Namanya Luka Modric. Gelandang Kroasia yang beroperasi di lini tengah Real Madrid. Penampilannya tidak flamboyan, namun gaya dan visi bermainnya sangat jelas. Begitu taktis, atraktif, dan mampu membuat siapa pun terkagum-kagum.
Tidak sulit untuk mengakui bahwa Modric gelandang terbaik di planet ini. Hanya butuh satu momen, seperti pada leg kedua perempat final Liga Champions Eropa, saat Real Madrid mesti melewati hadangan Chelsea. Kala itu, Modric yang usianya menginjak 36 tahun tampil 120 menit penuh.
Dari situ kita melihat bahwa Modric memiliki stamina yang bagus sebagai seorang gelandang. Namun, bukan itu saja. Modric berperan dalam upaya Los Galacticos melangkah ke semifinal.
Umpannya yang indah pada Rodrygo untuk kemudian menjadi gol, menyeret seluruh pasang mata di dunia untuk melihatnya. Wartawan kenamaan, Fabrizio Romano bahkan ogah mengatakan itu sepakbola, melainkan seni tingkat tinggi.
Luka Modrić assist should be exhibited in a museum. That’s not football – that’s art. 👨🏼🎨🇭🇷 #UCL
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) April 12, 2022
Penampilannya di laga tersebut juga memaksa legenda sepakbola Italia, Alessandro del Piero untuk berkomentar. Del Piero terkagum-kagum pada seorang Luka Modric, sampai-sampai ia tak berhenti menghujani pemain Kroasia itu dengan pujian.
Namun, Del Piero dan Fabrizio Romano, bahkan kita semua tidak akan sederas itu melancarkan pujian pada Modric, jika melihat penampilannya sedekade lalu.
Daftar Isi
Modric Menyapa Santiago Bernabeu
Satu dekade yang lalu, 27 Agustus 2012, Luka Modric menginjakkan kakinya di rumput Santiago Bernabeu. Dengan banderol 30 juta poundsterling (Rp543,5 miliar), Real Madrid mengenalkan Modric ke para socios dan madridista di seluruh dunia. Ketika itu Modric berusia 27 tahun.
Ia yang mengangkat performa Spurs sebagai pesaing Liga Champions, ditambah perannya dalam membantu Kroasia mengalahkan Inggris dan lolos ke EURO 2008 bikin El Real kepincut. Tentu ketika itu, bukan hanya Madrid yang tertarik, Chelsea juga menunjukkan ketertarikannya pada The Blues.
Los Galacticos memenangi perburuan, karena tawarannya 20 juta pounds (Rp326 miliar) lebih banyak dari tawaran yang disodorkan Chelsea. Daniel Levy, bos Tottenham Hotspur pun gembira karena Modric membawa keuntungan nyaris dua kali lipat sejak didatangkan dari Dinamo Zagreb.
#OnThisDay in 2012, @lukamodric10 joined Real Madrid. 🤩 pic.twitter.com/sXqLxYJWbp
— Infinite Madrid (@InfiniteMadrid) August 27, 2020
Ada peran Jose Mourinho dalam perekrutan itu. Mourinho yang masih mengambil kendali meminta dengan sedikit memaksa Florentino Perez untuk mendatangkan Luka Modric. Mourinho sangat membutuhkan jasa Modric di timnya. Apalagi Modric memiliki teknik bermain yang bagus dan pembacaan permainan yang cemerlang.
“Dia (Modric) bisa memainkan bola pendek maupun panjang, Mencetak gol di luar arena. Punya kualitas dalam membuat keputusan. Kecepatan berpikirnya baik,” terang Jose Mourinho pada media Kroasia, Sportske Novosti seperti dikutip Planet Football.
Modric Dibeli untuk Menonton Real Madrid
Kehidupan Modric di ibukota Spanyol tidak sama dengan di Inggris. Bahkan kehidupan sang pemain di Madrid awalnya justru jauh lebih buruk, daripada ketika memperkuat Tottenham Hotspur. Ekspektasi yang tinggi pada Modric, ternyata tak bisa dibayar lunas olehnya. Modric ikut tenggelam ketika El Real memulai musim 2012/13 dengan gontai.
Musim itu, pasukan Jose Mourinho memang menjuarai Piala Super Spanyol. Namun, di liga pijakan awalnya sangat buruk. Real Madrid hanya meraih empat poin dari empat pertandingan pembuka mereka. Sementara sang rival, Barcelona justru tak tergoyahkan di bawah mendiang Tito Vilanova yang jadi suksesor Pep Guardiola.
Mourinho yang awalnya mendorong Real Madrid agar membeli Modric, malah dia sendiri yang justru jarang memainkan sang gelandang. Modric lebih sering menjadi penghangat bangku cadangan. Ia hanya menjadi pemain pengganti. Mourinho yang sering menggunakan pemain nomor 10, membuat Modric sukar berkembang.
Mourinho: “Football get plenty players wey get difficult start and then end well. When Modric show for Real Madrid after six months dem label am as worst-ever signing. A few months later hin be champion, then European champion, the dem vote am as world best player.” pic.twitter.com/hAtbbvCNip
— Real Madrid in Pidgin – ³⁴ – (@rmadridinpidgin) July 3, 2020
Kapten Timnas Kroasia itu kering kontribusi ketika memainkan peran nomor 10. Mourinho pada akhirnya lebih sering memainkan Mesut Ozil, yang kala itu sudah mencatatkan 28 asis dan tujuh gol. Kontribusi-kontribusi semacam itu menjadi sangat mencolok ketika seorang pemain bermain untuk Real Madrid.
Tercatat sampai liburan musim dingin pada bulan Desember, Modric hanya mencatatkan 19 penampilan bersama Real Madrid. Ia rata-rata hanya bermain selama 38 menit dalam satu pertandingan. Dan Modric hanya mampu mengemas satu gol.
Rekrutan Terburuk La Liga
Puncaknya, Luka Modric dianggap sebagai rekrutan terburuk di La Liga. Itu bukan sekadar tuduhan tak berdasar. Harian olahraga yang berbasis di ibukota Spanyol, Marca melakukan jejak pendapat untuk mencari tahu siapa rekrutan terburuk di La Liga.
Nama Luka Modric menduduki peringkat pertama dalam jejak pendapat tersebut. Ia menjadi penandatanganan terburuk La Liga musim itu dengan memperoleh suara 32%. Ia bahkan lebih buruk dari rekrutan Barcelona, Alex Song. Akan tetapi, Modric tidak tinggal diam. Melalui pers Kroasia, ia turut mengutarakan pendapatnya.
Throwback to when Luka Modric was voted the worst La Liga signing of 2012 🤦♂️ pic.twitter.com/ex4N4hLFux
— B/R Football (@brfootball) August 27, 2018
“Ini Real Madrid. Saya mengerti ada tekanan besar untuk pemain baru yang bermain di sini (Real Madrid),” kata Modric seperti dikutip Planet Football.
Namun, Modric bukanlah sosok pemain yang gampang mengangkat bendera putih. Ia melawan jejak pendapat itu. Berusaha untuk keluar dari keterpurukan dan mencoba beradaptasi di Real Madrid. Modric percaya bahwa dirinya bisa membuktikan ada sesuatu dalam dirinya yang bisa ia tawarkan.
Menuruti Kemauan Mourinho
Usai jejak pendapat itu terbit, dan menggores noda di reputasinya, Modric berusaha mencari tahu apa yang dapat ia lakukan. Ya, mengikuti kemauan Mourinho. Mau tidak mau, suka tidak suka, Modric mesti mengikuti pola yang disusun Mourinho. Jika Mourinho menginginkan ia mengambil peran nomor 10, Modric harus bisa melakukannya.
Pelan-pelan penampilan Modric mulai terlihat sesuai harganya. Real Madrid memang remuk di leg pertama ketika menghadapi Dortmund di semifinal Liga Champions musim tersebut. Namun, leg kedua di Bernabeu, Mourinho melakukan perubahan taktis. Ia menempatkan Modric sebagai pivot dan bergerak lebih dalam. Mourinho memaksa Modric untuk bermitra dengan Xabi Alonso.
.@lukamodric10: “Mourinho? He was key in my signing for Madrid. I am sorry I only worked with him for a year. I will always be grateful to Mourinho for taking me to Real Madrid. He is tough and strong, but he is honest and always tells the truth to your face.” [@partidazocope] pic.twitter.com/sDNB8dZXlQ
— Infinite Madrid (@InfiniteMadrid) October 6, 2020
Luka Modric menjawab permintaan itu dengan penampilan mentereng. Di laga yang akhirnya dimenangkan Real Madrid 2-0 itu, Modric berhasil melakukan 70 operan. Jumlah itu dua kali lebih banyak dari leg pertama. Sayangnya, walaupun menang, Real Madrid gagal melaju ke final usai kalah agregat 4-3 atas Dortmund.
Bermitra dengan Casemiro dan Toni Kroos
Real Madrid menyingkirkan Mourinho. Carlo Ancelotti pun masuk, dan ini membawa berkah buat Modric. Pasalnya, selain keluarnya Kaka dan Ozil, perubahan taktis dari 4-2-3-1 menjadi 4-3-3 di kubu Madrid, bikin kemampuan Modric yang sesungguhnya keluar.
Dengan formasi itu, yang disusun Ancelotti, Modric bisa bermain di lini tengah. Memungkinkan dirinya bermain di suatu tempat antara trequartista dan playmaker. Membuatnya sanggup mendominasi permainan, hingga seolah-olah seperti Xavi atau Andres Iniesta.
🗣️ Carlo Ancelotti:
“Kroos – Casemiro – Modriç bu üçlü şu anda dünyanın en iyi orta sahasını oluşturuyor.” pic.twitter.com/NMSUFAzWkN— Klasfutbolls (@klasfutbolls) April 25, 2022
Kedatangan Toni Kroos dan Casemiro ke Santiago Bernabeu mendatangkan keuntungan buat Modric. Kroos dan Casemiro pada akhirnya menjadi tandem mematikan Modric di lini tengah El Real. Casemiro dengan kepekaan posisinya yang baik, karakter agresif, dan naluri yang berkembang pesat.
Toni Kroos dengan keahlian bola matinya, insting dan matanya yang tajam untuk mengoper. Sementara, Luka Modric menawarkan pengalaman dengan keterampilannya. Modric pun menjadi andalan Real Madrid di lini tengah. Ia menjadi sosok pengatur permainan Los Galacticos. Modric tak perlu mengemis Ballon d’Or, karena trofi itulah yang mendekat dengan sendirinya.
Wajar saja bila pelatih Real Madrid, Carlo Ancelotti tak pernah surut pujiannya untuk Modric. Bagaimanapun keseriusan, kejeniusan, kualitas, keterampilan, dan etos kerja seorang Luka Modric, pada akhirnya menggugurkan jejak pendapat yang menganggapnya rekrutan gagal di La Liga. Bravo, Luka!
https://youtu.be/_nRRqiE0v3Q
Sumber referensi: PlanetFootball, BR, Sporbibble, Fotmob, TheNationalNews


