Berpengalaman selama lebih dari 30 tahun di dunia sepakbola, Ramon Rodriguez Verdejo atau yang biasa kita kenal sebagai Monchi telah menjadi satu sosok krusial dalam perkembangan sepak bola. Monchi bukanlah sosok pemain bintang. Dia tidak pernah moncer ketika tampil di atas lapangan.
Selama berkarier sebagai pemain, dia hanya tampil dalam rentang waktu 1990 sampai 1999 di satu klub saja, Sevilla. Masih belum cukup sampai disitu, kariernya sebagai pemain juga sebatas menjadi kiper cadangan.
Maka tidak mengherankan ketika tahun 2000 dia diminta untuk mengisi posisi direktur olahraga di klub, rasa gugup langsung datang menghampiri. Dia merasa begitu karena tidak pernah mengenyam sedikit pun pengalaman di sana. Apalagi tugasnya menjadi kian berat ketika Sevilla terdegradasi ke Divisi Segunda.
Los británicos van a tener bastante cachondeo con esta campaña de Monchi que llegó a Old Trafford como el Sevilla acabe fichando a Martial 😅 pic.twitter.com/KCe4cqujBq
— Manu Heredia (@ManuHeredia21) December 28, 2021
Namun, keyakinan masih menyelimuti tubuh Monchi. Ia yang awalnya hilang rasa percaya diri terus belajar, sampai akhirnya rasa percaya diri itu menyeruak. Perlahan namun pasti, Monchi terus mengikuti metode yang dilakukan klub dan sedikit banyak belajar tentang transfer pemain.
Cara Monchi Berkembang
Monchi mulai belajar dari dua klub yang ia anggap jaya, FC Porto dan Lyon. Ia merasa dua klub itu adalah klub yang hebat, tapi terus menjual para pemain terbaiknya. Monchi akhirnya paham, bahwa ini bukan soal mempertahankan saja, tapi ada kalanya pemain bintang mesti meninggalkan klub.
Maka tidak perlu fokus untuk mempertahankan setengah mati, cukup mencari cara lain saja untuk tetap mendapat keuntungan walaupun pemain-pemain hebat memilih hengkang. Dari sini, muncul filosofinya yang bernama “menjual untuk tumbuh”.
Monchi memastikan bahwa ia harus menerima kehilangan pemain terbaiknya. Tapi yang tidak boleh dilupakan, tim harus menggantinya dengan pemain yang punya kualitas mirip dengan biaya yang lebih sedikit. Ketika pertama kali menjabat sebagai seorang direktur olahraga Sevilla, klub tersebut tidak mengeluarkan biaya sepeser pun di dua musim pertama sang direktur bekerja.
Baru pada tahun berikutnya, Sevilla mulai menginvestasikan 500 ribu euro atau Rp 8 miliar lebih untuk memboyong pemain berbakat asal Brasil, Dani Alves. Tak lama berselang, layaknya pemain bintang yang memang datang untuk pergi, Alves dilepas ke FC Barcelona yang berani memberi tawaran besar. El Barca ketika itu berani memboyong Alves dengan nilai sebesar 23,5 juta poundsterling atau kurang lebih Rp 452 miliar.
Sejak kembali dari AS Roma setelah dua tahun bergabung di sana, Monchi juga berhasil menjadi sosok penting dari keberhasilan Sevilla yang lagi-lagi memenangi trofi Liga Europa. Monchi mengambil 9 dari 11 line up yang tampil di final Liga Eropa melawan Inter Milan. Jules Kounde adalah pemain termahal yang didatangkannya dari Bordeaux senilai 22,5 juta poundsterling atau Rp 432,8 miliar .
Jules Kounde is waiting for Marina Granovskia to strike a deal with Monchi in January, sources tell us he was very annoyed with staying at Sevilla, Kounde had pre – agreed wages with Chelsea.
( Duncan Castles – TW Pod ) pic.twitter.com/0r6fvoQSl7
— Pys (@CFCPys) December 23, 2021
Berikutnya ada Lucas Ocampos dan Diego Carlos yang diboyong dengan nilai 13,5 juta euro (Rp 217 miliar). Sampai Jordan dan De Jong yang masing-masing diboyong dengan nilai 12,6 dan 11,25 juta poundsterling (Rp 242,3 miliar dan Rp 216,4 miliar). Jangan lupakan pula ketika dia berhasil memulangkan Ivan Rakitic dari FC Barcelona.
Bintang asal Kroasia itu sebelumnya direkrut senilai 2,5 juta euro (Rp 40,2 miliar) dari Schalke pada tahun 2011. Tiga tahun berselang, Rakitic dibeli Barca senilai 20 juta euro (Rp 321,6 miliar). Lalu pada September 2020 lalu, Sevilla memulangkan Rakitic dengan nilai transfer 1,5 juta euro (Rp 24 miliar).
Selain memegang teguh filosofi “menjual untuk tumbuh”, terdapat cara lainnya yang dilakukan Monchi untuk mendapatkan pemain berkualitas yang diinginkan. Ia punya sistem yang dinamai big data. Monchi tidak mau jika hanya mengandalkan kemampuan pemandu bakat saja. Lebih dari itu, dia melakukan hal seperti meneliti perkembangan pemain sampai gerak gerik yang dilakukan pemain dalam setiap laga.
“Kami membandingkan sudut pandang subjektif pemandu bakat dengan kriteria objektif data. Kami lebih mempercayai data besar kali ini karena punya departemen data yang lebih berkembang,”
“Meskipun platform kami tidak 100 persen lengkap, itu telah membantu kami lebih banyak ketika menganalisis pemain yang menarik. Data kami setahun yang lalu tidak seakurat seperti sekarang.” ulas Monchi.
Dalam menjalankan tugasnya yang tentu tidak mudah ini, Monchi juga mempekerjakan banyak orang untuk mengemban posisi penting seperti analis transfer. Itu disebutnya telah membantu dan membuatnya mendapat data setiap pemain dengan jelas dan akurat.
Ingin mengembangkan potensi dalam dirinya, Monchi juga sempat bertahan di London selama enam bulan pada tahun 2013 untuk mengasah kemampuan bahasa Inggrisnya. Selain itu, dia juga punya misi utama untuk melakukan penelitian terhadap klub-klub Inggris. Monchi menilai klub-klub di Inggris punya model bisnis yang maju, dan itu yang ingin ia terapkan di Sevilla.
“Mereka mampu membuat sepakbola benar-benar menguntungkan lewat televisi, marketing, dan rasa memiliki. Semua yang membuat sepakbola Inggris punya pendapatan dua kali lipat dari Spanyol saat itu.”
Prestasi yang Diraih dan Jadi Panutan
Dengan sistem yang diciptakan Monchi, Sevilla sukses menjadi tim yang sama sekali tidak bisa diremehkan. Klub tersebut berhasil dibuatnya bertahan di La Liga selama kurang lebih 20 tahun. Masalah trofi? Sevilla sukses keluar sebagai juara Copa del Rey tahun 2007 dan 2010, serta juara Liga Eropa 2006 dan 2007.
Monchi ‘regala’ continuidad en el Sevilla. A las renovaciones ya cerradas de Ocampos y Diego Carlos, se les unirá las de Fernando y Jordán. Pronto debe ser Bono y En-Nesyri, que serán los próximos en revisar sus contratos. El ‘Rey Baltasar’ premia a los se lo gana en el campo. pic.twitter.com/UohuHs7BnP
— Eterno Capitán, Reyes 10 (@SevillistasU) December 26, 2021
Berkat kecemerlangan Monchi, Sevilla jadi tim yang paling banyak meraih gelar Liga Eropa. Yaitu tahun 2006, 2007, 2014, 2015, 2016, dan 2020. Ajaibnya, ketika Sevilla gagal menambah lemari Liga Eropa di tahun 2017 dan 2019, saat itulah Monchi sedang tidak di sana. Ia dikabarkan pindah ke Roma kala itu.
Bukan hanya trofi, Monchi juga mampu mendatangkan keuntungan ke Sevilla melalui siasat transfer pemain. Dari situ keuntungan yang berhasil ia raup bahkan mencapai 180 juta poundsterling (Rp 3,4 triliun).
Sistem transfer yang begitu menguntungkan ala Monchi ini akhirnya diadaptasi klub-klub beken di Eropa. Dilansir BBC, tim-tim seperti Benfica, Sporting Lisbon, Monaco, dan Ajax Amsterdam menjadikan Monchi sebagai sosok panutan. Tim-tim yang bahkan mendapat keuntungan lebih besar dari Sevilla dalam bisnis jual beli pemain itu, telah mengambil beberapa intisari dari kebijakan transfer Monchi.
https://youtu.be/ut9bWSf8COE


