Beberapa hari lalu Persebaya mengaku keberatan perihal pemanggilan pemain untuk membela Timnas Indonesia. Bagaimana tidak? Persebaya Surabaya menjadi pemasok pemain terbanyak di skuad Shin Tae-yong. Bahkan, punggawa Persebaya bukan hanya pelengkap, tapi menjadi pilihan utama bagi pelatih asal Korea Selatan tersebut.
Tercatat pemain Persebaya yang dipilih Coach Shin untuk bergabung dengan Timnas guna melakoni dua laga uji coba melawan Timor Leste kemarin ada lima pemain. Marselino Ferdinan, Ricky Kambuaya, Rizky Ridho, Rachmat Irianto, dan Ernando Ari. Hal itu juga sempat dikeluhkan oleh Aji Santoso selaku pelatih Persebaya.
Akhirnya, pada Senin kemarin, Persebaya mengirimkan surat permohonan untuk membatasi kuota pemain yang memperkuat Tim Nasional kepada otoritas sepak bola Indonesia. Pembatasan kuota tersebut terkait dengan agenda Timnas Indonesia berikutnya di tahun 2022.
Tindakan Persebaya itu menimbulkan stigma buruk di masyarakat, khususnya mereka para Timnas Mania. Dengan adanya keluhan tersebut, Aji Santoso dan Persebaya disebut tak mendukung langkah Timnas Indonesia. Namun apakah benar begitu?
Liga Tetap Jalan Meski Ada Agenda Timnas
Aji Santoso menegaskan, sebagai mantan pemain nasional ia memahami betul kultur dan kebutuhan Timnas Indonesia. Oleh karena itu, ketika Shin Tae-yong menginginkan pemain Persebaya untuk membela Timnas, Aji Santoso sebagai sesama pelatih maupun manajemen tim pasti akan mendukung penuh.
Bahkan, Aji Santoso mengungkapkan dengan lantang, apabila itu semua demi kepentingan Timnas Indonesia, ia rela melepas 10 pemain Persebaya Surabaya ke skuad Timnas.
🚨 𝗗𝗔𝗥𝗨𝗥𝗔𝗧 🚨#Persebaya turun dengan skuad minimalis ketika menghadapi #PSIS, dan mereka masih terancam panggilan timnas #Indonesia.#Liga1 #TimnasIndonesia pic.twitter.com/mwFA1IATqX
— GOAL Indonesia (@GOAL_ID) February 3, 2022
Namun, di balik keberanian Persebaya memprotes ke PSSI ada beberapa alasan tertentu yang mendasari Persebaya tetap saja protes. Apalagi kalau bukan jadwal pertandingan liga yang tidak sinkron dengan agenda Timnas Indonesia.
Dengan banyaknya pemain yang dipanggil ke Timnas, Persebaya acap kali tampil dengan pemain seadanya. Seperti misalnya kala Persebaya melakoni laga pekan ke-21 Liga Indonesia melawan PSS Sleman, mereka terpaksa memanggil pemain akademi untuk memenuhi skuad.
Jadwal pekan ke-21 Liga Indonesia diselenggarakan pada rentang waktu 26 hingga 29 Januari 2022, sedangkan FIFA Matchday periode kali ini berada di tanggal 24 Januari hingga 1 Februari 2022.
Lantas muncul sanggahan “Tapi, kan, pas Timnas lawan Timor Leste tanggal 27 Januari, tidak ada pertandingan liga.” Memang, pada tanggal 27 Januari tidak ada jadwal liga yang bermain. Namun, ketika Timnas melakoni laga kedua melawan Timor Leste pada tanggal 30 Januari, di hari yang sama ada pertandingan Persija melawan Persiraja Banda Aceh.
Jadwal liga yang berbenturan dengan agenda internasional FIFA ini sempat dijelaskan oleh Direktur Operasional PT. Liga Indonesia Baru (LIB), Sudjarno. Ia menyampaikan bahwa PT. LIB sangat paham dengan apa itu agenda FIFA Matchday.
Jadwal yang disusun pun sudah menyesuaikan agenda Timnas Indonesia. Namun, kompetisi ini berlangsung di keadaan tidak biasa, maka jadwal harus fleksibel dan dinamis.
Mau bagaimanapun operator liga mengelak, kebijakan untuk tetap menjalankan kompetisi liga di masa jeda Internasional itu sebuah kebijakan yang ngawur. Hal semacam ini sangat jarang terjadi dalam penyelenggaraan kompetisi domestik, karena pada dasarnya jadwal internasional tidak boleh diganggu dengan agenda kompetisi domestik di setiap negara.
Covid Jadi Salah Satu Faktor
Dalam surat yang disampaikan Persebaya kepada PSSI, manajemen Bajul Ijo juga menyinggung soal pelaksanaan Piala AFF U-23 yang akan berlangsung pada tanggal 14 hingga 26 Februari 2022. Mereka meminta pembatasan maksimal dua pemain tiap klub.
Namun, hingga daftar nama pemain yang dipanggil Shin Tae-yong untuk AFF U-23 keluar, PSSI belum menunjukan respon positif dari surat tersebut. Persebaya pun kembali kehilangan tiga pemainnya, yaitu Rizky Ridho, Marselino Ferdinand, dan Rachmat Irianto.
Hal itu cukup menyulitkan bagi Persebaya, terlebih kini Bajul ijo juga sedang krisis pemain disebabkan oleh Covid yang kembali merebak luas. Seperti ketika pertandingan Persebaya melawan PSIS Semarang kemarin.
DSP PSIS vs Persebaya. Ayo Green Force! #persebayaday pic.twitter.com/MqhsnzhEKx
— Panggilan Jiwa (@pgln_jiwa) February 2, 2022
Pertandingan yang tersaji di Stadion Gelora Ngurah Rai, Denpasar itu berakhir dengan skor 0-0, dengan jumlah skuad yang hanya 15 pemain, Aji santoso memilih untuk memaksa pemainya untuk bermain 90 menit daripada melakukan pergantian.
Karena Aji Santoso berfikir bahwa materi pemain cadangan sangat tidak ideal untuk dimainkan, terlebih jadwal pertandingan Persebaya di Bulan Februari juga masih padat. Sementara, skuadnya sudah lebih dulu digembosi oleh Timnasnya sendiri.
PSSI menyampaikan bahwa dalam keadaan tertentu, setelah melakukan swab test rapid antigen pada hari pertandingan membuat klub yang akan bertanding hanya menyisakan kurang dari 14 pemain (termasuk salah satu di antaranya adalah penjaga gawang), barulah LIB dan PSSI akan menggelar rapat darurat untuk memberikan keputusan dalam tempo cepat dan setiap keputusan bersifat final.
Nah, pertandingan antara Persebaya vs PSIS Semarang tetap dilanjutkan karena menurut regulasi tersebut, Persebaya tetap memenuhi syarat untuk bermain.
Untungnya, Persebaya masih dibela ketiga pemain yang dipanggil untuk memperkuat Timnas U-23, karena jadwal TC Timnas U-23 mundur. Jika tidak, entah bagaimana nasib Persebaya nanti ketika ketiga pemain tersebut berangkat ke Kamboja.
Keluhan Persebaya Dirasa Kurang Relevan
Tentu Persebaya menyampaikan keluhan ke PSSI bukan karena tak mau mendukung Timnas, melainkan Persebaya memiliki kepentingan sendiri sebagai sebuah klub sepak bola. Mereka ingin selalu tampil dengan skuad terbaik di sisa pertandingan Liga 1, terlebih penampilan Persebaya musim ini sedang bagus-bagusnya.
Namun, keluhan Persebaya tak kunjung direspon oleh PSSI karena dianggap tidak relevan. Apalagi lantaran hanya Persebaya yang menyampaikan keluhan soal pemanggilan pemain ke Timnas.
Sejauh ini Persebaya memang masih sanggup bersaing dengan klub-klub siluman seperti Bhayangkara FC dan Bali United di posisi empat besar. Dengan selisih poin yang tak begitu jauh, tak menutup kemungkinan Persebaya bisa menjuarai BRI Liga 1 2021/2022.
Namun, benturan antara jadwal liga dan agenda Internasional Timnas Indonesia, menjadi masalah serius di tubuh Persebaya. Iya, tahu, ini penyakit kambuhan PSSI dan PT LIB. Tapi penyakit ini sebenarnya ada obatnya, cuma otoritas sepak bola dalam negeri seperti ogah berobat.
Lucunya, meski sistemnya kacau, klub-klub menyepakati bahwa BRI Liga 1 wajib tuntas pada akhir Maret 2022. Berarti Liga 1 seri ke-4 yang diadakan di Bali akan terus digenjot. Pokoknya, walaupun kasus positif Covid di sekitar pemain kembali meningkat, kompetisi tak boleh mengenal kata rehat.
https://youtu.be/JUqX0PR5nu0
Sumber: Bola, Tribunnews, Bola.Net, Bola Sport, Liputan6


