Carlo Ancelotti: Sang Penakluk 5 Liga Top Eropa

spot_img

Jika Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel sekitar setengah milenium yang lalu, di bulan yang sama, Carlo Ancelotti, seorang manajer gaek kelahiran Reggiolo menasbihkan diri sebagai penakluk lima liga top Eropa. Don Carlo memastikannya setelah membawa Real Madrid meraih gelar juara La Liga beberapa waktu lalu.

Real Madrid melakukan pekerjaan singkat bersama Don Carlo dalam meraih titel tersebut. Dua kompetitor terberat Los Merengues, Atletico Madrid dan Barcelona sedang mengalami fase suram. Barca yang terpelanting dari Liga Champions, dan performanya yang kembang kempis meski sudah ganti pelatih.

Lalu, Atletico Madrid yang masih gitu-gitu saja, memudahkan Real Madrid mencapai tangga juara. Bahkan musim ini, Real Madrid bisa menjuarai La Liga dengan menyisakan empat pertandingan. Artinya, sekalipun Los Galacticos kalah di empat laga sisa, itu tidak akan membuat gelar La Liga berada di tangan Barcelona.

Apalagi, Barcelona hanya mengantongi 66 poin. Sementara, Real Madrid sudah mengumpulkan 81 poin sampai dinobatkan sebagai juara. Gelar ini tentu sangat membahagiakan bagi Carlo Ancelotti. Ia bagaimanapun telah mengukir kisah manis menjadi satu-satunya pelatih yang mampu menaklukkan lima liga top Eropa.

Pertama, Scudetto!

Don Carlo memulai kariernya dari klub semenjana, Reggiana di kasta kedua. Sebelum ia memutuskan untuk bergabung ke Parma, tentu saja sebagai seorang pelatih. Dari situ DNA pelatih hebat Don Carlo mulai kelihatan.

Serie A musim 1996/97, Ancelotti membawa Parma finis di peringkat kedua. Waktu itu, hanya terpaut dua poin saja dari sang juara, Juventus. Namun, itu sekadar kiprah terbaiknya. Karena sampai berjumpa dengan AC Milan, Don Carlo masih menemui jalan buntu. Meski ia sempat menukangi Juventus.

Walau terbilang gagal di Juventus, Don Carlo masih dipandang sebagai pelatih bagus. Untuk itu, AC Milan datang memberi kabar baik. Rossoneri merekrutnya hanya beberapa bulan setelah dipecat dari Juventus tahun 2001. Sayangnya, musim pertamanya di Milan masih gelap.

Kendati begitu, Don Carlo masih diberi kepercayaan. Pada musim keduanya bersama AC Milan, ia masih gagal meraih scudetto. Yang ada hanya gelar Copa Italia pada musim 2002-2003. Sedangkan di liga, AC Milan sekadar duduk di peringkat ketiga, di bawah Inter dan sang juara kala itu, Juventus.

Beruntung. Meski dua musim gagal meraih scudetto, Don Carlo masih bertahan di AC Milan. Entah apa yang menjadi penilaian rossoneri sampai mempertahankannya. Barangkali itu hanya sebuah pertaruhan. Jika dua musim gagal, mungkin di musim ketiga, AC Milan bisa meraih scudetto bersama Don Carlo.

Dan benar belaka. Pada musim ketiganya bersama rossoneri, Ancelotti akhirnya menjawab segala macam prediksi. Mendapat dukungan dari pemain seperti Shevchenko, Dida, Cafu, Kaka, Seedorf, Maldini, Inzaghi, sampai Nesta, Ancelotti akhirnya mempersembahkan scudetto ke-17 AC Milan pada musim 2003-2004. Kala itu, AC Milan duduk di singgasana klasemen, berjarak 11 poin dari AS Roma.

Kedua, Penakluk Premier League yang Ganas!

Perjalanan Ancelotti di AC Milan mesti berakhir pada tahun 2009. Ia lalu terbang ke Inggris untuk menandatangani kontrak bersama Chelsea. Ketika itu, Chelsea sedang membutuhkan pengganti Guus Hiddink, dan Ancelotti dirasa cocok menggantikannya.

Bersama The Blues, Ancelotti punya tekad ingin melampaui dirinya sendiri. Jika untuk meraih scudetto ia butuh tiga musim bersama AC Milan, Don Carlo berhasil menaklukkan Premier League yang konon menjadi liga paling ganas, hanya dalam kurun waktu semusim saja.

Pada musim pertamanya, ia membimbing The Blues meraih gelar juara Premier League musim 2009-2010. Dengan materi pemain-pemain yang naik daun seperti Frank Lampard dan Didier Drogba, ia membuat penggemar Manchester United kala itu melongo.

MU yang nyaris saja menyabet Premier League, kandas setelah pasukan Don Carlo mampu menghabisi Wigan Athletic di laga terakhir dengan skor 8-0. Chelsea pun berada di peringkat pertama dengan 86 poin, unggul satu poin saja dari Manchester United.

Ketiga, Keajaiban di Paris!

Meski membawa Chelsea juara di musim pertamanya, nasib Ancelotti di Stamford Bridge habis begitu saja. Ketika hanya mampu finis di peringkat kedua pada musim keduanya, Ancelotti didepak dari Chelsea pada Mei 2011. Usai meninggalkan pintu keluar Stamford Bridge, Ancelotti menganggur.

Enam bulan hanya bercengkrama dengan keluarganya, Ancelotti mendapat tawaran melatih lagi. Kali ini, klub kaya Ligue 1, Paris Saint-Germain ingin meminang Ancelotti. Persis ketika Nasser Al-Khelaifi mengakuisisi sebagian besar saham PSG.

Bertekad untuk merajai Ligue 1 lagi, mendatangkan Don Carlo bagi PSG adalah keputusan yang sangat amat brilian. Namun, meraih kembali gelar Ligue 1 yang sudah hilang dari PSG selama kurang lebih 19 tahun, bukan perkara mudah. Buktinya, pada musim pertama melatih PSG, Ancelotti hanya membuat anak asuhnya mengejar juara kala itu, Montpellier.

Kegagalan di musim pertama, membuat Ancelotti mesti berbenah di musim keduanya. Pada musim 2012-2013, Ancelotti mulai menyusun anak tangga demi anak tangga untuk ke atas klasemen Ligue 1.

Pemain seperti Adrien Rabiot, David Beckham, Javier Pastore, Marco Verratti, Nene, Kingsley Coman, Lavezzi, dan Ibrahimovic adalah kepingan puzzle penting Ancelotti. Tanpa mereka, anak tangga Ancelotti sekadar disusun, tanpa bisa dinaiki.

Don Carlo dan anak asuhnya pun berhasil naik podium. PSG kembali menjuarai Ligue 1 setelah 19 tahun lamanya berpuasa. Kala itu, PSG asuhan Ancelotti memimpin klasemen dengan 83 poin, berjarak 12 poin dari penghuni peringkat kedua, Olympique Marseille.

Keempat, Pesta Pora di Jerman!

Ancelotti sebetulnya sempat menganggur lagi selama enam bulan. Sebelum klub Bundesliga, Bayern Munchen datang menyodorkan tawaran. Tahun 2016, Die Roten membutuhkan pelatih anyar yang kualitasnya setara dengan Pep Guardiola yang, ketika itu sedang menyusun kisahnya di Manchester City.

Don Carlo adalah orang yang tepat. Selain sudah menundukkan tiga liga top, juara Liga Champions Eropa menjadi nilai plus seorang Don Carlo. Ia datang ke Bayern Munchen saat klub itu sedang dalam mode terbaik.

Robert Lewandowski sudah ada di sana. Thomas Muller masih dalam performa bagus. Arjen Robben dan Franck Ribery belum bercerai. Kingsley Coman sudah didatangkan. Xabi Alonso, Joshua Kimmich, sampai Manuel Neuer semuanya siap untuk meraih gelar bersama Don Carlo.

Dan iya, itulah yang terjadi. Pada musim pertamanya bersama FC Hollywood, gelar Bundesliga musim 2016-2017 sudah ia kantongi. Ancelotti membawa Bayern Munchen memuncaki klasemen dengan 82 poin, terpaut 15 poin dari RB Leipzig di tangga kedua. Pada musim itu pula, Ancelotti mempersembahkan Piala Super Jerman untuk The Bavarian. Pesta pora pun terjadi di Jerman.

Kelima, Kesempatan Kedua yang Tak Disia-siakan!

Don Carlo memungkasi karier terbaiknya sebagai pelatih dengan menggenapi gelar lima liga top Eropa, setelah menjuarai La Liga bersama Real Madrid musim 2021-2022. Tapi, tunggu sebentar. Untuk mencapai itu, Ancelotti mesti melewati perjalanan yang berliku.

Ancelotti sempat melatih El Real setelah ia pergi dari PSG. Namun, kala itu ia gagal mempersembahkan La Liga lebih cepat. Karena Atletico Madrid dan Barcelona dari musim 2013-2014 sampai 2014-2015 sangat begitu perkasa.

Walaupun sebenarnya Don Carlo nggak gagal-gagal amat. Sebab, saat periode pertamanya melatih Real Madrid, Don Carlo mempersembahkan La Décima dan Copa del Rey. Sayang, pemecatan tak bisa ia hindari. Ancelotti pun mendapat kesempatan kedua untuk melatih Real Madrid di musim ini.

Itu pun sebelumnya, Ancelotti telah mengalami fase-fase tanpa mengangkat piala, ketika melatih Napoli dan Everton. Namun, tidak meraih gelar cukup lama, bukan berarti Don Carlo kehilangan sentuhan magisnya.

Terbukti, gelar La Liga sudah ia genggam, dan kini ia punya kesempatan mengulangi kisah manisnya seperti saat di AC Milan. Mempersembahkan dua gelar Liga Champions dan satu liga domestik untuk Real Madrid. Sukses terus, Don Carlo!

https://youtu.be/OwtrYbfd0QI

Sumber referensi: AS, Then24, TheGlobalFrontier, 90Min

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru