Performa luar biasa Ricardo Kaka kala mengantarkan AC Milan meraih berbagai gelar bergengsi, termasuk Liga Champions 2007 jadi alasan utama bagi raksasa Spanyol, Real Madrid untuk mendatangkannya ke Santiago Bernabeu pada tahun 2009.
Bakat dan talenta yang dimiliki Kaka tak pernah diragukan lagi. Datang dengan ekspektasi setinggi langit. Penandatanganan Kaka justru tak berjalan dengan semestinya. Semua berjalan salah bagi kedua belah pihak. Kaka hanya digunakan sebagai penghangat bangku cadangan oleh Jose Mourinho selaku juru taktik El Real.
Bakatnya tersia-siakan, sinar Ricardo Kaka pun kian meredup di Ibukota Spanyol. Lantas apa yang membuat Kaka gagal menerapkan performa gemilangnya bersama AC Milan di Madrid? Berikut sepenggal kisah Ricardo Kaka, Real Madrid, dan meredupnya sinar si “Anak Tuhan”
Daftar Isi
Mencapai Puncak Bersama Milan
Semua berawal pada tahun 2003 ketika tim scouting AC Milan berhasil mengendus bakat Ricardo Kaka sewaktu ia masih bermain bersama klub lokal Brazil, Sao Paulo. Biaya 8,3 juta euro (Rp129 miliar) adalah angka yang kecil bagi Silvio Berlusconi, bos Milan kala itu. Dengan uang sebesar itu, ia mendatangkan Kaka, sosok yang jadi salah satu pemain penting di era kepemimpinannya.
Adaptasinya pun cepat, Kaka yang masih berusia 21 tahun, langsung nyetel dengan permainan Carlo Ancelotti. Dengan bakatnya, ia hanya membutuhkan beberapa bulan saja untuk menggeser gelandang serang berpengalaman, Rui Costa dari starting line-up Rossoneri.
Kumpulan gol dan assist Kaka pun mulai deras mengalir. Ia langsung mencetak 14 gol serta 7 assist. Ini catatan yang mengesankan bagi bocah 21 tahun asal Amerika Selatan, yang baru pertama kali berkompetisi di Liga Top Eropa.
Tak sampai di situ, ia juga membangun koneksi yang baik dengan pemain-pemain lain macam Filippo Inzaghi dan Andriy Shevchenko di lini depan untuk mengantarkan Rossoneri ke tangga scudetto musim 2003/2004. Performa hebatnya membuat Kaka dinobatkan sebagai pemain terbaik Serie A pada akhir musim pertamanya.
Kecemerlangan Kaka terus berlanjut. Ia menjadi andalan lini tengah AC Milan. Dengan support dari Gennaro Gattuso, Andrea Pirlo hingga Clarence Seedorf di lini tengah, Kaka cs berhasil mendominasi Eropa. Kaka berhasil menghadirkan satu trofi Liga Champions tahun 2007. Kaka bahkan keluar sebagai top skor kompetisi tersebut dengan torehan 10 gol.
Performanya yang konsisten membuat Kaka kembali meraih penghargaan pemain terbaik Serie A musim 2006/2007. Hebatnya lagi, ia melengkapi penghargaan individunya dengan meraih penghargaan paling bergengsi bagi seorang pesepakbola, yaitu Ballon d’Or.
Keputusan yang Salah!
Rangkaian prestasi yang ditunjukan Kaka bersama AC Milan, menarik minat banyak klub besar macam Manchester City dan Real Madrid. Dilansir Manchester Evening News, pada Januari 2009, City sempat menawarkan 88 juta pound (Rp1,5 triliun) untuk memboyong pemain asal Brazil itu ke Etihad Stadium. Namun Kaka menolak dan ingin bertahan lebih lama di Milan.
On this day in 2009, Real Madrid signed Ricardo Kaka from AC Milan for €67 million.
👤 Apps : 120
⚽️ Goals : 29
🎯 Assists : 39
🏆 Trophies : 2 pic.twitter.com/YP93rZjfIz— Real Madrid Xtra (@RealMadridXtra) June 8, 2020
Namun, lima bulan kemudian, Presiden Real Madrid, Florentino Perez datang dan menyatakan minatnya pada Kaka. Ia menawarkan 67 juta euro atau sekitar Rp1 triliun lebih untuk menebus Kaka dari AC Milan.
Pada pertengahan tahun 2009, Milan dan Madrid menyepakati penjualan Kaka dengan kontrak berdurasi enam tahun. Pemasukan dari menjual Kaka berhasil membantu Milan dalam menyeimbangkan ekonomi klub.
Kesepakatan ini awalnya berjalan mulus. Milan mendapatkan uang, Kaka mendapatkan klub yang tak kalah bagusnya dengan AC Milan, dan Florentino Perez senang mendapatkan pemain yang ia inginkan. Sayang, setelah beberapa bulan di Madrid, segala macam permasalahan pun mulai membebani Kaka.
Gagal di Madrid
Kaka awalnya diproyeksikan sebagai bintang utama Los Blancos. Akan tetapi, euforia kedatangannya tak bertahan lama, karena Real Madrid berhasil mendatangkan Cristiano Ronaldo dengan nilai transfer yang lebih tinggi darinya, yaitu 94 juta euro atau sekitar Rp1,4 triliun.
Di musim pertama berseragam Real Madrid, Kaka memang bisa mencatatkan 25 penampilan di La Liga. Namun, di musim keduanya petaka pun mulai datang. Kepelatihan yang berganti ke tangan Jose Mourinho, mengganggu kestabilan Kaka di skuad utama. Mourinho justru mendatangkan gelandang kreatif dari Werder Bremen, Mesut Ozil.
Tak hanya itu, Kaka juga mengalami cedera lutut parah yang membuatnya lebih sering tinggal di meja perawatan, ketimbang menunjukkan skill-nya di lapangan. Cedera lututnya itu membuat Kaka absen selama delapan bulan pada tahun 2010. Saat ia kembali, ia sudah kehilangan kecepatannya, Mourinho pun sudah terlanjur nyaman menggunakan Ozil sebagai pemain bernomor “10” menggantikan Kaka.
Secara permainan, Kaka juga sulit menyesuaikan skema yang diusung Jose Mourinho. Pelatih asal Portugal itu lebih mengandalkan umpan-umpan akurat yang membelah pertahanan lawan, dan Ozil bisa memberikan apa yang diminta Mourinho. Sedangkan Kaka, ia lebih banyak memainkan sepakbola indah dengan skill individunya.
Sebagai Classic Number 10, kualitas Kaka sebenarnya tak jauh berbeda dengan Ozil, bedanya Kaka lebih membutuhkan kebebasan bergerak saat membangun serangan. Sewaktu di Milan ia juga dibebaskan dari kewajiban untuk membantu pertahanan. Sedangkan Jose Mourinho tidak suka itu, ia menginginkan semua pemainnya juga membantu pertahanan apabila tim sedang tidak menguasai bola.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Kaka bukan lagi pilihan utama di skuad Los Blancos. Musim 2011/12, mungkin jadi musim paling mending bagi Kaka. Di saat Real Madrid mengamankan gelar La Liga dengan 100 poin, ia mencetak 8 gol dan 16 assist dalam 40 penampilan di semua kompetisi. Namun, tak menampik bahwa kualitasnya jauh menurun apabila dibandingkan dengan masa jayanya di Milan.
Kembali, Namun Tak Akan Pernah Sama
Tampaknya cedera lutut yang ia derita sewaktu membela Madrid sangat mempengaruhi kondisi fisik Kaka. Meski ia tak kehilangan sentuhannya terhadap bola, ia kehilangan kecepatan dan posisi utama di skuad Madrid. Selama 4 musim berseragam El Real, ia hanya mencetak 29 gol dan 39 assist. Statistik itu sangat jauh apabila dibandingkan dengan 103 gol dan 83 assist yang dicetaknya bersama Milan.
Selama di Madrid Kaka tak pernah lagi mempertontonkan dribbling cepat seperti yang pernah ia lakukan saat masih bermain untuk Milan. Sewaktu di Milan ia pernah membuat dua bek Manchester United menahan malu lantaran saling bertabrakan di ajang Liga Champions 2006/2007.
Merasa tak ada tempat lagi untuknya, Kaka pun memutuskan pergi dari Madrid. Ia sadar, seharusnya ia tak pernah meninggalkan Milan, klub yang telah membesarkan namanya itu. Milan adalah tempat ia pulang, ia pun kembali mengenakan nomor punggung 22 yang memang tercipta untuknya.
Kepulangan Kaka ke Italia sempat memberi harapan, tapi cedera selalu menghantui hari-harinya. Ia tak pernah mencapai level yang sama seperti dulu. Itu juga yang membuatnya sadar dan memutuskan untuk menepi dari sepakbola Eropa dan bermain di MLS bersama Orlando City.
Sumber: Pundit Feed, BR, Goal, MEN, LigaLaga


