Munculnya ide African Super League memunculkan banyak pertanyaan. FIFA selaku otoritas tertinggi sepakbola seakan tak konsisten dihadapkan dengan penyelenggaraan beberapa kompetisi baru. Kita tahu bahwa ide European Super League beberapa waktu lalu ditolak mentah-mentah oleh FIFA dan UEFA.
Memang sih, banyak protes terhadap munculnya ide European Super League yang konon katanya tak adil itu. Namun kenapa FIFA malah menggolkan adanya African Super League?
“Caf boss Patrice Motsepe has thanked the FIFA president for his support with the establishment of the African Super League”
But why is a key voice in the vocal choir that crushed the European Super League a strong supporter of a similar league in #Africa?https://t.co/12w6S7lhQq
— Oluwashina Okeleji (@oluwashina) July 4, 2022
Tiba Tiba Muncul Afrika Super League
Memang beda cerita kalau di Afrika ini. African Super League diketok palu oleh FIFA sebagai kompetisi baru yang akan dihelat di Benua Afrika. Kompetisi baru ini nantinya akan diisi klub-klub terbaik di Afrika, yang bakal diselenggarakan di bulan Agustus 2023 mendatang. Dan jangan salah, sebagai prize money-nya akan disediakan sebesar 100 juta dolar (sekitar Rp1,4 triliun).
Caf ExCo announce that African Super League begins August 2023 in Tanzania.
Total prize money is $100m.
24 teams that begin the competition will be chosen from the Fifa rankings closer to the time. #JoySports pic.twitter.com/DiQ1hCYLNG
— Gary Al-Smith (@garyalsmith) July 3, 2022
Presiden CAF, Patrice Motsepe membahas African Super League ini pada pertemuan para komite eksekutif CAF di Maroko, Juli 2022. Melihat sangkut pautnya dengan ide European Super League, Motsepe dan Gianni Infantino selaku presiden FIFA langsung menepisnya. Mereka mengklaim bahwa ide African Super League itu sudah ada sejak 2019 silam.
Sementara, European Super League yang diinisiasi oleh Florentino Perez dan kawan-kawan itu baru ada 2021 lalu. Artinya bagi FIFA, African Super League itu sudah ada duluan idenya dan tidak nyolong ide dari European Super League.
Ide African Super League itu awalnya diusulkan oleh presiden FIFA, Gianni Infantino pada 2019 ketika ia mengunjungi Republik Kongo pada peringatan 80 tahun pembangkit tenaga listrik nasional TP Mazembe. Infantino awalnya berambisi membuat kompetisi itu menjadi kompetisi papan atas dunia. Infantino selain juga akan menyediakan total uang yang signifikan, ia juga berambisi menyuntikan dana untuk perbaikan infrastruktur klub.
Sejumlah besar uang dari African Super League akan diinvestasikan kembali ke sepak bola Afrika. Termasuk pemberian suntikan dana 1 juta dolar (Rp14,9 miliar) setiap tahunnya kepada 54 anggota CAF sebagai kontribusi untuk pengembangan sepak bola.
The African Super League featuring 24 teams will start in August 2023. The winner will receive $12 million.
$84 million will be shared among the 23 other teams.
The teams will be selected according to their FIFA Rankings. pic.twitter.com/WRMvu2wZhz
— Africa Facts Zone (@AfricaFactsZone) July 4, 2022
Tim-tim yang bermain di African Super League juga harus memiliki kualifikasi tim akademi muda dan tim sepakbola wanita. Termasuk seperti Al Ahly, Raja Casablanca, Zamalek, Mamelodi Sundowns, TP Mazembe, dan lainnya. Nantinya di African Super League ini akan ada total 24 tim yang dibagi menjadi tiga grup berdasarkan jangkauan geografis.
GOAL’s @EddyDove predicts the 20 teams he’s tipping to take their places in Caf’s inaugural Super League, which kicks off in Augusthttps://t.co/D6zgvfEAUz
— GOAL South Africa (@GOALcomSA) July 8, 2022
African Super League ini akan diadakan di Tanzania. Di mana teknis pemilihan tim dan pembaharuan teknis lainnya termasuk pembagian grup akan dilakukan pada Agustus 2022 mendatang.
Politik FIFA
Nah, setelah ide African Super League itu diketok palu oleh FIFA, sekarang banyak muncul protes mengenai turnamen baru tersebut. Ya, meskipun alih-alih untuk meramaikan jagad sepakbola Afrika, turnamen ini dianggap hanya “mainan” FIFA saja.
Menurut konferensi “play the game” yang diselenggarakan di Odense Denmark, mengatakan bahwa FIFA secara tidak langsung menjadikan Afrika sebagai “boneka” mereka. Dengan memberi prize money, pengembangan fasilitas infrastruktur dan sebagainya, FIFA paling tidak sudah bisa menggenggam suara mereka.
Play the Game 2022 is on!✨🙌 #ptg2022
▪ 350 participants👥
▪ 160 speakers🎤
▪ Three and a half days with inspiring debates👀 pic.twitter.com/mVP2xth6ex— Play the Game (@playthegame_org) June 27, 2022
Hal itu bertujuan supaya beberapa agenda penting FIFA dapat serta merta mulus didukung oleh beberapa anggota dari Afrika. Mengingat aturan dalam setiap pengambilan keputusan FIFA yakni “one country, one vote”. Dalam hal ini lebih tepatnya dikenal dengan politik utang budi antara FIFA dan Afrika.
Sudah jamak terendus, FIFA sebagai otoritas sepakbola dunia hanya berkutat pada hal cuan. Kita tengok ide European Super League yang mereka tolak. Mereka ketar-ketir dengan ide para penggagas European Super League seperti Perez, Agnelli dan kawan-kawan. Mereka takut lumbung materi yang selama ini didapatnya dari sepakbola Eropa direbut oleh mereka.
Kembali lagi pada masalah African Super League. Jika ingin melihat sisi komersialitas jelas African Super League ini masih jauh kalah dengan European Super League. Dari segi pasar TV Rights, seberapa banyak sih yang mau menonton African Super League ini? Mentok hanya pada pasar negara-negara di Afrika saja.
Nasib Liga Champions Afrika dan AFCON 2023 Mundur Ke 2024
Terlepas dari politik bisnis yang dilakukan FIFA tersebut, sebenarnya CAF sendiri sudah memiliki turnamen yang serupa yakni Liga Champions Afrika yang sudah jalan dari musim ke musim. Sama halnya dengan Liga Champions Eropa. Bahkan mereka dalam pertemuan resmi komite eksekutif CAF di Maroko itu menyepakati perubahan regulasi final Liga Champions Afrika.
Di mana mulai musim depan final Liga Champions Afrika akan dilakukan dalam dua leg. Artinya dengan masih bergulirnya Liga Champions Afrika, kini berarti nantinya akan ada 2 kompetisi yang dijalankan klub-klub di Afrika.
Dengan adanya African Super League ini, ternyata justru berimbas pada kompetisi lainnya di Afrika. AFCON 2023, turnamen terbesar antar negara-negara di Afrika yang sedianya sudah tercatat akan diselenggarakan pada Juni-Juli 2023 di Pantai Gading, tiba-tiba diputuskan untuk diundur. Karena akan bertabrakan dengan rencana kompetisi baru yakni African Super League yang kebetulan disepakati diselenggarakan di bulan Agustus 2023.
FIFA dan CAF sudah menyepakati pengunduran itu karena beralasan bahwa pada musim Juni-Juli 2023 itu Pantai Gading sebagai host diperkirakan sedang dilanda cuaca ekstrim seperti hujan lebat dan banjir. Oleh sebab itu, dalam pertemuan komite eksekutif CAF juga disepakati kalau AFCON 2023 diundur ke tahun 2024 yakni di bulan Januari-Februari.
BREAKING NEWS: AFCON 2023 Postponed to January -February 2024 due to worst rainy season in June- July at Cote D’ivoire which were the original months scheduled for the tournament .#GTVSports pic.twitter.com/n8t6hLecnZ
— GTV SPORTS+ (@mygtvsports) July 3, 2022
Nah, dengan ditundanya AFCON ke bulan Januari-Februari ini bukan tidak mungkin akan segera memunculkan permasalahan baru bagi tim-tim Eropa yang dihuni pemain-pemain dari negara Afrika. Yang sejatinya AFCON pada Juni-Juli 2023 yang notabene musim libur Liga-Liga Eropa, eh, malah mundur di Januari-Februari di mana Liga-Liga Eropa masih dalam mode sibuk-sibuknya.
Yang jelas semua permasalahan ini muaranya adalah dengan adanya pembentukan kompetisi baru yang namanya African Super League, dan distempel resmi oleh FIFA pula. Bagi sebagian publik sepakbola dunia mungkin memandang kompetisi ini memunculkan secercah harapan baru bagi majunya persepakbolaan Afrika.
Bagaimanapun persepakbolaan Afrika ini secara kualitas tak kalah dibanding Asia maupun Amerika. Banyak pemain hebat lahir dari benua ini. Dan tak ada salahnya FIFA terus memajukan pamor sepakbola Afrika di dunia. Namun perlu dicatat, hati-hati dengan FIFA, masalahnya organisasi ini juga sering banyak intrik di dalamnya.
Sumber Referensi : foottheball, cafonline, espn


