Seorang yang tidak terlalu paham sepakbola pun pasti akan mengerti. Sebuah klub jika ingin berkembang, jika ingin memenuhi targetnya harus mencari komponen yang sesuai. Misalnya, jika klub itu menginginkan trofi Liga Champions, maka yang harus dicari klub itu adalah pemain-pemain yang bisa mengantarkannya ke sana.
Bukan hanya pemain, tapi pemilihan pelatih juga semestinya paling tidak memiliki curriculum vitae yang meyakinkan untuk mencapainya. Logika sederhananya seperti itu. Namun, Paris Saint-Germain, klub super duper raksasa dari Prancis berbeda. Klub yang memiliki bertriliun-triliun uang di saldonya itu justru berpikir lain.
Memang betul PSG kini sedang tidak mengalami kesulitan yang berarti. Liga domestik sudah mereka amankan. Kylian Mbappe sudah mereka peluk erat-erat. Lionel Messi masih tersenyum-senyum saja di Parc des Princes. Uang juga berlimpah. Tapi yang tidak mereka punya logika sederhana tadi.
PSG belum lama ini memecat Mauricio Pochettino dari jabatan pelatih. Sosok pelatih yang memberi PSG tiga gelar domestik: Ligue 1, Coupe de France, dan Trophée des Champions. Poch juga turut membawa PSG ke 16 besar Liga Champions.
French Ligue 1 champions Paris Saint-Germain confirm that they have parted ways with Mauricio Pochettino. pic.twitter.com/HkzXlkN5Iz
— Yakubu Ibrahim- CITYZEN 💯🔛 (@Cityzen_Rastop) July 5, 2022
Les Parisiens memecat pelatih yang pernah membawa Tottenham Hotspur ke final Liga Champions itu, dan menggantinya dengan Christophe Galtier. Sebentar, ada yang kenal Galtier?
Daftar Isi
Profil Christophe Galtier
Singkatnya, Galtier adalah mantan pelatih yang membawa Lille juara Ligue 1, yang secara otomatis membawa mereka ke fase grup Liga Champions. Sebelum melatih Lille, Christophe Galtier membawa Saint-Etienne juara Piala Liga Prancis. Selebihnya?
Ya nggak ada. Ketika bermain di Liga Champions pun, Galtier hanya bisa membuat Lille jadi pecundang di fase grup. Hanya bisa meraih satu poin saja, dengan lima kali kekalahan dan satu hasil imbang. Setelah tidak di Lille, sebelum melatih PSG, Galtier melatih OGC Nice.
Dan kamu tahu Nice mengakhiri Ligue musim 2021-22 di posisi berapa? Yup benar sekali! Posisi kelima alias tidak masuk zona Liga Champions. Tapi bisa lolos ke Liga Konferensi Eropa atau kita menyebutnya kompetisi kasta ketiga di Eropa.
GALTIER REPLACES POCHETINO AS NEW PSG COACH🇫🇷🚨
PSG has appointed Galtier as their new manager after sacking Pochettino
Galtier,55, joins from Lille,He guided Lille to the Ligue 1 title in 2020-21, Nice sealed a fifth-place finish under him in the Ligue 1 last season pic.twitter.com/cDk5Z5X5aJ— TRACE MUSIC AFRICA 🌍 (@mwachanya98) July 6, 2022
Tidak Menginginkan Liga Champions?
Barangkali dengan menunjuk Galtier, PSG mungkin sudah tidak mendambakan Liga Champions lagi. Les Parisiens dalam hal ini Nasser Al-Khelaifi, bisa jadi hanya butuh yang penting PSG bisa juara di kompetisi Eropa. Tak peduli pada kasta berapa pun. Itu saja.
Namun, melihat alasan di balik pemecatan Pochettino, PSG sebenarnya masih mengincar Liga Champions. Karena Poch dipecat juga karena gagal di Liga Champions. Meskipun PSG sendiri, melalui Nasser Al-Khelaifi menegaskan bahwa mereka akan bersikap pragmatis ke depan. “Hari ini kita harus realistis,” kata Nasser dikutip Sporting News.
Nasser juga mengatakan bahwa ia akan mulai menghilangkan kebiasaan membeli pemain dan pelatih mahal. Ia selain realistis, juga pelan-pelan mengurangi kilauan di PSG. Nggak mau bling-bling lagi katanya. Oke, kita pegang omongan itu.
Namun, pada titik tertentu Nasser sepertinya tidak ingat, bahwa untuk menjadi juara, termasuk Liga Champions nggak ada kaitannya dengan skuad yang mewah atau tidak. Lihat bagaimana Bayern Munchen bisa mengalahkan PSG pada Liga Champions 2020.
Padahal pada waktu itu nilai skuad Bayern Munchen hanya di angka Rp14 miliar. Sedangkan waktu itu nilai skuad PSG sekitar Rp15 miliar. PSG juga mesti melihat bagaimana Chelsea bisa menjadi juara Liga Champions 2021 ketika nilai skuad mereka hanya Rp12 miliar.
Dengan kata lain, justru ketika skuadnya mewah tapi masih tetap gagal, bisa jadi PSG memang klub yang problematik. Tapi tak apalah. Penunjukkan Galtier juga masih membuat PSG untung. Apalagi gaji pelatih berkebangsaan Jerman itu ditaksir lebih murah dari Pochettino, yaitu 330 ribu euro (Rp5 miliar) per bulan, sedangkan Poch dulu digaji sekitar 1,1 juta euro (Rp16,7 miliar) per bulan.
Le salaire de Mauricio Pochettino au PSG est d’environ 1,1 M€/mois brut.
Cela fait évidement de lui l’entraîneur le mieux payé en Ligue 1, devant Jorge Sampaoli et Christophe Galtier qui émargent à 330 K€/mois.
(L’ÉQUIPE)
— Hadrien Grenier (@hadrien_grenier) March 21, 2022
Tanpa Kompromi
Sejak penunjukkannya sebagai pelatih anyar PSG, Christophe Galtier akan mendukung proyek klub. Les Parisiens yang menginginkan tidak ingin bermewah-mewah akan ia turuti. Bahkan Galtier berani mengatakan tidak akan kompromi pada pemain yang menentangnya.
Inilah yang membedakan Galtier dengan Pochettino. Dulu Pochettino melakukan pendekatan dengan penuh ketelitian. Tapi ia tidak tegas, ia lemah dalam mempertahankan otoritasnya sebagai pelatih. Unai Emery yang dulu melatih PSG juga sama. Emery harus berjuang keras untuk menavigasi perbedaan di ruang ganti.
Pertanyaannya, apakah Galtier bisa konsisten dengan omongannya sendiri? Apakah pelatih berpaspor Prancis itu nanti tidak akan uring-uringan ketika melihat betapa panasnya ruang ganti Les Parisiens?
“Saya sudah siap. Jika saya menerima pekerjaan ini dan tanggung jawab ini, itu karena saya mampu melakukannya,” kata pelatih 55 tahun itu dikutip Daily Mail.
Menghadapi Ego Pemain
Galtier mendasari keyakinannya itu karena ia merasa pengalamannya di Saint-Etienne dan Lille sudah cukup. PSG sendiri juga sudah yakin, kemampuannya dalam mengontrol skuad dua klub Prancis itu menjadi modal penting dalam mengatasi skuad PSG. Tapi tunggu dulu.
Memangnya PSG, Saint-Etienne, dan Lille adalah klub yang sama? Tentu saja tidak saudara-saudara. PSG adalah PSG. Dengan skuad mewahnya, itulah yang bisa jadi akan merepotkan Galtier. Apalagi ada tiga pemain yang memiliki ego tinggi dan merasa dirinya hebat dan terkenal.
Galtier mesti sanggup mengendalikan ego Lionel Messi, Neymar, dan tentu saja Kylian Mbappe. Sebelumnya, marwah seorang Pochettino bisa luntur karena mengganti sosok Lionel Messi dan Kylian Mbappe. Sekarang, apa Galtier sanggup menghadapi pemain dengan ego semacam itu?
Christophe Galtier is expected to take over as PSG manager today after the club confirmed the exit of Mauricio Pocettino.
He will inherit the most famous front-line in world football. 💰
🇦🇷Messi
🇧🇷Neymar
🇫🇷Mbappe pic.twitter.com/GdghtGhZMB— BabaIjebu (@playbabaijebu) July 5, 2022
Baiklah, Galtier pernah menangani pemain elit saat melatih Pierre-Emerick Aubameyang dan Dimitri Payet ketika berada di Saint-Etienne. Tapi itu tahun-tahun lalu, sudah kelewat sangat jauh. Kini Galtier menghadapi sosok pemain elit dengan level yang berbeda. Bukan hanya level permainannya yang berbeda, tapi level egonya juga.
Oh ya, Galtier juga harus menghadapi Kylian Mbappe terutama. Karena pemain itu punya gembok yang bisa mengerangkeng tangan dan kaki Galtier. Bukan tidak mungkin aura Galtier akan kalah dari Kylian Mbappe. Apalagi Mbappe selain menjadi pemain, ia juga menjadi Thanos yang siap melenyapkan siapa saja di PSG.
Mengapa PSG Menunjuk Galtier?
Selain berkelindan dengan proyek dan paradigma baru dari Nasser Al-Khelaifi, penunjukkan Galtier juga sebenarnya tak lepas dari nepotisme. Galtier dan direktur sepakbola baru PSG, Luis Campos adalah konco kentel. Hubungan keduanya terjalin baik ketika di Lille.
Campos melihat Galtier sebagai sosok pelatih bernilai tinggi. Konon keduanya telah menjalin pembicaraan. Galtier telah memiliki visi dan pendekatan yang akan membuat PSG bermain lebih disiplin. Ia biasa menggunakan formasi 4-4-2.
🇵🇹 | Former Lille Sporting Director Luis Campos on ex Lille manager Christophe Galtier.
🗣“He likes to build a side with quality and youth. He is someone who can develop a team ethic. He has all the qualities to coach in England.” pic.twitter.com/zjXVqtwEDH
— The Everton End (@TheEvertonEnd) June 8, 2021
Namun, Campos tampaknya menginginkan PSG bermain dengan tiga bek. Kendati begitu, lantaran hubungan keduanya yang mesra, Galtier disebut-sebut bakal fleksibel mengenai taktiknya nanti. Ia menerima saran Campos itu. Meskipun belum bisa diprediksi mana sistem dan formasi yang akan dipakai Galtier nanti.
Akan tetapi, yang pasti Galtier akan tetap berkomitmen dengan gaya permainannya yang intens. Ia mungkin akan beradaptasi dengan sistem baru, namun Galtier akan tetap fokus dengan pola permainannya yang mengandalkan serangan balik.
Mengingat Galtier memiliki reputasi meningkatkan tim yang berkinerja buruk. Oleh sebab itu, Galtier dipandang oleh Nasser Al-Khelaifi dan Luis Campos cocok untuk melatih Paris Saint-Germain. Akhirul kalam, semoga bisa lolos ke Conference League dan juara, PSG!
https://youtu.be/GxbEP847vAY
Sumber: SportingNews, DailyMail, SkySports, TheAthletic


