Kisah Susah Payah Persikota, Klub yang Diakuisisi Prilly Latuconsina

spot_img

Tersiar kabar kalau lagi-lagi publik figur tanah air mengakuisisi klub lokal. Adalah Prilly Latuconsina, artis cantik eks bintang sinetron “GGS (Ganteng Ganteng Srigala)” yang mengakuisisi klub Persikota Tangerang di Liga 3.

Persikota sendiri memang sedang terseok-seok di Liga 3. Orang sering bilang kalau klub berjuluk Bayi Ajaib itu sedang tertidur pulas sejak tahun 2000-an. Padahal sebelum-sebelumnya Persikota punya prestasi yang lumayan mentereng.

Sejarah Berdirinya Persikota Tangerang

Persikota lahir usai Kotamadya Tangerang berdiri pada tahun 1993. Kota Tangerang ini merupakan dari Kabupaten Tangerang, yang merupakan bagian dari Provinsi Banten dahulu masih menyatu bersama Provinsi Jawa Barat sampai akhirnya terpisah.

Dengan pemekaran yang terjadi di wilayah Kabupaten Tangerang, tentunya banyak sekali klub bola yang juga lahir dari hasil pemekaran daerah tersebut. Nah, dari situ Persikota lahir.

Setelah Persita Tangerang sebagai perwakilan dari Kabupaten Tangerang yang lahir pada tahun 1953, Persikota muncul. Persikota Tangerang didirikan sebagai klub yang mewakili Kota Tangerang di kancah persepakbolaan Indonesia.

Haji Mansyur Sain adalah salah satu tokoh yang terlibat pendirian Persikota. Pria yang pernah membela Persita pada 1972-1984 itu mengikuti pertemuan yang melahirkan Persikota pada 11 Oktober 1994.

Melalui Kongres PSSI yang diadakan pada akhir Desember 1995, Persikota Tangerang disahkan menjadi anggota PSSI dan Persikota diizinkan untuk mengikuti kompetisi Liga Indonesia musim 1995/1996. Mereka memulainya dari divisi II.

Perjalanan Persikota Tangerang di Liga Indonesia

Memulai berlaga di Divisi II Liga Indonesia 1995/1996, debut Persikota Tangerang diasuh oleh pelatih Andi Lala. Ketika itu Persikota tidak terkalahkan dan bahkan bisa keluar menjadi juara Divisi II Liga Indonesia musim 1995/1996.

Persikota Tangerang kemudian berhak untuk berlaga di Divisi I Liga Indonesia musim 1996/1997. Masih dengan pelatih Andi Lala, Persikota mulai merekrut beberapa pemain kenamaan seperti Francis Yonga asal Kamerun dan Ali Shaha asal Tanzania. Selain itu, pemain kenamaan seperti Nova Zaenal pun masuk memperkuat Persikota saat itu.

Hasilnya, Persikota mampu melaju ke babak final dan menjadi juara. Persikota pun dipastikan lolos ke Divisi Utama untuk pertama kalinya pada musim 1997/1998.

Memasuki Divisi Utama 1997/1998, Persikota melakukan pergantian pelatih. Andi Lala yang berhasil membawa Persikota ke Divisi Utama dua tahun setelah dibentuk, digantikan oleh Sutan Harhara. Dalam tugasnya ini, Sutan dibantu oleh Rahmad Darmawan.

Di masa pertamanya bertarung di Divisi Utama, Persikota langsung menggebrak. Mereka langsung menduduki posisi 3 Wilayah Tengah. Hanya saja, saat itu liga dihentikan di tengah-tengah karena terjadi kerusuhan Mei 1998.

Di sinilah, Persikota mulai mendapatkan julukan “Bayi Ajaib” karena berhasil menjadi juara Divisi II, Divisi I, dan menduduki peringkat atas Divisi Utama hanya dalam waktu tiga musim saja.

Setelah Divisi Utama 1997/1998 dihentikan, Persikota kembali berkompetisi di Divisi Utama 1998/1999. Persikota hanya mampu melaju ke babak 10 besar ketika itu.

Namun, di musim selanjutnya 1999/2000, Persikota menorehkan prestasi yang luar biasa. Persikota pun berhasil lolos ke babak semifinal dan berhadapan dengan Pupuk Kaltim (PKT) Bontang. Hanya saja, perjalanan Persikota harus terhenti di semifinal setelah ditaklukkan oleh PKT Bontang.

Setelah itu di musim 2001/2002, Persikota berganti pelatih. Sutan Harhara pergi dan Rahmad Darmawan pun naik menjadi pelatih utama. Namun, Persikota hanya berhasil menduduki peringkat ke-5 Wilayah Barat dan gagal melaju ke babak 8 Besar.

Di Liga Indonesia tahun 2002/2003, Bayi Ajaib kembali hanya berhasil menduduki peringkat ke-6 Wilayah Barat. Begitupun ketika Divisi Utama Liga Indonesia mulai memberlakukan sistem satu wilayah di musim 2003/2004, mereka hanya bisa menempati peringkat ke-6.

Di musim selanjutnya 2004/2005 ketika sistem satu wilayah masih diberlakukan, Persikota hanya menghuni peringkat ke-5. Setelah musim 2004/2005, Rahmad Darmawan pun meninggalkan tim, dan Persikota mulai mencari pelatih baru dan mengangkat nama Safrudin Fabani.

Fase Penurunan Persikota

Persikota tidak mampu berbicara banyak dan hanya mampu menduduki peringkat ke-11 Wilayah Barat musim 2005/2006. Karena prestasi yang tidak baik ini, Safrudin Fabani pun digantikan oleh Mundari Karya.

Meskipun pada musim 2006/2007, Persikota mulai membaik kembali dengan menempati peringkat ke-7 Wilayah Barat, tanda-tanda penurunan klub semakin nyata. Klub mulai mengalami kesulitan finansial. Bayi Ajaib terpaksa melakukan efisiensi, melepas pemain kuncinya seperti Isnan Ali, Supriyono, dan Yandri Pitoy.

Lalu, Peraturan Menteri Dalam Negeri No.13/2006 menjadi petaka bagi Persikota. Pasalnya, peraturan tersebut melarang penggunaan APBD untuk pembiayaan klub sepak bola sebagaimana dilakukan Persikota.

Dan benar saja, efeknya terasa di musim 2007/2008, di mana Persikota kembali mengalami penurunan performa dan akhirnya tidak lolos ke Liga Super Indonesia setelah hanya menduduki peringkat ke-15 Wilayah Barat.

Nasib Persikota terkatung-katung sejak tahun itu. Di Divisi Utama, Persikota pun terseok-seok. Masalah keuangan terus-menerus meminta korban. Pada 2009, Persikota bahkan terancam bubar karena kesulitan pendanaan.

Rivalitas Tangerang

Selain finansial, problem rivalitas yang menjalar ke kekerasan juga meliputi langkah Persikota. Korban demi korban berjatuhan akibat rivalitas buta antara dua klub asal Tangerang, Persikota dan Persita.

Hal ini berujung dengan larangan pertandingan sepak bola di Stadion Benteng markas bersama Persikota dan Persita oleh Majelis Ulama Indonesia pada tahun 2012.

MUI sampai-sampai menggunakan kata “haram” pada pertandingan yang dilakukan di Stadion Benteng karena dianggap tak sejalan dengan nilai akhlakul karimah sebagai motto kota.

Rivalitas yang meliputi Derby Tangerang kadang melewati batas. Tak hanya gengsi yang terselip, melainkan juga kebencian. Tawuran suporter kerap terjadi, meminta korban luka dan bahkan nyawa orang tak bersalah. Fanatisme buta ini pun menjadi sebab mundurnya sepak bola Tangerang.

Sebenarnya, Derby Tangerang bisa saja terwujud di tahun 1997 ketika Persikota promosi ke Divisi Utama. Akan tetapi, karena Persita bermain di Wilayah Barat, sedangkan Persikota di Wilayah Tengah, hal itu tidak terjadi.

Nah baru sejak 2001, Persita dan Persikota selalu ditempatkan dalam satu wilayah. Hal ini membuat kedua tim rutin bertemu dan rivalitas memanas. Atmosfer Derby Tangerang semakin sarat gengsi dari tahun ke tahun.

Derby perdana terjadi pada Februari 2001. Di mana menjadi hari bersejarah bagi sepak bola Tangerang. Orang-orang berbondong datang ke Stadion Benteng, memenuhi tribun stadion dengan warna kuning dan ungu.

Hari itu, Derby Tangerang pertama antara Persikota vs Persita di kompetisi resmi digelar. Pertandingan bersejarah itu berkesudahan dengan skor 0-0.

Seiring berkembangnya zaman, rivalitas yang dibumbui kekerasan dan kebencian berusaha ditanggalkan oleh kedua klub. Kini, Persikota dan Persita menatap babak baru rivalitas yang damai.

Akan tetapi, publik harus menunggu untuk melihat kembali Derby Tangerang. Persikota sedang berupaya bangkit dengan manajemen yang baru ketika banyak public figure yang melirik untuk mengakuisisi Persikota termasuk tentu saja Prilly Latuconsina.

Bayi Ajaib saat ini berkiprah di Liga 3. Sedangkan sang saudara tua, Persita sudah menunggu rival sekotanya itu di Liga 1. Menarik untuk melihat kisah seperti periode tahun 1995 -1997 terulang kembali. Ketika itu secara berturut-turut Persikota mampu sampai ke divisi teratas Liga Indonesia.

Sumber Referensi : panditfootball, indosport, kumparan

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru