Lionel Messi, FC Barcelona, dan Tantangan Baru di Paris

spot_img

Beberapa waktu lalu, Lionel Messi resmi mengumumkan kepergiannya dari FC Barcelona. Melalui sebuah ucapan selamat tinggal yang begitu emosional, air mata Lionel Messi tumpah tak tertadah. Kucuran air yang keluar deras seolah menggambarkan betapa menyakitkannya ucapan yang disampaikan.

Berbicara di depan pers, keluarga, staf FC Barcelona, serta rekan-rekan setimnya di Catalan, Messi resmi pamit dan menutup segala cerita yang pernah diukir dengan begitu dahsyat.

Melukiskan tujuh belas musimnya di level tertinggi bersama Barcelona, Messi menyampaikan ungkapan dengan nada,

“Ini adalah momen tersulit dalam karir sepakbola ku,”

“Aku merasa sangat sedih. Aku benar-benar tidak mengharapkannya,” ungkap Messi (via Marca)

Usai menyampaikan salam perpisahannya kepada seluruh elemen yang berada di FC Barcelona, Lionel Messi lalu berpose dengan semua gelar yang pernah dimenangkannya untuk Blaugrana. Tepuk tangan yang mengiringi aksi terakhirnya bersama klub menandakan, bahwa Messi telah pergi sebagai legenda terbaik sepanjang masa.

Kepergian Lionel Messi benar-benar menyedihkan bagi Barcelona, tak terkecuali bagi Gerard Pique, yang mengatakan bila el Barca bukanlah klub yang sama lagi ketika pemain yang membuat banyak sejarah besar telah putuskan pergi.

Hormon Pertumbuhan dan Cerita Tentang Tisu Makan

Kisah Lionel Messi bersama FC Barcelona memang sangat fenomenal. Siapapun yang mengikuti sepakbola dalam lebih dari 15 tahun terakhir, tentu tak akan meragukan kualitas Lionel Messi sebagai seorang legenda.

Aksi mengagumkan, gol tak terlupakan, sampai raihan prestasi yang tak terkalahkan, membuat nama Messi begitu dielu-elukan.

“Dia seperti Tuhan. Lebih baik dari kita semua,”

Itulah ungkapan seorang teman Lionel Messi ketika masih tampil bersama Newell’s Old Boys. Cuplikan kalimat yang diambil dari film dokumenter “Messi” garapan Alex de la Iglesia pada tahun 2014 silam itu menunjukkan tentang betapa agungnya talenta yang dimiliki Lionel Messi.

Berkat penampilannya yang lincah saat membawa bola, kakaknya, Rodrigo, menjulukinya sebagai La Pulga, yang berarti bahwa meski memiliki fisik yang mungil, Messi selalu berhasil merepotkan setiap pemain lawan.

Karir Messi sempat mandek ketika dokter memvonisnya memiliki kelainan hormon pada pertumbuhan. Messi yang dinilai sulit memiliki tubuh ideal dianggap tidak akan bisa meneruskan karir sepakbolanya. Hanya ada satu cara untuk menyembuhkannya, yaitu memberi sebuah terapi agar tubuhnya bisa bertumbuh normal.

Akan tetapi masalahnya, uang yang harus dikeluarkan tidaklah murah.

Menyusul permasalahan tersebut, ayah Lionel Messi sempat berunding dengan River Plate yang ketika itu jadi tim yang paling meminati jasa Messi. Namun klub tersebut lantas mengurungkan niatnya untuk merekrut Messi setelah diminta sang ayah untuk mengurus pengobatan anak kesayangannya itu. River Plate menganggap biaya yang harus dikeluarkan terlalu besar, sehingga mereka memilih untuk tidak melanjutkan kesepakatan.

Beruntung, bakat Lionel Messi yang terdengar jelas sampai ke benua Eropa, membuat sosok direktur teknis FC Barcelona, Charly Rexach, tertarik untuk meminangnya. Dengan segala kesepakatan, termasuk membiayai pengobatan Lionel Messi, selembar tisu makan menjadi saksi dari sejarah yang akan diukir La Pulga bersama Barcelona.

Biaya besar yang dikeluarkan Barca untuk mendukung pengobatan Lionel Messi ketika itu sama sekali tak berakhir sia-sia. Messi yang memulai segalanya bersama akademi La Masia, berhasil membuktikan bahwa dirinya akan segera menjadi bintang di salah satu klub terbesar Eropa.

Meski posturnya tak terlalu tinggi, kualitas yang dimiliki sudah cukup untuk membuat semua penggemar tak ingin pergi.

Tepat pada 16 Oktober 2004, Messi diberi kesempatan untuk unjuk gigi. Frank Rijkaard yang ketika itu jadi entrenador Barcelona tak ragu untuk memasukkan Messi ke dalam laga melawan Espanyol di Stadion Olimpic Lluis Companys.

Menggantikan Deco pada menit ke 82, Lionel Messi menyebut hari itu sebagai yang terbaik dalam karir sepakbolanya. Dia yang ketika itu baru berusia 17 tahun 114 hari lantas tercatat sebagai pemain termuda yang mewakili Barcelona pada pertandingan resmi.

Hattrick di Laga el Clasico dan Empat Gol Ke Gawang Arsenal

Sejak pertama kali injakkan kaki di kompetisi tertinggi, tak terhitung berapa banyak prestasi yang ditorehkan Lionel Messi. Untuk momen terbaik sendiri, para penggemar mungkin akan sangat sulit menyingkirkan catatan hattrick pertama yang diciptakan pemain andalan.

Kisah tersebut lantas kian sulit untuk disingkirkan ketika torehan tiga gol pertamanya untuk el Barca dicatat dalam laga sekelas el Clasico.

Tepat pada 11 Maret 2007 silam, Lionel Messi berhasil menciptakan momen indah yang menggemparkan dunia. Ketika itu, kemenangan Real Madrid yang merupakan rival terbesar Barcelona, buyar akibat ulah dari hattrick bocah yang usianya bahkan belum genap 20 tahun.

Bermain di Camp Nou, Real Madrid tampil lebih percaya diri. Dengan kekuatan galactico nya, mereka unggul sebanyak tiga kali hingga nyaris menang. Namun harapan yang kadung membumbung tinggi dipatahkan oleh aksi Lionel Messi. Setiap gol yang dicetak Los Galacticos selalu berhasil disamakan oleh Messi.

Hingga pada puncaknya, Messi sukses mencetak gol di menit-menit akhir ke gawang Iker Casillas. Kiper nomor satu Spanyol itu dibuat tak berdaya, Sergio Ramos yang coba menghalangi tampak pasrah, sampai Fabio Capello yang saat itu jadi pelatih Real Madrid terlihat tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.

Catatan itu membuat awal karirnya bersama Barcelona kian mengkilap usai setahun sebelumnya, dia berhasil persembahkan trofi Liga Champions Eropa untuk Blaugrana.

Tiga tahun setelah mencetak hattrick bersejarahnya untuk Barcelona, Messi kembali tunjukkan kelasnya sebagai pemain jempolan. Di kompetisi Liga Champions Eropa tahun 2010 silam, Messi beradu tajam dengan penyerang Arsenal kala itu, Nicklas Bendtner.

Di leg kedua laga perempat final Liga Champions yang digelar pada 6 April 2010, Barca menerima Arsenal sebagai tim lawan. Klub asal London yang tampil percaya diri berhasil membuka kran gol lewat aksi Nicklas Bendtner pada menit ke 18. Memegang keunggulan agregat, Arsenal tampil lebih terbuka.

Sayangnya, mereka tidak memahami betul bila tim yang dihadapi terdapat nama Lionel Messi didalamnya.

Cuma tiga menit mempertahankan keunggulan, gawang Arsenal langsung bobol lewat aksi La Pulga. Malah, sebelum paruh pertama ditutup, Messi berhasil menambah dua gol lagi pada menit ke 37 dan 42. Di babak kedua, talentanya yang ketika itu memang jadi bahasan, kian membuat Arsenal tenggelam.

Lewat gol keempatnya pada menit ke 88, Messi banyak disebut sebagai pemain yang berhasil mengalahkan Arsenal di kompetisi Liga Champions Eropa seorang diri.

Meski di tahun tersebut Messi gagal membawa Barca mempertahankan gelar Eropa nya, dia sudah pantas disebut pemain terbaik Barcelona, usai pada tahun 2009, magisnya sukses menyumbangkan sebanyak enam gelar prestise dalam satu musim kompetisi.

Prestasi Besar Lainnya

Setahun setelah mencetak empat gol ke gawang Arsenal, Messi bahkan kembali naik ke panggung tertinggi Eropa, usai di partai final, dia berhasil membawa Barcelona menang atas Manchester United dengan skor 3-1. Di laga itu, dia berhasil mencetak satu gol pada menit ke 54, dimana dua gol lainnya tercipta dari aksi Pedro dan David Villa.

Berkat torehan tersebut, Messi dinobatkan sebagai pemain terbaik Eropa. Itu juga tak lepas dari prestasinya yang mampu membawa Barca memenangkan trofi prestise lainnya, seperti La Liga sampai Piala Super Eropa.

Setahun berselang, ada satu prestasi besar Lionel Messi yang sampai saat ini belum mampu dipecahkan oleh siapapun. Adalah torehan 91 golnya sepanjang tahun 2012. Bintang asal Argentina ini berhasil mematahkan rekor gol terbanyak dalam satu tahun kalender yang sebelumnya dibuat Gerd Muller dengan 82 gol dan Pele yang berhasil melesakkan 75 gol.

Lalu tepat pada tahun 2015, Lionel Messi yang ketika itu ditemani oleh Neymar Jr dan Luis Suarez, juga berhasil mempersembahkan tiga gelar untuk Barcelona. Trio tersebut menjadi salah satu yang paling fenomenal dalam sejarah sebelum akhirnya Neymar putuskan hengkang ke PSG pada 2017 silam.

Prestasi terbaru yang dibuatnya selama berkarir bersama FC Barcelona tentu saat dia berhasil mengumpulkan sebanyak enam penghargaan Ballon D’or. Sejak pertama kali mendapat penghargaan tersebut di tahun 2009, Messi yang sukses melewati tahun demi tahun dengan prestasi mentereng, mampu menambah koleksinya menjadi total enam gelar, dengan yang terakhir didapat pada 2019 lalu.

Selain penghargaan Ballon D’or, prestasi individu Messi lainnya juga terbalut rapi dalam raihan delapan kali menjadi top skor La Liga, enam kali jadi top skor Liga Champions Eropa, tiga kali jadi pemain terbaik Eropa, serta sembilan kali dinobatkan sebagai pemain terbaik La Liga.

Paris Saint Germain Sebagai Klub Barunya

Kini, setelah resmi putuskan hengkang dari FC Barcelona dan sekaligus meninggalkan kompetisi La Liga, Lionel Messi memilih Paris Saint Germain sebagai pelabuhan barunya.

Bersama sang istri dan anak-anak tercintanya, Messi terbang ke Paris untuk menyelesaikan kepindahannya ke Paris Saint Germain. Pemain yang kini berusia 34 tahun itu mengaku tak sabar untuk memulai petualangan baru bersama PSG. Lebih dari itu, Messi yang nantinya bakal bermain dengan banyak pemain hebat juga memiliki misi untuk kembali jadi jawara Eropa.

Bergabung dengan Paris Saint Germain kabarnya membuat Messi menerima gaji sebesar 35 juta euro atau setara 590 miliar rupiah per tahun.

Efek dari kepindahannya ke klub kaya raya tersebut, jersey nya yang bernomor 30, langsung ludes meski baru 30 menit dilepas ke pasaran.

Menarik dinantikan, bagaimana kiprah La Pulga bersama Paris Saint Germain musim depan. Apalagi, disana terdapat nama Sergio Ramos, yang kita tahu merupakan musuh bebuyutan Lionel Messi ketika keduanya masih tampil untuk masing-masing tim yang berlaga dalam duel bersejarah bertajuk el Clasico.

Sumber referensi: Marca, thesefootballtimes, marca 2

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru