Bicara soal negara Korea Utara, tidak melulu tentang roket-roket yang diluncurkan oleh pihak militer disana. Korea Utara juga punya cerita tentang sepak bola, meski gairahnya tidak sekuat negara tetangga, Korea Selatan.
Setelah tampil heroik di Piala Dunia 1966, dengan salah satunya menumbangkan Italia satu kosong, sepakbola Korea Utara seolah mati suri setelahnya. Tidak ada lagi prestasi yang bisa dibanggakan, bahkan negara ini belum memunculkan pesepakbola hebat yang bermain di Eropa.
Sepak bola Korea Utara kembali bergairah ketika mereka tampil di Piala Dunia 2010. Meski gagal lolos dari fase grup, setidaknya hal itu menjadi hiburan untuk warga di sana yang telah rindu akan prestasi sepak bola negaranya.
Namun kini, Korea Utara patut berbangga, karena telah muncul satu pesepak bola yang bisa dijadikan andalan. Dia bernama Han Kwang Song, roket muda yang siap meluncur ke panggung sepakbola. Namanya pernah mendunia sekitar empat tahun lalu,karena menjadi pemain Korea Utara pertama yang bermain di Serie A Italia.
Han Kwang Song lahir pada 11 September 1998 di Ibukota Korea Utara, Pyongyang. Han mulai bermain sepakbola ketika diterima bergabung dengan salah satu akademi terbaik di Korea Utara, Chobyong Sports Club.
Setelah tampil menonjol di Akademi, Han dikirim Pemerintah Korea Utara untuk mencoba peruntungan di Italia. Tepat saat ia berusia 18 tahun, Han menjalani trial di Cagliari. Pemain yang membela Korea Utara di Piala Dunia U-17 2015 itu sukses meyakinkan para pelatih klub Sardinia itu, sehingga mendapatkan kontrak di skuad Primavera pada awal tahun 2017.
Terkait kepindahannya ke Cagliari, ada cerita menarik dibaliknya. Hal ini diceritakan sang pemandu bakat yang membawa Han ke Cagliari, Stefano Capozucca. Capozucca mengatakan bahwa saat pertama kali Han datang ke Cagliari, ia hanya memakai pakaian sederhana dan bersandal jepit. Capozucca sampai harus membelikan sepatu untuk sang pemain.
“Temanku bernama Sandro Stemperini memanggilku dan menunjuk Han. Itu setahun yang lalu. Dia juga berkata jika saat itu ada dua pemain Korea Utara yang sangat potensial, salah satunya Han, dan ia menyuruhku untuk bergegas karena Ajax katanya juga tertarik.”
“Kami kemudian berhasil mendapatkan Han. Ia tiba di sini (Cagliari) memakai sandal jepit, lalu aku membelikannya (sepatu) beserta sepasang celana jeans,” ujar Capozucca.
Kisah menarik itu tentu saja menjadi awal perjalanan Han di sepakbola luar negeri. Di Cagliari, Han tak butuh waktu lama untuk menembus skuad utama. Pada April 2017, ia mendapatkan kesempatan untuk menjalani debut di Serie A.
Han tampil di menit ke 86 untuk menggantikan Marco Sau, ketika Cagliari mengalahkan Palermo 3-1. Meskipun hanya bermain kurang dari lima menit, namun debutnya itu berhasil menorehkan rekor untuk dirinya. Ia menjadi pemain Korea Utara pertama yang bermain di kompetisi teratas negeri Pizza.
Bukan tanpa alasan pelatih Cagliari kala itu, Massimo Rastelli, memberikan kesempatan debut bagi Han yang saat itu masih belum genap berusia 19 tahun. Menurutnya, Han adalah pemain yang sangat menarik, memiliki kualitas hebat, dan sangat cepat.
Terlebih lagi, sepekan setelah catatkan debut, Han mencetak gol perdananya bagi Cagliari, saat dikalahkan Torino 3-2. Berkat gol tersebut, ia kembali mencetak rekor baru, yakni pemain Korea Utara yang pertama mencetak gol di Serie A.
Penampilan apik Han membuat manajemen Cagliari terkagum-kagum. Tak lama setelah gol itu, Han diberi perpanjangan kontrak untuk terus bermain di sana sampai 30 Juni 2022. Pemain bertinggi badan 178 cm ini kemudian melanjutkan musim 2016/17 dengan memainkan total 5 laga Serie A dan mencetak 1 gol.
Pada awal musim 2017/18, Cagliari memutuskan untuk meminjamkan Han ke klub Serie B, Perugia. Di sana, Han kembali mengukir namanya dalam buku sejarah. Saat Perugia menang besar 5-1 atas Entella pada 27 Agustus 2017. Han mencetak hattrick di menit 9, 40, dan 85. Han melanjutkan musim gemilangnya bersama Perugia, mencatat 7 gol dari 19 laga di semua kompetisi.
Han lalu kembali ke Cagliari pada Februari 2018, dan bermain dalam 7 pertandingan di sisa musim 2017/18. Setelah itu ia kembali memperkuat Perugia dengan status pinjaman pada 15 Agustus 2018. Awalnya, Han tidak dapat bermain karena cedera. Lalu, setelah sembuh, ia mencetak gol melawan Ascoli dalam kemenangan 3-0 dan mengakhiri musim 2018/19 dengan 4 gol dalam 20 pertandingan Serie B.
Tampil mengesankan di ajang Serie B, Han dilirik oleh klub raksasa Serie A, Juventus. Dan tepat pada 2 September 2019, klub berjuluk La Vecchia Signora itu meminjam Han dari Cagliari untuk durasi 2 tahun, dengan kewajiban membeli di akhir periode.
Kendati demikian, Han tidak serta merta bisa langsung menembus skuad inti Juventus. Untuk menambah jam terbangnya, Bianconeri memindahkan Han ke tim U-23 yang bermain di kompetisi Serie C.
Pada 26 Oktober 2019, Han nyaris memulai debutnya di tim senior Juventus saat melawan Lecce. Ia bahkan turut disertakan pelatih Maurizio Sarri dalam daftar pemain cadangan bersama Paulo Dybala, Juan Cuadrado, Gonzalo Higuain, Federico Bernardeschi, dan Marco Olivieri.
Namun sayang, Han tak pernah benar-benar merasakan debut di tim senior Juventus. Ia gagal menunjukkan penampilan terbaiknya. Hingga kemudian ia dikembalikan ke tim U-23, dan menyelesaikan musim dengan torehan 1 gol dan 2 assist dari 20 pertandingan.
Pada Januari 2020, Juventus mengaktifkan opsi pembelian Han dari Cagliari seharga 5 juta euro atau sekitar Rp 77 miliar. Namun, Juventus langsung menjual Han ke klub asal Qatar, Al-Duhail dengan harga yang dikabarkan sebesar 7 juta euro.
Bersama Al-Duhail, penampilan Han tidak bisa dibilang mengecewakan. Pasalnya ia turut berkontribusi membawa Al-Duhail juara Qatar Stars League dan menjadi runner up Piala Qatar tahun 2020. Total ia mencetak 5 gol dari 16 penampilan di semua kompetisi bersama klub bercorak warna merah itu.
Sayang, penampilan bagus Han dan prospek cerahnya harus terhenti karena ulah bangsanya sendiri.
Pada September 2020, Dewan Keamanan (DK) PBB mengeluarkan rilis yang mengungkap sejumlah aktivitas Korea Utara melanggar sanksi internasional. Salah satunya mengirimkan pesepakbolanya ke Juventus.
Terhitung sejak 2017, PBB telah menjatuhkan sejumlah sanksi pada Korea Utara, membatasi negara tertutup itu dari aktivitas impor minyak, melarang ekspor batu bara, ikan dan tekstil. Sanksi internasional itu ditujukan untuk mengekang program nuklir Pyongyang.
Dewan Keamanan PBB menyoroti warga Korea Utara yang bekerja di luar negeri yakni pesepakbola Han Kwang Song yang dibeli Juventus pada Januari 2020.
Seperti disinggung sebelumnya, Juventus langsung menjual Han ke Al-Duhail, enam hari setelah dia meneken kontrak dengan Bianconeri. Penjualan itu, kata Dewan Keamanan, jelas melanggar sanksi PBB yang tidak memperbolehkan Korea Utara mengirim warga negaranya bekerja di luar negeri.
Atas masalah tersebut, Al-Duhail memutus kontrak Han pada akhir 2020. Siaran The Voice of America (VOA) mengutip pakar sepakbola Italia, Marco Bagochi, menyebut Al-Duhail awalnya akan meminjamkan Han ke Selangor di Liga Super Malaysia. Namun, otoritas di Malaysia mengintervensi proses itu, dengan alasan jelas, yakni akan ada konsekuensi berat jika Selangor mempekerjakan Han.
Hingga sekarang, belum diketahui lagi nasib wonderkid asal Korea Utara tersebut.
Sumber referensi : Libero, Indosport, Panditfootball, Football Tribe, Ligalaga, bolatimes


