Invasi Rusia terhadap Ukraina berdampak pada urusan sepak bola. Termasuk pelarangan hal-hal yang berbau Rusia di sepak bola. Sang Pemilik Chelsea, Roman Abramovich yang berasal dari Rusia juga tak luput terdampak.
Ia baru-baru ini melepas kepengurusan dalam tubuh Chelsea terkait imbas invasi. Hal ini banyak memunculkan spekulasi apa yang akan terjadi kedepannya terhadap tubuh The Blues.
Terlepas dari itu, bagi Chelsea, sejak kepemilikan Roman Abramovich adalah berkah tersendiri. Sebab hal ini tentu menjadi dasar bagi Chelsea selama ini, menikmati apa yang pernah dilakukan sang bos dalam perkembangan sepakbola klub London Barat tersebut.
Roman Abramovich will receive bids to buy Chelsea this week and will consider selling the club for the first time since becoming owner in 2003, per @Matt_Law_DT pic.twitter.com/wcfxTYrYOd
— B/R Football (@brfootball) March 1, 2022
Daftar Isi
Membeli Chelsea 2003
Datang ke London pada tahun 2003 dengan latar belakang bisnis yang berkembang di bawah pemerintahan Vladimir Putin, Roman Abramovich dengan cepat muncul sebagai salah satu orang terkaya di Rusia ketika itu.
Roman memutuskan untuk berinvestasi dalam bidang olahraga. Ia memutuskan untuk merogoh koceknya pada tahun 2003 untuk berinvestasi di klub Chelsea. Meskipun saat itu ditawari klub besar lain seperti Manchester United maupun Tottenham.
Ada banyak alasan yang mempengaruhi Roman dalam keputusannya membeli Chelsea. Selain sebelumnya ia sudah memiliki tempat tinggal di London, hutang Chelsea yang menggunung ketika itu membuat Chelsea ditawarkan dengan harga saham yang murah.
Chelsea bersedia untuk menjual seluruh sahamnya kepada Roman. Dan kesepakatan pun terjadi antara kedua belah pihak pada bulan Juni 2003. Awalnya Roman membeli saham 50% Chelsea dengan harga 30 juta pound atau Rp 574 miliar sebelum akhirnya menyelesaikan pengambilalihan penuh dengan total harga 140 juta pound atau Rp 2 triliun.
Di luar Chelsea, sebenarnya Roman juga berminat terhadap klub London lainnya yakni Spurs. Namun kesepakatan antara Roman dan Tottenham pada saat itu mengalami kegagalan. Karena Daniel Levy sang pemilik Tottenham hanya bersedia menjual 30% saham milik Tottenham.
Sejak kedatangan Roman Abramovich di Chelsea beberapa sektor yang amburadul perlahan mulai dibenahi, termasuk fasilitas, infrastruktur maupun jaringan bisnis.
Russian billionaire Roman Abramovich was said to have built his fortune in oil following the collapse of the Soviet Union in the 1990s and bought Chelsea in 2003.#RussiaUkraineConflict https://t.co/RhZsCKggL9
— Sports Brief (@sportsbriefcom) February 26, 2022
Membangun Fasilitas Dan Pasar Bisnis
Sejak pengambilalihan Abramovich, Chelsea telah meningkatkan beberapa fasilitas termasuk tempat latihan mereka. Tempat latihan Chelsea, Cobham, adalah tempat semua pemain tim utama dan tim cadangan berlatih selama kompetisi.
Cobham berkembang perlahan dengan baik, semakin baik fasilitasnya, semakin baik pula konsep pelatihannya. Tak jarang para pemain muda yang menjadi tulang punggung Chelsea lahir berkat berkembangnya fasilitas ini.
Made in Cobham. #CFC #Chelsea
📷 via @calcioinglese
👏👏👏👏👏👏👏👏 pic.twitter.com/t4SwsEgLEj— Angelo Mangiante (@angelomangiante) September 7, 2021
Selain itu, Roman membangun sebuah museum Chelsea agar para penggemar bisa bernostalgia, atau bagi siapa saja orang awam yang ingin tahu lebih banyak tentang Chelsea. Hal ini sepertinya remeh, tapi secara tidak langsung ini berguna untuk meningkatkan citra Chelsea sebagai calon klub besar di mata dunia dan juga sekaligus meningkatkan sumber daya pendapatan klub.
Setiap klub besar mesti memiliki basis penggemar fanatik di beberapa negara. Kemampuan untuk menjangkau massa penggemar sepak bola di seluruh dunia penting bagi Chelsea. Hal itulah yang dikerjakan Roman Abramovich dengan timnya guna mengenalkan Chelsea ke pasar global.
Selang dua atau tiga tahun sejak kedatangan Roman ke Chelsea, jumlah penggemar Chelsea di negara-negara Asia seperti Cina, Korea, Jepang dan juga di benua Amerika telah meningkat secara drastis, dan ini bukan kebetulan tetapi digarap secara serius oleh pemilik.
Kemudian Abramovich mengembangkan strategi pemasaran global lainnya seperti tur pramusim di Asia dan Amerika, maupun membuat Official Megastore atau tempat menjual Merchandise Chelsea di seluruh dunia.
Kerja keras sang pemilik Roman Abramovich dan tim Public Relation serta pakar pemasarannya, telah membantu Chelsea tumbuh menjadi lebih dari sekadar klub sepak bola, dan perlahan sudah menjadi merek yang mendunia.
Fasilitas dan jaringan bisnis yang oke belum apa-apa jika Chelsea tidak berprestasi. Maka dari itu, mendatangkan pemain bintang untuk mendongkrak prestasi adalah prioritas Abramovich.
Membajak Peter Kenyon
Membawa dan meyakinkan pemain bintang untuk bermain di sebuah tim memang tak mudah. Butuh sosok yang bisa dipercaya untuk menangani itu. Dalam hal ini Roman membajak seorang mantan kepala eksekutif yang sukses bersama Manchester United, Peter Kenyon.
8th Sept 2003:
Man Utd chief executive Peter Kenyon moved to Chelsea on this day 18 years ago.#ChelseaFC #CFC Football Fan Retro Birthday or Christmas Gift Idea #CHEAVL pic.twitter.com/IHD3gYtLSg— Historic Gifts (@CoinGifts) September 8, 2021
Kenyon dipercaya Roman untuk mengepalai operasi pembangunan di tubuh Chelsea dalam segala bidang. Kenyon juga dipercaya sebagai orang yang memiliki tanggung jawab besar terhadap transfer-transfer yang dilakukan Chelsea.
Kenyon berperan penting dalam kedatangan Jose Mourinho yang menggantikan Claudio Ranieri pada tahun 2004. Kenyon juga yang meyakinkan produsen perlengkapan olahraga seperti Adidas dan Samsung bergabung di Chelsea. Bagi The Blues, hal ini merupakan keuntungan finansial yang sangat besar bagi perkembangan klub kedepannya.
Those were the times! Roman Abramovich, Jose Mourinho and Peter Kenyon in 2004. pic.twitter.com/PENs6GMg6j
— Rajesh Yegnaraman (@rajesh_ny) April 30, 2013
Transfer Awal Chelsea Dibawah Roman Abramovich
Peter kenyon selain membawa juru taktik handal dari Porto, Jose Mourinho juga beroperasi pada bursa transfer dengan cerdik. Beberapa nama bintang akhirnya mau bergabung dengan Chelsea.
Pembelian pertamanya yakni seorang remaja bek kanan Inggris bernama Glen Johnson, diambil dari rival London lainnya, West Ham, bersama rekan setimnya Joe Cole. Kemudian pemain serba bisa asal Kamerun, Geremi tiba dari Real Madrid. Lalu, kedatangan sayap eksplosif Damien Duff dari Blackburn Rovers dan Gelandang Scott Parker dari Charlton Athletic.
ON THIS TRANSFER DAY: In 2003, Chelsea unveiled five new signings:
• Marco Ambrosio
• Wayne Bridge
• Glen Johnson
• Damien Duff
• Geremi— Squawka Football (@Squawka) August 1, 2017
Pemain lain yang datang yakni Wayne Bridge yang dibeli dari Southampton, ada juga Juan Veron dan Hernan Crespo, dua bintang Argentina yang direkrut dari MU dan Inter Milan. Lalu, jangkar kunci Real Madrid asal Prancis, Claude Makelele dan bintang Rumania Adrian Mutu yang dibeli dari Parma. Para pemain baru Chelsea tersebut akan bergabung bersama pemain lama seperti William Gallas, Frank Lampard maupun John Terry.
Operasi transfer awal Chelsea di bawah sang pemilik Abramovich dinilai sebagai salah satu hal yang mencengangkan di publik Inggris, mengingat Chelsea belum pernah melakukan operasi transfer sebanyak itu dan hampir mengeluarkan total uang sebanyak 121 juta pound Rp 2,3 triliun
Kiprah Chelsea sebagai klub yang berisikan para pemain bintang pun mulai terasa dampaknya ketika berbanding lurus dengan prestasi yang dicapai. Bagaimanapun Chelsea ketika di musim 2003/2004 sudah mulai diperhatikan dunia sebagai salah satu klub besar berkat tangan sang pemilik baru Roman Abramovich.
Prestasi Awal Chelsea Dibawah Roman Abramovich
Dari segi prestasi, sepertinya kedatangan Abramovich menunjukan perkembangan yang sangat positif. Perkembangan itu terlihat ketika Chelsea yang masih ditangani pelatih Claudio Ranieri bisa finish sebagai runner up Premier League pada musim 2003/2004 di bawah sang juara, Arsenal usai di musim sebelumnya hanya berada di posisi empat klasemen.
Di musim yang sama, ketika Chelsea berkiprah di Champions League, mereka mampu melaju hingga ke babak semifinal dan harus mengakui keunggulan AS Monaco ketika itu.
#UCL Solo hay un antecedente de una semifinal entre ingleses y franceses por la Champions League.
Fue en la temporada 2003/2004: Monaco eliminó a Chelsea con global de 5-3. pic.twitter.com/gChpdWys5a
— Habla Deportes (@HablaDeportes) May 4, 2021
Peningkatan prestasi yang sejatinya belum memuaskan sang pemilik ini tentu menjadi evaluasi di tahun berikutnya. Benar saja di musim berikutnya 2004/2005 akhirnya Chelsea dengan sederet bintang baru yang datang dan racikan pelatih baru Jose Mourinho mampu berbuah gelar juara Premier League yang sudah lama diidam-idamkan publik Stamford Bridge.
Liverpool have now conceded as many Premier League goals this season as Chelsea did during the entire 2004/05 campaign (15).
THAT RECORD WILL NEVER BE BROKEN.
EVER. pic.twitter.com/tGBQ6Y0vZp
— Uber Chelsea FC ⭐️⭐️ (@UberCheIseaFC) January 23, 2020
Beberapa kesuksesan di tahun-tahun berikutnya termasuk juara Champions League tidak luput berkat tangan dingin sang pemilik. Rasa terima kasih yang amat banyak harusnya sekarang diucapkan seluruh fans The Blues di seluruh belahan dunia terhadap jasa Roman Abramovich. Terlepas dari keterlibatannya pada kasus invasi Rusia dan mundurnya dia dari kepengurusan Chelsea.
https://youtu.be/ehg3UEV2j20
Sumber Referensi : thesportrush, dailystar, bleacherreport


