Dalam situasi perang, seseorang akan sulit mengelak dari segala bentuk hal-hal yang merugikan. Semua yang berkaitan dengan musuh bakal dibabat habis. Tak ada satu pun celah untuk memberikan kesempatan pada sesiapa yang berkaitan dengan musuh. Ancaman sudah pasti mengemuka.
Terlebih ketika seseorang justru sedang berada di wilayah musuh. Begitulah Roman Abramovich. Seberapa kuat ia menghindar dan menampik hubungannya dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, tetap saja tak bisa membuatnya lepas dari sanksi.
Betapapun Abramovich mencoba, kecurigaan ia membeli Chelsea atas perintah Putin, tak sanggup ia bendung. Hasilnya, Abramovich dan beberapa konglomerat Rusia yang berinvestasi di Inggris mesti menanggung akibatnya. Aset Abramovich dibekukan. Ia tak boleh berhubungan bisnis dengan orang lain.
Chelsea owner Roman Abramovich has been officially sanctioned. All UK assets frozen: sale of the club on hold. No merchandise or ticket sale allowed. 🚨 #CFC
Statement also reports that “new contracts, player transfers or merchandise sales for Chelsea have been prohibited”. pic.twitter.com/UYX7NaMO1f
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) March 10, 2022
Sungguh, situasi semacam itu, bagi seorang pebisnis menjadi sangat menyebalkan. Coba bayangkan saja, Abramovich yang sudah punya rencana untuk menjual salah satu asetnya, Chelsea, justru dibekukan oleh Inggris. Dengan begitu taipan Rusia ini tak mendapat sepeser pun.
Padahal Abramovich bukan sekadar taipan yang rakus. Sejak membeli Chelsea tahun 2003, Abramovich memberikan jasa-jasa tak terkira untuk sepak bola Inggris, bahkan, jauh lebih luas bagi Inggris itu sendiri.
Daftar Isi
Akomodasi Bagi Tenaga Medis
Inggris, sama seperti Indonesia dan ratusan negara di dunia juga mengalami fase menyedihkan gara-gara pandemi. Negara mana pun tentu saja akan kelimpungan. Di saat-saat itulah sosok penyelamat dibutuhkan.
Dan sosok penyelamat itu adalah petugas medis. Tapi, petugas medis saja belum cukup. Mereka masih membutuhkan segala fasilitas, termasuk akomodasi dan pelayanan kesehatan lainnya.
Roman Abramovich, dengan segala kekayaannya, mengisi ruang untuk itu. Menggunakan Chelsea, Abramovich menyediakan akomodasi bagi para tenaga medis di Inggris.
Hotel Copthorne ia bangun di sekitar Stamford Bridge. Hotel tersebut sengaja dibangun khusus bagi tenaga medis yang sudah bekerja berjam-jam. Abramovich tak hanya mendirikan tempat istirahat yang layak.
OFFICIAL: #Chelsea owner Roman Abramovich will again be covering the costs of providing the accommodation, which includes bed and breakfast, in the Copthorne Hotel.
[via @ChelseaFC] pic.twitter.com/gmXhGAns9E
— Absolute Chelsea (@AbsoluteChelsea) January 7, 2021
Konglomerat berperawakan dingin itu juga menyediakan segalanya yang dibutuhkan di hotel tersebut, termasuk tentu saja sarapan. Ia melakukannya pada Januari 2021, dan menanggung semua biaya sampai pemerintah setempat melakukan peninjauan pada Februari 2021.
Mengikhlaskan Uangnya
Seorang pengusaha acap kali tak mau kehilangan sedikit pun uang yang mereka investasikan. Kalau bisa bahkan jumlahnya berkali-kali lipat bertambah. Namun, Abramovich tidak.
Sepertinya, ia termasuk orang yang memegang teguh bahwa harta tidak akan dibawa mati. Abramovich sudah mengikhlaskan uang yang ia pinjamkan pada Chelsea. Mengingat sanksi yang jatuh padanya mengharuskan untuk itu.
Padahal jumlah uang yang ia berikan untuk Chelsea sangatlah banyak. Setidaknya berkali-kali lipat lebih banyak dari bunga pinjol dengan tenor lima tahun. Chelsea tidak perlu mengembalikan 1,5 miliar poundsterling atau Rp28 triliun lebih uang yang mereka pinjam dari Abramovich.
Ingin Jual Chelsea untuk Korban Ukraina
Sebelum asetnya dibekukan, Abramovich sebetulnya punya niatan yang adiluhung. Kabarnya ia hendak menjual Chelsea dengan harga 3 miliar poundsterling atau Rp56 triliun lebih. Dan hasil penjualan itu, menurut laporan France24, akan diberikan ke seluruh korban perang di Ukraina.
Yup, benar. Kuping kamu nggak salah dengar. Abramovich akan memberikan keuntungan bersih dari penjualan Chelsea kepada korban di Ukraina. Beberapa konglomerat raksasa, dari Swiss sampai Turki sudah menunjukkan ketertarikannya untuk membeli Chelsea.
Daily Mail bahkan melaporkan bahwa Abramovich sudah meminta stafnya untuk mendirikan sebuah yayasan. Yayasan tersebut nantinya akan menjadi penyalur dana hasil penjualan Chelsea ke korban perang di Ukraina.
Namun, baru juga para konglomerat menyatakan tertarik membeli Chelsea, eh asetnya malah dibekukan. Hal itu tentu saja merugikan bagi Abramovich. Sebab kalaupun betul terjual, Abramovich tidak mendapat apa-apa.
Lagi pula rencana Abramovich itu sudah terlanjur dicibir. Menteri Keamanan Inggris, Damian Hinds yang muncul di Good Morning Britain adalah sosok yang meragukan Abramovich itu.
Stamford Bridge Jadi Pusat Vaksinasi
Tatkala pemerintah Inggris melaksanakan vaksinasi, naluri kemanusiaan Abramovich tergerak. Antusiasme warga London untuk melakukan vaksinasi jelang Natal 2021 tinggi. Hal itu membuat Abramovich akhirnya membuka Stamford Bridge untuk pusat vaksinasi.
Dengan Wembley Stadium, dan beberapa stadion lainnya di London, Stamford Bridge turut menjadi tempat warga London untuk mendapatkan vaksin. Entah dosis pertama, kedua, maupun booster. Mengutip Evening Standard, pelayanan vaksinasi dibuka dari jam 10 pagi sampai 6 sore. Dan disediakan sampai 10 ribu suntikan.
Stamford Bridge Vaccination Centre this morning! 👏💉 @ChelseaFC pic.twitter.com/xWz9ZPKZxZ
— Robert Błaszczak (@RobertBlaszczak) June 19, 2021
Bukan sekadar menyediakan ruang. Chelsea juga turut menginformasikan mengenai vaksinasi yang bakal digelar di Stamford Bridge melalui website resmi mereka. Hal itu sudah dilakukan bukan saat itu saja, tapi yang sebelumnya, vaksinasi yang terselenggara oleh Chelsea juga sukses.
Membangun Chelsea
Abramovich tidak hanya berperan di kesehatan dan punya rencana mendirikan yayasan amal untuk korban perang, tapi ia dikenal luas sebagai sosok yang membangun Chelsea. Ia adalah tonggak awal kebangkitan The Blues.
Roman Abramovich membeli Chelsea dari Ken Bates seharga 140 juta pounds atau sekira Rp2,6 triliun kurs sekarang. Bukan hanya itu, ia juga menghabiskan tak sedikit fulus untuk membawa apa yang diinginkan penggemar.
Uang itu ia gelontorkan untuk membangun fasilitas, membayar pemain, dan mendatangkan manajer top. Titik awalnya adalah ketika Abramovich membangun generasi mengesankan Chelsea.
Dengan Jose Mourinho sebagai manajer. John Terry, Frank Lampard, sampai Didier Drogba sebagai bintangnya. Yang pada akhirnya dikenal sebagai tim ikonik di Liga Inggris. Abramovich, sampai hari ini, bahkan membawa Chelsea menjadi tim yang perkasa.
Tim yang meraih kesuksesan di kancah domestik maupun Eropa. Dengan 5 trofi Liga Inggris, 5 gelar FA Cup, satu trofi Piala Super Eropa, dan 2 mahkota Liga Champions Eropa sudah cukup membuktikan bahwa Abramovich bukanlah taipan yang grusa-grusu membangun tim. Ia sangat cerdas dan tentu saja, visioner.
5 League titles
2 UCL + 3 more European trophies
1 club World Cup trophy
+ 10 more trophiesFirst ever club Ballon D’or winners
Turned Cobham into the best academy in the world
Created the best WSL women’s team
Mr Chelsea
Thank you Roman Abramovich 💙 pic.twitter.com/ACoN5VpX2m— Adzinho ⭐️⭐️ (@adzzCFC) March 2, 2022
Sayang sekali. Apa yang sudah ia lakukan. Jasa-jasanya seolah tidak berarti begitu saja. Roman Abramovich tetaplah seorang konglomerat asal Rusia. Ia bahkan sudah dicurigai sejak pertama kali membeli Chelsea.
Apalagi saat membeli aset The Blues, Roman Abramovich adalah seorang gubernur Chukotka, di Rusia. Hal itu membuatnya disinyalir memiliki kedekatan erat dengan Vladimir Putin.
Jasa-jasanya bagi Chelsea, atau Inggris secara lebih luas tiada artinya ketika rudal Rusia melesat ke Ukraina. Harta tak bisa menghentikan serangan itu. Harta juga tak sanggup mengganti darah yang sudah membanjir di sekitar Kyiv, Donetsk, dan beberapa kota lainnya.
Sumber referensi: dailymail.co.uk, premierleague.com, irishtimes.com, france24.com, standard.co.uk, chelseafc.com


