Pembuktian Diri Luca Toni

spot_img

Jauh sebelum Dusan Vlahovic jadi idola di Fiorentina, Ciro Immobile dan Insigne jadi juru gedor Timnas Italia, Luca Toni selalu punya tempat sendiri. Entah bagi penggemar La Viola atau Gli Azzuri. Luca Toni membuktikan bahwa dia tidak hanya pemain yang bertubuh tinggi, tapi juga berkualitas.

Luca Toni mungkin tak setenar Francesco Totti atau Filippo Inzaghi. Namun, ketajamannya di depan gawang bolehlah diadu. Berkat insting gol tajam dan penempatan posisi yang begitu baik, legenda Jerman bernama Franz Beckenbauer sampai tak ragu untuk melabelinya sebagai penyerang jaminan gol.

Ketika sudah berada di dalam kotak penalti lawan, Luca Toni mampu memberi sebuah aksi yang sulit untuk dihentikan. Bagi kiper-kiper ternama sekalipun, pergerakan Toni sulit untuk ditebak. Dia bisa mengecoh lawan lebih dulu, atau langsung menyarangkan bola ke gawang.

Lahir pada 26 Mei 1977, Toni memulai karier bersama klub Modena. Setelah bergabung ke Modena, tak butuh waktu lama bagi Toni untuk membuat semua terkesima. Seperti di tahun 1994, ketika tampil bersama klub senior Modena, Toni berhasil mengemas 7 gol. Hebatnya, Toni saat itu masih berusia 17 tahun dan hanya jadi pilihan kelima di lini serang.

Namun dasar pemain hebat, segala keraguan memang tak cukup untuk membendung bakat Luca Toni. Dia bagai dilahirkan untuk mencetak gol. Bahkan, dalam sembilan kesempatan yang diberikan dari bangku cadangan, Toni berhasil mencetak tiga gol.

Awal Karir Mengesankan di Serie A

Namun, gol-gol yang dicetak Luca Toni belum cukup membuat Modena percaya untuk menaruhnya di tim utama. Dengan begitu, masa peminjaman pun jadi sesuatu yang akrab dengannya. Toni disekolahkan ke sejumlah klub untuk mendapat jam terbang. Hingga tepat pada tahun 2000, Vicenza memberinya kesempatan untuk bermain di kompetisi Serie A.

Dia yang sudah terlihat matang kemudian menarik minat Brescia, dan mendapat kesempatan berduet dengan pemain seperti Roberto Baggio sampai Pep Guardiola. Namun secara mengejutkan, meski sudah tampil di kompetisi Serie A, dua musim setelahnya Toni malah memutuskan untuk turun kasta ke Serie B.

Dia memilih untuk gabung dengan Palermo yang disebutnya bakal segera naik ke panggung Serie A. Benar saja, hanya tampil selama semusim di kompetisi kelas dua, Luca Toni berhasil membawa Palermo promosi ke Serie A. Lebih dari itu, Toni juga berhasil mencetak sebanyak 30 gol sepanjang musim, dan membuatnya jadi pemain Serie B pertama yang dipanggil ke Timnas Italia.

Dengan bakat mencetak golnya itu pula, tim sekelas Fiorentina sangat tertarik untuk mendapatkan jasanya. Pada musim 2005/06, Toni berlabuh di klub berjuluk La Viola. Dia langsung jadi andalan dan jadi juru gedor yang ditakuti kiper di klub-klub Serie A.

Toni ketika itu menjadi alasan mengapa Stadion Artemio Franchi selalu penuh ketika Fiorentina bertanding. Semua penggemar benar-benar menantikan aksinya. Mereka semua kagum karena dengan adanya Toni, Fiorentina jadi tim yang lebih kuat, terutama di lini serang.

Toni pun membayar tuntas segala kepercayaan yang diberikan kepadanya. Dia berhasil menyumbang 31 gol dan mendapat status sebagai top skor Serie A di akhir musim 2005/06. Lebih dari itu, dia juga turut membantu Fiorentina duduk di posisi keempat klasemen akhir. Walaupun pada akhirnya status itu dicopot usai Fiorentina dinyatakan terlibat dalam kasus calciopoli.

Raih Trofi Piala Dunia 2006

Konflik yang terjadi di klub yang dibelanya nyatanya tidak membuat performa Toni melempem. Di timnas Italia, Toni jadi penyerang yang paling dikenal. Sebagai pemain bernomor 9, karakter bermainnya begitu luar biasa.

Kecepatan memang tidak menjadi andalan Toni. Namun kekuatan dua kaki yang dimiliki membuat Toni menjadi penyerang yang lebih dari sekadar mengganggu pertahanan. Fisiknya yang kuat dan tubuhnya yang tinggi juga kian membuat pemain lawan kelabakan.

Penguasaan bola, agresivitas tinggi, lihai dalam memanfaatkan bola-bola atas, serta oportunis di kotak penalti lawan, benar-benar membuat Toni jadi penyerang yang digambarkan Beckenbauer: jaminan gol!

Pertama kali merasakan jersey timnas Italia di bawah asuhan Marcelo Lippi. Toni yang ketika itu masih membela Palermo masuk ke dalam skuad Azzurri yang bertanding di ajang Piala Dunia 2006 di Jerman. Saat itu, Toni berhasil mencetak dua gol sepanjang turnamen. Sejak melakoni debut bersama Italia, Toni tampil dalam 49 laga dan mencetak 16 gol. Satu torehan trofi Piala Dunia juga kian membuat namanya melegenda.

Jadi Legenda Bayern Sebelum Akhirnya Cedera

Menyusul performa ciamiknya, banyak klub top Eropa yang kemudian datang memberi tawaran. Status pencetak gol sejati kemudian membuatnya diboyong oleh raksasa Jerman FC Bayern. Seperti biasa, tanpa berlama-lama, Toni langsung moncer di musim pertamanya. Dia berhasil mencetak 24 gol dan jadi andalan di lini depan.

Dengan torehan itu pula, dia berhasil menyandang gelar sebagai pencetak gol terbanyak Bundesliga Jerman. Kemudian, dia juga berhasil menyabet sepatu emas di ajang Piala UEFA. Sayang seribu sayang, cerita indahnya yang baru diukir di negeri Jerman langsung pupus begitu saja. Bukan performanya yang jauh menurun, tapi karena masalah cedera yang membuat kaki-kakinya tak kuasa menahan sakit. 

Meski di musim kedua Toni masih mampu mencetak 14 gol dalam 25 pertandingan, musim ketiga menjadi masalah baginya. Toni mengalami cedera tendon achilles. Cedera ini membuatnya harus merasakan bermain untuk Bayern II di divisi tiga Jerman, serta AS Roma di paruh musim kedua 2009/10.

Dari situ, karirnya merosot tajam. Namanya mulai tenggelam menyusul masalah cedera yang mendera. Lalu, ia mencoba memulihkan kariernya bersama klub-klub kenamaan. Genoa, Juventus, Al Nasr, sampai Fiorentina lagi di musim 2012/13. Akan tetapi semuanya nyaris gagal, sampai Hellas Verona menyelamatkan kariernya dengan sebuah tawaran kontrak.

Pembuktian di Usia Senja

Bersama Hellas Verona, namanya kembali melambung tinggi. Dia melakoni 34 pertandingan di musim pertama dan mampu mencetak 20 gol. Catatan tersebut berhasil membuat kepercayaan dirinya kembali. Dia terus mencetak gol dan jadi andalan di lini depan Verona. Musim 2014/15, Toni yang tampil dalam 38 laga berhasil mencetak 22 gol. Di usia yang sudah menginjak 38 tahun saat itu, namanya muncul sebagai pencetak gol terbanyak. 

Dengan gaya permainan klasiknya, Toni sebagai penyerang murni mampu membungkam mulut para pembenci. Di musim 2015/16, Toni memainkan musim terakhirnya bersama Verona. Pada musim itu pula, dia sempat mencetak satu gol untuk membawa Verona menang atas Juventus dengan skor tipis 2-1 di Stadion Marc’Antonio Bentegodi.

Menutup karir sepakbolanya di tahun 2016, Toni yang tampil selama 22 tahun lamanya berhasil mencetak 322 gol, baik di level klub maupun timnas.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru