Begini Cara Turki Perkuat Timnasnya di EURO 2020

spot_img

Suporter sepak bola di Turki dikenal sebagai salah satu yang paling fanatik di dunia. Salah satu kelompok suporter bola negara yang sebagian wilayahnya masuk benua Asia itu bahkan pernah membuat rekor mencengangkan.

Adalah pendukung Galatasaray yang mencatat rekor di Guinnes World Records sebagai suporter paling berisik di dunia. Pada 2011 silam, sorak-sorai suporter Galatasaray di Turk Telecom Arena menimbulkan gemuruh hingga 131,76 desibel atau setara dengan dentuman meriam.

Singkatnya, Turki adalah salah satu negara yang gila bola. Sayangnya, prestasi negara tersebut di kancah internasional tidak sebesar passion mereka terhadap si kulit bundar. Di Piala Dunia, mereka baru tampil 2 kali dengan hasil terbaik meraih juara tiga di Piala Dunia 2002. Sementara di ajang Piala Eropa, Turki sudah tampil 5 kali dengan hasil terbaik sebagai semifinalis di EURO 2008.

Ada 2 hal yang kerap menghambat sepak bola Turki menjadi sebuah kekuatan besar dunia. Pertama, keterlibatan politik dalam sepak bola, dan kedua, fanatisme yang berlebihan. Sudah bukan rahasia lagi jika sepak bola Turki kerap disusupi unsur politis. Bahkan beberapa klub Turki disinyalir didanai langsung oleh partai politik yang berkuasa.

Tak jarang, kita juga melihat pesepak bola Turki yang melakukan selebrasi kontroversial di atas lapangan. Media Turki yang kerap menyudutkan dan mengkritik keras pemainnya sendiri juga jadi masalah di sana. Belum lagi suporternya yang kerap menunjukkan fanatisme buta yang merugikan diri sendiri.

“Ketika Fenerbahce memainkan pemain muda, lalu mereka membuat beberapa kesalahan, mereka akan dicemooh pendukung mereka sendiri. Itu ada hubungannya dengan budaya Turki. Terlalu banyak gairah terkadang membakar dirinya sendiri,” ujar Olkan Altiparmak, filmmaker dan suporter Fenerbahke kepada DW Kick Off!

EURO 2020 adalah peluang terbaik Turki untuk memperbaiki citra diri dan unjuk gigi di turnamen besar. Pasalnya, mereka datang ke kompetisi 4 tahunan itu dengan catatan impresif. Tim Bintang Bulan Sabit lolos dari babak kualifikasi dengan rekor 7 kemenangan, 2 kali imbang, dan sekali kalah. Turki yang tergabung di grup H berhasil mengumpulkan 23 poin dan duduk di peringkat kedua di bawah Prancis. Bahkan dalam 2 pertemuan kontra Prancis, Turki berhasil menahan imbang dan menang 2-0.

Di kualifikasi Piala Dunia 2022, Turki kembali menunjukkan tajinya. Burak Yilmaz dkk yang tergabung di Grup G sukses menundukkan Belanda 4-2 di laga pertama. Kemudian, mereka berhasil membantai Norwegia 3-0 dan menahan imbang Latvia 3-3. Mencetak 10 gol dalam 3 laga terakhir jadi bukti betapa berbahayanya timnas Turki saat ini.

Namun, melihat catatan minor Turki saat berlaga di turnamen sesungguhnya, para pendukung Turki tak bisa hanya mengandalkan modal performa apik dalam beberapa laga terakhir. Skuad yang mumpuni jadi sebuah kebutuhan utama. Dalam hal ini, Senol Gunes telah memanggil 30 nama sementara untuk Piala Eropa tahun ini.

Memadukan Pemain Pengalaman dan Pemain Muda

Dari daftar pemain sementara, timnas Turki punya rata-rata usia skuad yang cukup muda. Maklum, selama beberapa tahun terakhir, Turki memang secara masif tengah memperbaiki pengembangan pemain usia dini. Dipimpin Hamit Altintop, anggota dewan eksekutif federasi yang memimpin timnas muda, kini Turki punya skuad yang tergolong muda di EURO 2020.

Para pemain yang dipanggil Senol Gunes punya rata-rata usia 25,6 tahun. Dari 30 nama yang masuk skuad bayangan, hanya ada 4 pemain yang berusia lebih dari 30 tahun. Sehingga, mereka dipastikan akan mengandalkan perpaduan pemain senior dan pemain muda di Piala Eropa tahun ini.

Lalu, siapa saja yang masuk tim bayangan Turki untuk EURO 2020?

Di posisi penjaga gawang, Gunes memanggil 4 nama. Mereka adalah Mert Gunok (Istanbul Basaksehir), Ugurcan Cakir (Trabzonspor), Altay Bayindir (Fenerbahce), dan Gokhan Akkan (Rizespor). Menilik dari beberapa laga terakhir, Ugurcan Cakir diprediksi bakal jadi pilihan utama.

Di sektor pertahanan, Turki memanggil 8 bek tangguh yang terdiri dari Zeki Celik (Lille), Mert Muldur (Sassuolo), Merih Demiral (Juventus), Ozan Kabak (Liverpool), Caglar Soyuncu (Leicester), Kaan Ayhan (Sassuolo), Umut Meras (Le Havre), dan Ridvan Yilmaz (Besiktas).

Di sektor lini tengah, Turki memanggil 12 pemain. Mereka adalah Abdulkadir Omur (Trabzonspor), Cengiz Under (Leicester), Efecan Karaca (Alanyaspor), Halil Akbunar (Goztepe), Dorukhan Tokoz (Besiktas), Irfan Can Kahveci (Fenerbahce), Mahmut Tekdemir (Istanbul Basaksehir), Okay Yokuslu (West Brom), Orkun Kokcu (Feyenoord), Ozan Tufan (Fenerbahce), Taylan Antalyali (Galatasaray), Hakan Calhanoglu (AC Milan), dan Yusuf Yazici (Lille)

Sementara itu, lini serang diisi oleh Burak Yilmaz (Lille), Enes Unal (Getafe), Halil Dervisoglu (Galatasaray), Kenan Karaman (Fortuna Dusseldorf), dan Kerem Akturkoglu (Galatasaray).

Dari daftar skuad sementara Turki di EURO 2020, Burak Yilmaz jadi yang tertua. Striker 35 tahun itu juga ditunjuk Senol Gunes jadi kapten tim. Sementara Ridvan Yilmaz dan Orkun Kokcu jadi yang termuda. Keduanya masih berusia 20 tahun.

Selain memadukan pemain berpengalaman dan pemain muda, Senol Gunes juga menempuh satu cara lagi untuk memperkuat skuadnya. Cara itu adalah dengan memanggil dan memanfaatkan pemain keturunan alias diaspora Turki yang tersebar di berbagai daratan Eropa.

Memanggil Diaspora

Dari 30 pemain tim bayangan Turki di EURO 2020, terdapat 6 diaspora yang dipanggil Senol Gunes. Mereka lahir di negara lain dari orang tua Turki. Tiga diantaranya merupakan kelahiran Jerman. Mereka adalah Kaan Ayhan, Hakan Calhanoglu dan Kenan Karaman. Sementara tiga lainnya adalah Mert Muldur yang lahir di Austria, dan Orkun Kokcu serta Halil Dervisoglu yang lahir di Belanda.

Adanya dispora itu tak lepas dari sejarah migrasi buruh Turki ke negara-negara Eropa barat pasca Perang Dunia 2. Negara-negara yang dulu porak poranda pasca perang seperti Jerman dan Belanda membutuhkan tambahan pekerja di sektor industrinya. Maka pada periode 1955 hingga 1973 terjadilah hubungan kerja sama bilateral yang dinamai “Gastarbeiter” atau pekerja tamu yang ditandai dengan datangnya imigran Turki ke negara-negara Eropa seperti Jerman, Austria, hingga Belanda.

Namun, jauh sebelum itu, sejak kekuasaan Ottoman, orang-orang Turki telah menyebar ke banyak negara Eropa. Hingga kini, hal itu juga masih berlanjut dan alasan orang Turki berimigrasi juga makin variatif. Itulah kenapa Turki punya banyak pemain hasil diaspora. Keuntungan itulah yang tak ingin dilewatkan federasi sepak bola Turki dan terus dipantau perkembangannya hingga saat ini.

Kaan Ayhan misalnya. Ia lahir di Gelsenkirchen dan memulai kariernya dari tim akademi Schalke. Bek Sassuolo itu bahkan sempat menjadi bagian skuad Jerman U-17 yang sukses merebuh juara 3 Piala Dunia pada 2011 silam. Setelah terus diberi tawaran, Ayhan akhirnya memilih membela Turki pada 2013 silam.

Hal yang sama juga terjadi kepada Orkun Kokcu yang lahir di Austria. Debutan di timnas Turki itu merupakan hasil produk Rapid Vienna dan pernah membela tim Belanda U-19 sebelum memilih negara leluhurnya pada 2020 silam. Situasi berbeda dialami Hakan Calhanoglu, Kenan Karaman, Mert Muldur, dan Halil Dervisoglu. Keempatnya langsung bersedia membela timnas Turki sejak usia 16 tahun.

Kesuksesan Jerman di kancah internasional dengan pemain keturunan Turki dalam skuadnya juga membuat federasi sepak bola Turki tak bisa diam begitu saja. Sami Khedira dan Mesut Ozil adalah contohnya. Keduanya berhasil membantu Der Panzer menjuarai Piala Dunia. Bayangkan bila 2 pemain tersebut dulu bersedia membela tanah leluhurnya. Itulah yang kini diantisipasi federasi dengan mendata dan menawarkan tempat di timnas sedini mungkin kepada diaspora Turki yang bertalenta.

Merekrut dan memanggil diasporanya memang sudah mendarah daging di sepak bola Turki. Cara tersebut juga terbukti sukses di Piala Dunia 2002 dan Piala Eropa 2008. Di Piala Dunia Jepang-Korea, Turki memanggil 5 diaspora, dimana 4 diantaranya berasal dari Jerman. Sementara di Piala Eropa 2008, timnas Turki memanggil 4 diaspora plus 1 pemain naturalisasi. Seperti yang kita tahu, di 2 turnamen besar itu, Turki meraih hasil terbaiknya.

Terlepas dari itu, optimisme tinggi publik Turki tersemat kepada sosok sang pelatih, Senol Gunes yang telah sukses merevolusi tim nasional. Turki memang berambisi tinggi bersama Gunes. Pasalnya, Gunes yang kembali dipanggil untuk menangani timnas Turki sejak 2019 silam merupakan pelatih yang sukses membawa Turki menjadi juara ketiga Piala Dunia 2002.

Kunci performa apik Turki dibawah asuhan Gunes terletak pada barisan pertahanan yang kokoh. Gunes lebih memilih memanggil bek muda yang tengah tampil prima bersama klubnya. Bek unggulan semacam Caglar Soyuncu, Merih Demiral, Ozan Kabak, dan Zeki Celik semuanya masih berusia di bawah 25 tahun.

Gunes sendiri selalu memasang formasi 4 bek. Pelatih 68 tahun itu juga telah mencoba beberapa opsi, seperti 4-2-3-1, 4-4-2, atau 4-1-4-1. Yang pasti, striker utama jadi milik Burak Yilmaz. Musim ini, Yilmaz tampil apik bersama Lille dengan sumbangan 16 gol dan 5 asis.

Sebagai penyuplai bola, ada Hakan Calhanoglu dan Ozan Tufan. Dua gelandang serba bisa itu telah menorehkan 10 asis bagi klubnya musim ini. Akan sangat menarik melihat kiprah Turki di EURO 2020. Turki yang tergabung di Grup A bersama Italia, Wales, dan Swiss akan membuka ajang Piala Eropa dengan melawan Italia di pertandingan pertama, 11 Juni nanti.

Dengan optimisme tinggi, skuad muda yang segar dan diaspora yang mumpuni, akan sejauh apa langkah Turki di EURO 2020? Yang pasti, Turki setidaknya punya kans besar untuk lolos dari babak grup. Namun, apakah cara Turki memperkuat skuadnya akan kembali menemui prestasi?

 

Sumber Referensi: DW Kick Off!, PanditFootball, Squawka, Tirto

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru