Ketika bicara tentang penghargaan Ballon d’Or, maka salah satu nama yang disorot adalah majalah France Football. Pertanyaannya, mengapa kemudian France Football menjadi pihak yang bisa menggelar penghargaan prestise sekelas Ballon d’Or, bukan FIFA ataupun UEFA?
Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita memasukkan nama Gabriel Harnot yang telah memulai semua ini. Harnot adalah mantan pemain sepak bola yang memutuskan untuk banting stir menjadi seorang jurnalis. Karena kecintaannya kepada sepak bola, Gabriel Harnot yang bekerja di France Football memiliki ide untuk menciptakan sebuah penghargaan bergengsi kepada insan sepak bola Eropa.
Alhasil, France Football pun menyelenggarakan penghargaan Ballon d’Or untuk pertama kalinya tahun 1956. Pemain pertama yang memenangkan trofi ini adalah legenda Inggris, Stanley Matthews yang saat itu masih tampil sebagai winger terbaik Blackpool.
🗓 On This Day in 1956…⁰
Sir Stanley Matthews, at the age of 41, became the first ever recipient of @francefootball’s Ballon d’Or.The Blackpool winger beat Real Madrid duo Alfredo Di Stéfano & Raymond Kopa into 2nd and 3rd place respectively.@BFC_ExPlayers 🍊
📸 L’Équipe pic.twitter.com/eKyPFhWPSi
— 📘 𝐓𝐇𝐄 𝐑𝐎𝐓𝐇𝐌𝐀𝐍𝐒 𝐘𝐄𝐀𝐑𝐒 (@RothmansYears) December 18, 2020
Karena dirasa sukses, penghargaan semacam ini lalu dilanjutkan setiap tahun. Kalau kamu bertanya, kok bukan Pele atau Maradona? Ya, sebab penghargaan Ballon d’Or ini awalnya hanya untuk pemain Eropa.
Namun semua berubah sejak 1995, pemain non-Eropa yang berkarier di Eropa juga punya kesempatan untuk meraih Ballon d’Or. Pemain asal Liberia, George Weah menjadi pemain non-Eropa pertama yang memenangkan Ballon d’Or tahun 1995.
Weah dinobatkan sebagai pemenang penghargaan ini karena tampil superior bersama Paris Saint Germain dan AC Milan di tahun tersebut. Kemudian cakupan pemenang penghargaan Ballon d’Or kembali diperluas pada tahun 2007.
Mulai tahun 2007, penghargaan Ballon d’Or tidak hanya bisa dimenangkan oleh pemain yang bermain di Eropa, melainkan juga di berbagai benua lainnya.
Tiga tahun berselang, atau tepat pada tahun 2010 silam, France Football bekerjasama dengan FIFA dalam penghargaan Ballon d’Or ini. Presiden FIFA kala itu, Joseph Blatter, rela menggelontorkan dana 15 juta euro untuk bisa memiliki hak kepemilikan trofi itu.
Ketika FIFA masuk ke dalam hak kepemilikan Ballon d’Or, sistem voting dirubah dari yang semula hanya jurnalis saja yang bisa memilih, menjadi para pemain hingga pelatih sepakbola yang tersebar di seluruh dunia.
The winner of the 2018 @francefootball Ballon d’Or: @lukamodric10! 🏆 pic.twitter.com/sUQHAs70iZ
— 433 (@433) December 3, 2018
Namun lima tahun kemudian, FIFA melalui Gianni Infantino tak lagi berniat memperpanjang hak kepemilikan Ballon d’Or. Hal itu membuat France Football kembali mengembalikan hak voting ke jurnalis. Sementara di sisi lain, FIFA membuat penghargaan untuk pemain terbaik sendiri dengan tajuk ‘FIFA The Best’, yang sistem votingnya didapat dari pilihan pemain, pelatih, jurnalis hingga publik.
Meski FIFA selaku badan tertinggi sepakbola telah membuat penghargaan untuk pemain terbaik sendiri, eksistensi Ballon d’Or yang dipegang France Football dianggap masih jadi penghargaan paling prestise bagi setiap pemain sepak bola.


