Orang bilang sepak bola adalah olahraga sejagad. Namun, kenyataannya tidak begitu. Kualitas sepak bola di masing-masing negara di dunia nyatanya tidak merata.
Bahkan di skala benua saja kualitas sepak bolanya sangatlah timpang. Kita tahu bahwa Benua Eropa menjadi yang nomor satu, kemudian Benua Amerika Latin, sampai Afrika.
Bagaimana dengan Asia? Yup, benar sekali. Sepak bola di Asia acap kali dipandang sebelah mata. Asia masyhur sebagai benua yang tidak bisa bermain bola. Bahkan kualitasnya masih di bawah Benua Afrika. Mengapa demikian?
Daftar Isi
Prestasi yang Tidak Mentereng di Piala Dunia
Hal pertama yang membuat Benua Asia begitu tertinggal, dan justru dipandang sebelah mata adalah karena prestasinya yang tidak bagus di ajang Piala Dunia. Kita tentu tahu bahwa Piala Dunia merupakan pembuktian bagi negara-negara di seluruh dunia dalam kancah sepak bola. Prestisenya hampir sama dengan Olimpiade.
Bagi negara yang jarang tampil, atau bahkan tak pernah mencicipi Piala Dunia modern tentu akan dianggap ketinggalan di dunia sepak bola. Kita lihat saja bagaimana tertinggalnya sepak bola Indonesia.
Namun, dampaknya itu bukan hanya bagi negaranya sendiri, tapi juga para pemain. Pemain-pemain dari satu negara itu jadi nggak terkenal. Nah, lebih luasnya lagi dampaknya justru benua yang ditinggali suatu negara dipandang sebelah mata.
Kita tinggalkan dulu Indonesia. Karena negara-negara di Asia sendiri memang lebih sering menjadi penonton sepak bola. Alih-alih berpartisipasi dan berprestasi terutama di Piala Dunia.
Negara-negara di Asia memang jarang sekali punya prestasi mengilap di Piala Dunia. Ya, kecuali ada satu, Korea Selatan yang sukses mencapai semifinal Piala Dunia 2002. Sisanya? Hanya lebih banyak berperan dalam hak siar doang.
Minim Program Jangka Panjang dan Sistem Kacau
Kunci sukses dalam sepak bola adalah program jangka panjang. Nah, Eropa dan Amerika Latin, bahkan Afrika sudah memulainya. Sementara, Asia kendati sudah ada yang memulai, tapi masih sedikit. Ibarat kata Asia baru melangkah sekali, dan benua lain sudah melangkah puluhan kali.
Itu tidak mengada-ada. Manajer asal Inggris yang sudah khatam sepak bola Asia, Steve Darby mengakui hal itu. Secara umum negara-negara di Asia masih belum memiliki program jangka panjang.
Baginya, satu-satunya negara Asia yang memiliki program jangka panjang yang bagus hanyalah Jepang. Negara-negara seperti Laos, Sri Lanka, Filipina, dan lainnya masih sulit menerapkan program jangka panjang.
Selain itu sistem sepak bola di Asia juga masih terbilang buruk. Mantan Pelatih Iran, Carlos Queiroz terang-terangan menyebut bahwa Benua Asia masih memiliki sistem sepak bola, dari kompetisi sampai federasi yang tertinggal dari Benua Eropa dan Amerika Latin.
Apakah Karena Orang Asia Bertubuh Mungil?
Sepak bola Asia dipandang sebelah mata juga karena orang-orang di Asia banyak yang bertubuh mungil. Tapi, apa itu benar? Dalam dunia olahraga, apa pun cabangnya, fisik memang sesuatu yang krusial.
Hal itu jelas tidak dapat ditampik. Namun, khusus untuk sepak bola, soal fisik seperti tinggi badan, jelas tidak sepenuhnya menjadi penentu. Kita toh melihat betapa Messi dengan tubuh mungilnya justru langganan Ballon d’Or.
Kita juga bisa melihat sosok Son Heung-Min yang meski tubuhnya tidak tinggi, tapi kecepatan larinya bikin bek lawan kesulitan. Dan sampai sekarang masih diandalkan Tottenham Hotspur. Jadi, ukuran tinggi badan bukanlah faktor utama kenapa sepak bola Asia dipandang sebelah mata.
Kekurangan Nutrisi
Nah, persoalannya justru bukan pada tinggi badan. Tapi mampukah fisik para pemain Asia sanggup bertahan selama 90 menit?
Studi yang dikutip Unreserved menunjukkan bahwa asupan mikro dan makro nutrien pada 1000 hari umur seseorang, dari pembuahan sampai usia dua tahun, dapat membentuk perkembangan fisik dan mental seseorang. Ironisnya, tak semua orang di dunia mendapat nutrisi yang penuh.
Dalam studi itu juga menunjukkan kalau dua pertiga dari anak-anak yang lahir “kerdil” di dunia dan kekurangan gizi tinggal di Benua Asia. Jadi wajar sepertinya kalau pemain dari Asia gampang capek.
Tidak Ada Sosok yang Berpengaruh
Sepak bola Asia dipandang sebelah mata karena tidak menghasilkan sosok yang berpengaruh di dunia sepak bola. Soal pelatih, negara dan klub-klub di Asia masih banyak yang bergantung pada pelatih dari Eropa maupun Amerika Latin.
Asia tak memiliki sosok pelatih yang mampu memberi warna di dunia sepak bola, seperti misalnya Marcelo Bielsa, pelatih asal Amerika Latin yang mampu mendobrak persepakbolaan di dunia. Atau Jesse Marsch yang menjadi sosok penting dalam revolusi taktik sepak bola dari Amerika Serikat.
Begitu pula para pemain. Asia minim menghasilkan pemain yang berpengaruh di dunia sepak bola. Kebanyakan tenar karena menjadi legenda dari satu klub ternama, misalnya Park Ji-Sung dan Hidetoshi Nakata. Pun yang tenar karena rekornya saja, seperti Ali Daei itu pun sudah dipecahkan pemain Eropa.
Sedangkan di benua lain, misalnya Afrika, banyak lahir pemain yang berpengaruh di dunia sepak bola, terutama untuk mengangkat nama baik negara serta benuanya. Seperti Samuel Eto’o, Didier Drogba, sampai yang teranyar Mohamed Salah dan Sadio Mane.
Pebisnis Asia Malah Investasi Keluar
Pengucilan Benua Asia di kancah sepak bola makin kentara karena para pebisnis Asia justru berinvestasi ke klub luar. Banyak klub-klub Eropa justru kini dikuasai oleh pebisnis asal Asia.
Misalnya, PSG dengan Nasir Al-Khelaifi; Sheikh Mansour yang mengakuisisi Manchester City; Pangeran Arab di Newcastle United; Suning Grup yang menguasai Inter; sampai Guo Guangchang pemilik Wolverhampton.
Tampaknya benua lain seperti Eropa sudah mulai memikirkan soal investasi ini. Sepak bola di Eropa sudah bukan lagi sekadar euforia mendapat piala atau olahraga pengisi waktu luang, tapi juga lahan untuk berbisnis.
Sementara, Benua Asia belum sepenuhnya mengarah ke situ. Padahal jika para investor kelas wahid itu lebih suka berinvestasi ke klub-klub di Asia, mungkin ceritanya bakal lain.
Minim Mentalitas
Sulit mengatakan kalau sepak bola Asia itu minim mentalitas. Tapi, kenyataanya memang demikian. Hal itu tampaknya berkaitan dengan laku budaya di Asia yang lebih sering nrimo ing pandum.
Belum lagi, orang-orang di Asia punya sisi individualistik yang tinggi. Itu yang membuat mentalitas bermain sepak bola yang notabene membutuhkan kerja sama tim, sulit terbentuk. Kebudayaan di Asia juga selalu menempatkan sosok pecundang.
Maksudnya, setiap orang yang gagal pasti akan diejek. Itu sampai memunculkan mental penakut dari orang-orang di Asia. Dan ini sangat sulit dipraktikkan dalam dunia sepak bola. Belum apa-apa sudah takut duluan, belum apa-apa sudah minder duluan.
Sumber referensi: unreservedmedia.com, kumparan.com, ligalaga.id


