Brighton and Hove Albion kini berada di peringkat kesembilan Premier League. Mengungguli Southampton, Aston Villa, Leicester City, Leeds United, sampai Everton. Dan hanya kalah enam poin dari Tottenham Hotspur yang berada di atasnya.
Brighton tampak begitu digdaya daripada klub-klub lain yang acap kali menghuni 10 besar Premier League. Akan tetapi, perjalanan mereka tak seindah dan semudah apa yang dibayangkan banyak orang. Kepingan nasib moncer Brighton hari ini terbentuk dari patah hati para penggemar dan kerja keras yang melebihi apa pun.
Kita bisa melihatnya dengan mundur 25 tahun lalu. Di saat-saat Brighton mencapai fase terendah, karena nyaris saja dilupakan andai terdegradasi ke divisi non-liga. Gol bunuh diri punggawanya sendiri, Kerry Mayo nyaris membawa Brighton ke kompetisi non-liga, dan membuat klub itu nyaris punah.
Untungnya, tendangan voli Craig Maskell memantul ke rekannya sendiri, Robbie Reinelt. Dan Reinelt pun langsung menyontek bola ke gawang Hereford. Hasil imbang 1-1 kontra Hereford sudah cukup untuk mempertahankan Brighton di EFL League Two kala itu.
Pertandingan itu selain menjadi yang paling bersejarah bagi klub, juga mengakhiri penderitaan Brighton and Hove Albion. Sebab sebelum itu, para penggemar Brighton harus mengalami hal-hal yang sama sekali tak mereka inginkan.
Daftar Isi
Penjualan Goldstone Ground
The Seagulls yang sudah menghuni selama 95 tahun di Goldstone Ground harus diusir oleh pemiliknya sendiri. Brighton terpaksa meninggalkan Goldstone pada akhir musim 1995/96. Alasannya, karena sang pemilik sudah menjual markas kebanggaan The Seagulls tersebut.
Penyebabnya sudah pasti kekurangan dana. Brighton memang sanggup mencapai final Piala FA tahun 1983. Namun, 12 tahun kemudian Si Burung Camar termakan ombak dan akhirnya karam. Masalah finansial pun sulit dihindari.
Penjualan Goldstone seperti petir di siang bolong bagi para penggemar. Sebab berita penjualan stadion itu datang seketika. Tentu saja hal ini membuat penggemar naik pitam.
Tidak bisa tidak, protes adalah jalan keluar untuk menghancurkan rezim Brighton kala itu. Banyak pendukung yang tak senang dengan pemilik Brighton, Bill Archer dan kepala eksekutif, David Belloti.
Desir kemarahan para fans kepada pemilik makin terasa ketika klausul yang mencegah pemegang saham mengambil keuntungan dari penjualan aset jika klub gulung tikar dicabut. Mengutip FourFourTwo, dari pengakuan salah satu fans, Paul Samrah, ia bersama beberapa rekannya sampai membentuk Asosiasi Pendukung Independen Brighton.
Gelombang protes makin besar. Apalagi klub malah terdegradasi ke tingkat empat. Brighton harus kalah dari York FC di musim 1995/96 yang sekaligus menjadi laga terakhir mereka berlaga di Goldstone.
ON THIS DAY 1997: Brighton & Hove Albion played their last game at the Goldstone Ground #BHAFC pic.twitter.com/zStYH8l5QT
— FootballAwaydays (@Awaydays23) April 26, 2020
Saat itu juga seluruh pendukung Brighton tumpah ke lapangan. Mereka melayangkan protes di depan gedung direktur. Bahkan sampai mematahkan mistar gawang. Menurut pengakuan salah satu fans, jumlah yang melakukan aksi itu mencapai seribu lebih penggemar.
Brighton pun harus menanggung akibat dari kerusuhan yang dibuat ribuan penggemarnya itu. Brighton mendapat hukuman pengurangan tiga poin. Dan alangkah lucunya, karena ternyata laga yang berbuah kerusuhan itu bukan laga terakhir Brighton di markasnya.
Brighton & Hove Albion fans took to the pitch in April 1996 to protest against REALLY bad ownership. The club got 2pts deducted. #bhafc pic.twitter.com/EquqTpjSbC
— Warren Chrismas (@WarrenChrismas) May 2, 2021
Brighton diberi kesempatan untuk memainkan laga kandang di Goldstone pada semusim berikutnya. Akan tetapi, tampaknya pada musim 1996/97, penggemar Brighton masih memendam kemarahannya. Para penggemar saat itu memblokade jalan dan bahkan sampai memboikot beberapa pertandingan.
Sementara, Brighton makin terpuruk di divisi terendah. Mereka harus berjuang keluar dari zona degradasi. Namun, kerusuhan saat menghadapi Lincoln justru membuat FA mengurangi poin Brighton, dan membuat The Seagulls terpaut 11 poin dari zona aman.
Brighton pun sepertinya sulit menghindar dari degradasi ke non-liga. Tapi kedatangan eks manajer Charlton, Steve Gritt mengubah segalanya. Brighton jadi garang lagi. Brighton pun tak lagi kalah di kandang sampai musim 1996/97 tuntas.
Namun Goldstone tetap dijual. Dan Brighton harus meninggalkannya. Laga kontra Doncester pada 26 April 1997 adalah laga terakhir Brighton di kandangnya. Dua musim berikutnya, Brighton and Hove Albion harus pindah 70 mil jauhnya ke Gillingham.
Ketika itu tuntutan penggemar pun dikabulkan Archer yang akhirnya menjual Brighton. Meski dibeli oleh penggemar sejatinya sendiri, Dick Knight, tapi penjualan Goldstone tak sanggup dihentikan.
Di Bawah Pemilik Baru
Berkaca di era Archer, pemilik baru Brighton, Dick Knight mulai serius membenahi The Seagulls. Mula-mula adalah mengembalikan markasnya ke Brighton setelah dua tahun di Gillingham. Bukan di Goldstone, tapi Withdean Stadium. Sebuah kompleks olahraga yang fasilitasnya masih terbatas dan kapasitasnya juga sedikit.
Saat itu yang ada dipikiran Knight adalah bagaimana membangun stadion dengan kapasitas minimal 30 ribu penonton. Sebab kala itu, jumlah penduduk Kota Brighton saja mencapai 475 ribu jiwa. Jumlah yang lebih banyak dari Southampton atau Sunderland.
Namun, Dick Knight masih kesulitan membangun stadion idamannya itu. Walaupun sudah dibantu seorang DJ kaya, Norman Cook. Lagipula izin perencanaan pembangunannya masih bermasalah.
Pada akhirnya, Withdean hanyalah markas kecil yang menjadi saksi 4 kali Brighton promosi dalam 11 musim. Tentu promosi di sini yang dimaksud bukan ke Premier League, tapi di divisi bawahnya.
Tahun 2009, seorang penggemar Brighton seumur hidup dan pebisnis andal, Tony Bloom datang bak ibu peri. Dengan imbalan sebagai ketua, ia pun mau menjalin kerja sama dengan Dick Knight yang ketika itu jabatannya menjadi presiden klub.
Izin pun keluar. Pembangunan stadion mulai digarap dengan bantuan dana dari Bloom. Jika kalian bertanya dari mana seorang penggemar seperti Bloom mendapatkan banyak fulus. Jawabannya karena dia memiliki industri judi online, properti, dan investasi.
Uniknya, Si Bloom ini menghindari reportase berlebihan dari media yang sering membuat daftar orang terkaya. Kekayaan Bloom cukup dibuktikan ketika ia santai melihat besaran anggaran pembangunan stadion yang mencapai 93 juta poundsterling (Rp 1,8 triliun kurs sekarang)
Pengaruh Tony Bloom
Tony Bloom pelan-pelan justru menjadi orang paling berpengaruh di Brighton. Ia yang mendatangkan Gus Poyet sebagai manajer, sukses membuat Brighton meraih gelar League One pada 2011. Namun soal stadion ia belum puas betul.
Kapasitas yang sudah lebih banyak, dan fasilitas kelas wahid tampaknya masih belum seberapa bagi Bloom. Ia pun memperluas kapasitas stadion dan tempat pelatihan yang tuntas pada 2014 dengan biaya tambahan 32 juta pounds (Rp 622,4 miliar kurs sekarang).
Fyi aja, pada tahun 2011 stadion ini namanya sudah berganti menjadi American Express Comunity Stadium atau Falmer Stadium, karena letaknya di sebuah desa kecil bernama Falmer bagian dari Kota Brighton. Kapasitasnya 30 ribuan lebih.
Well, kucuran dana Bloom tak sekadar untuk merenovasi stadion, tapi juga mendatangkan pemain ke Falmer. Kelonggaran aturan finansial fair play dari FA pada tahun 2014 juga memudahkan Brighton mendatangkan pemain.
Pemain seperti Jamie Murphy, Uwe Henemeier, Tomer Hemed, Elvis Manu, sampai Jack Harper didatangkan ke Brighton. Maka istilah “Premier League Ready” pun melekat pada skuad Brighton yang kala itu dilatih Chris Hughton. Kelak Brighton pun menjalani debutnya di Premier League pada musim 2017/18.
It’s finally here..🔵🔵🔵
1️⃣2️⃣🔹0️⃣8️⃣🔹2️⃣0️⃣1️⃣7️⃣
Thankyou Dick Knight
Thankyou Tony Bloom
Thankyou Chris Hughton
Thankyou Brighton #BHAFC pic.twitter.com/40KzezQqjA— Paul G – 😇 TheAmex💙⚪💛Potterball Arena 🇬🇧 (@paulgrg4) August 12, 2017
Kekuatan Akademi
Jika kamu melihat betapa hebatnya Brighton and Hove Albion musim ini, itu tidak bisa lepas dari akademi mereka yang kece. Brighton punya akademi dengan status kategori 1, yang merupakan peringkat tertinggi yang dikeluarkan Rencana Kinerja Pemain Elit Liga Premier tahun 2014.
Akademi Brighton terus menggenjot para pemainnya untuk menjadi pesepakbola profesional. Bahkan saat di usia belia. Salah satu murid terbaik yang pernah diterima adalah mantan kapten Timnas Irlandia U-17, Jayson Molumby.
Nah, kalau alumninya terdapat nama seperti Adam Lallana. Dari akademinya itu pula, Brighton punya aset pemain yang bisa dijual, seperti Alex-Oxlade Chamberlain.
Akademi Brighton juga membangun hubungan yang kuat dengan Tim Nasional Inggris. Pada 2014 silam, malah ada tiga pemain Brighton yang memperkuat Timnas Inggris U-21 di Kejuaraan Eropa. Saking hebatnya, pelatih Inggris, Gareth Southgate juga pernah memuji akademi Brighton.
Hari ini, Brighton and Hove Albion dilatih Graham Potter. Peluang untuk menyodok Tottenham di posisi delapan sangat terbuka. Jika, dan hanya jika penyakit The Lilywhites kambuh dan The Seagulls mampu menuntaskan sisa pertandingan dengan kemenangan.
https://youtu.be/d8IbzD-IJCA
Sumber referensi: bleacherreport.com, fourfourtwo.com, thetopflight.com


