Kontroversi Bola Adidas Jabulani Piala Dunia 2010

spot_img

Gelaran Piala Dunia 2010 menjadi yang pertama digelar di Benua Afrika, tepatnya di Afrika Selatan. Kala itu, banyak momen-momen yang menarik dan tercatat sejarah sepanjang penyelenggaraan Piala Dunia 2010.

Pada perhelatan itu pula banyak hal-hal unik yang membumbui kemegahan pelaksanaan Piala Dunia Afrika Selatan. Seperti Paul si gurita peramal dan Vuvuzela, alat musik tiup khas Afrika Selatan berjenis terompet yang menggema di setiap laga Piala Dunia.

Namun, ada satu yang cukup kontroversial dan mungkin saja paling diingat. Yup, penggunaan bola Adidas Jabulani. Di mana saat itu, bola ini begitu dibenci oleh para penjaga gawang.

Adidas Jabulani

Nah, sebelum kita membahas kontroversi Adidas Jabulani, kita akan mengenal lebih jauh mengenai bola Adidas Jabulani ini. Bola yang secara resmi diperkenalkan Adidas pada 4 Desember 2009.

Sebagai bola resmi selama turnamen, Jabulani dirancang oleh brand olahraga yang khas dengan tiga garis tersebut, memang dibuat khusus untuk gelaran Piala Dunia 2010.

Nama Jabulani itu sendiri berasal dari bahasa bantu isiZulu. Bahasa isiZulu merupakan salah satu dari sebelas bahasa resmi di Afrika Selatan. Bahasa ini dipakai oleh hampir 25 persen penduduk Afrika Selatan. Secara harfiah, Jabulani mempunyai makna “merayakan”.

Adidas Jabulani hanya terdiri dari delapan panel 3D yang dijahit secara rapi. Jabulani diklaim sebagai bola yang paling bundar yang pernah ada. Ia berbentuk bulat sempurna dan bahkan lebih akurat daripada bola-bola sebelumnya.

Teknologi “Grip’n’Groove” yang baru dikembangkan oleh Adidas memberikan sensasi yang memungkinkan bola dapat melayang lebih stabil dan memiliki grip yang sempurna dalam segala kondisi.

Jabulani pun memiliki desain yang unik, ia identik dengan angka sebelas. Dalam pewarnaan Jabulani, Adidas memakai sebelas warna berbeda yang mana itu mewakili dari bola Adidas kesebelas yang digunakan pada Piala Dunia.

Sebelas warna yang berbeda itu mencerminkan sebelas pemain dalam setiap tim, sebelas bahasa resmi Afrika Selatan, dan sebelas suku yang ada di Afrika Selatan. Yang mana menjadikan negara tersebut sebagai salah satu negara paling beragam secara etnologis di Benua Afrika. 

Keluhan Dari Pemain

Meski Jabulani memiliki makna “merayakan”, nyatanya yang dirasakan oleh beberapa pemain di Piala Dunia 2010 tidak demikian. Pasalnya, sejumlah pemain, terutama penjaga gawang, acap kali mengeluhkan bola Jabulani yang dirasa terlalu ringan dan cenderung bergerak liar.

Dalam pembuatannya, Adidas melibatkan beberapa pemain kelas dunia dalam proses pengembangan dan pengujian bola Jabulani. Iker Casillas, sebagai kiper sekaligus kapten Timnas Spanyol kala itu menyebut bahwa bola Jabulani layaknya bola voli pantai. Sedangkan Gianluigi Buffon dan Julio Cesar pun mengaku sedikit kecewa dengan bola resmi Piala Dunia 2010 ini. Mereka tampak kesulitan untuk menebak arah perputaran bola.

Sementara, Fabio Capello yang masih menjadi pelatih Timnas Inggris saat itu menilai bahwa Jabulani merupakan bola terburuk yang pernah dipakai di ajang bergengsi empat tahunan tersebut. Penilaian Fabio Capello itu muncul setelah melihat anak asuhnya, Robert Green yang menjadi kiper Timnas Inggris saat itu melakukan blunder dalam laga melawan Amerika Serikat.

Dengan adanya keluhan-keluhan dari para pemain terutama penjaga gawang, mengakibatkan fitur Grip’n’Groove pada Adidas Jabulani yang katanya akan meningkatkan akurasi pada bola masih perlu dipertanyakan.

Hingga Memunculkan Penelitian Lebih Lanjut Pada Jabulani

Menyusul segala keluhan tersebut, beberapa ilmuwan dari Perancis pun bertanya-tanya sebenarnya apa yang salah dari Jabulani. Mereka melakukan penelitian guna menemukan akar permasalahan Jabulani. Para ahli dari Institute of the Science of Movement di Marseille pun mengeluarkan kesimpulan.

Jahitan milik Jabulani yang berada di bagian dalam sehingga membuat bola terlihat bulat sempurna malah menjadi akar permasalahan ini. Karena bentuknya yang terlalu bulat ini menciptakan kontak bola dengan kaki berkurang, sehingga tidak bisa melayang lurus dengan baik.

Tak pernah terpikirkan bahwa permasalahan Jabulani yang penuh kecacatan itu bisa ditanggapi seserius ini. Bahkan Badan Antariksa Amerika Serikat atau yang sering kita kenal dengan NASA juga memberikan pendapatnya tentang Adidas jabulani.

Sejumlah pakar NASA Ames Investigation Center memaparkan analisa aerodinamika mereka terhadap Jabulani. Hasilnya, arah Jabulani akan sulit diprediksi ketika ia bergerak dengan kecepatan 44 mil per jam. Para ilmuwan NASA menuding, penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah bobot bola yang terlalu ringan. Tercatat Jabulani memiliki berat hanya 440 gram.

Akibatnya, praktis bola Jabulani tidak berputar dengan baik. Bola akan bergerak sedikit lebih jauh dari perkiraan, dan akan memiliki pergerakan yang seolah-olah bola itu mengambang dan arahnya tak terduga. Ini akan sulit bagi penjaga gawang maupun striker.

Well, terlepas dari kontroversialnya, bola Jabulani, penonton juga menyukai Jabulani. Mereka menikmati intrik drama Jabulani yang tersaji di Piala Dunia 2010 silam. Sampai saat ini Jabulani tetap menjadi perbincangan ketika bola-bola Piala Dunia berikutnya kembali diperkenalkan kepada publik.

Sumber: Adidas, Phys.org, Planetfootball

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru