Thomas Tuchel dan Chelsea: Ancaman Serius Tim-tim Besar Eropa

spot_img

Menit ke-199, Edouard Mendy ditarik keluar oleh Thomas Tuchel. Pada saat Chelsea menghadapi Villareal di Piala Super Eropa 2021, sebetulnya Mendy tampil sangat mengesankan. Beberapa tembakan dari para pemain Villareal berhasil dimentahkan kiper asal Senegal tersebut. Namun karena laga berjalan imbang 1-1, Tuchel lebih mempercayakan Kepa Arrizabalaga untuk melakoni adu penalti.

Hasilnya sungguh mengesankan. Kepa yang acap kali diremehkan karena bengal dan kemampuannya yang tidak sesuai dengan harganya, berhasil membawa Chelsea meraih trofi Piala Super Eropa. Kepa sukses menepis dua tendangan eksekutor Villarreal, Aissa Mandi dan Raul Albiol. Chelsea menang lewat adu penalti. Ini adalah gelar kedua Thomas Tuchel bersama Chelsea setelah sebelumnya The Blues sukses meraih gelar Liga Champions.

Padahal sebelum kadatangan Tuchel, nasib Chelsea tidak begitu baik. Tim London Barat tampil kembang kempis. Bahkan pada saat eks gelandang flamboyan The Blues, Frank Lampard turun melatih. Prestasi Lampard saat di Chelsea tidak begitu menggembirakan.

Ia gagal membawa Chelsea meraih trofi Piala FA dan Piala Super Eropa. Satu-satunya prestasi yang sedikit membanggakan adalah Lampard berhasil membawa Chelsea untuk tetap bermain di Liga Champions di musim depan. Nah, kedatangan Thomas Tuchel boleh dibilang mampu membuat Chelsea yang semula empot-empotan, kini menjadi tim yang bisa jadi ancaman serius bagi tim-tim besar Eropa.

Tuchel Sebelum di Chelsea

Jauh sebelum menjadi pelatih, Tuchel pernah mengalami kepedihan yang luar biasa saat kariernya sebagai pesepakbola harus berhenti. Cedera lutut yang dialaminya pada 1998, membuat Tuchel harus mengubur lebih cepat mimpinya jadi pemain sepak bola termasyhur.

Tapi Tuchel beruntung, Ralf Rangnick, pelatihnya di SVV Ulm mau mengulurkan tangannya. SVV Ulm sendiri adalah tim terakhir yang dibela Tuchel pada usia 25 tahun sebelum ia cedera. Rangnick mungkin akan menjadi orang yang berjasa bagi karier Tuchel.

Ia membukakan jalan Tuchel menjadi seorang pelatih ketika diminta untuk menemani tim junior VfB Stuttgart pada sekitaran tahun 2000. Tuchel akhirnya membawa VfB Stuttgart menjuarai kompetisi U-19. Tuchel pulalah yang ikut membesarkan pemain kaliber Mario Gomez dan Holger Badstuber. Hingga masa baktinya bersama Stuttgart berakhir, pada 2005 Tuchel menukangi tim Augsburg II.

Kala itulah ia bertemu dengan Julian Nagelsmann, yang kini melatih Bayern Munchen. Namun karena Tuchel bukanlah sosok yang penuh welas asih, melainkan keras, akhirnya Augsburg II frustasi dan memecat Tuchel. Saat itulah, pada 2009 Tuchel melatih tim profesional FSV Mainz 05.

Tahun 2014, Tuchel mundur dari Mainz dan menjadi pelatih Borrusia Dortmund. Tepat di titik itulah, Tuchel sering disebut-sebut mirip dengan Jorgen Klopp yang sama-sama mengawali karier dari Mainz lalu Dortmund. Namun Tuchel dan Klopp berbeda dari segi sifat. Meskipun keduanya sama-sama keras dan tak tanggung-tanggung meluapkan emosinya, Klopp jauh lebih kaku dari Tuchel.

Tuchel adalah tipikal pelatih yang adaptif. Ia tidak anti untuk menyesuaikan taktiknya dengan taktik tim lawan. Tuchel sukses membawa perubahan pada skuad Die Borrusen, kendati dia hanya bisa mempersembahkan gelar DFB-Pokal 2017. Saat melatih Dortmund, Tuchel tidak menghilangkan sikap kerasnya. Bahkan ia sempat berselih paham dengan CEO Dortmund kala itu, Hans-Joachim Watzke.

Ibarat vas bunga retak yang dibawa di atas mobil pickup, keretakan hubungan antara Tuchel dan Dortmund bertambah parah. Puncaknya, dia dipecat Dortmund pada 2017. Tahun 2018 Thomas Tuchel melatih Paris Saint-Germain menggantikan Unai Emery. Di Paris, Tuchel berhasil mempersembahkan 6 piala domestik dan dua gelar Ligue 1. Tuchel juga membawa PSG ke final Liga Champions 2020 untuk pertama kalinya.

Datangnya Thomas Tuchel ke Chelsea

Roman Abramovich, Presiden Chelsea pada akhirnya memutuskan kerjasama dengan Frank Lampard. Eks pemain Chelsea itu dipecat dari kursi kepelatihan, tepat pada saat Timo Werner dkk terseok-seok di peringkat ketujuh Liga Premier Inggris. Januari 2021, Thomas Tuchel direkrut Chelsea. Pelatih berpaspor Jerman itu dikontrak 18 bulan oleh The Blues dengan opsi perpanjangan satu musim.

Laga pertama Tuchel bersama Chelsea adalah saat tim itu menghadapi Wolverhampton Wanderes. Meski pertandingan berakhir imbang, Tuchel dianggap telah berhasil menerapkan strateginya ke dalam para pemain. Polesan demi polesan Tuchel akhirnya membuat Chelsea menjelma sebagai tim yang punya kemampuan pressing yang bagus. Tuchel juga beberapa kali berimprovisasi dari detail-detail taktiknya sendiri.

Selama 22 pertandingan Tuchel berhasil menyumbang 24 kemenangan untuk The Blues, 6 hasil imbang, dan hanya 2 kekalahan. Tentu saja, kiprah perjalanan Tuchel bersama The Blues yang paling berkesan adalah saat tim itu berhasil mengangkat Si Kuping Besar. Gol Kai Havertz menit ke-42 sukses membawa Chelsea meraih gelar Liga Champions pada Mei 2021 lalu.

Cara Tuchel Membangun Chelsea

Thomas Tuchel boleh dibilang berhasil membuat para pemain Chelsea bisa mengimplementasikan taktiknya. Dengan kata lain, Thomas Tuchel mampu membangun fondasi yang paling penting di sebuah tim: ikatan yang kuat. Lewat skema 3-4-2-1, Tuchel meramu skuad The Blues menjadi tim dengan serangan yang mematikan.

Saat melibas juara La Liga, Athletico Madrid  di Liga Champions musim lalu, Chelsea juga memakai formasi tersebut. Pun pada saat Thomas Tuchel turut membikin malu Spurs dan Liverpool di Liga Inggris. Maknanya strategi Tuchel ke Chelsea tepat. Di awal-awal melatih Chelsea, Tuchel menerapkan skema 5-4-1 Dengan formasi tersebut pertahanan The Blues.

Skema itu ia terapkan waktu Chelsea mempermalukan City. Tuchel berhasil mementahkan strategi Pep Guardiola dengan menutup lini tengah. Tuchel mencoba untuk menciptakan “bayangan penutup” yang ditempatkan di antara dua lawan. Hal ini membuat pemain lawan mustahil mengoper ke rekan setimnya.

Tuchel juga menggunakan pendekatan man-marking yang agresif. Taktik ini sengaja dipilih Tuchel karena ia ingin para pemain Chelsea terus bergerak menempel lawan. Ditambah, Tuchel juga piawai untuk memanfaatkan kemampuan individu para pemain, seperti Timo Werner yang memiliki kekuatan di bagian kiri tengah lapangan.

Berkat Tuchel, pemain yang tak mentereng seperti Christensen dan Jorginho menjadi pemain yang hebat.
Melihat hal itu, sangat mungkin bagi Chelsea malih rupa dari tim yang angot-angotan menjadi singa yang siap memangsa para lawannya. The Blues bisa menjadi ancaman serius buat tim-tim besar di Eropa.

Oke, mungkin PSG, tim kaya asal Prancis itu boleh memiliki Lionel Messi dan Neymar, tapi Les Parisiens dilatih oleh eks pelatih tim medioker. Tim-tim Liga Inggris lainnya, katakanlah Manchester United boleh memiliki materi pemain yang di atas kertas lebih baik dari Chelsea.

Tapi, kita lihat bagaimana MU begitu kekeh mempertahankan Ole Gunnar yang, membawa MU ke jurang kemunduran. Kompetitor terberat Chelsea adalah Liverpool dan City. Meskipun Tuchel juga bisa mengatasi taktik Pep dan Klopp, dua seniornya itu. Jadi, siapa dong kompetitor terberat yang sesungguhnya?

Sumber referensi: Chelseafc.com, Theflanker.id, Theprideoflondon.com, Fandom.id, Detik.com, Dw.com.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru