menukangi Arsenal gitu-gitu doang?
Daftar Isi
Memberikan Trofi
Meski terkesan biasa-biasa saja, selama melatih Arsenal, Arteta bukan tanpa trofi. Sejak mantan asisten Pep Guardiola itu menukangi Arsenal dari tahun 2019, setidaknya sudah ada dua tambahan trofi ke lemari. Arteta membantu arsenal untuk menjadi juara FA Cup musim 2019/20.
Bahkan hebatnya, Arteta hanya butuh 18 bulan untuk membawa Arsenal meraih trofi tertua di Inggris tersebut. Pada waktu itu, banyak yang mulai menaruh kepercayaan pada Arteta. Meskipun Arsenal belum menunjukkan tanda-tanda berkembang di bawah Arteta, setelah finish di peringkat delapan di akhir musim 2019/20.
Akan tetapi, itu wajar karena Arteta masuk pada pertengahan musim 2019/20. Ia masuk menggantikan Unai Emery, dan Freddie Ljungberg yang hanya melatih sebentar. Musim berikutnya, Arteta kembali memberi satu trofi lagi melalui Community Shield tahun 2020 dengan mengalahkan Liverpool yang sebelumnya juara Liga Inggris.
1st August 2020: Arsenal win the FA Cup
29th August 2020: Arsenal win the Community ShieldThe Gunners start and end the month with silverware. pic.twitter.com/xCqDD7KpBp
— Squawka News (@SquawkaNews) August 29, 2020
Paham Kondisi dan Ekspektasi Klub
Terlepas dari prestasinya di kompetisi domestik, Arsenal patut diakui menjalani masa yang rumit ketika diasuh Arteta. Beberapa kali Arsenal terperosok dan terpental dari zona Liga Champions atau bahkan zona kompetisi Liga Konferensi.
Namun, tanpa mengabaikan hal-hal buruk itu, Arteta jelas menjadi sosok yang paling memahami Arsenal luar dalam. Selain ia pernah menjadi mantan pemain yang begitu dicintai Gooners, ia juga tahu kualitas anak didiknya. Arteta juga paham ekspektasi penggemar terhadap klub.
🇪🇸 Mikel Arteta: When I went into management, I had a clear vision of what I wanted to accomplish with Arsenal. I wanted to build a winning team that was also financially sustainable and that could transmit the values, identity and passion that the club has had over the years ❤️ pic.twitter.com/qFmwgtDzbk
— Gooner Chris (@ArsenalN7) July 6, 2022
Sebab itu, beberapa kali Arteta telah mengambil langkah yang benar dan pemain sudah mulai mengerti taktiknya. Kini tinggal menunggu waktu. Waktu di mana Arteta bisa menciptakan tim dengan para pemain yang tahu cara bermain dengan taktiknya.
Karena pemahamannya terhadap klub sangat dalam, Arteta bahkan terbilang berani dalam menyusun keputusannya. Ia acap kali tak gentar mengotak-atik skema permainannya sendiri. Arteta beberapa kali menguji setiap pola permainan yang berbada. Memang ada bagian yang gagal dan berhasil, tapi itu semua bagian dari eksperimen sang percaya proses.
Mempromosikan Pemain Muda
Arteta beberapa kali memang terlihat mengubah skemanya. Ia tak menentu dalam menempatkan pemain. Terkadang seorang Granit Xhaka ia taruh sebagai bek kiri. Atau di lain kesempatan Arteta membuat Thomas Partey sebagai poros tunggal ketika Arsenal mampu mendominasi permainan Manchester City di kandang.
Tak hanya soal permainan, barangkali karena paham dengan skuadnya, Arteta tak ragu untuk mempromosikan pemain muda. Para pemain muda banyak yang berpendar di tangan Arteta. Misalnya Gabriel Martinelli, Bukayo Saka, dan tentu saja Emile-Smith Rowe.
Khusus nama ketiga, pada dua musim terakhir telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Arteta benar-benar bisa menyulap pemain muda seperti Smith Rowe jadi pemain yang dahsyat dan bisa meledak lebih dini. Pada musim 2020/21 dan 2021/22, Smith Rowe setidaknya sudah bermain sebanyak 53 kali di skuad Arteta di Premier League.
Arteta: “Emile Smith Rowe is evolving and his performances have been extraordinary”.
Nobody strikes the ball with such grace, Goalkeepers need to get use to seeing him runaway in celebration💯My Number🔟❤ pic.twitter.com/DKeMeXaW6L
— UpYourArsenal🔴⚪🔴⚪♥️ (@UPYOURARSENAL04) January 12, 2022
Penampilannya juga sangat impresif dengan 12 gol dan 6 asis. Bukan sekadar itu, menurut FBref, nilai expected goals (xG) Smith Rowe juga mengalami peningkatan. Dari yang di musim 2020/21 hanya di angka 2,0, pada musim 2021/22 nilai expected goals (xG) Smith Row naik menjadi 5,8 per 90 menit.
Tanpa menisbikan pemain lain, melalui Smith Rowe kita bisa melihat bagaimana Arteta memoles pemain muda. Ia tidak hanya mempercayai pemain muda untuk bermain di skuad utama. Tapi Arteta juga memolesnya. Membuat pemain muda jadi menaruh kepercayaan pada Arteta.
Dicintai Para Pemain
Rasa percaya itu kemudian berubah menjadi rasa cinta. Ya, Arteta begitu dicintai para pemain-pemainnya. Itu bukan tanpa alasan, karena Arteta adalah sosok yang tegas di luar maupun di dalam lapangan. Ia mengerti harus berbuat apa dan bagaimana. Arteta mencontohkan bagaimana dirinya tidak mentolerir tindakan indisipliner.
Dengan menanggalkan status kapten Aubameyang, yang membuat pemain Gabon itu akhirnya hengkang, menunjukkan bahwa Arteta benar-benar tegas dan tak pandang bulu. Justru karena itulah ia dicintai. Di samping beberapa pemain seperti Magelhaes, Odegaard, Nketiah, bahkan Elneny berhasil menemukan permainan terbaiknya.
Arteta juga beberapa kali mendapat pujian dari para pemain-pemainnya. Pablo Mari, bek Arsenal yang jarang dimainkan oleh Arteta pun tak bisa tidak memuji Arteta. Menurut Mari, Arteta adalah salah satu pelatih terbaik di dunia. Mari mengatakannya setelah mendengar rencana Arteta ke depan.
Pablo Mari on Mikel Arteta:
“Arteta is one of the best managers I’ve come across. He helped me a lot to understand football better. It’s an idea very similar to Guardiola’s, but with it’s subtle differences.” #afc pic.twitter.com/cJu5iMsRpf
— now.arsenal (@now_arsenaI) February 7, 2022
“Dia (Arteta) adalah orang yang sangat baik ketika itu. Bagaimana dia menemukan solusi untuk kami dan membuatnya mudah untuk memainkan permainan. Saya belum pernah melihat yang seperti ini. Itu berarti dia adalah pelatih yang luar biasa,” kata Pablo Mari seperti dikutip Football365.
Misi Melanjutkan Pembangunan Arsenal
Arteta telah menunjukkan perkembangan yang meski pelan tapi terasa berdampak. Beberapa pemain mengalami peningkatan yang signifikan. Granit Xhaka, misalnya. Xhaka sebelumnya menjadi pemain yang paling malas untuk ditonton permainannya.
Pemain Switzerland itu bermain tidak konsisten. Xhaka lamban dalam bertahan dan rentan terhadap kesalahan. Namun, Arteta telah menyulap Xhaka, selain posisinya yang baru juga membuat sang pemain bermain konsisten dan stabil dalam skuad.
Odegaard di bawah Arteta juga bermain solid. Bukayo Saka yang sempat dipromosikan oleh Unai Emery, di tangan Arteta performanya terus menanjak. Kemitraannya dengan Smith Rowe bikin Arsenal tak usah lagi bingung soal mencetak gol. Artinya, proses pembangunan itu sudah mulai kelihatan dan Arteta harus melanjutkannya.
Fabrizio Romano on Fabio Vieira: “I’m told that Arteta and Edu were absolutely together on this signing.” [@QueGolazoPod] pic.twitter.com/5WCGlxnTYH
— AfcVIP⁴⁹ (@VipArsenal) June 17, 2022
Apalagi Arteta bukan hanya meningkatkan level pemainnya, tapi juga para stafnya. Jadi tidak ada alasan lain lagi untuk tidak memakai jasa pelatih kelahiran San Sebastian. Belum lagi kolaborasi Arteta, Edu, dan Josh Kroenke sudah mulai kelihatan.
Arteta dan Edu menyusun strategi pemain mana yang bakal dibeli, sedangkan Josh Kroenke akan tunduk pada cetak biru yang dibuat keduanya. Hasilnya pun sudah mulai kelihatan, Arsenal sudah merekrut Matt Turner, Marquinhos, Fabio Vieira, dan Gabriel Jesus.
Khusus Jesus, mungkin ia akan menjadi jawaban Arsenal untuk naik level. Apalagi di laga uji coba melawan Nurnberg, Gabriel Jesus sudah mencetak brace. Akhir kata, ini menandakan Arsenal telah siap untuk menatap musim yang baru dengan target yang tak kalah baru. Yakin saja Arsenal tak lagi gagal, yang penting “percaya proses”.
https://youtu.be/mYbt8SJqYOw
Sumber: Khelnow, JustArsenal, PaininTheArsenal, Football365, Detik


