Pemain Livepool, Alex-Oxlade Chamberlain pernah mengatakan bahwa mencetak gol dari bola rebound adalah keterampilan yang semestinya dimiliki pesepakbola. Itu bahkan menjadi suatu keterampilan yang siapa pun berminat di sepak bola bisa melatihnya.
Lebih lanjut dalam wawancaranya dengan The Athletic, Chamberlain mengatakan salah satu pemain terbaik yang sanggup melakukannya adalah striker Manchester United, Edinson Cavani. Menurutnya, Cavani adalah pemain yang pergerakannya dahsyat. Cavani selalu bergerak mencari ruang di mana bola itu bakal mendarat.
Well, begitulah dalam sepak bola. Kita tidak hanya menyaksikan gol-gol indah tendangan jarak jauh, atau dari situasi bola mati. Namun, gol-gol juga acap kali tercipta dari situasi pantulan. Entah tendangan yang memantul dari mistar maupun buah pantulan yang tidak sempurna dari seorang kiper.
Pernyataan Chamberlain itu benar belaka. Selain karena ia seorang pemain profesional sekaligus top, mencetak gol dari bola rebound memang bisa dilatih. Lalu, bagaimana pemain mencetak gol dari bola rebound?
Daftar Isi
Situasi yang Memungkinkan Bola Rebound
Nah, sebelum kita memulainya dari bagaimana para pemain mencetak gol dari bola rebound, kita ketahui dulu situasi seperti apa yang memungkinkan terjadinya bola rebound. Pertama, tentu saja situasi bola mati atau set piece. Situasi bola mati ini ada beberapa macam.
Namun, yang paling kerap menghasilkan bola rebound adalah korner, tendangan bebas dan penalti. Untuk tendangan bebas dan korner, kita biasanya akan melihat pemain lain yang bukan eksekutornya akan mencari celah di antara para pemain lawan.
Sementara, jika tendangan penalti, biasanya sang pencetak gol rebound adalah si penendangnya itu sendiri. Sebab ialah yang tahu betul bola itu bakal ke mana. Namun, tunggu sebentar. Tidak semua gol bola rebound dari penalti sah.
Dalam Law of The Game, gol dari bola rebound penalti akan sah apabila itu bukan dalam keadaan adu penalti. Sementara itu, ketika adu penalti, pemain tidak boleh menendang bola dari hasil rebound. Entah itu setelah bola mengenai mistar maupun penyelamatan kiper yang tidak beres.
Gol dari rebound melalui penalti di luar adu penalti sering kali terjadi ketika kiper tidak menepis bola ke arah samping, atau tidak menjauhkan bola dari si penendang. Beberapa pemain kerap memanfaatkan kesalahan semacam itu, seperti Lionel Messi dan Andres Iniesta.
Penalti ditepis ? 😱😱😱
Santai 😏😏😏
Hanya Iniesta yang bisa mengkonversikan rebound tendangan penalti menjadi gol dengan sangat COOOLLLLL 😎😎😎 pic.twitter.com/rVbXHsC2w0
— GOAL Indonesia (@GOAL_ID) August 7, 2019
Tembakan yang Bisa Berbuah Rebound
Nah, setelah kita membahas bagaimana situasi yang bisa menciptakan rebound, kemudian tembakan yang seperti apa sih yang menghasilkan bola pantulan? John Muller, seorang penulis kolom The Athletic telah melakukan analisis tentang hal tersebut. Bahwa tembakan yang sering menghasilkan rebound adalah yang berasal dari kaki bagian luar.
Mengapa? Karena penendang yang menggunakan kaki bagian luar lebih memprioritaskan kekuatan, alih-alih penempatan. Hal ini bisa membuat tembakan jadi sulit dikendalikan oleh penjaga gawang.
Jarak juga menjadi penentu tembakan bakal menghasilkan rebound atau tidak. Dari hasil analisis tadi, bola yang dilesatkan dari jarak 15 yard atau 13 meter berpeluang menghasilkan bola rebound. Itu sekitar 25 persen lebih dekat dari tembakan jarak jauh biasa.
Rei Dorwart smashes home the rebound and gives @BayCitiesFC their first ever Open Cup goal against @MontereyBayFC and first ever goal as a club!
1-0 | #USOC2022 pic.twitter.com/Xd49CTsJTy
— U.S. Open Cup (@opencup) April 7, 2022
Tembakan dari jarak lebih dari 15 yard punya kemungkinan meleset lebih tinggi. Penjaga gawang juga bakal lebih mudah untuk mengantisipasi bola dari jarak jauh. Kiper akan lebih siap di posisi yang tepat, dan ia bisa menjatuhkan diri atau bola ke tempat yang aman, atau bahkan bisa menangkap bola dengan gampang.
Berbeda jika tendangan itu dari jarak 15 yard atau jauh lebih dekat. Kiper tidak akan punya waktu untuk berpikir apalagi mengontrol bola dengan baik. Biasanya tembakan dari jarak segitu, kiper menggunakan bagian tubuh seadanya untuk mencegah gol.
Hal itu membuat kemungkinan penyelamatan menjadi kecil. Fakta lainnya adalah tembakan yang berasal dari luar tiang gawang 34% lebih mungkin menghasilkan bola rebound.
Posisi yang Tepat
Demi mencetak gol dari hasil rebound, selain kita mengetahui tembakan bagaimana yang menghasilkan rebound, kita juga mesti tahu posisi yang tepat. Semisal bola itu melesat, kita harusnya berada di posisi mana?
Tempat yang paling ideal untuk menerima bola rebound adalah di dekat titik penalti atau di dalam kotak 6 yard atau 5 meter dari gawang. Ambil contoh yang dilakukan Kevin De Bruyne saat Manchester City mengalahkan Brentford. De Bruyne sudah masuk ke dalam kotak 6 yard, dan ia memanfaatkan bola pantulan dari kiper Brentford yang tidak sempurna.
Artinya, jika kamu siap di posisi situ, maka kamu bisa melakukan tap-in langsung. Pemain Liverpool , Sadio Mane juga menjadi pemain yang kerap berada di posisi 6 yard. Ia sejak 2013/14 sudah mengumpulkan setidaknya 7 gol rebound, dan satu rebound dari titik putih. Tujuh gol rebound-nya menyamai Harry Kane.
Kejar Tembakanmu Sendiri
Pemain yang bakal mencetak gol dari rebound adalah pemain yang menciptakan rebound itu sendiri. Karena untuk mencetak gol dari bola rebound bisa dilakukan dengan mengejar tembakanmu sendiri. Seorang pemain yang melakukan tembakan bisa memperkirakan sendiri ke mana bola tersebut akan memantul.
Terlebih kunci untuk mendapatkan bola rebound adalah berpikir cepat. Salah satu contohnya kita bisa melihat seorang Raheem Sterling. Pemain berjuluk raja gol rebound Liga Premier Inggris sejak 2013/14 itu sudah mencetak 8 gol dari bola rebound. Sterling juga sering mencetak gol dari penaltinya sendiri.
Kita bisa melihat misalnya, ketika Sterling mengambil satu langkah lebih cepat ke depan usai melesatkan tembakan penalti ke gawang Norwich City. Dan boom! Ia bisa mencetak gol dari sana.
Berlari Sebelum Menembak
Cara lain untuk mencetak gol dari rebound adalah dengan berlari sebelum menembak. Ini agak sedikit berbeda dengan berada di tempat yang tepat. Karena pemain baru akan berlari ketika bola ditembakkan. Jadi, si pemain ini sudah memperkirakan bolanya bakal mengarah ke mana.
Hal itu juga terkadang membuat bek lawan kebingungan. Sebab bisa saja pemain yang berlari itu mengincar umpan bukan bola rebound. Nah, Cristiano Ronaldo pernah menciptakan gol dari rebound run semacam ini.
Saat Manchester United menghadapi Newcastle, Ronaldo sudah berlari ke belakang bek lawan ketika Mason Greenwood melakukan pergerakan. Alih-alih memberi umpan, Greenwood justru melepaskan tendangan ke gawang, tapi bola ditepis kiper. Dan di saat itu Ronaldo masuk untuk menceploskan bola ke gawang.
Sayap Kanan Ideal Cetak Gol Rebound
Banyak yang menyangka bahwa pemain tengah adalah pencetak gol rebound terbaik. Iya, itu tidak salah. Tapi fakta lainnya menyebutkan bahwa sayap kanan adalah posisi yang ideal dalam mencetak gol rebound.
Mengapa? Dari 19 posisi outfield dalam data Stats Perform, sayap kanan adalah yang paling mungkin mendapatkan rebound. Bahkan nilainya 5,2 persen dari nilai expected goal (xG) sang pemain.
Maka dari itu, kini Sadio Mane lah yang merajai nilai expected goals dari rebound di Liga Premier Inggris sejak 2013/14, dengan 6,38. Angka itu disusul Harry Kane dan Raheem Sterling dengan masing-masing nilai xG rebound-nya 4,95 dan 4,54. Bagaimana football lovers, tertarik jadi seorang rebounder hebat?
https://youtu.be/yy1cOPc-AP8
Sumber referensi: TheAthletic, TheUKRules, FootballHandbook, ESPN


