Suatu ketika usai sebuah pertandingan level internasional, eks pemain Timnas Vietnam, Van Sy Hung menunjukkan keheranannya usai Vietnam meraih kemenangan atas Timnas Indonesia pada pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2022. Timnas Indonesia yang masih dilatih Simon McMenemy harus mengakui keunggulan Timnas Vietnam 1-3.
Van Sy Hung heran karena sepanjang pertandingan para pemain Timnas Indonesia hanya melakukan umpan-umpan lambung yang tak terukur sama sekali. Ia boleh jadi terkejut karena baru pertama kali ini menonton pertandingan skuad yang menamai dirinya Tim Nasional, tapi tak mempunyai gaya permainan yang efektif. Timnas tapi tak jauh berbeda dari tim tarkam. Pemain-pemainnya seperti pemain amatir yang tak pernah sedikit pun berlatih sepak bola.
Pernyataan Van Sy Hung seolah benar adanya. Timnas Indonesia, apa pun levelnya selalu mengandalkan umpan-umpan lambung yang, komentator sepak bola selalu bilang umpan direct. Mungkin biar lebih kece dan nggak ngebosenin ketika didengar. Bagaimana dengan Timnas U-19 era Indra Sjafri?
Ya, tak bisa dipungkiri Timnas U-19 versi Indra Sjafri yang mengalahkan Korea Selatan di GBK memang menjadi salah satu generasi terbaik. Namun, mereka juga tak kehilangan identitasnya sebagai Timnas Indonesia: selalu bermain umpan lambung. Lihatlah bagaimana Evan Dimas atau Hargianto yang acap kali mengirim umpan lambung ke arah Ilhamudin Armayn di sisi kiri atau Maldini Pali atau Yabes Roni di sisi kanan.
Terlempar dari Skuat Inti Timnas Indonesia U-23, Begini Respons Evan Dimas
.
Pelatih Timnas Indonesia U-23 , Luis Milla Aspas, bereksperimen pada partai kedua Grup A Asian Games 2018 melawan Palestina di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Rabu (15/8). Salah satunya ialah k… pic.twitter.com/cOUul3SfLW— Sagah TV Streaming (@sagahtvstream) August 16, 2018
Apa namanya kalau bukan umpan lambung? Nah, ternyata, jika kita mencermati Liga Indonesia, berapapun divisinya, pola permainan umpan lambung juga sering diterapkan. Umpan lambung jadi semacam ciri khas dan bahkan DNA klub dan timnas Indonesia.
Tentu muncul pertanyaan, kenapa sih pemain timnas atau klub Indonesia acap kali melakukan umpan lambung? Padahal kan postur tubuhnya tak terlalu besar, sekalipun juga tidak sekecil kurcaci. Bagaimana mau menerima umpan lambung, melompat saja tak begitu tinggi?
Daftar Isi
Tidak Ada Kaitannya dengan Tinggi Pemain
Sebetulnya, umpan lambung dalam permainan sepak bola tidak ada kaitannya dengan tinggi badan pemain. Maksudnya, pemain yang dianggap pendek pun acap kali tak kesulitan menerima umpan lambung. Kita bisa melihat sosok seperti Lionel Messi.
La Pulga termasuk pemain sepak bola berbadan mungil. Namun, sekalipun tingginya masih kalah dari Carvajal misal, Messi bisa saja sanggup menerima umpan direct dari rekannya. Messi tentu memiliki skill untuk menerima umpan dengan model apa pun.
Artinya, dengan postur kecil pun seorang pemain bisa menerima umpan lambung. Asalkan ia memiliki skill mengontrol bola dengan bagus yang kemudian membawanya sampai menciptakan peluang. Apakah pemain Indonesia bisa seperti itu? Tentu, tapi di gim FIFA.
Banyak Gelandang dengan Kemampuan Umpan Baik
Timnas Indonesia atau klub-klub yang mengarungi Liga Indonesia banyak diisi para pemain hebat, untuk ukuran warga +62. Salah satu pos yang kerap dihuni pemain hebat lagi berbakat adalah gelandang. Entah gelandang serang, gelandang bertahan, atau gelandang box to box. Gelandang-gelandang ini kebanyakan adalah pemain dengan kualitas umpan yang baik.
Jika di Timnas misalnya, kita bisa menyebut sosok seperti Firman Utina. Berkat Firman lah kita bisa menyaksikan Timnas Indonesia yang selalu mengandalkan umpan lambung. Sebab Firman sering mengirim umpan-umpan direct ke striker seperti Cristian Gonzales, Bambang Pamungkas, sampai Irfan Bachdim.
#SekilasBolanet SAH! Firman Utina dipilih Alfred Riedl sebagai kapten timnas senior di Piala AFF 2014. pic.twitter.com/9blF1sH3z0
— Bola (@Bolanet) November 17, 2014
Di level liga, tak sedikit pemain tengah yang memiliki kualitas umpan jauh yang nyaris paripurna. Seperti Ahmad Bustomi, mantan pemain Timnas dan juga gelandang Persela Lamongan. Kalau mau pemain asing, kita bisa menambahkan nama Rohit Chand di Persija dan Marc Klok di Persib Bandung.
Sayap yang Siap Berlari
Selain mempunyai para pengumpan kreatif, Indonesia juga dikaruniai pemain sayap yang tidak memalukan-memalukan amat. Dari level liga sampai timnas selalu menjadi tumpuan, tentu saja untuk menerima umpan lambung. Kemudian pemain sayap itulah yang bertugas menusuk ke jantung pertahanan lawan atau memberikan umpan lambung lagi ke kotak penalti.
Di level timnas, kita tentu ingat seorang Oktovianus Maniani alias Okto. Pemain berkepala plontos itu merupakan salah satu sayap terbaik yang pernah dimiliki Timnas Indonesia. Ada juga Saddil Ramdani, Riko Simanjuntak, sampai Febri Hariyadi yang mau tidak mau mesti siap mendapat umpan-umpan lambung dari rekan-rekannya.
Sementara di level klub, banyak klub-klub di Indonesia yang dipenuhi pemain sayap bergaransi. Bahkan beberapa tidak hanya bertugas menerima umpan atau mendribble bola hingga menusuk ke jantung pertahanan lawan, dan akhirnya tetap mengirim umpan lambung dari sayap alias crossing. Namun ada pula yang punya peran mencetak gol.
Ambil contoh Yabes Roni Malaifani. Pemain Bali United tersebut sebetulnya tipikal sayap, tapi tak jarang ia menerima umpan lambung untuk kemudian langsung menyundulnya ke gawang. Selain itu, ada Osvaldo Haay pemain sayap Persija itu kerap diplot untuk menerima umpan direct, tugasnya menggiring bola hingga ke kotak penalti atau mengirim umpan silang.
3 goals by Yabes Roni, Demerson Bruno and Stefano Lilipaly make Bali Utd get their first 3 points in AFC Cup 2018 ✊#AFCCup2018 pic.twitter.com/ZFkngLXyo5
— footballIndonesia (@footballinanews) March 7, 2018
Serba Instan
Soal gelandang kreatif dan sayap tadi hanya sebatas alasan teknis saja. Alasan non teknisnya karena sepak bola Indonesia adalah sepak bola instan. Apa-apa penginnya serba instan. Entah ini pengaruh mi instan atau bukan.
Ya memang, dengan umpan lambung, bola akan cepat sampai ke jantung pertahanan lawan. Sehingga mungkin bisa lebih cepat menciptakan gol. Itulah yang sering dilakukan Timnas dan klub Indonesia.
Timnas Indonesia tak jarang bermain sangkar burng. Mencoba memainkan bola di pertahanan sendiri sambil menunggu lawan melakukan pressing. Ketika lawan sudah naik, pemain timnas tidak melakukan through pass. Mungkin biar nggak buang waktu, umpan lambung lah yang dipilih.
Betul juga sih. Kalau harus umpan pendek dan lalu terobosan, itu bisa lama sampai ke pertahanan lawan. Apalagi pemain timnas tak memiliki kualitas untuk mengontrol bola dengan baik. Sayangnya, hal itu juga terjadi di Liga Indonesia.
Oke, umpan lambung mungkin akan efektif bila kualitas umpan dan si penerima terlatih. Jika tidak, resiko kehilangan bola lebih tinggi. Tim yang melakukannya akan kalah ball positioning atau penguasaan bola. Betul memang, penguasaan bola bukanlah penentu kemenangan, melainkan gol. Namun, bagaimana mau mencetak gol kalau bola saja tak bisa dikuasai?
Minim Filosofi
Alasan kenapa timnas dan klub lokal selalu mengandalkan umpan lambung adalah karena minimnya filosofi bermain. Minim sebab mau gimana lagi, filosofi sih ada tapi terkesan hanya diada-adakan. Fyi aja nih, nama filosofi sepak bola Indonesia adalah Filanesia. Hah? Baru denger?
Katanya sih, itu akronim dari Filosofi Sepak bola Indonesia. Namun faktanya, ketika melihat Timnas Indonesia dan klub-klub lokal tampil seperti tidak ada filosofi bermainnya. Kalau ada, tidak mungkin dong terlalu rajin umpan lambung? Gaya menyerang dan umpan, jika punya filosofi, pasti jauh lebih efektf dan nikmat ditonton.
Sebagai pemerhati bola ku akui Permainan Timnas Indonesia terbaik saat dilatih Luis Milla
Retweet yang sependapat!
Menuju ⚽🇮🇩 lebih baik💪 pic.twitter.com/l4VbWrpLeR
— Andi Mahfuri (@andimahfu_ri) June 8, 2021
Apakah Timnas Indonesia pernah punya pelatih yang memiliki filosofi bermain? Tentu. Orang tersebut adalah Luis Milla. Namun diakui atau tidak, filosofi sepak bola Luis Milla tidak cocok dengan filosofi instan ala PSSI.


