Para penggemar FC Barcelona di seluruh dunia akhirnya bisa bernapas lega, setelah pelatih yang memang mereka inginkan hengkang, Ronald Koeman, kini be nar-benar tinggalkan kenangan.
Ronald Koeman resmi dipecat sebagai juru taktik FC Barcelona tepat setelah klub menelan kekalahan atas klub yang baru promosi ke La Liga Rayo Vallecano dengan skor tipis satu nol beberapa waktu lalu. Selama menjabat sebagai entrenador Barcelona, pencapaian terbaik Koeman adalah ketika dia berhasil membawa Martin Braithwaite cs merengkuh trofi Copa del Rey edisi 2020/21.
🚨 RESMI: Ronald Koeman DIPECAT Barcelona 👋 pic.twitter.com/WqzH2BpMko
— Goal Indonesia (@GOAL_ID) October 27, 2021
Memimpin Barca dalam total 67 pertandingan, Koeman berhasil catatkan 40 kemenangan, 11 hasil imbang, dan 16 kali kalah. Sebanyak 141 gol sukses disarangkan ke gawang lawan, sementara gawang Barcelona terbobol sebanyak 77 kali di bawah asuhannya.
Daftar Isi
Kronologi Pemecatan Koeman
Pascalaga melawan Rayo, Koeman menjalani masa-masa terakhir sebagai pelatih Barcelona. Dia sempat menjumpai pers dan mengatakan sesuatu yang sejatinya tidak mencurigakan, meski memang sang pelatih mengakui bila Barca tengah mengalami masa sulit.
“Posisi Barcelona mengatakan bahwa kami tidak baik-baik saja,”
Diceritakan, Koeman harus menerima kenyataan bahwa dia tidak lagi menjadi pelatih Barca, dalam sebuah perjalanan udara dari Madrid menuju Barcelona. Dalam rombongan yang menyertakan Presiden Joan Laporta beserta staf lainnya, dibuka sebuah diskusi singkat untuk menentukan nasib Ronald Koeman.
Klub mengaku sudah habis kesabaran dan tidak bisa lagi memberi kesempatan kepada Koeman. Kabar ini pun sudah mampir ke telinga Koeman tepat sebelum pesawat mendarat di bandara el Prat Barcelona.
Dengan itu dia menyadari bila pada sesi latihan Barcelona berikutnya, tidak akan ada instruksi lagi yang diberikan, melainkan sebuah salam perpisahan formal kepada seluruh komponen yang ada di Blaugrana, utamanya para penggawa.
“Barcelona telah membebaskan Ronald Koeman dari tugasnya sebagai pelatih. Presiden Joan Laporta telah memberitahu nya usai kekalahan atas Rayo Vallecano. Barcelona mengucapkan banyak terima kasih dan mendoakan yang terbaik kepada karir profesionalnya,” tulis Barcelona.
FC Barcelona has relieved Ronald Koeman of his duties as first team coach
— FC Barcelona (@FCBarcelona) October 27, 2021
Dari pemecatan yang tampak ditunggu banyak penggemar Barcelona ini, klub sesungguhnya sudah menyiapkan keputusan itu sejak lama. Namun ada beberapa hal yang perlu dipahami, sehingga membuat mereka mengurungkan niatnya untuk segera melengserkan Koeman.
Kisah di Balik Pemecatan Koeman
Berdasarkan laporan Julio Pulido di el Larguero, ketidakpercayaan klub terhadap sosok Koeman sudah muncul sejak Maret lalu, tepat ketika Joan Laporta ditunjuk sebagai Presiden klub. Saat itu, Laporta sempat mengungkapkan bila Koeman bukanlah pelatih pilihannya.
Ketika kemudian banyak yang mempertanyakan mengapa sang pelatih tidak segera dibebastugaskan, klub memiliki dua alasan kuat untuk menjawabnya.
Pertama, ketika itu belum ada sosok ideal yang dinilai tepat untuk mengisi kursi kepelatihan FC Barcelona. Laporta tidak ingin segera memecat Koeman karena memang dia sendiri belum bisa menemukan pengganti ideal sang pelatih asal Belanda.
Menurutnya, memilih seorang pelatih ideal sangat membutuhkan waktu. Tidak bisa secara tiba-tiba, karena hal tersebut akan berpengaruh pada reputasinya sebagai presiden klub ketika pelatih yang ditunjuknya gagal berikan holy grail bagi FC Barcelona.
Koeman has lost motivation
Koeman has lost confidence
Koeman has lost technicalities
Koeman has lost clue
😭😭😭
In a pool of la masia talent like Riqui Puig and many more, yet he play games with lesser short on target, we are now at the mercy of our opponents.#koemanout pic.twitter.com/HYoB72gCkL— The bicycle guy- Slimmy (@nosa_abbot) October 27, 2021
Ketika bicara soal nama Xavi Hernandez, Laporta menjelaskan bahwa dirinya memang tidak melakukan pendekatan sama sekali kepada eks pemain Barca tersebut saat itu, karena sekali lagi, dia tidak mau terburu-buru. Lagipula, Laporta juga ‘merasa’ Xavi belum memiliki kualitas jempolan untuk tangani Barca.
Dia masih ragu, dimana hal ini lantas membuat posisi Koeman masih terus dipertahankan.
Alasan berikutnya mengapa Barca tidak segera memecat Koeman adalah karena masalah kompensasi. Barcelona masih mengalami krisis keuangan, yang mana apabila saat itu mereka nekat untuk memecat Koeman, maka setidaknya ada dana senilai 13 juta euro atau setara 214 miliar rupiah yang harus dikeluarkan sebagai kompensasi.
Sebetulnya, ketika Barca menelan kekalahan telak 0-3 dari Benfica, Laporta sudah berniat memecat Koeman, namun masalah pengganti yang belum juga didapat disebut sebagai penghalangnya. Hal itu pula yang kemudian membuatnya kembali memberi kesempatan kepada Koeman dalam tiga pertandingan ke depan.
Tiga laga yang mempertemukan Barcelona dengan Atletico, Valencia, dan Dynamo Kiev, sukses membuat Koeman kantongi dua kemenangan, dan lagi-lagi membuat Laporta memperpanjang masa baktinya di kursi kepelatihan Barca.
Puncaknya, Barcelona menelan kekalahan di laga el Clasico melawan Real Madrid dan tumbang atas tim promosi Rayo Vallecano.
Dari situ, tak butuh waktu lama bagi Laporta untuk menghentikan perjalanan Koeman sebagai pelatih FC Barcelona.
Dosa Ronald Koeman di FC Barcelona
Apa yang telah dilakukan manajemen dengan memecat Koeman memang menjadi langkah yang sangat tepat. Koeman banyak melakukan kesalahan dan benar-benar gagal kembalikan kejayaan el Barca. Yang ada, dia malah membuat performa tim kian parah.
Koeman pernah mengatakan bila para pemain Barcelona saat ini tidak ada yang cocok dengan skema tiki-taka di masa lalu. Dia kerap mengganti sistem 4-3-3 menjadi 4-2-3-1, dimana umpan pendek mulai ditinggalkan.
Lalu, Koeman kerap memelihara masalah di ruang ganti, seperti pernah cekcok Riqui Puig dengan memilih untuk jarang memainkan sang pemain. Sebelumnya, Koeman juga melakukan blunder yang secara mengejutkan melepas Luis Suarez yang dianggapnya sudah terlalu tua untuk diandalkan.
Membiarkan kepergian Lionel Messi dan Antoine Griezmann tanpa pengganti juga menjadi hal yang patut disalahkan dari sosok Koeman.
Kondisi itu lalu kian diperparah dengan pembelian pemain yang buruk. Sergino Dest, Memphis Depay, sampai Luuk de Jong, merupakan pemain yang didatangkan atas rekomendasi Koeman yang seperti ingin membuat kesebelasan rasa Belanda. Namun apa yang mampu mereka berikan? Pemain tersebut belum juga membuktikan kapasitasnya untuk tampil di klub sebesar FC Barcelona.
Kemudian, dosa Ronald Koeman yang tak kalah membekas adalah, dia gagal memenangkan satu pun pertandingan el clasico sejak tangani Gerard Pique dan kolega. Selain el Clasico, Barca juga kerap tak berdaya ketika meladeni perlawanan tim besar lainnya.
Barca gagal meraih kemenangan dari Atletico pada musim lalu hingga membuat klub tersebut meraih gelar juara. Di kompetisi Eropa, meski sempat menang sekali atas Juventus pada musim lalu, Barca menelan kekalahan atas Paris Saint Germain, FC Bayern, dan Benfica, pada pertandingan-pertandingan selanjutnya.
Calon Pengganti Koeman
Kini jelas sudah, mencari pengganti Koeman adalah tugas Laporta berikutnya. Meski berat, dia tampak mulai menaruh kepercayaan kepada Xavi Hernandez yang banyak disebut sebagai sosok paling ideal untuk mengembalikan kejayaan FC Barcelona.
Bahkan muncul kabar bila Xavi sudah sepakat untuk melatih FC Barcelona. Laporan juga menyebut bila Xavi tinggal mengurus penghentian kontraknya di Al Sadd. Bila setuju datangkan Xavi, Barcelona harus membayar dana sebesar 1 juta euro sebagai kompensasi.
Nama Xavi Hernandez ramai diberitakan akan tangani Barcelona usai Ronald Koeman dipecat.
Namun, proses perpindahan tentu tak mudah karena Xavi masih punya tanggung jawab bersama klub yang saat ini memakai jasanya, Al Sadd SC, Qatar. pic.twitter.com/k6gVSgPOVc
— SPORT7 (@sport7trans7) October 29, 2021
Xavi sendiri sudah mempersiapkan sejumlah hal, selain kata sepakat yang disampaikannya untuk melatih FC Barcelona. Dia kabarnya bakal membawa serta dua saudaranya yang selama ini jadi asistennya di Al Sadd, yaitu Oscar Hernandez dan Sergio Alegre.
Kemudian nama Ivan Torres yang jadi pelatih fisik juga kabarnya bakal masuk ke dalam rombongan.
Bila Xavi dinilai kurang pas, maka masih ada sejumlah nama yang siap mengisi kekosongan pelatih FC Barcelona. Diantaranya, Marcelo Gallardo yang kini masih melatih River Plate namun telah menyuarakan rencananya untuk menerima tantangan melatih di Eropa.
Gallardo baru saja memenangkan gelar Liga Argentina dan memiliki gaya permainan menyerang yang memanfaatkan penguasaan bola. Gaya melatih Gallardo bahkan sempat diakui kehebatannya oleh legenda Barca, Pep Guardiola.
“Apa yang telah dilakukan Gallardo di River sangat luar biasa.”
Berikutnya ada nama Sergi Bajuan yang kita tahu merupakan pelatih Barcelona B dan kini jadi pelatih interim pasca kepergian Koeman. Meski peluangnya untuk menjadi pelatih tim utama terbilang kecil, Sergi Bajuan memiliki pengetahuan mendalam tentang klub dan bisa berpotensi jadi Pep Guardiola jilid dua yang ketika itu juga diberi kesempatan naik kelas dari tim muda.
Nama lain yang santer dilaporkan jadi kandidat pelatih Barcelona adalah Andrea Pirlo, Roberto Martinez, sampai Erik Ten Hag.
Namun bila boleh jujur, penunjukkan Xavi Hernandez mungkin akan menjadi yang paling tepat, mengingat dia punya beberapa kelebihan. Diantaranya hadir sebagai legenda Barcelona. Namanya besar di Barcelona hingga membuatnya memiliki DNA klub Catalan. Tentang pengalaman dan pengetahuan nya di klub, Xavi sangat layak kembali sebagai pelatih yang siap kembalikan kejayaan Blaugrana.
Mari lihat video tiki taka Xavi di Al Sadd yang satu ini, sangat Barcelona sekali!
Xavi has Al Sadd playing beautiful football 👏 pic.twitter.com/xVRMwCyeuJ
— ESPN FC (@ESPNFC) October 28, 2021
Berikutnya, Xavi sudah membuktikan diri sebagai pelatih hebat dengan sederet gelar yang didapat di Al Sadd. Gaya permainan tiki-taka yang begitu melekat dengannya sukses membawa gelar Qatar Stars League, Qatar Cup, Qatar Super Cup, Emir of Qatar Cup, dan Qatari Stars Cup.
Selain gelar yang didapat, perjalanan yang diperlihatkan Xavi juga tak main-main. Dia mampu membawa klub melakoni sebanyak 34 laga tanpa kekalahan. Dalam total 93 pertandingan yang dijalani, Xavi berhasil memenangkan 63 diantaranya. 14 pertandingan lainnya berakhir imbang dan 16 sisanya tumbang.
Di musim ini, Xavi juga masih mampu membawa timnya duduk di tangga teratas dengan raihan 21 poin, hasil dari tujuh kemenangan dari tujuh laga yang dilakoni.
Jadi bagaimana Barca, kapan akan segera umumkan Xavi sebagai pelatih anyar?
Sumber referensi: The Flanker, Bolasport, Planet Football, Bolasport 2, Marca


