AS Roma menyambut musim baru 2021/2022 dengan optimisme tinggi. Penyebabnya sudah pasti, yakni kehadiran Jose Mourinho sebagai allenatore anyar yang menggantikan posisi Paulo Fonseca. Pendukung Roma jelas girang bukan main, sebab The Special One adalah salah satu pelatih tersukses di dunia dan punya reputasi mentereng di tiap klub yang ia tangani.
Roma sendiri jadi klub Italia kedua yang dilatih Mourinho. Sebelumnya, juru taktik asal Portugal itu pernah meraih kesuksesan besar saat melatih Inter Milan di medio 2008-2010. Mantan pelatih FC Porto itu mengantar La Beneamata menjadi tim Italia pertama yang meraih treble winner.
AS Roma announces Jose Mourinho will take over as head coach from the 2021/22 season 😱 pic.twitter.com/CTrhoj6fxZ
— FOX Soccer (@FOXSoccer) May 4, 2021
Atas dasar itulah patut kiranya seluruh lapisan AS Roma menaruh harapan tinggi kepada Jose Mourinho dan anak asuhnya di musim ini. Sebab, sudah terlalu lama juga klub asal ibukota Italia itu tak mencatat prestasi. Terakhir kali Roma mengangkat trofi terjadi di musim 2007/2008 saat menjuarai Coppa Italia. Sementara terakhir kali Giallorossi meraih scudetto terjadi di musim 2000/2001.
Kalah dari Tim Promosi Venezia, Posisi Roma Makin Merosot
Namun apa hendak dikata. Alih-alih bersaing di papan atas untuk jadi penantang gelar, skuad Roma akhir-akhir ini justru tampil inkonsisten. Hingga giornata 12 Serie A, performa pasukan Mourinho belum bisa dibilang meyakinkan.
Roma baru saja turun posisi di papan klasemen Serie A. Itu terjadi setelah secara mengejutkan Lorenzo Pellegrini dkk tunduk di kandang tim promosi, Venezia. Roma yang tertinggal lebih dulu oleh gol cepat Mattia Caldara berhasil mengakhiri babak pertama dengan keunggulan 1-2 lewat gol balasan Eldor Shomurodov dan Tammy Abraham. Namun, di babak kedua, Venezia berhasil membalikkan kedudukan lewat gol Mattia Aramu dan David Okereke. Laga di Stadio Pierluigi Penzo itupun berakhir dengan skor 3-2 untuk kemenangan tuan rumah.
Venezia BEAT Roma for the first time in Serie A since February 1999 😱
This is also the first time Venezia have scored 3 goals in a Serie A in game in nearly 20 years…
and it comes against Jose Mourinho 👀
📊 stat via @gippu1 pic.twitter.com/JdbcSlHQty
— Italian Football TV (@IFTVofficial) November 7, 2021
Hasil itulah yang memaksa AS Roma turun ke peringkat 6 dengan koleksi 19 poin dari 12 pertandingan. Kekalahan atas Venezia jadi kekalahan kelima Roma di Serie A musim ini sekaligus jadi kekalahan kedua beruntun mereka di 2 giornata terakhir.
Di 5 pertandingan terakhirnya di Liga Italia, pasukan Jose Mourinho bahkan hanya meraih 1 kemenangan, itupun ketika mereka berhadapan dengan tim juru kunci, Cagliari. Selebihnya, Giallorossi ditahan imbang Napoli dan kalah dari Juventus, AC Milan, dan yang terbaru, Venezia.
Hanya meraih 6 kemenangan di 12 pertandingan pertama Serie A musim ini jelas bukan tanda yang baik. Apalagi, di ajang Europa Conference League, Roma gagal meraih kemenangan di 2 pertandingan terakhirnya. Mereka dipermalukan Bodø/Glimt (baca: Bude/Glimt) 6-1 di kandangnya dan ditahan imbang 2-2 di Olimpico.
Just one point from a possible six against Norwegian side Bodo/Glimt 😬
Jose Mourinho’s Roma are slipping up in the Europa Conference League 📉#UECL pic.twitter.com/s0gc7o2beF
— Football on BT Sport (@btsportfootball) November 4, 2021
Lalu, apa yang salah dengan AS Roma dan Jose Mourinho? Mari kita ulas satu persatu.
Lini Serang Roma Kurang Efektif, Lini Belakangnya Kurang Klinis
Dibanding dengan pelatih sebelumnya, catatan Roma bersama Mourinho di 12 pertandingan pertama Serie A musim ini lebih buruk. Musim lalu, Paulo Fonseca berhasil membawa Roma menang 7 kali di 12 pertandingan pertamanya dan mampu mengoleksi 24 poin. Sementara Roma versi Mourinho cuma menang 6 kali.
Namun jika dilihat dari catatan golnya, serangan Roma sebenarnya cukup baik. Tammy Abraham dkk sudah mengemas 21 gol, hanya terpaut 3 gol dari pimpinan klasemen sementara, Napoli. Deretan penyerang Roma sebenarnya bisa menghasilkan lebih banyak gol, andai mereka punya efektivitas yang baik.
Ya, masalah lini serang Roma adalah efektivitas mereka dalam mengkonversi peluang menjadi gol. Di 12 pertandingan, Roma berhasil menghasilkan 18,5 tembakan perlaga dengan rata-rata 5,4 shots on target perlaga. Catatan tersebut hanya kalah dari Inter Milan yang menghasilkan 5,6 shots on target perlaga.
Serangan Giallorossi juga mampu menghasilkan 24 peluang emas, tebaik ketiga setelah Inter dan Atalanta. Sayangnya, Roma hanya mampu menghasilkan 1,8 gol perlaga. Tingkat konversi tembakan menjadi gol mereka hanya sebesar 33%, kalah dari tim-tim papan atas semacam AC Milan, Atalanta, Inter Milan, Napoli, Lazio, bahkan Hellas Verona.
Ironisnya, 2 pemuncak top skor sementara Roma di Serie A justru hadir dari Lorenzo Pellegrini dan Jordan Veretout yang merupakan seorang gelandang tengah. Tammy Abraham yang baru didatangkan musim ini dari Chelsea dengan harga 40 juta euro baru mampu mencetak 3 gol dari 12 penampilannya di Serie A. Sementara Eldor Shomurodov yang ditebus seharga 17,5 juta euro dari Genoa baru mencetak 1 gol dari 10 penampilannya di Liga Italia musim ini.
Selaku pelatih, Mourinho tak menampik masalah tersebut. Usai kandas dari Venezia, ia malah terang-terangan mengeluhkan kinerja anak asuhnya, khususnya kinerja para penyerang Roma yang banyak buang-buang peluang.
“Kami menciptakan banyak peluang, dan ketika Anda masuk ke posisi berbahaya dan tidak menciptakan bola terakhir yang tepat, itu membuat frustrasi. Bagaimana mungkin membuat begitu banyak peluang dan kemudian tidak mencetak gol?” kritik Mourinho dikutip dari DailyMail.
Jose Mourinho didn’t hold back about his players after Roma’s 3-2 loss to Venezia… 👀😬 pic.twitter.com/g3YvL4jN8R
— Football on BT Sport (@btsportfootball) November 7, 2021
Selain masalah efektivitas mereka dalam mengkoversi peluang menjadi gol, masalah lain dari AS Roma adalah kinerja lini belakangnya. Ini jadi ironi, sebab Jose Mourinho dikenal sebagai pelatih pragmatis yang tak jarang menerapkan taktik parkir bus.
“Kami kebobolan gol pertama melalui set play yang kami latih kemarin dan masih salah bertahan.” kritik Mourinho dikutip dari DailyMail.
Pernyataan Mourinho itu sendiri jadi isyarat bahwa sebenarnya taktiknya tak sepenuhnya salah. Namun, implementasinya di lapangan gagal dijalankan dengan sempurna. Khusus untuk pemain bertahan, stok defender yang dimiliki Mourinho saat ini bisa dibilang kualitasnya kurang teruji secara klinis.
Masih cederanya Chris Smalling dan Leonardo Spinazzola membuat Mourinho terpaksa bertumpu pada bek-bek muda seperti Riccardo Calafiori, Roger Ibanez, Gianluca Mancini, Matias Vina hingga Marash Kumbulla. Kurangnya pengalaman mereka jadi masalah ketika Roma menjalani laga penting. Buktinya, di 7 pertandingan terakhirnya, gawang Roma yang dikawal Rui Patricio telah bobol 15 kali.
Kedalaman Skuad Roma Kalah Dibanding Tim Besar Lainnya
Lebih daripada itu, Roma punya masalah yang jauh lebih pelik. Dibanding klub besar lainnya, kedalaman skuad Giallorossi bisa dibilang kalah saing. Roma sebetulnya sudah belanja hingga 124,25 juta euro di awal musim ini, tetapi kebanyakan dari pemain yang datang kualitasnya tak lebih dari sekadar penambal skuad. Lagipula, skuad Roma juga terbilang masih sangat muda. Rataan usia mereka hanya 25,2 tahun dan jadi skuad termuda kedua di Serie A musim ini.
Lalu, apakah performa dan hasil buruk yang diraih AS Roma dalam beberapa laga terakhir bisa menjadi akhir karier bagi Jose Mourinho di klub ibukota Italia tersebut?
AS Roma’s last seven matches ⬇️
LDLWDLL 😬 pic.twitter.com/aGN0UuZDVK
— International Champions Cup (@IntChampionsCup) November 7, 2021
Kami rasa memecat Mourinho bukanlah pilihan bijak. Ada 2 hal yang menjadi alasannya. Pertama, Roma butuh membayar uang pesangon yang mahal bila memecat Mourinho yang masih terikat kontrak hingga 30 Juni 2024. Kedua, The Special One memang butuh waktu yang tak sebentar untuk memperbaiki kualitas I Lupi.
Seperti yang sudah kami singgung, kedalaman skuad Roma kalah saing bila dibanding dengan klub besar lainnya. Gelandang Roma, Jordan Veretout juga mengakui hal tersebut.
“Ini adalah proyek ambisius yang tidak bisa dibangun dari satu hari ke hari berikutnya. Wajar kalau butuh waktu dan rekrutan baru agar terus membaik,” kata Veretout dikutip dari Detik Sport.
Hingga giornata 12, Giallorossi sudah berjumpa dengan Napoli, Juventus, AC Milan, dan Lazio. Sayangnya, di 4 laga derby tersebut, mereka hanya mampu memetik 1 poin yakni saat menahan imbang Napoli 0-0 di Stadio Olimpico. Sisanya, Tammy Abraham dkk selalu tumbang dihadapan Lazio, Juventus, dan AC Milan.
Untuk itulah tak ada pilihan lain bagi Roma bila ingin memperbaiki performanya selain dengan belanja pemain di bursa transfer Januari. Mourinho sendiri sudah terlalu sering mengeluhkan kedalaman skuad yang ia miliki. Ia juga sudah beberapa kali mengkritik kebijakan transfer klub.
“Saya tidak berpikir skuad ini lebih kuat dari musim lalu. Kami kehilangan banyak pengalaman, kami harus mendatangkan pemain untuk menggantikan mereka yang pergi, tapi banyak dari mereka yang kurang berpengalaman di level ini.” kata Mourinho dikutip dari FootballItalia.
Pelatih asal Portugal itu diketahui telah mengincar beberapa nama untuk memperkuat beberapa sektor. Di posisi striker, Mourinho dikabarkan meminati Erik Botheim. Ia adalah striker Bodø/Glimt yang pernah membobol gawang Roma sebanyak 3 kali dalam 2 pertemuan mereka di babak grup Liga Konferensi Eropa.
Sahabat karib Erling Haaland itu jelas akan mendepak posisi Borja Mayoral yang memang sejak awal tak masuk dalam skema Mourinho. Hingga pekan ke-12, Mayoral jadi satu-satunya striker Roma yang belum menyumbang gol maupun asis.
Di posisi gelandang tengah, Mourinho dikabarkan mengincar mantan anak asuhnya di Tottenham Hotspur, Harry Winks. Nama Denis Zakaria dari Borussia Monchengladbach dan Ruben Loftus-Cheek dari Chelsea dikabarkan juga masuk dalam radar. Sementara untuk sektor pemain bertahan, Mourinho dikabarkan meminati bek kanan MU, Diogo Dalot.
Sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas pencapaian tim di musim ini, Mourinho mentargetkan AS Roma finish empat besar di Serie A. Ini merupakan target yang realisitis. Pasalnya, di 3 musim terakhirnya, Roma selalu finish di luar 5 besar dan selalu absen dari ajang Liga Champions semasa dilatih Paulo Fonseca.
Jadi, masih sabarkah fans Roma dengan Jose Mourinho?
“I believe in Mourinho. Roma will come in 4th.”
🗣 Totti to Le Iene 💛❤️ pic.twitter.com/Cq1Yh6I9Pm
— Italian Football TV (@IFTVofficial) November 10, 2021
“Saya percaya pada Mourinho. Roma akan berada di urutan ke-4.” ujar Francesco Totti dikutip dari IFTV.
***
Sumber Referensi: Transfermarkt, DailyMail, ForzaItalianFootball, Detik, FootballItalia, GetFootballNewsItaly, Chiesa di Totti.


