Kalah di partai final UEFA Champions League itu sangat menyakitkan. Ibarat sedikit lagi mengangkat Si Kuping Besar, namun ketika mau meraihnya, eh pialanya malah jatuh dan pecah berkeping-keping. Kegagalan di final UCL sering kali sulit bagi setiap pemain maupun pelatih.
Punggawa PSG, Neymar pernah berlinang air mata di Lisbon karena gagal di final UCL. Mauricio Pochettino memilih mengunci diri di kamar selama 10 hari setelah Tottenham kalah atas Liverpool. Sementara, Michael Carrick pernah mengalami depresi ketika Manchester United kalah dari Barcelona di final UCL 2011.
Itu saja sudah menyakitkan. Lalu, bagaimana jika ditambah dengan kegagalan membawa negara meraih trofi Piala Dunia? Pemain-pemain berikut ini punya nasib menyedihkan. Mereka gagal membawa klub meraih titel tertinggi di Eropa, plus tidak berhasil membawa negaranya juara Piala Dunia di tahun yang sama. Siapa saja mereka?
Daftar Isi
Michael Ballack
Gelandang Jerman, Michael Ballack memiliki rekaman terbaiknya selama membela Bayer Leverkusen. Musim 2001/02, Michael Ballack punya segalanya untuk membawa Leverkusen meraih tangga kejayaan.
Namun, nasib dan keinginan memang selalu berseberangan. Ballack tak berhasil membawa trofi-trofi yang banyak penggemar Leverkusen inginkan. Leverkusen kalah dari Schalke di final DFB Pokal tahun 2002.
Selain Schalke yang sukses membunuh harapan Leverkusen untuk meraih gelar DFB Pokal yang keempat, Leverkusen juga gagal di Bundesliga. Giliran Borussia Dortmund yang mengubur dalam-dalam harapan Leverkusen. Die Borussen sukses menjadi kampiun musim itu dengan mengumpulkan 70 poin. Unggul satu poin saja dari Leverkusen.
Bayer Leverkusen have only won 3 trophies in their 116 year history: the 1979 2. Bundesliga North, the 1988 UEFA Cup and the 1993 DFB Pokal
The club famously finished runner up in the Bundesliga, the DFB Pokal AND the Champions League in 2002. Bayern did the same a decade later pic.twitter.com/QzHk1vYK9u
— Bavarian Tweets (@BavarianTweets) July 4, 2020
Kegagalan di kancah domestik sebetulnya bakal terobati di UEFA Champions League. Tahun 2002, Ballack punya kesempatan untuk mempersembahkan satu trofi pelipur lara. Namun, lagi-lagi, Ballack harus “membenturkan kepalanya ke tembok”.
Menyedihkan sekali, di laga final kontra Real Madrid, Bayer Leverkusen harus takluk 2-1. Ballack dan kolega saat itu harus tertunduk lesu gara-gara gol tendangan voli spektakuler yang dicetak Zinedine Zidane.
THREAD: Great Champions League volleys! 🍿⚽️
1⃣ Zinédine Zidane’s iconic effort in 2002 final 🔥@realmadriden | #UCL pic.twitter.com/Uwdswp6N0b
— UEFA Champions League (@ChampionsLeague) March 2, 2021
Kesuraman nasib Ballack di Leverkusen juga ternyata menular ke level Tim Nasional. Pada final Piala Dunia tahun 2002, Jerman yang kala itu bersua Brasil harus mengakui keunggulan Tim Samba. Dengan dua gol kemenangan Brasil diborong Ronaldo.
Thierry Henry
Thierry Henry adalah salah satu pemain moncer hasil polesan Arsene Wenger di Arsenal. Tahun 2006 menjadi tahun keemasan pemain yang sampai 26 Maret 2022 masih menjadi pencetak gol terbanyak Prancis sepanjang masa. Henry tampil gemilang di dua level yang berbeda, klub dan Tim Nasional.
Di level klub, Thierry Henry mampu membawa Arsenal melaju ke partai final UEFA Champions League tahun 2006. Selain pencapaian yang mulus bagi Henry, final itu juga menjadi satu-satunya final Liga Champions untuk Arsenal sepanjang sejarah mereka.
Saat itu pula, The Gunners punya kesempatan berlian untuk menaklukan final dan menjadi kampiun Liga Champions Eropa. Apalagi saat itu, Arsenal masih diperkuat pemain-pemain trengginas, seperti kiper mereka Jens Lehmann.
Sayangnya, yang pasukan Arsene Wenger hadapi di final UCL adalah Barcelona bukan West Bromwich Albion. Tentu Barca bukanlah musuh yang enteng bagi Arsenal yang kala itu termasuk diperhitungkan di Inggris. Dan benar saja, Barcelona bagai wewe gombel yang menggondol trofi UCL dari Arsenal.
Arsenal sebetulnya tidak tampil buruk final itu. Bahkan pasukan Wenger mampu mencetak gol lebih dulu melalui Sol Campbell. Namun, Barca era Rijkaard sedang dalam performa luar biasa. Barca pun menyamakan kedudukan menit 76 melalui Samuel Eto’o. Masuknya Juliano Belletti menjadi petaka, karena dialah yang mengunci kemenangan 2-1 Barca atas Arsenal.
🔙 El 17 de mayo de 2006, el Barcelona de Rijkaard remontaba la final ante el Arsenal de Wenger (2-1 con goles de Eto’o y Belletti en 4 minutos, 76′ y 80′) y lograba la 2° Champions League/Copa de Europa en la historia del club.
.
📹 @UEFA pic.twitter.com/RrrKIR3cPz— Diario Olé (@DiarioOle) May 17, 2020
Tahun 2006 memang menjadi yang menyedihkan buat Henry. Usai gagal mengantarkan Arsenal juara Liga Champions, di tahun yang sama Henry juga harus tertunduk lesu di Stadion Olimpiade Berlin.
Prancis yang kala itu dijagokan untuk menjuarai Piala Dunia justru kalah dari Italia lewat adu penalti. Final yang tidak hanya diingat Henry sebagai masa sulit, tapi juga seluruh penikmat sepak bola. Karena waktu itu, Prancis harus kehilangan Zidane yang dikartu merah akibat menunduk Materazzi dengan kepala plontosnya.
On July 9, 2006, 110 minutes into the World Cup final, Zinedine Zidane was red-carded for headbutting Marco Materazzi.
France lost the penalty shootout to Italy. It was Zidane’s final moment as a player.
(🎥: @FIFAWorldCup)pic.twitter.com/DuWJWV5Inn
— B/R Football (@brfootball) July 9, 2021
Arjen Robben
Tahun 2010 boleh jadi tahun tersial bagi Arjen Robben. Sayap Belanda yang bisa berlari seperti citah itu bernasib nahas di final Liga Champions tahun 2010. Robben yang masuk skuad Bayern Munchen asuhan Louis van Gaal gagal menekuk Inter Milan.
Inter yang tengah naik daun di bawah Jose Mourinho secara mengejutkan melumat Bayern Munchen di Santiago Bernabeu. Tak tanggung-tanggung, Inter menaklukkan Die Roten 2-0 berkat brace Diego Milito yang ia cetak menit 35 dan 70.
On this day ten years ago, Louis Van Gaal’s young Bayern side fell to a 2-0 defeat in the 2010 Champions League final against Jose Mourinho’s Inter. Diego Milito scored both goals to deny an Arjen Robben-inspired Bayern their first-ever treble.
[UEFA via YouTube] pic.twitter.com/UsAGcOZ630
— Bavarian Tweets (@BavarianTweets) May 22, 2020
Kekalahan ini tentu menyakitkan bagi para pemain Bayern Munchen. Mereka untuk kesekian kalinya tak beruntung di final Liga Champions. Bagi Arjen Robben, kekalahan ini makin menyakitkan.
Sebab, selain gagal mengangkat Si Kuping Besar, Robben harus tergeletak lemas di Stadion FNB, Afrika Selatan. Robben dengan kemampuannya membelah pertahanan lawan di sisi sayap berhasil membawa Belanda ke final Piala Dunia 2010.
Namun, skuad Ben van Marwijk mesti menghadapi generasi emas Spanyol besutan Vicente del Bosque. Kedua negara tampil ngotot. Robben melakukan upaya-upaya untuk membongkar pertahanan Spanyol.
España vs Holanda #Robben vs #Casillas
Final de la @FIFAWorldCup del 2010 #Porteros #Atajadas pic.twitter.com/AQU9jnnxxn— Atajadas (@Atajadas1) April 17, 2021
Bahkan beberapa kali ia sanggup menciptakan peluang. Namun, sampai 90 menit tuntas, kedua negara tak kuasa mencetak gol.
Masalah kemudian muncul di babak perpanjangan waktu. Andres Iniesta membuat Belanda tersungkur berkat golnya menit ke-166. Robben pun menutup tahun 2010 dengan kekalahan di dua final penting.
Mark van Bommel
Rekan setim Arjen Robben, Mark van Bommel merasakan kesedihan yang sama. Ia yang menjadi kapten gagal membawa Bayern Munchen juara usai kandas dari Inter 2-0. Lalu, ia juga kurang beruntung di final Piala Dunia.
Padahal tahun 2010 termasuk tahun yang cukup bagus buat Van Bommel. Ia sedang dalam performa terbaiknya. Kala itu, Van Bommel terkenal sebagai gelandang yang atraktif dan sangat klinis.
Van Bommel piawai dalam mengatur tempo permainan. Ia juga punya keterampilan yang sanggup melakukan tekel tanpa pelanggaran. Namun, apa boleh bikin, nasibnya di tahun 2010 memang tak secemerlang kualitasnya.
Besides playing for Barcelona, Current PSV coach Mark Van Bommel has played against two current Barça players, Gerard Pique and Sergio Busquets in the 2010 World Cup Final. pic.twitter.com/3eWGM7BXFF
— Barça Worldwide (@BarcaWorldwide) September 18, 2018
Dejan Lovren
Pilar belakang Timnas Kroasia, Dejan Lovren berada di Kiev, Ukraina untuk mempersembahkan trofi Liga Champions bagi Liverpool tahun 2018. Niatnya sih, seperti itu. Namun, The Reds justru terjungkal dari Real Madrid.
Kedua tim terlibat jual beli serangan. Namun petaka bagi asuhan Klopp muncul setelah Mohamed Salah mengalami cedera setelah mencoba berduel dengan Sergio Ramos pada sekitar menit 25. Adam Lallana pun masuk menggantikan Salah.
Back in 2018, After Sergio Ramos injured Mohamed Salah in UEFA Champion final 🏆:Zlatan Ibrahimovic on Twitter “If Ramos fouled me like that he would be in a Coma at the hospital”.Sergio Ramos replied “That will never happen because you will never play a Champions League Final” pic.twitter.com/1yqoGNy1PI
— Ndonga In SA (@Nkoxokhubulani) February 27, 2022
Merasa unggul di lini serang, Real Madrid makin gila-gilaan menghancurkan Liverpool. Apalagi saat itu yang berada di bawah mistar The Kop adalah Loris Karius. Gol pertama pun tercipta menit 51 dari aksi Karim Benzema. Empat menit berselang Mane sukses menyamakan kedudukan.
Real Madrid tak menghentikan laju serangannya. Beberapa kali pertahanan Lovren CS tembus. Dan benar saja, menit 64 Gareth Bale membawa Los Blancos unggul. Pada menit 83 Bale menggandakan golnya dan mengunci kemenangan Real Madrid 3-1 atas Liverpool.
Dua bulan setelah kekalahan tragis itu, Lovren berada di Luzhniki Stadium, Rusia untuk mengambil kesempatan membawa Kroasia juara Piala Dunia 2018. Lawannya di final Liga Champions, Luka Modric kini berada satu tim dengan Lovren dan menjadi kapten Kroasia kala itu.
Lovren tentu bertekad untuk membawa Kroasia juara. Karena barangkali cuma itulah kesempatannya. Akan tetapi, sungguh menyedihkan, Dejan Lovren gagal membawa Kroasia menang atas Prancis.
Kala itu Les Blues menang 4-2 atas Kroasia. Semua punggawa Kroasia bersedih, termasuk tentu saja Lovren. Kali ini ia benar-benar sulit menyembunyikan rasa sedihnya usai gagal di dua final penting.
https://youtu.be/6ZxlSeTMn3A
Sumber referensi: technosports.com, 90min.com, theguardian.com, thesefootballtimes.co


