City vs Liverpool : Pergulatan Hingga Akhir, Siapa Yang Bakal Tersenyum?

spot_img

Hasil seri 2-2 Manchester City vs Liverpool di Etihad kemarin membuat penonton sepakbola di seluruh dunia masih harus menghela nafas panjang. Paling tidak hingga akhir musim untuk mengetahui siapa yang terbaik di antara Pep atau Klopp musim ini.

Rivalitas perang strategi dan sepakbola yang sangat menghibur layak dinanti happy endingnya akan seperti apa. Terlepas dari siapa yang akan tersenyum di akhir musim, mereka untuk mencapai ini tidak main-main dalam prosesnya.

Persiapan musim yang matang, evaluasi dan pengembangan strategi dilakukan secara serius oleh kedua klub tersebut. Juga bagaimana peluang mereka dalam melewati rintangan di sisa pertandingan musim ini. Manakah yang lebih berpeluang?

Awal Perjalanan City Dan Liverpool Mengarungi Musim 2021/2022

Terkulai di peringkat ketiga pada musim lalu, Liverpool mengusung misi balas dendam di Premier League musim ini. Klopp mau tidak mau harus beberes segera. Apalagi di kompetisi Eropa mereka juga gagal total dan hanya mencapai babak perempat final.

Berbeda dengan City yang memiliki kemewahan dan kedalaman skuad membuat mereka percaya diri untuk mempertahankan gelar Premier League. City bersama Pep di musim lalu juga mampu mencapai partai puncak Champions League.

Liverpool bergerak bersama Klopp dengan mempertahankan sebagian besar amunisi dan kerangka the winning team-nya musim ini. Meskipun harus kehilangan Wijnaldum dan Shaqiri di awal musim, Klopp tak ambil pusing. Sebagai gantinya Klopp membeli Ibrahima Konate dan Luis Diaz. Konate difungsikan sebagai rotasi posisi Matip di belakang. Sedangkan Luis Diaz sebagai backup dari Salah, Mane, Firmino atau Jota.

Sementara itu, Pep dengan skuad juara musim lalu juga tidak banyak berubah. Skuad Pep bahkan banyak ditinggal pemainnya macam Sergio Aguero, Eric Garcia, dan Ferran Torres. Akan tetapi, Pep masih pede dengan skuadnya, sehingga hanya mendatangkan dua pemain, Jack Grealish yang super mahal itu, dan wonderkid Argentina, Julian Alvarez yang baru bisa bergabung musim depan.

Meskipun tak menambah pemain yang signifikan, Klopp dan Pep sudah punya kerangka dan sistem yang jelas. Perubahan struktur personal pada tim mereka tidak terlalu berpengaruh pada kinerja sistem. Klopp dan Pep masing-masing juga tidak khawatir menjalani musim ini karena senjata di tiap posisi semua dalam keadaan fit.

Pep dan City menjalani awal musim 2021/2022 dengan menerima shock therapy. Mereka terkena sindrom kekalahan pada final Community Shield oleh Leicester dan partai pembuka liga melawan Spurs. Namun setelah itu pasukan Pep bangkit, dan membungkus 7 partai Premier League tanpa kalah sebelum mereka tersandung di rumah sendiri oleh Crystal Palace.

City dan Pep hingga 7 laga sisa Premier League kali ini paling tidak sudah tersandung oleh 4 tim. Spurs, Southampton, Crystal Palace kemudian tentu Liverpool.

Berbeda, Klopp dan The Reds langsung tancap gas sejak awal musim dengan 11 kali pertandingan Premier League tak terkalahkan sebelum takluk atas West Ham.

Klopp dan Liverpool sampai 7 partai tersisa Premier League tercatat sementara hanya mengalami sandungan dari klub macam West Ham, Chelsea, dan Leicester City. Selebihnya mereka tuntaskan dengan baik.

Membahas track record mereka berdua dari persiapan awal musim dan perjalanannya hingga sekarang, Pep dan Klopp tidak serta merta melakukannya dengan santai. Mereka tak jarang beradaptasi dan bereksperimen selama musim berlangsung dari segi alternatif permainan, guna bersaing hingga akhir merebut gelar.

Bagaimana Pep Dan Klopp Bermain

Secara pola dasar acuan permainan City dan Liverpool sebenarnya hampir mirip. Mereka sama-sama menganut sepakbola menyerang dan pressing tinggi. Sama-sama bekerja keras dalam permainan tanpa bola.

Keduanya juga akan berusaha secepat mungkin untuk memenangkan kembali penguasaan bola ketika mereka kehilangannya. Memanfaatkan dan mencegah serangan balik dengan cepat, serta tetap percaya diri dalam mempertahankan pola serangan mereka dalam mengurung lawan.

Yang berbeda dari mereka mungkin dalam gaya dan pendekatan permainan. Liverpool yang memakai pola 4-3-3 milik Klopp, lebih cenderung bermain direct football dan gegenpressing tinggi. Kombinasi crossing akurat dan skill individu penyerangnya menjadi trade mark yang selalu lekat dengan Jurgen Klopp dan jarang diubah. Perubahan yang dilakukan Klopp lebih pada komposisi individu pemain di setiap posisinya.

Sedangkan Pep dengan pola sama 4-3-3, namun berbeda dalam sentuhan penyerangannya. Mereka mengandalkan possession football ala Pep dikombinasikan dengan skill individu pemainnya. Pemanfaatan ruang atau mencari celah kosong dengan kombinasi umpan-umpan pendek menjadi trademark Pep dan City.

Tak jarang juga pola overthinking dari racikan strateginya Pep yang selalu ditunggu tiap matchnya juga menjadi trademark. Seperti contoh tidak memasang gelandang bertahan ataupun tidak menggunakan striker murni.

Rintangan Yang Harus Dilewati Pep Dan Klopp

Terlepas dari bagaimana mereka memainkan permainannya masing-masing sesuai filosofi, mereka pasti dikejar target yakni gelar yang sudah menunggunya di akhir musim. Mau tidak mau dengan kekuatan skuad dan strateginya, mereka harus paling tidak meraih beberapa gelar musim ini baik domestik maupun Eropa.

Akan tetapi, mereka harus melalui beberapa rintangan yang tidak mudah. Dibutuhkan konsistensi dan kebugaran skuad yang stabil hingga akhir musim. Di Premier League sendiri sampai pertandingan ke-31 mereka, Manchester City masih duduk di puncak klasemen dengan 74 poin terpaut 1 poin dari Liverpool di peringkat 2 dengan 73 poin.

Dengan 7 partai tersisa, peluang di atas kertas lebih menguntungkan pasukan Pep ketimbang Klopp. Pasalnya City tercatat hanya bertemu tim-tim medioker macam Wolves, Leeds, Watford, Newcastle, Brighton, Aston Villa dan West ham.

Sementara Klopp dan Liverpool-nya masih akan menghadapi partai melawan Spurs dengan kebangkitannya. Kemudian gengsi Derby Merseyside melawan Everton serta melawan rival bebuyutan MU. Yang lain cenderung bisa dilewati seperti Wolves, Newcastle , Soton maupun Aston Villa.

Sementara di FA Cup mereka akan saling bunuh memperebutkan satu tiket ke final nanti dengan melawan pemenang antara Chelsea vs Crystal Palace. Di Champions League Liverpool yang hampir lolos melawan Benfica di perempat final akan ditunggu di babak semifinal antara pemenang Bayern Munchen vs Villarreal.

Sementara itu, City juga masih berpeluang maju ke babak semi final dengan mengalahkan Atletico Madrid di perempat final dan nantinya akan ditunggu pemenang partai Chelsea vs Real Madrid. Kalau skenario mereka bertemu mungkin akan terjadi nanti di final Champions League.

Ya, pada akhirnya perseteruan yang dimulai dari musim 2018/2019 antara Pep melawan Klopp akan terulang lagi sampai akhir musim 2021/2022 nanti. Siapa yang akan siap secara mental mereka akan menjadi pemenangnya. Kini mereka masih berjuang keras dan hampir mencapai finish. Tinggal menunggu waktu saja siapa yang akhirnya akan tersenyum di akhir musim nanti Pep dan City atau Klopp dan Liverpool?

https://youtu.be/ilcPRFnocac

Sumber Referensi : theathletic, theanalyst, mirror

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru